Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Kepulangan Eliana


__ADS_3

Hai reader, jumpa lagi, mau tamat tapi author nggak tega. Bagaimana kalau lanjut lagi, setuju?


"Kak Erlin!" pekik seorang gadis dari arah seberang seraya menyeret kopernya. Gadis itu sedikit berlari sambil melambaikan tangan dengan riangnya menerjang keramaian orang -orang yang berlalu lalang di bandara.


Setelah berada dekat jaraknya, Erlin langsung memeluk adik kesayangannya itu dengan kerinduan yang mendalam.


"Eliana, kamu semakin cantik saja, bagaimana liburanmu, apa kamu membawakan oleh-oleh untukku?" seloroh pertanyaan Erlin terlontar untuk menggoda adiknya.


"Makasih Kak, tenang Kak, aku bawakan satu koper untukmu!" sahut Eliana.


"Beneran, apaan emang?"


"Baju ganti punyaku."


"Adik, itu bukan untukku, tapi emang punyamu!" Erlin mengacak rambut Eliana yang menjuntai hingga pinggang.


"Bercanda Kak, lagian Kak Erlin bercanda juga, siapa yang liburan, Eliana kan belajar di luar negeri," dumel Eliana seraya bergelanyut manja tangannya pada lengan kakaknya.


Aku yang sejak tadi diam menggandeng Cemplon, memperhatikan sepasang kakak adik yang berceloteh ria. Hingga deheman ku membuyarkan mereka.


"Kak Sam!" teriak Eliana dengan lantangnya menyerukan namaku. Dia tak berubah sama sekali, manja seperti dulu. Dia melepaskan tangannya dari lengan Erlin dan berpindah menghambur ke arahku. Aku melepas pegangan Cemplon, menerima pelukan singkat dari iparku.


"Bagaimana kabarmu Kak, makin ganteng aja!" celetuk Eliana yang membuat Erlin menyebik.


"Ya iyalah ganteng, suami siapa?" tukas Erlin yang tak mau terlihat diasingkan.


"Baik Na, kamu sendiri bagaimana selama di luar negeri, kelihatannya kerasan, agak gemuk," kataku, bingung sendiri untuk memulai dengan pembahasan apa.


Eliana mengkoreksi tubuhnya, "Agak gemuk ya, aduh, aku harus diet nih!" ujarnya seraya panik sendiri.


Aku jadi merasa salah, tak tahu pujian yang aku lontarkan membuatnya tersinggung.


"Eum bukan gitu, maksud aku kamu semakin cantik!" kalimat itu lolos begitu saja tanpa penyaringan terlebih dulu. Aku menampakkan senyum yang kaku.


"Sungguh, baiklah! Kalimat yang terakhir itu aku memang tak bisa menyangkal. Lantas siapa anak kecil ini?" Eliana sejenak melupakan koreksi tentang tubuhnya. Matanya penuh tanya menatap Cemplon.


Erlin menggapai Cemplon dan memperkenalkannya.

__ADS_1


"Cemplon salim!" perintah Erlin seraya mengarahkan tangan Cemplon agar menyalami Eliana. Eliana menerima uluran tangan Cemplon.


"Cemplon tante," ujar Cemplon dengan sopan seraya mencium punggung tangan Eliana.


"Eliana," ujar Eliana memperkenalkan diri juga.


Eliana mendekatkan wajahnya pada telinga Erlin, seolah ingin membisikkan sesuatu.


Seketika Erlin tersenyum, bisikan apa yang membuat Erlin seperti itu?


"Cemplon ini adalah putraku dengan Samuel," kata Erlin memberitahu.


Ternyata tadi Eliana menanyakan siapa Cemplon. Lalu Erlin bercerita sedikit tentang siapa Cemplon. Bahkan Erlin tak sungkan menceritakan kalau rahimnya telah diangkat. Banyak ekspresi yang tergambar di raut muka adiknya, sedih, melotot dan menganga seolah tak percaya dengan takdir yang dialami Erlin.


Setelah selesai bercengkrama panjang lebar, aku menyudahi mereka dengan deheman.


"Sudah siang, bagaimana kalau kita mencari tempat makan di area sini ?" tawarku, jujur saja aku sedikit capek sejak pagi terlalu lama berdiri. Pesawat Eliana datang terlambat dari jadwal yang ditentukan. Sementara Cemplon juga terlihat sangat lelah, namun anak itu enggan untuk mengeluh. Aku paham betul meski baru beberapa saat tinggal bersamanya, Cemplon cenderung diam saat dirinya lelah. Tak banyak mengeluh pada umumnya bocah seusianya. Mungkin karena rasa sungkan atau terasa masih asing baginya.


"Cemplon, bagaimana kalau kita beli es krim dulu?" tawarku pada anak berusia belum genap 7 tahun itu. Tentu hal ini sedikit mengurangi rasa canggungnya pada kami.


"Ayo!" ajakku seraya menggandeng tangannya.


"Kok hanya putramu saja yang ditawari es krim, aku juga mau dong," celetuk Eliana yang menyusulku. Aku menunjuk Cemplon dengan daguku, mengisyaratkan agar Eliana bertanya padanya.


"Eum, Cemplon, bolehkah tante ikut bergabung bersamamu membeli es krim?"


"Eum, boleh tante!" seru Cemplon tanpa sungkan lagi. Anak itu melepas pegangan tanganku dan berpindah ke tangan Eliana. Berjalan berjingkrak ria mendahului aku.


Aku mematung sejenak menatap mereka berdua hingga Erlin menepuk pundakku.


"Sam," tegur Erlin membuyarkan lamunanku yang sejenak. Membayangkan jika aku mengasuh anak saat bayi.


"Ayo jalan!" Erlin menggandeng lenganku mengikuti jejak Eliana. Aku mengangguk patuh.


Sepanjang perjalanan mencari area makan, Erlin mengejutkanku dengan ucapannya yang aku anggap hanya bualan saja.


"Sam, sepertinya kamu cocok dengan adikku," ucap Eliana, aku mendengarnya tak suka. Kenapa Erlin berkata demikian? Apa dia masih sakit hati dan belum bisa memaafkan kesalahanku waktu dulu. Tapi itu sudah lama sekali, aku pikir Erlin sudah melupakan itu. Aku menghentikan langkahku, dan menyorot matanya penuh tanda tanya besar.

__ADS_1


"Erlin, Sayang, kamu ngomong apa, hatimu masih sakit kah atas perlakuan yang dulu aku lakukan terhadapmu? Aku sungguh telah berubah Sayang, dan di hatiku sudah terpatri jelas ukiran namamu." kataku kemudian.


Aku kurang bukti apalagi untuk menunjukkan padanya kalau aku hanya mencintai dia, Erlin.


"Tidak Sam, kamu tak satu pun melakukan kesalahan secuil barang pun padaku. Tapi kamu punya hak untuk bahagia. Setelah aku pikir, sebaiknya kamu menikahi adikku." ucap Erlin dengan gamblang nya tanpa sengaja ucapannya sungguh menusuk hati.


"Erlin, kamu sadar dengan apa yang kamu usapkan? Ucapan kamu bisa merubah ikatan cinta kita!" bentakku sedikit kesal dengan pola pikir Erlin yang kolot.


"Dengar kan aku dulu Sam," Erlin mencoba meraih tanganku, tapi sebelum ia berhasil mendapatkannya aku menepisnya cepat.


"Sudah, aku tak mau mendengar itu lagi!" bentakku kasar.


"Ini adalah jalan satu-satunya agar kamu bisa mendapatkan anak." terang Erlin yang sungguh di luar dugaanku.


"Apa maksud kamu?"


"Sam, kamu pria dewasa, kamu pasti paham dengan jalan pikirku. Jika kamu menikahi adikku, otomatis kamu akan memiliki anak dengannya. Semua itu akan membuat kamu bahagia,"


"Erlin, kamu sudah gila apa! Suami sendiri di suruh menikah dengan orang lain." Aku mulai marah, namun sebisa mungkin aku menahannya. Mengingat di sini masih pada Cemplon, tidak mungkin aku uring -uringan di dini. Ku mengedarkan pandang mencari sosoknya yang tenyata sudah menghilang. Ternyata dia dan Eliana sudah masuk ke dalam supermarket.


"Eliana bukan orang lain, Sam. Dia adikku!" sambung Erlin yang sempat aku abaikan permintaannya.


Bukan permintaan, lebih tepatnya terdengar seperti perintah.


"Sama saja, aku tetap tak mau!" ujarku kekeh dengan pendirian ku.


"Kamu tak memikirkan kebahagian kamu sendiri,"


"Aku akan bahagia jika kamu bahagia."


"Bahagia yang mana yang kamu maksud, dengan aku menikahi Eliana malah akan memperburuk citra cinta kita yang sudah harmonis ini. Aku yakin tak sanggup melihat ini, Erlin, ku mohon jangan bicara itu lagi. Kita sudah bahagia dengan datangnya Cemplon."


"Itu tak cukup, Sam! Aku tahu betul kamu sangat menginginkan anak." Erlin berhasil meraih kedua tanganku


"Aku sudah punya anak, Cemplon namanya," sahut ku.


"Iya itu status sosialmu namun bagaimana dengan status biologis kamu. Ayolah Sam, sekali ini saja kamu melakukan itu demi aku. Please!" mohon Erlin seraya membawa tanganku dalam dekapannya.

__ADS_1


__ADS_2