
"Perutku," gumamku lirih seraya menahan lapar.
Aku ingat betul, berbagai varian menu saat sarapan tadi memenuhi otakku. Gengsi terlalu gede hingga aku naif untuk mengakui kalau sebenarnya masakan mertuaku tadi enak.
"Rasakan ini!" terlalu banyak melamun makanan, tak terasa serangan Ciko sudah mendarat di wajahku.
Rasa sakit membuat aku meringis.
"Sial, akan ku balas kamu!" teriakku seraya menyerangnya balik.
Ciko berhasil menangkis seranganku.
Tak sampai berhenti di situ, gerakannya pun lebih cepat dari yang dulu saat aku memergoki dia bersama Erlin.
"Tenaga ku semakin menurun, ini tidak bisa dibiarkan aku harus bisa mengalahkan otak udang itu,"
Seseorang entah siapa itu datang lalu ikut menaiki ring. Wajahnya memakai masker, kepalanya pun ditutupi topi sehinga aku tak tahu. Dan 'bruak' aku dibuatnya melongo, orang yang baru datang itu mengayunkan tinju tepat di perut Ciko. Seketika Ciko ambruk dan pingsan.
"Hei, siapa kamu!" bentakku pada orang asing itu yang telah mengacaukan pertandinganku.
Orang asing itu melepas topi dan membuka maskernya.
"Bondan?"
"Tuan Muda Sam, maafkan aku. Meski Anda memintaku untuk cuti tapi tugas saya akan tetap berjalan." ujarnya membuat aku benar - benar marah.
"Kamu mengacaukan semuanya, aku hampir saja bisa menghajar pria ini!"
"Saya sudah memantau Anda sejak dari rumah kakek, mari ikut saya!" ajaknya seraya memungut setelan kemeja ku.
"Masih terlalu pagi untuk bersenang - senang Tuan," sambungnya lagi seraya memberikan setelan kemeja padaku. Dengan tatapan tak suka aku menerimanya.
Setelah aku mengenakan kembali pakaian resmiku, Bondan menggiringku menuju mobil.
"Mana Tuan kuncinya?" dia menengadahkan tangan. Aku merogoh saku jas dan menyerahkan kunci mobil.
"Sebelum kamu mengantar aku ke kantor, aku mau makan dulu!" pintaku. Dia mengangguk paham.
__ADS_1
Pukul 10.00 aku baru tiba di kantor. Sambil mengusap wajahku yang memar aku segera menyalakan laptop.
"Tok, tok, tok!" terdengar seseorang mengetuk pintu.
"Masuk!" perintahku. Ternyata Bondan yang datang membawa baskom berisi air hangat dan lap.
"Untuk apa ini?" tanyaku seraya mengerutkan dahi.
"Ini untuk mengompres wajah Tuan Muda, jika kakek tahu hal ini, beliau tidak akan memberi ampun orang yang telah melukai Tuan. Termasuk saya juga akan kena marah karena lalai menjaga Tuan." terang nya membuat aku berfikir. Sejauh ini kah rasa kepedulian kakek terhadapku. Aku ini bukan bocah lagi, tapi aku seorang pria yang sudah beristri.
"Kakek sangat menyanyangi Tuan, jadi saya mohon Anda jangan melakukan hal konyol lagi," ujarnya seraya menyodorkan lap.
"Baik, biar aku mengompres sendiri. Kami boleh keluar, aku takkan menceritakan hal ini pada kakek."
"Terima kasih Tuan Muda!" Bondan segera meninggalkan ruanganku.
Terpaksa aku menghargai jerih payahnya, mengompres wajahku dengan pelan. Sedikit aku menahan rasa perih.
.
"Tidak kek, ini tadi aku terbentur meja saat di kantor," terangku bohong.
Benar apa yang dikatakan Baron, ternyata kakek sangat perhatian padaku.
"Coba kakek lihat, kemarilah!" kakek mengayunkan tangan. Mau tidak mau aku harus mendekat.
"Wah, bagaimana ini jika kakek tahu kalau aku terkena pukulan si otak udang, urusannya semakin runyam." batinku was - was.
Aku berjalan mendekati kakek. Kakek menghentikan aktivitas membacanya. Aku duduk tepat di depannya.
"Ini bukan kepentok, tapi kena pukul, kamu tak bisa membohongiku!" kakek mengamati wajahku dengan intens.
"Jujur padaku, apa yang terjadi?" desak kakek. Aku tak mungkin memberitahukan hal ini, apa yang harus ku lakukan?
"Sungguh Kek, aku tak berbohong, lagian dengan siapa aku bertinju?" aku segera menutup mulutku.
"Kakek tak mengatakan kalau kamu kena tinju, nah pada akhirnya kamu mengaku juga kan?"
__ADS_1
"Tidak Kek, bukan begitu maksudku tadi!"
Kakek mengambil ponselnya, sepertinya kakek ingin melakukan sesuatu.
"Jangan Kek, ku mohon, ini adalah urusan pribadiku. Aku tak ingin berbuntut lebih panjang lagi. Aku bisa mengatasi ini!" aku menghalangi kakek menekan ponselnya.
Kakek memandangku lekat, "Baiklah, tapi lain kali aku tak ingin terjadi sesuatu padamu. Dan kamu akan melihat sendiri apa yang akan kakek lakukan jika ada hal buruk yang menimpamu."
"Aku janji Kek, aku takkan melakukan sesuatu yang membahayakan nyawaku!"
"Kakek pegang omongan kamu Sam, kakek tak ingin kehilangan seseorang yang kakek cintai. Hanya kamu yang kakek miliki." ujar kakek lalu beranjak dari kursi pergi ke kamarnya.
Aku mendesah kesal merutuki keputusan ku yang menerima tantangan Ciko. Aku segera ke kamar.
Saat di kamar aku segera mandi dan mengganti pakaianku. Menyalakan laptop dan mengamati aktivitas istriku selama aku tak di rumah.
Erlin terlihat sangat cantik dan rapi pagi tadi, dia akan pergi ke luar untuk menjalankan usahanya di butik. Suasana kamarnya tampak sepi, itu wajar karena Eliana juga sedang ke kampus.
Aku menyandarkan kepalaku, beristirahat sejenak. Sekian menit kemudian, aku tersadar dari tidurmu. Mengucek kedua mataku dan melihat jam ternyata sudah pukul 16.00. Tak banyak kegiatan ku yang aku lakukan di dalam kamar selain memandangi layar laptop. Ku lihat CCTV di dapur, Erlin ada di sana, dia ternyata sudah pulang entah sejak kapan.
Aku buru - buru keluar kamar menuruni tangga dan menuju dapur.
"Erlin, aku ingin menagih hutangku!" ujarku mengejutkan dia yang tengah mengambil minuman dingin.
"Kamu mengagetkanku, lihat sampai tumpah begini!" Gerutunya seraya mengusap tangannya yang sejak tadi sibuk membawa gelas.
"Hutang yang mana?" Tanya nya seraya mengingat - ingat.
"Dasar pikun!" ledekku.
"Aku belum tua, dan stop membuliku dengan perkataan seperti itu. Oke aku sudah ingat, apa maumu?" tanyanya kemudian.
"Temani aku ke kafe,"
"Hah, aku tak salah dengar? Kamu kan calon tunangan Eliana, sana ajak dia!" Erlin membalikkan badan mengabaikan ajakan ku.
"Geer banget, aku kan hanya meminta kamu untuk menemani aku saja. Aku emang mau ngajak Eliana kok!" aku mendengus kesal.
__ADS_1