Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Ngebut Bikin Adik


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu aku berpuasa, rasanya greget banget, apalagi setiap malam waktu tidur lihat pahanya yang menyibak bikin hatiku deg deg ser.


"Sabar junior, kita puasa lagi," ujar ku gelisah bikin tak nyenyak tidur. Untuk menghilangkan rasa gelisah, aku melihat ponselku, ternyata sudah ada ratusan notifikasi, memberitakan tentang pernyataan kemarin.


.


Aku sengaja membawa Erlin ke perusahanku. Memperkenalkan dia pada seluruh staff. Ya sekalian menunjukkan pada dunia kalau aku sudah menikah. Agar tak terjadi kesalahan kedua seperti halnya kisah Emely.


Erlin awalnya canggung juga, namun aku selalu memberikan motivasi agar dia tetap tegar menjalani keadaan. Aku tahu, mungkin dia juga sedikit minder dengan wajahnya yang sekarang. Aku pun tak malu menunjukkan dia dihadapan semua orang.


Sepulang dari perusahaan, aku membawa Erlin ke mall. Kami belanja kebutuhan dapur, meski ini tugas pelayan aku tak ambil pusing. Sesekali aku ingin melakukannya.


Aku meminta Erlin memilih sayur dan buah yang ia sukai. Setelah penuh isi keranjang kami segera pulang.


.


Erlin menggeliat dalam tidur nya, meski matanya terpejam tingkah nya tak bisa diam. Hingga menampakkan gunung kembarnya yang mengeras.


"Aduh Erlin, jangan menggoda ku terus, juniorku bangun nih!" rontaku tak tahan lagi. Entah mengapa akhir-akhir ini aku semakin bergairah saja meski hanya dengan melihat tubuh Erlin.


Belum selesai aku meratapi penderitaan batin, Erlin sudah bertingkah lagi, kini gantian kaki kanannya menindih bagian bawah perutku.


"Lengkap sudah penderitaanku," gumamku kemudian sambil mengelus kaki Erlin yang mulus.


Lama-lama aku tertidur juga menahan gelora jiwa.


Pukul 12 malam aku terbangun.


"Tidak ...!" aku menjerit histeris hingga membuat Erlin terbangun dan ia sontak berdiri.


Sebelum dia bertanya dengan apa yang terjadi padaku, aku sudah lebih dulu memberi kode padanya. Jari telunjuk ku tempelkan di bibir.


Menyibak selimut dan menunjuk bagian bawah perut. Erlin pun mengikuti pergerakan tanganku.


Dia sontak menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Ini bukan ngompol!" ujarku memberitahu.


"Aku basah Erlin, terlalu lama berpuasa," kataku jujur sambil menahan malu.


Erlin pun tak kuasa menahan tawanya. Dia cekikikan sendiri melihatku. Aku menurunkan kedua kaki lalu bangkit dan berjalan layaknya anak baru sunat menuju kamar mandi.


"Berhenti tertawa dan ambilkan aku pakaian!" ujarku pada Erlin, sedikit geli juga merasakan ini. Erlin masih tertawa kecil, aku bisa melihat itu.


Erlin pun patuh, ia berjalan menuju lemari, menyiapkan baju ganti untukku.


Aku segera masuk ke dalam kamar mandi. Aku mandi besar di tengah malam. Selesai mandi ku raih handuk.


"Betapa malangnya nasib ku," Gumam ku seraya mengusap badan dengan handuk. Aku melihat Erlin membenahi seprei.

__ADS_1


"Masih lama kah?" tanyaku setelah aku mengganti pakaianku dengan baju piyama.


Sepertinya Erlin paham dengan maksud pertanyaan itu.


Erlin menggeleng seraya menunjukkan 2 jari, itu artinya kurang dua hari lagi.


"Sungguh?" seberkas semangat muncul kembali, aku sudah selesai mengancingkan semua kancing baju.


"Jika terlalu lama menunggu bisa-bisa juniorku lupa jalan masuknya!" ujarku sedikit bergurau.


Erlin hanya tersenyum, dia menepuk bantal agar aku segera tidur kembali. Erlin sudah mengganti seprei yang baru. Aku menghempaskan tubuhku ke atas kasur hingga terpental tubuh ini. Rasanya sungguh menyiksa batin jika terlalu lama menunggu. Benar tidak para reader??


Erlin mengusap lembut kepalaku, mengecup lama keningku hingga aku tertidur.


Keesokan paginya.


Aku melihat Erlin tengah sibuk mengeringkan rambut dengan handuk. Aku berpikir ulang, kalau tak salah dia sudah tak berdarah.


"Erlin, kamu keramas? Jadi, nanti malam aku sudah boleh buka puasa dong ?" tebakanku berharap itu benar, dan jika benar aku akan minum jamu nanti. Aku tak sabar melihat Erlin hamil.


Erlin berhenti mengusap rambutnya dan menatapku. Dia ingin mengatakan sesuatu. Berjalan mendekat ke arahku.


"S-Sam," satu kata yang tersusun rapi dan kali pertama aku mendengar suaranya di pagi hari.


"Erlin, suara kamu? Kamu sudah bisa bicara?" aku kelabakan tak percaya dengan apa yang barusan aku dengar.


"Iya Erlin," aku langsung menghambur ke arahnya. Mengguncang bahu nya, memastikan ini bukan mimpi.


"A-aku ...." suara Erlin terdengar lirih dan masih parau.


"Sayang, kalau masih sakit jangan dipaksakan, perlahan saja! " ujarku kemudian. Aku memeluknya senang. Sudah sangat lama aku tak mendengar suaranya.


Membelai rambut dan mengecup keningnya.


"Selesai sarapan kita ke dokter, aku ingin mendengar sendiri keterangan dari dokter tentang kembalinya suaramu!" ujarku seraya menggiring Erlin keluar kamar.


Di ruang makan sudah ada kakek.


"Sam, ada seseorang yang ingin mengajukan lamaran di perusahan, apa kamu membutuhkan karyawan baru?" tanya kakek ketika aku dan Erlin sudah duduk di samping nya.


"Eum, sepertinya tidak!" sahut ku seraya mengambil piring yang Erlin sodorkan.


"Kasihan gadis itu, ada yang bilang keluarganya meninggal karena kecelakaan. Dia perlu uang untuk kebutuhan hidup sehari -hari nya. Mungkin cleaning service atau pembuat kopi?" ujar kakek berusaha memberikan sedikit informasi tentang orang asing itu.


Erlin menggoyangkan lenganku dengan tampang wajah yang cemberut. Mungkin maksud dia agar aku menerimanya.


"Baiklah Kek, suruh dia mengirim surat lamaran ke perusahaan! Aku akan keluar sebentar." kataku kemudian, kalau bukan Erlin yang merengek aku pasti tak setuju. Persoalannya, aku sudah menerima lima karyawan baru dan sudah tak ada lagi lowongan. Jika orang asing itu mau, nanti aku tawari sebagai barista, peracik kopi saja.


"Sam, itu bagus!" ujar Erlin yang terdengar lirih.

__ADS_1


"Erlin, suara kamu, kembali!" ujar kakek yang takjub juga dengan keajaiban pagi ini.


Erlin mengangguk, mengiyakan pernyataan kakek.


"Alhamdulillah Kek, rencana nya setelah sarapan aku akan membawa Erlin ke rumah sakit, memeriksakan kesembuhan Erlin. Takutnya nanti jika ada sesuatu, suara Erlin masih terdengar parau dan lirih." terangku.


"Ini perubahan yang luar biasa, cepat jangan sampai terlambat!" kata kakek menyemangati.


Aku mengangguk dan segera sarapan.


Pukul 08.00 Aku sudah berada di rumah sakit.


Dokter bilang, ini hal langka yang terjadi. Biasanya seseorang akan mengalami kerusakan pita suara selama satu tahun. Dokter juga menyarankan pada Erlin harus menjaga otot tenggorokan agar tetap rileks.


"Dengan banyak minum air, tenggorokan akan senantiasa terhidrasi. Tenggorokan yang kering berisiko menyebabkan kerusakan pada pita suara." terang dokter.


"Kamu juga dapat mengganti camilan dengan buah yang mengandung banyak air seperti apel, pir, semangka, melon, dan anggur." sambung dokter.


Setelah selesai mendengar penjelasan dokter, aku segera mengantar Erlin pulang.


"Sayang, entar malam siapkan dirimu ya, kita ngebet bikin adik!" ujarku berusaha memberitahu.


"Modus," ucap Erlin singkat. Aku tahu dia tak menolak.


Sepulang mengantarkan Erlin, aku segera menuju ke perusahaan.


Saat di ruangan kerjaku. Seorang gadis telah menunggu ku.


"Pagi Pak!" sapanya sopan.


"Pagi," sahutku datar. Gadis itu memiliki rambut yang pendek dan pirang. Wajahnya ada tompel besar di pipi bagian kanan.


Aku membaca surat lamarannya. Dia baru lulusan SMA tahun ini. Aku menawarkan dia menjadi barista, tanpa berpikir panjang gadis bernama Emi itu langsung mau.


"Kamu bisa bekerja sekarang!" titahku seraya meletakan kembali map berisi surat lamaran kerja nya.


Emi berdiri dan berjingkrak.


"Terima kasih Pak, aku akan bekerja dengan sebaik mungkin!" ujar Emi seraya mengulurkan tangannya.


Aku membiarkan tangan itu.


"Kamu bisa meninggalkan ruangan ini! Di luar ada sekretarisku yang akan menunjukkan tempat kamu." kataku tegas bermaksud agar dia tak lama -lama di ruanganku.


Emi pun menurunkan tangannya.


"Baik Pak!" ujarnya dan segera keluar.


Ada sedikit yang mengganjal dengan penampilan Emi, kakek bilang dia seorang yang tak memiliki harta benda. Ku lihat tadi dia mengenakan cincin berlian, dan aku tak asing dengan cincin itu.

__ADS_1


__ADS_2