Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Kado Untuk Eliana


__ADS_3

Aku kini sudah menghilang dari pandangan Erlin. Rasanya nggak tega juga melihat dia menangis.


Setelah berganti pakaian dan melepas tompel aku segera melajukan mobil ke kampus Eliana.


Sesampainya di kampus, tampak mahasiswa berkerumun tengah mengantri memesan makanan.


Mataku tak henti - hentinya menyorot kerumunan itu.


"Kak Sam!" panggil Eliana seraya menepuk pundak ku, sungguh kehadirannya membuatku kaget.


Aku membalikkan badan.


"Eliana! Bagaimana kamu bisa mengenali aku, walau hanya dengan melihatku dari arah belakang?"


"Kan Kak Sam calon suami aku, jadi aku hafal betul dong postur tubuh Kakak," ujarnya.


"Eh, teman - teman, ke sini semuanya!" teriak Erlin memanggil semua temannya. Dan seisi kantin menoleh dan menghambur ke arahku.


"Alamak, gadis ini sungguh tak tahu malu," gerutuku kesal.


"Teman - teman semuanya, perkenalkan ini calon suami aku!" terang Eliana seraya tangannya bergelanyut manja pada lenganku.


Aku mengangkat tangan kananku menyapa mereka.


"Hai," sahutku.


"Perkenalkan nama Kakak ..." bisik Eliana ke telingaku.


"Hai semuanya, perkenalkan aku Samuel, calon suami Eliana." ujarku seraya menampakkan deretan gigi depanku, malu banget aku.


Mereka semua melambaikan tangan ke arahku.


"Wah, ganteng banget, dapat dari mana?" teriak salah satu teman ceweknya.


"Aku mau dong yang seperti itu!"


"Eliana hebat ya pilih calon suami,"


"Iya, udah ganteng kaya pula,"


"Limited edition," tukas Eliana yang dengan segera menarikku pergi dari kantin.


"Kamu sudah makan?" tanyaku setelah dia mengajak ku di tempat yang nggak begitu ramai mahasiswanya.


"Belum, di kantin lama ngantrinya. Bisa kesemutan aku kelamaan menunggu."


"Bagus kalau begitu, ikut aku!" aku menarik paksa tangannya menuju parkiran mobil.


"Kemana Kak Sam?"


"Sudah jangan bawel, nanti kamu akan tahu sendiri."


"Tapi aku laper, kita makan dulu yuk Kak!"


"Ok,"


Aku mengajak dia ke cafe langgananku. Setelah puas makan dan minum aku membawanya pergi ke suatu tempat.


"Wow, cantik sekali!" serunya seraya berkeliling. Aku membawanya ke sebuah toko kosmetik.


"Kamu suka?" tanyaku seraya menyiapkan kartu ATM.

__ADS_1


"Iya Kak Sam, aku mau pilih dulu lipstik keluaran terbaru." ujarnya hendak pergi.


"Ngapain di pilih," aku sudah bernegoisasi dengan pemilik toko untuk membeli toko kosmetik ini dengan harga tiga kali lipat. Aku sudah berjanji padanya untuk memberikan hadiah ini saat ulang tahunnya yang sudah kadaluwarsa.


Eliana masih belum ngeh juga.


"Eliana, dengarkan aku! Toko ini sudah aku beli, dan sekarang menjadi milik kamu."


"Sungguh, apa aku bermimpi di siang bolong?" Eliana mendekatkan lengannya padaku.


"Coba Kak Sam cubit yang keras tanganku!" aku mencubitnya sesuai permintaan dia.


"Aww, aduh, sakit ... uh, uh," keluhnya menjerit histeris seraya mengibaskan tangannya.


"Lagian, siapa yang suruh tadi?"


"Iya, tapi kan nggak kencang - kencang amat," ujarnya.


"Ternyata aku tidak bermimpi, ini nyata," Eliana memutar tubuhnya dengan kegirangan dan berkeliling toko.


Meski ukurannya minim, tapi dekorasinya sangat pas untuk Eliana.


.


"Sudah puas? Kita kembali ke kampus atau langsung pulang saja?"


"Siang ini aku tidak ada jadwal mata kuliah, kita pulang saja! Jarang - jarang kan, Kak Sam menjemput ku."


"Baiklah, ini ada sesuatu untukmu," aku menyerahkan sebuah kotak merah.


"Apa ini Kak?" tanyanya sembari menerima benda itu.


Eliana segera membuka kotak merah itu.


"Indah banget, aku suka!" Eliana mengeluarkan sebuah liontin dari kotak itu dan menunjukkan padaku.


"Suka?"


"Suka banget, banget, bangeeett ...!"


"Sini aku bantu untuk memakainya!" aku mengenakan liontin itu di leher jenjangnya.


"Terima kasih Kak! I love you, muahh!" Eliana dengan berani mencium pipiku, hingga membuat yang di bawah sana menegang.


"Lepas Eliana, kita belum muhrim!" ujarku untuk mengendalikan diri.


"Maaf Kak," ujarnya lirih, kami saling diam untuk beberapa detik.


"Oh iya," kami berbicara bersamaan.


"Kakak dulu,"


"Sudah kamu duluan," pintaku.


"Kapan Kak Sam akan melamar ku," ujarnya malu - malu.


"Nanti malam," sahutku cepat.


.


Sesampainya di rumah, Eliana berlari mendahului ku. Dia memberitahukan kepada setiap orang yang ia jumpai tentang pertunangan.

__ADS_1


"Kak Erlin," Eliana menarik tangannya.


"Ceria banget wajah adikku yang imut ini, coba katakan apa?"


"Kok wajah Kak Erlin sembab begitu Kak Erlin habis nangis ya?" selidik Eliana seraya menangkup kedua pipinya.


"Enggak kok, tadi mata kakak kelilipan, jadi ya debu nya bikin mata kakak nangis," bohong Erlin, padahal dia menangisi kepergianku.


"Ayo katakan!"desak Erlin.


"Kak Sam malam ini mau melamar ku!" pekiknya penuh kegirangan.


"Syukur Dik, kalau begitu selamat ya!" ujar Erlin.


"Aku akan memberitahu papi dan mami," Erlin mengangguk, Eliana berlari ke dalam.


Sementara aku masih diam mematung. Menatapnya dengan penuh tanda tanya. Bagaimana reaksinya, apa dia akan puas dengan keputusan ku atau sebaliknya?


"Kamu menepati janji juga, baru pagi tadi kita bicara, dan keputusanmu patut diacungi jempol." Erlin menunjukkan jempolnya.


"Apa kamu yakin setelah ini akan baik - baik saja?" selidik ku.


"Apa maksud kamu Sam?"


"Wajah kamu tak bisa berbohong, aku tahu kamu sedang terluka. Dan itu pasti kamu cemburu kan dengan keputusan ku barusan?" ledekku.


"Ih, enggak! Dengarkan aku Sam, aku sudah bersuami dan suamiku lebih baik dari apa pun yang kamu miliki!" ujar Erlin antusias. Ini hal baru yang sangat aku sukai darinya.


"Suami seperti apa yang kamu janjikan? Bukan nya dia pergi meninggalkan kamu karena kamu selingkuh?"


"Tahu apa kamu tentang kehidupanku? "


"Aku Samuel Ramadhan, tidak ada yang tidak aku ketahui tentang hidupmu." aku berjalan melewatinya yang masih mencerna pernyataan ku.


"Hei Sam, manusia macam apa kamu yang tahu hidup orang, hah! Dasar pria sok tajir, mentang - mentang kaya sukanya menindas!" umpatnya yang masih bisa aku dengar.


Aku hanya menyunggingkan senyum puas.


"Samuel!" panggil kakek.


"Iya Kek!"


"Kita harus bicara!" kakek membalikkan badan menuju ruang kerjanya, aku mengekor.


"Apa kamu sudah siap?"


"Tentang apa Kek?"


"Wanita itu tercipta dari tulang rusuk laki - laki, dan tulang rusuk itu salah satu tulang yang mudah sekali patah ketimbang tulang lainnya. Sama, dengan kedua wanita yang kini sudah ada pada genggaman kamu. Salah satu dari mereka akan kamu patahkan hatinya. Aku tak bisa membantumu, hanya saran kakek, akhiri saja permainan ini."


"Kakek yakin, kamu takkan sanggup kehilangan Erlin jika kamu benar - benar ingin menikahi Eliana."


"Samuel sudah yakin dengan keputusan ini Kek! Jika Erlin sudah terluka hatinya, aku akan sangat puas. Dan dengan begitu dia akan melepas ku."


"Samuel, kamu jangan keterlaluan! Sudahi sandiwara ini, kakek sangat menyanyangi Erlin. Aku berharap dia menjadi cucu menantuku selamanya."


kakek membentak ku.


"Kita lihat saja nanti Kek, seperti apa ending nya,"


Aku segera keluar meninggalkan kakek.

__ADS_1


__ADS_2