Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Anak Asuh


__ADS_3

"Itu ...." Erlin menunjuk seraya menutup kedua matanya. Takut dengan apa yang ia lihat. Aku mendekatinya seraya melihat apa yang Erlin lihat barusan.


"Astaghfirullah, Cemplon! " aku kaget setengah mati, di dalam tas besar berisi Cemplon yang sedang memainkan ponselku. Aku teringat saat di rumah paman Wito menyentuh layar ponsel dengan kode S tepat di depannya, tentu itu sangat mudah baginya.


Aku mengeluarkan Cemplon dari sana.


"Untung kamu nggak mati karena kekurangan oksigen," ujarku saat mengangkat tubuh kecilnya, Cemplon tampak menguap seraya mengucek salah satu matanya. Dia sudah berdiri tegak sekarang.


"Sini!" aku meminta kembali ponselku. Terlalu lama bermain ponsel membuatnya mengantuk.


"Cemplon, bagaimana bisa kamu berada di sini?" tanya Erlin kemudian.


"Cemplon suka sama Mbak Erlin!" ujar bocah itu dengan polos nya.


"Suka? Hai bocah botak, dia milikku!" ujarku yang tak suka melihat dia seketika memeluk kaki Erlin. Sontak aku menjitak kepala nya yang botak.


"Aduh, sakit!" dia mengelus kepala plontos nya.


"Rasain," batinku.


"Sam, kamu membuatnya takut!" hardik Erlin yang tak aku hiraukan. Erlin membantu mengusap kepalanya lalu memeluknya kembali. Sesekali bocah usil itu menjulurkan lidah ke arahku.


Aku sangat geram melihatnya.


"Cemplon, kalau kamu ikut mbak Erlin, orang tua kamu pasti cemas, mbak mau telepon bibi Wati dulu ya,"


Erlin melepas pelukan Cemplon, lalu merogoh ponsel di tas kecilnya.


Cemplon terlihat menurut. Tapi tidak! Dia berlari memasuki rumah yang sejak tadi sudah terbuka lebar. Aku mengejarnya, siapa tahu dia membuat onar di dalam sana.


Nafasku tersengal - sengal berlarian mengejarnya. Aku sampai di ruang tamu. Namun nihil, aku tak mendapatkan tuyul itu.


"Kemana perginya Cemplon ya?" Gumam ku seraya mencarinya di kolong meja.


Erlin masuk dan menegurku.


"Sam, bi Wati bilang sudah tiga hari Cemplon berada di rumah paman Wito. Ayahnya sudah lama meninggal sejak ia dalam kandungan ibunya," terang Erlin seraya menepuk bahuku.


"Aww!" kepalaku terbentur meja. Erlin mengusap kepalaku.


"Maaf Sam, kamu nggak apa- apa kan?" tanyanya khawatir.


"Kamu membuatku kaget," sahut ku kemudian.


"Lagian kamu cari apa sih, sampai sembunyi di kolong meja segala," selidik Erlin.


"Cemplon berlari ke sini, aku kira dia suka main petak umpet."

__ADS_1


"Apa kamu tak khawatir kalau dia memecahkan barang yang ada di rumah ini?" terka Erlin yang membuatku terhenyak.


Baru saja kami selesai membicarakan Cemplon, terdengar suara benda jatuh di lantai atas.


"Suara itu," aku bergegas berlari menaiki tangga. Erlin mengikuti ku dari belakang.


Suara pecahan tadi berasal dari kamar kakek.


Aku segera membuka pintu. Dan apa yang terjadi?


"Sam, ada tuyul!" pekik kakek yang sedang berdiri di atas meja. Tangannya gemetar ketakutan. Suasana malam sangat mendukung kalau Cemplon cocok sekali menjadi tuyul. Untungnya bukan tuyul dan mbak Yul.


"Cemplon, apa yang kamu lakukan di kamar kakek?" Erlin mendekap Cemplon yang kakinya siap untuk berlari. Cemplon meronta ingin lepas dari Erlin.


"Ada cicak, Cemplon ingin tangkap." ujarnya polos seraya berusaha meloloskan diri.


Aku memegangi kakek dan membantunya turun.


"Sam, jelaskan pada kakek!" kakek mengelus dadanya. Mungkin sangking kagetnya.


"Ini Cemplon Kek!" Aku melambaikan tangan agar Cemplon ke mari.


"Ayo salim!" perintahku yang dengan segera ditanggapi cepat olehnya. Kini kakek bisa bernafas lega.


"Siapa Cemplon ini? Dan bagaimana dia bisa masuk ke dalam kamarku malam - malam begini?"


"Dia keponakan bibi saya yang ada di desa, Kek," ujar Erlin menjelaskan.


"Bibi Wati bilang, kini Cemplon menjadi anak yatim piatu Kek," terang Erlin membuat aku membelalakkan mata.


"Erlin, bukannya tadi kamu bilang ayahnya yang meninggal saat Cemplon berada di dalam kandungan ?"


"Aku tadi belum selesai bicara Sam, iya itu memang benar. Ibunya Cemplon meninggal saat melahirkan dia ," Erlin terlihat mulai berkaca - kaca.


"Kasihan sekali nasib kamu, Plon !" gumamku.


"Terus bibi kamu, bilang apa lagi?" tanyaku.


"Paman Wito tak bisa menjemputnya malam ini, jadi otomatis dia menginap semalam di rumah ini." terang Erlin seolah dia setuju dengan permintaan paman Wito.


"Menginap? Kamu tak salah mendengar Erlin?" aku tampak panik jika malam ini dia merepotkan aku, jadwal nya malam ini si junior masuk sangkar e ...


"Sam, kalau begini ceritanya lebih baik biarkan si Cemplon tinggal beberapa hari di sini!" pinta kakek, entah angin dari mana yang membuat kakek berubah moodnya.


"Tidak bisa Kek!" tolakku, "Dia kan anak orang,"


"Sam," kakek menyentil kupingku.

__ADS_1


"Aww, sakit Kek, aku bukan anak kecil lagi!" pekikku seraya mengusap kuping.


Erlin dan Cemplon kompak cekikikan menahan tawa.


"Dia bocah yatim piatu, ingat orang-orang yang memelihara anak yatim di antara umat muslimin, memberikan mereka makan dan minum, pasti Allah memasukkannya ke dalam surga, kecuali ia melakukan dosa yang tidak bisa diampuni." ceramah kakek yang berhasil membuatku luluh.


"Baik Kek," sahut ku seraya berpikir bagaimana caranya agar si Cemplon tak berulah malam ini.


"Nah Cemplon, bilang terima kasih sama kakek, malam ini kakak bisa tidur bersamamu!" ujar Erlin yang membuatku membelalakkan mata.


"Erlin, bukan begitu tadi yang kakek katakan, Cemplon bisa tinggal di sini bukan berarti dia tidur bersamamu kan?" protes ku yang tak setuju dengan pernyataan Erlin.


"Masa kamu tega membiarkan bocah 4 tahun tidur sendirian?" Erlin melotot ke arahku.


"Yah kan biar mandiri!"


"Ayo Cemplon, bilang ke kakek apa tadi?" Erlin tak menghiraukan aku.


"Terima kasih Kek, Cemplon sayang Kakek!" ujar Cemplon dengan suaranya yang manja, dia menghambur ke arah kakek. Kakek terlihat senang bahkan kakek beberapa kali mengusap kepalanya yang plontos itu.


"Sam, bisa kamu menjadikan dia sebagai anak asuh kamu?" kata kakek enteng.


"Anak asuh!"


"Tidak - tidak, model kayak tuyul begitu!"


"Sam, ingat dia bocah yatim piatu!" hardik kakek yang membuatku menciut.


"Usul kakek tidak sepenuhnya salah kok, aku setuju, yah anggap saja dia anak kita, siapa tahu dengan mengasuh dia kita cepet diberi momongan, iya kan Sam?" Erlin menatapku seolah memohon agar aku juga setuju.


"Alamak, baru mulai ronde berikutnya, ada aja godaan nya," keluh ku dalam batin.


"Baiklah terserah kalian berdua," aku melengos menuju kamarku ingin segera tidur.


Terlihat mereka bertiga begitu senangnya.


Saat pertengahan tidur.


"Sam, geser dikit!" suara Erlin berhasil membuatku terbangun, meski mata masih terpejam.


Bukannya geser, tanganku mencoba menggapai nya. Terasa basah, bukannya Erlin yang aku peroleh.


Aku membuka mata lebar, ku dapati istriku sudah terduduk.


"Apaan ini!" pekikku.


"Ssttttt, jangan kencang - kencang, Sam, nanti dia terbangun!" bisik Erlin seraya menempelkan ujung jari di bibir.

__ADS_1


"Cemplon ngompol,"


"Alamak Erlin, ini nih akibatnya dia seranjang dengan kita. Sudah nggak bisa pelukan malah bau pesing!" omelku.


__ADS_2