
Erlin terjatuh dari ranjang, ia bermaksud melerai pertengkaran kami.
Aku segera mengangkat tubuh Erlin dan meletakkan tubuhnya kembali di atas ranjang.
Ciko dengan wajah mengejek berkata, "Sul, berapa pun uang yang kamu keluarkan untuk pengobatan Erlin, dia akan tetap sama, cacat! Sudah, aku ke sini hanya untuk menyampaikan satu penawaran yang bagus untuk kamu. Belilah saham di perusahaan Mex Group, aku yakin kamu tak akan kecewa." lalu pria berotak udang itu pergi.
"Cih, dasar pria tak tahu diri!" umpatku kesal.
"Sayang, kamu tidak apa - apa kan?" tanyaku pada Erlin dengan penuh kekhawatiran. Erlin menggelengkan kepala cepat.
"Kalau ingin sesuatu katakan padaku!" aku menyerahkan secarik kertas dan sebuah pulpen. Erlin menerimanya.
"Sam, aku baik, aku berharap kamu bisa menjauhi Ciko, dan apa pun yang berkaitan dengan Ciko. Ciko itu licik, aku takut jika dia berbuat nekat padamu." tulis Erlin di sebuah kertas.
"Erlin Sayang, kamu tak perlu cemas, aku bisa menjaga diri dengan baik. Pria berotak udang itu tidak ada apa-apanya dibanding aku." hiburku pada Erlin seraya mengusap kepalanya. Aku mengecup lagi keningnya dan segera pergi.
Aku menuju ke sebuah restoran untuk menemui klien di sana.
Tampak pengunjung masih sepi, mungkin aku terlalu pagi berkunjung ke sini.
Setelah memesan beberapa makanan, seseorang yang aku tunggu pun datang.
Seorang wanita cantik nan elegan berjalan menghampiri mejaku.
"Dengan Tuan Muda Samuel?" tanyanya sopan sebelum dia menarik kursi di depanku.
"Ya benar," sahut ku lekas seraya mempersilahkan dia untuk duduk.
Wanita itu mengulurkan tangan, "Perkenalkan, saya Emely perwakilan dari perusahaan Mex Group yang akan bekerja sama dengan perusahaan Anda!" aku menerima uluran tangannya.
"Samuel Ramadhan, silahkan duduk!" ujarku seraya mempersilahkan dia untuk duduk kembali.
Emely adalah seorang CEO wanita yang pertama kali aku temui selama berbisnis. Dia menawarkan berbagai keunggulan dalam usaha garmen. Lama sekali kami berbincang hingga tak terasa membuatku sangat lapar.
"Maaf Nona Emely, bagaimana kalau kita makan pagi bersama dulu?" tawarku pada Emely yang tengah sibuk merapikan berkasnya.
"Itu sebuah kehormatan bagiku bisa sarapan bersama dengan pebisnis terkenal seperti Anda." ucap Emely dengan senang.
Setelah selesai sarapan aku segera undur diri.
"Nona Emely, aku sangat menghargai jerih payah kamu. Aku akan segera mengirim kabar padamu secepatnya." ujarku sebelum pergi.
"Baik, senang berjumpa dengan Anda !" kami berjabat tangan perpisahan.
__ADS_1
Aku pun segera menuju ke parkiran mobil. Menyalakan mesin dan tiba - tiba saja ada notif masuk pada ponselku.
Aku segera membuka layar ponsel. Beberapa foto telah memenuhi layar ponselku. Foto berdua bersama Emely.
"Kamu akan tamat setelah istrimu tahu kalau suaminya adalah seorang penghianat." tulis pesan seseorang dengan nomor yang tak dikenal.
"Cih, dasar trik murahan!" aku tak menggubris isi pesan itu.
Segera ku meninggalkan restoran dan memilih untuk pulang sebentar ke rumah kakek.
"Sam, bagaimana kabar Erlin?" tanya kakek setelah aku tiba.
"Baik Kek, dokter bilang, Erlin besok sudah boleh pulang," sahut ku seraya duduk di samping kakek yang tengah sibuk membaca koran di teras depan.
"Bagus itu, ada yang ingin kakek tanyakan padamu," ujar kakek seraya melipat korannya dan beralih menatapku serius.
"Aku capek Kek, mau istirahat dulu," aku melonggarkan dasi dan hendak berdiri.
"Siapa dia?" kakek memperlihatkan ponselnya.
Aku penasaran dan mendekatkan wajahku untuk menatap layar ponsel milik kakek.
"Alamak, seseorang telah menjebakku!" pekikku dalam hati.
"Dia Emely Kek, " sahut ku datar.
"Kakek mengenalnya?" tanyaku balik. Rasa penasaran ku bangkit.
"Tidak ada yang tak tahu tentang dia. Dia sangat berpengaruh dalam dunia bisnis." terang kakek membuatku teringat dengan perkataan Ciko tentang saham yang ia tawarkan.
"Aku dan Emely hanya sekedar sarapan biasa sambil membahas bisnis, tidak ada yang lain." terangku agar kakek tak salah sangka.
"Tapi itu bahaya bagi kamu, Sam!" tukas kakek yang membuatku semakin penasaran dengan seorang CEO wanita itu.
"Masa hanya sarapan berdua saja bisa membahayakan nyawaku?" sahutku kesal dengan sangkalan kakek yang tak masuk di akal.
"Bukan nyawamu yang berbahaya, Sam! Tapi pernikahan kamu yang kakek khawatirkan," kakek menegaskan.
"Pernikahan ku ? Apa yang akan terjadi Kek?" tanyaku semakin penasaran.
"Emely terkenal dengan kepintarannya dalam berbisnis, apalagi dia seorang wanita yang belum berumah tangga, aku takut dia jatuh cinta padamu." terang kakek yang membuatku menahan tawa.
"Kakek ini bicara apa?" aku tak kuasa menahan tawaku.
__ADS_1
"Sam, ini serius!" kakek penuh penekanan tapi aku tak menggubris lagi.
Aku segera beranjak pergi ke kamar tanpa memperdulikan lagi teriakan kakek yang berusaha memanggil namaku.
Berbagai notif telah membanjiri layar ponselku.
Semua media memperbincangkan kedekatan aku dengan seorang CEO wanita. Meski aku tak merespon berita murahan itu, tapi aku sedikit punya rencana jika sewaktu - waktu situasi buruk menimpaku.
Keesokan harinya, Erlin sudah boleh meninggalkan rumah sakit.
Sesuai janji yang pernah aku sampaikan pada Erlin untuk membawanya pergi ke luar negeri.
.
"Erlin, lihatlah betapa indahnya negeri sakura ini!" ujarku kala membuka tirai kamar hotel. Erlin yang baru bangun pagi tengah mengucek kedua matanya. Dia berjalan ke arahku, memelukku dari belakang.
Aku menarik tangannya agar dia berada di posisi depan.
Giliran aku yang memeluknya dari belakang.
"Sayang, kamu suka ini?" tanyaku seraya mendaratkan ciuman di pipi kanannya. Dia mengangguk.
Aku mendaratkan ciuman lagi, giliran pipi kirinya biar tak cemburu. Erlin tertawa geli menerimanya.
Pandangan kami saling bertemu, meski wajah ayu nya sedikit memudar karena bekas jahitan, bagiku dia tetap bidadari dalam hatiku.
Aku mengecup bibirnya yang ranum itu. Dengan sensasi lembut dan penuh gairah. Akhirnya kami mengulang adegan semalam.
"Erlin, apa pun yang terjadi di antara kita, berjanjilah kamu akan tetap setia padaku!" kataku seraya membersihkan cairan bening yang keluar dari balik kain segi tiga.
Erlin mengangguk.
"Bagus, ayo mandi! Setelah sarapan kita jalan - jalan." ujarku kemudian.
Aku membalikkan badan. Sepasang tangan dari belakang merangkul badanku.
Erlin seolah ingin mengatakan sesuatu padaku. Meski aku tak mendengar dengan apa yang ingin dia katakan, aku tahu isi hatinya. Dia sangat mencintaiku. Menerima ku kembali dalam hidupnya dengan segala keadan yang ada adalah bukti ketulusan hati mencintai aku apa adanya.
"Erlin, aku berjanji akan membangun rumah tangga yang lebih romantis lagi. Aku mempersiapkan kejutan untuk mu di hari kebahagiaan kita ini.
Bersambung ....
Terima kasih pada kalian semua yang masih setia dengan Erlin dan Samuel. Semoga terhibur ...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😍