
Hallo para reader semuanya, ini visual Samuel Ramadhan dengan istri tercintanya Erlin Wilson. Kini pernikahan keduanya sudah hampir 3 tahun. Wajah Erlin sudah pulih dan kembali sempurna seperti dulu. Rambut nya pun sudah lebat dan panjang. Semoga kalian suka ya...
Pagi ini, aku mengajak Erlin mengitari taman yang berada di halaman depan rumah. Galak tawa yang riang seakan menghilangkan semua masalah. Ini awal kehidupanku bersama Erlin, namun tak seindah bayanganku. Aku mengubah takdir hidupku namun aku tak bisa lari dari kenyataan bahwa istri tercintaku telah diangkat kandungannya.
"Erlin, ada yang ingin aku ...." belum selesai aku berucap Erlin mengalihkan pembicaraan.
"Sam kau pasti sudah tahu hal itu," ujarnya seraya duduk di sebuah batu yang didesain sebagai tempat duduk, aku menangkap wajahnya sedang gelisah.
"Aku tak bisa hamil lagi." ujarnya sendu.
Aku ikut duduk di sampingnya. Ku tatap bola matanya yang telah memberikan ketenangan jiwa.
"Erlin," panggilku lirih.
"Aku bukan wanita yang sempurna untukmu Sam, aku tak bisa memberikan kamu keturunan." ujarnya lagi.
"Erlin, sudah ribuan kali aku mengatakan padamu, aku tak perduli dengan itu, entah puluhan tahun kita telah menikah dan belum juga punya anak, aku tak masalah, yang terpenting bagiku aku selalu bersamamu." kataku seraya menarik kedua tangannya dan berpindah posisi, duduk berjongkok di depannya.
"Tapi Sam, sebuah keluarga akan sempurna jika telah hadir buah hati,"
"Apa kamu tidak ingin memiliki keturunan?" sambung Erlin dengan bertanya padaku.
Tentu saja semua pria pasti ingin memiliki anak, tapi aku mengatakan isi hatiku, aku tak ingin melukai hatinya lebih dalam lagi.
"Erlin, sudahlah, jangan kamu menekan batinmu dengan memikirkan hal itu! Kita jalani saja kehidupan kita, Tuhan pasti merencanakan hal yang tak bisa kita duga." ujarku menenangkan pikirannya.
Aku tahu Erlin sangat terpukul karena tak bisa hamil. Walaupun demikian, kami sudah berusaha pergi ke dokter yang ada di luar negeri untuk menangani masalah ini. Namun, semua dokter berkata sama, istriku tak bisa hamil lagi.
"Sam, bagaimana kalau kamu menikah lagi dan kamu pasti akan memiliki anak dari hasil pernikahan kamu yang kedua." kata Erlin yang membuat hatiku sakit.
Aku membuang kasar tangannya dan berdiri membalikkan badan.
"Kamu keterlaluan Erlin, semudah itukah kamu mengucapkannya. Aku tak mau menikah dengan wanita lain."
Erlin menghalangi pandanganku dan memegang kedua lenganku.
"Sam, ini demi kebahagiaan kamu!"
"Lalu, kebahagian untuk kamu sendiri mana? Kamu jangan egois Erlin!"
"Aku akan bahagia jika melihat kamu bahagia,"
Aku menepis tangannya.
"Keputusanku sudah bulat. Aku tidak mau menikah dengan wanita lain." setelah mengatakan hal itu aku segera pergi meninggalkan Erlin sendirian di taman.
Enak sekali dia, sudah mati -mati an aku mempertahankan rumah tanggaku, Erlin malah menyuruhku menikah lagi. Ini tak bisa dibiarkan. Aku akan mengadopsi anak, agar Erlin tak terus-terusan mendesak ku untuk menikah lagi.
__ADS_1
Cemplon sepertinya sangat pas jika menjadi anak adopsi. Sudah lama Cemplon tinggal bersama pak Wito di desa semenjak Erlin mengalami kecelakaan dulu. Aku menyuruh Bondan untuk mengantarku ke desa.
Setelah sampai di desa, aku menyempatkan diri untuk menemui emak.
"Sam, keturunan itu juga penting, dalam sebuah keluarga anak akan menjadi penerus generasi kita, mendoakan kita jika kita meninggal nanti. Jadi, emak rasa tidak ada salahnya kamu menerima usul Erlin untuk menikah lagi," tutur emak menasehatiku. Sepertinya pemikiran emak sama dengan Erlin.
"Tapi Mak, Sam sudah cinta mati dengan Erlin dan tak mau ada lagi wanita lain di kehidupanku."
"Kamu memang keras kepala kalau dikasih tahu, terus mau kamu apa?"
"Sam mau adopsi Cemplon," ujar ku seraya berdiri hendak pergi.
"Cemplon kan udah gede,"
"Tapi dia kan masih tetap statusnya, yatim piatu," ujarku mengingatkan emak.
"Iya juga ya, terserah kamu lah, tapi lebih enak kan punya anak sendiri."
"Iya Mak," sahutku singkat tak mau berlama-lama debat dengan emak.
Setiba di rumah pak Wito, aku menyampaikan niatku untuk mengadopsi Cemplon. Meski tanpa seizin Erlin, aku yakin Erlin pasti setuju.
"Nak Sam, Cemplon sudah paman anggap anak paman sendiri, bi Wati juga sangat menyanyangi Cemplon. Paman tak bisa memutuskan sendiri, biar Cemplon yang memilih." pak Wito memanggil Cemplon dan menyampaikan kabar kalau dia akan dijadikan anak oleh aku dan Erlin.
"Mbak Erlin mau jadi ibuku! Aku mau Paman!" ujar Cemplon dengan senyuman mengembangkan.
"Baik, kalau begitu, Cemplon akan segera saya bawa ke kota!" aku berpamitan pada paman Wito dan bi Wati.
Di tengah perjalanan.
"Kak Sam, aku haus," keluhnya seraya mengusap kerongkongan.
"Kamu panggil apa aku tadi?" aku yang sejak tadi menatap pemandangan dari kaca mobil kini menoleh ke arah Cemplon.
"Kak Sam,"
"Panggil aku Papa!" aku menegaskan pada Cemplon.
"Iya Papa Sam," Cemplon mengucapkan dengan sedikit ragu.
Aku tahu itu, dia sudah lama tak mengucapkan kata itu, aku memakluminya.
"Coba kamu ulangi permintaan kamu tadi apa?"
"Aku haus, pa-pa," ujar Cemplon dengan ragu.
"Bondan, kita berhenti ke swalayan!" ujarku pada Bondan yang sibuk menyetir.
"Baik, Tuan Muda!"
__ADS_1
Tak lama kemudian Bondan menepikan mobil.
"Ayo turun, kita beli es krim yang banyak!" ujarku pada Cemplon.
"Hore! Aku mau es krim!" serunya riang.
Selesai memborong banyak es krim, mobil segera melaju menembus keramaian jalan.
Cemplon lahap sekali memakan de krimnya.
"Enak?" tanyaku.
"Enak Kak Sam!" Cemplon menghentikan menjilat es krim sambil memperhatikan wajahku yang mengerutkan dahi.
"Maksudku, enak Papa Sam!" sambungnya lagi.
"Bagus, biasakan mulai detik ini untuk memanggil ku papa dan Erlin, mama!"
"Iya Kak, eh Papa!" Cemplon tersenyum dan segera menghabiskan es krimnya.
"Ini masih, kenapa tidak kamu habiskan?" tanyaku seraya menunjuk tiga buah cup es krim.
"Tidak Pa, aku menyisakan es krim itu untuk mama Erlin!" ujarnya dengan polos.
"Dasar bocah, tentu saja sebelum sampai di rumah mama kamu bakal dapat bungkusnya saja. Es krimnya bakal meleleh," ujarku sambil terkekeh mendengar penuturan Cemplon.
"Hehehe, kalau begitu es krim ini buat Papa saja!" ujar Cemplon seraya membuka tutup cup es krim. Dia mengambil sendok dan mulai menyendok.
"Ini buat Papa!" Cemplon menyodorkan sendok kecil ke arahku.
"Tidak Cemplon, itu buat kamu saja!" tolakku.
"Aku sudah kenyang, Papa,"
"Baiklah!" akhirnya aku membuka mulutku.
"Enak?"
"Enak, terima kasih!" sahut ku seraya mengusap pucuk kepalanya.
"Terima kasih juga, Papa, sudah membelikan es krim ini,"
"Sama -sama," sahut ku sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, kami sudah sampai di rumah.
Ku lihat Erlin tengah berdiri di ambang pintu.
"Anak siapa yang kamu bawa, Sam?" tanya Erlin ketika aku dan Cemplon turun dari mobil.
__ADS_1