Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Aku Harus Bagaimana?


__ADS_3

Aku tetap terdiam hingga sampai di pintu kamarnya.


"Turun kan aku, Kak!" rengeknya.


"Baik," sahutku singkat. Perlahan aku menurunkan bobot tubuhnya tepat di depan pintu.


Aku langsung balik kanan, namun dia menahanku dengan seruannya.


"Kak Sam!" panggilnya membuat aku menoleh.


"Jika, eum, maksudku, apakah Kakak akan bertanggung jawab jika aku hamil?" pertanyaan yang tak seharusnya ingin aku dengar.


Bulu kuduk ku nyaris berdiri tegak, apa yang bisa aku sampaikan padanya? Aku tak mungkin menikahi dia jika terbukti dia hamil, aku tak ingin mendua kan istriku dengan wanita lain meski itu adiknya sendiri. Namun, aku bukan pria pengecut yang lari dari tanggung jawab. Aku harus bagaimana?


"Izin kan aku berpikir, beristirahat dulu !" cukup kalimat itu yang bisa mengakhiri percakapan yang tak seharusnya diungkapkan.


Aku membalikkan badan lagi.


"Terima kasih Kak, sudah mengantarku sampai ke kamar!"


Aku hanya menjawab dengan deheman tanpa menoleh ke arahnya.


Aku berpapasan dengan Erlin bersama seseorang yang memakai kemeja putih.


"Sam, Eliana mana?" tanyanya.


"Dia ada di kamarnya." sahutku.


"Mari Dok, ikut saya !" Erlin dan dokter wanita itu melewatiku menuju kamar Eliana.


Rasa penasaran pun mulai bangkit, awalnya aku yang ingin pergi ke kamar ku batalkan dan mengekor istriku. Setelah sampai di muka pintu, aku tak langsung masuk tapi, sedikit menguping pembicaraan dari dalam.


"Bagaimana Dok keadaaan adik saya?" tanya Erlin terdengar sangat cemas.


Apa yang akan dikatakan dokter itu, jantung ku berpacu sangat cepat dan suara dentuman nya terdengar jelas kalau aku sangat takut.


"Ini hal lazim yang dialami ibu hamil pada umumnya." terang dokter wanita itu yang berhasil menampar hatiku.


"Ha-hamil!" pekik Erlin dan Eliana kompak.


Erlin terdengar tak memberikan reaksi marah seketika, malah terdengar dia sangat perduli dengan kehamilan Eliana.

__ADS_1


"Kamu hamil Na?"


"Kakak terlihat enggak marah?"


"Buat apa aku marah."


"Lantas, apa yang seharusnya dilakukan agar kejadian tadi tak terulang Dok?" tanya Erlin.


"Tidak ada hal serius yang harus dilakukan, istirahat yang cukup dan jangan terlalu lama begadang. Dua atau tiga minggu mungkin rasa mual akan lebih sering dirasakan, saya akan memberikan resep obat untuk mengurangi rasa mual." jelas dokter.


Selesai memeriksa keadaan Eliana, dokter wanita itu segera keluar.


"Apakah Anda suaminya, perhatikan lagi kesehatan istri Anda di awal kehamilannya." ujar dokter wanita itu yang menuduhku sebagai suami Eliana.


"Buk ...." belum selesai aku melanjutkan kata -kataku, Erlin menyembul keluar dari balik pintu dan lebih dulu mengiyakan pernyataan dokter.


"Benar Dokter, sekali lagi terima kasih Dokter! Aku akan memberi tahu dia agar lebih memperhatikan kondisi istrinya." Aku melotot tajam ke arahnya, dokter wanita itu segera pergi.


Erlin hendak kembali masuk ke dalam kamar Eliana tanpa mempedulikan mataku yang membulat sempurna, sebelum itu berhasil ia lakukan aku mencekal tangannya. Aku menyeretnya rada menjauh dari kamar Eliana.


"Lepas kan, Sam! Sakit!" pekiknya. Aku mengendorkan peganganku.


"Apa maksud kamu berkata demikian pada dokter?"


"Jelas salah, Erlin, kamu baru saja mengatakan pada dokter itu kalau aku adalah suami Eliana,"


"Sebentar lagi Sam, sebentar lagi kamu akan menyandang status itu."


"Apa maksud kamu Erlin, aku semakin enggak ngerti dengan jalan pikiran kamu!" aku mengernyitkan dahi.


"Pasti kamu sudah mendengar perkataan dokter barusan, mengenai kehamilan Eliana,"


Aku terdiam kehabisan kata-kata.


"Eliana hamil anak kamu 'kan, aku sudah tahu semuanya Sam, aku pura -pura buta dari kenyataan ini. Jadi, tidak perlu disembunyikan lagi. Sebaiknya, kamu segera menikahi Eliana sebelum kandungannya semakin membesar. Itu akan membuat malu keluargaku jika tahu Eliana anak kesayangan mami hamil diluar nikah. Terlebih kakek."


"Dari siapa kamu tahu?" hatiku berdebar dan kekhawatiran yang aku bayangkan terjadi juga.


"Itu tidak penting, aku tahu dari mana dan dari siapa. Sam, Eliana mengandung anak kamu, seharusnya kamu senang mendengar kabar ini, bukannya malah melototin aku seperti ini. Lepas kan tanganmu!" Aku melepas tanganku. Erlin tak jadi kembali ke kamar Eliana. Dia turun ke lantai bawah. Entah apa yang ia lakukan malam -malam begini.


Seketika itu juga, Eliana keluar kamar.

__ADS_1


Aku bak patung yang tak bisa bergerak tatkala bertemu pandang dengannya.


"Kak Sam, aku hamil. Aku tahu pasti Kak Sam juga sudah mendengar itu. Lantas, bagaimana nasib ku dan kandunganku Kak?" tanya Eliana terlihat iba. Tubuh kecil nya yang lemas, terlihat cukup jelas, setelah dia mengeluarkan semua isi makan malamnya tadi.


"Aku sendiri juga bingung Na, seperti yang aku katakan di awal tadi. Aku tidak ingin menduakan istriku, meski dia juga sudah tahu kalau aku adalah ayah dari janin yang kau kandung. Beri aku waktu."


"Sampai kapan Kak, sampai aku dipermalukan orang -orang? Terutama mami, mami pasti akan shock jika mendengar hal ini. Aku tidak mau melihat itu terjadi. Cukup sampai disini saja sandiwara yang kita mainkan. Kak Erlin juga sudah mengetahuinya. Bahkan dia menyetujui kita untuk menikah."


"Erlin berkata demikian?" tanyaku setengah tak percaya, Erlin menyuruhku untuk menikah? Dia hanya mengangguk.


Aku mengacak rambutku frustasi, Tuhan, takdir apa ini, mengapa Engkau memberi pilihan yang sangat sulit?


Aku meninggalkan Eliana menyusul istriku di lantai bawah. Ku telusuri jejaknya, dia tengah berada di luar rumah.


"Erlin," panggilku lirih. Dia enggan menoleh padaku.


Ku tatap punggungnya yang terguncang, sepertinya dia tengah menangis. Setelah dari dekat ku melihat ke arahnya, benar saja, dia sesenggukan.


"Erlin, maafkan aku. Itu semua terjadi tanpa sengaja, aku ...." Erlin membalikkan badan, meletakkan jari telunjuknya di ujung bibirku sambil menggelengkan kepala pelan.


"Jangan ceritakan itu! Yang ingin aku dengar kali ini darimu adalah, kamu setuju untuk bertangung jawab dengan menikahinya."


"Tidak semudah itu, Erlin." Erlin menurunkan tangannya.


"Itu mudah Sam, bahkan dulu kamu bersemangat sekali mau menikahi dia. Dan aku yakin, kamu masih ada rasa dengannya."


"Tidak. Tidak Erlin. Ku mohon jangan menyakiti aku dengan menyuruhku untuk menikahi dia. Sungguh, tidak ada wanita lain di hatiku selain kamu seorang!"


"Lalu, dengan kamu tak menikahi Eliana, siapa yang mau bertangung jawab dengan kehamilannya? Eliana harus menikah denganmu. Atau bila tidak, aku minta kita berpisah!" ancam Erlin yang membuatku tersudutkan.


"Sedongkol itukah pemikiran kamu. Kamu tidak memikirkan perasaan kamu sendiri?"


"Dengan kamu menikahi adikku, akan membuatku lebih tenang. Aku akan baik-baik saja. Aku mencintai kamu Sam. Dan buktikan padaku jika kamu benar -benar mencintai aku juga. Nikahi adikku!"


"Kamu keras kepala sekali, Erlin!" bentakku membuat dia bergidik ketakutan.


"Baik. Jika itu pilihanmu. Aku akan pergi malam ini juga." Erlin membalikkan badan dan setengah berlari menjauh. Tanpa berpikir panjang lagi, aku mengejarnya sampai dapat.


"Erlin, tunggu!" teriakku dan berhasil menarik tangannya hingga berada dalam dekapan ku. Aku memeluknya erat.


Dia membenamkan wajahnya di ceruk leherku.

__ADS_1


Aku mengusap lembut rambutnya yang panjang.


"Baik, aku akan menikahinya. Tapi dengan satu syarat!"


__ADS_2