
Erlin membuang kasar tangan Emely ke udara.
Dengan tatapan tajam seraya mengacungkan jari.
"Siapa lagi wanita ini, buruk sekali wajahnya!" ujar Emely dengan nada mengejek.
Aku menarik paksa tangan Erlin agar menurunkan jarinya.
"Berani sekali kamu menghina wanitaku! Kamu akan menerima akibatnya, lihat saja nanti!" ancamku tak terima dengan hinaan yang Emely lontarkan.
"Cih, kalian berdua pasangan yang sungguh menjijikkan. Si pria wajahnya buluk, sedang si wanita wajahnya seperti alien, cocok sekali!" umpatnya, aku mendengar kata-katanya serasa ingin merobek mulutnya. Sungguh hari ini dia membuatku naik pitam.
"Emely, hentikan kata -kata buruk yang keluar dari mulut busukmu itu! Kalau tidak ...." aku menatapnya tajam. Seraya bergetar tubuh ini. Erlin merangkul dadaku agar aku bersabar meladeni Emely.
"Apa yang bisa kamu lakukan terhadapku, hah!" Emely pun membentak ku, dia tak punya rasa takut sedikit pun terhadap ku.
"Tunggu dalam waktu 5 menit, biarkan aku menelepon seseorang setelah itu kamu akan mendengar sendiri kabar hebat yang akan menggemparkan dunia!" aku memperlihatkan telapak tanganku tepat di dekat wajahnya.
"Emely, kali ini aku tak sedang main-main denganmu!" Segera ku merogoh ponsel dan mencari kontak nama Santo. Asisten yang terpercaya dan aku sangat mengandalkan kemampuannya.
"Hallo, Santo, segera urus pembelian saham milik perusahaan Max Group! Catatan, beli semua saham dengan harga paling murah."
"Baik Tuan Muda!" sahut Santo yang segera melaksanakan perintahku.
"Seenaknya saja kamu membeli sahamku dengan harga murahan, tidak, aku tidak setuju!" Emely memberontak tak terima dengan keputusan ku.
Selain itu, aku juga sudah memerintahkan Santo lewat whatshap agar dengan cepat menjual saham yang sudah aku beli dari Max Group kepada perusahaan asing dengan harga setinggi-tingginya.
Aku tersenyum renyah padanya.
"Emely, kamu akan hancur, kamulah yang menggali lubang untuk dirimu sendiri dan akan terperosok ke dalamnya. Kamu telah menyalakan api kemarahan ku. Mungkin kekerasan fisik tidak akan menyelesaikan masalah kita. Namun, dengar kan aku baik-baik!" aku memberikan penegasan pada Emely agar dia tak mudah menghina orang lain lagi, meski dia itu lebih baik dari orang lain.
"Aku Samuel Ramadhan, tidak akan tinggal diam jika kamu menghina istriku di muka umum!"
Emely tampak menganga mendengar penuturanku.
"Dia istrimu? Sangat pantas bersanding denganmu,"
"Dan dengarkan aku baik-baik juga, aku Emely Wilson tidak pernah takut dengan ancaman kamu!" Emely masih belum menerima kekalahannya.
"Bersyukur juga aku tahu siapa kamu sebenarnya, sebelum lebih jauh aku melangkah untuk mengejar cinta darimu."
Aku merangkul bahu Erlin.
"Baik, kalau itu mau kamu!"
__ADS_1
"Meski Erlin seperti ini, dialah bidadari cintaku, takkan ada yang bisa menggantikan posisinya di hatiku." ucapku tegas.
Seketika itu juga belum sampai 5 menit, ponselku berdering. Setelah aku melihat siapa peneleponnya, ternyata itu dari Santo.
"Ya, katakan dengan jelas!" perintahku agar Emely dapat mendengarnya.
"Saham milik Tuan yang baru saja dibeli dari Max Group kini telah resmi terjual dengan harga selangit. Uang Anda akan segera masuk ke nomor rekening." terang Santo yang sangat memuaskan pendengaranku.
"Bagus, kerja yang sangat luar biasa, terima kasih Santo!" aku memuji hasil jerih payahnya.
"Sama-sama Tuan Muda," Santo segera mengakhiri panggilannya.
"Curang, kamu menjatuhkan harga sahamku dan semudah itu menaikkan harganya dalam sekejap. Aku tak terima ini!" Emely menarik kerah ku dan meronta -ronta.
Tak lama setelah itu ponselnya berdering.
Emely melepas tangannya dan meraih ponselnya.
"Ya hallo, apa! Bangkrut? Itu tidak mungkin!" Emely terdengar sangat shock. Ponsel yang berada di tangannya ia banting hingga pecah berantakan.
Dia tak bisa mengendalikan amarahnya. Dia menyapu semua yang ada di atas meja dengan lengannya. Meja itu kebetulan ada di sampingnya.
Teriakannya sebagai pelampiasan atas kekecewaan terhadap ku.
"Makanya jadi orang jangan sombong!" ujarku dalam hati.
Sesampainya di tempat parkir.
"Tuan Muda, apa Anda sudah mendengar tentang kebangkrutan perusahan Max Group?" tanya Bondan padaku.
Aku hanya mengangguk, "Ayo kita pulang!" ajakku kemudian.
"Baik Tuan Muda!" Bondan tak banyak bertanya, padahal aku tahu dia ingin mengorek sedikit informasi tentang bagaimana jatuhnya perusahaan Emely dalam waktu kurang 5 menit itu.
"Erlin, apa sebelumnya kamu sudah tahu kalau aku dan Emely saling kenal?" tanyaku was -was agar dia tak tersinggung.
Erlin mengangguk.
"Maafkan aku yang tak terbuka padamu, dia hanya rekan bisnis tidak lebih."
Erlin seakan paham dengan maksud ku.
"Kamu yang merencanakan agar wajahku kembali buluk begini pasti ada alasannya kan? Aku tahu, itu agar aku dijauhi wanita lain kan?" tanyaku beruntun dan ternyata apa yang aku simpulkan sendiri adalah benar.
Aku memeluk Erlin dengan kehangatan, sampai kami tiba di rumah.
__ADS_1
"Tuan, sudah Sampai," kata Bondan berusaha memberitahu ku.
Aku menggeliat dan membuka mata, ternyata kami berdua tertidur.
"Stttt, aku akan menggendong Erlin, tolong buka pintu nya!" perintahku dan segera Bondan keluar mobil dan membukakan pintu untukku.
Setelah pintu mobil terbuka, aku mengangkat tubuh Erlin perlahan dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Aku melihat kakek berada di ambang pintu.
"Setelah ini, kita bicara!" ujar kakek yang melihatku membopong Erlin.
"Iya Kek, aku akan membawa Erlin ke atas dulu." aku memberitahu kakek.
Ku tatap wajah Erlin yang begitu pulas, sampai tak terasa kalau dia sudah berpindah ke kamar.
"Selamat tidur sayang, aku akan menemui kakek terlebih dahulu, setelah itu aku akan memelukmu lagi." bisikku pada telinga seraya mengecup pipinya.
Saat bertemu kakek di bawah.
"Apa kamu tidak kelewatan melakukan ini?" tanya kakek, aku sudah bisa menebak arah pertanyaan kakek ini pasti mengenai Emely.
"Ini sudah setimpal dengan hinaan yang Emely berikan pada istriku. Bahkan aku juga bisa membakar perusahaannya, tapi aku tidak sekejam itu. Semoga Emely sadar dengan sikap nya yang sok sempurna itu!" kataku pada kakek. Kakek manggut -manggut saja mendengar penuturanku.
"Tapi Sam, aku khawatir orang tua Emely turun tangan dalam urusan ini."
"Aku tidak takut Kek, entah itu orang tuanya, sepupunya, bahkan pamannya sekalipun yang menantangku akan aku ladeni."
"Bagus, tetap jaga Erlin dan jangan biarkan orang lain menyakitinya. Aku bangga padamu. Dan kakek bersyukur sekali kamu tak jadi menikahi Eliana."
Setelah sedikit bercengkrama dengan kakek, aku segera kembali ke kamar, tidur sambil memeluk istriku.
Aku sudah siap menaiki ranjang. Dan tiba-tiba Erlin menggeliat. Aku menatap lekat kedua matanya.
Seolah dia bertanya apa yang sedang ingin aku lakukan padanya?
"Erlin, aku ketagihan nih, kita bercinta yuk, mumpung malam minggu!" ajakku tanpa basa-basi lagi.
Erlin seakan tak menolakku bahkan dia ikut andil melepaskan pakaianku.
Setelah aku sudah polos giliran aku membantunya.
Saat tinggal kain segitiga saja yang menempel di badan, mendadak Erlin mencegah ku untuk mendekatinya.
"Ada apa Erlin?" Aku menatap lekat ke arah kain segitiganya.
__ADS_1
"Kamu berdarah,"