Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Eliana Pov


__ADS_3

Aku Eliana Wijaya, usiaku 19 tahun. Dan sebentar lagi aku akan menikah dengan seorang pria yang tajirnya tiada tara. Pria itu bernama kak Sam.


Tapi aku merasakan dia tak serius ingin menikah denganku. Aku tak ambil pusing dengan itu, lambat laun jika aku menempel terus dengannya dia juga bakal menerimaku. Jujur saja aku terlanjur jatuh cinta padanya. Cinta pada pandangan pertama, yakni saat dia tak sengaja menabrakku.


Papi ku bangkrut dan kak Sam lah yang menolong keluargaku, dia meminta keluarga ku untuk tinggal serumah dengannya. Dia hanya tinggal berdua dengan kakeknya.


Untuk menolong keluargaku dari kemiskinan, kak Sam menjatuhkan pilihannya pada ku untuk dijadikan istri nya.


Aku sangat senang, terlebih saat acara pertunangan yang gagal itu kak Sam malah memutuskan akan segera menikahiku akhir bulan Desember ini.


Kak Sam sendiri akhir - akhir ini begitu perhatian, bahkan terlalu berlebihan.


Suatu ketika aku memergoki kak Sam tengah bercanda tawa dengan kakakku, kak Erlin. Aku cemburu, namun kak Sam berhasil membuatku tenang. Bahkan dia mengajakku bergabung membuat kue untuk kakek. Aku sungguh bahagia, meski kak Sam tak pernah mengajakku kencan, setidaknya bersamanya jauh lebih baik.


Tidak hanya itu, calon suamiku itu reflek menyangga tubuh kak Erlin yang hampir terpeleset. Padahal kakakku tak kan jatuh.


"Kak Sam cari kesempatan ya?" kataku dengan menaruh muka cemburu.


"Nggak Eliana, sungguh, suwer deh!" ujarnya bersungut - sungut.


Aku melenggang begitu saja menuju kamar untuk mempersiapkan diri pergi bersama kakek ke tempat pacuan kuda. Dan kami pulang hampir sore.


Seharian bersama kak Sam membuatku sedikit berfikir. Dia tak ada romantis - romantisnya dengan ku. Sejak berangkat sampai pulang pun dia hanya memperhatikan kak Erlin. Sebenarnya dia cinta nggak sih sama aku. Kalau pun tidak, mengapa aku yang dipilih untuk menjadi istrinya ?


Aku mempunyai rencana agar kak Sam lebih memperhatikan aku ketimbang kak Erlin. Ya, aku bisa menggunakan kesempatan ini agar dia jatuh hati sungguhan padaku.


Sejak kecil dulu, aku mempunyai riwayat alergi terhadap kacang dan apa pun yang berkaitan dengan kacang.


Keesokan paginya aku sudah bersiap akan pergi ke kampus.


Saat melewati semua orang di meja makan, mami menghentikan langkahku.


"Eliana, kamu nggak sarapan?" tanya mami.


Tanpa membalikkan badan, "Nggak Mi, lagi nggak mood makan!"


"Eliana," kak Sam berjalan ke arahku, "kita harus bicara sebentar!" dia menarik tanganku menuju ruang tamu.


"Apa kamu masih marah padaku?" tanyanya tampak khawatir.


"Bisa jadi," sahutku asal.


"Eliana, sudah berapa kali aku katakan padamu, aku dan Erlin hanya berteman, tidak lebih!" kak Sam menegaskan sekali lagi padaku. Dia memegang kedua pundak ku. Aku melepas kasar kedua tangannya.


"Bukti kan padaku, kalau Kak Sam serius menjalin hubungan denganku!" kataku agar dia sadar.


"Sebuah bukti, bukankah aku sudah memberikan kamu hadiah sebuah toko kosmetik?"


"Materialis banget aku ya, apakah aku di mata Kak Sam yang dengan mudahnya bisa ditawar dengan harta? Sekali pun Kak Sam tak pernah menyatakan cinta padaku."

__ADS_1


"Kamu salah Eliana, meski cinta tak diucapkan sekalipun, sikap dan perbuatan nya bisa mengapresiasi cinta itu sendiri."


"Aku bosan seperti ini!" aku bergegas pergi meski kak Sam meneriaki namaku.


Kini aku sudah sampai di kampus. Setelah menerima matakuliah selama 4 jam, perutku terasa lapar. Aku memesan makanan dan mengambil cemilan berbahan kacang. Benar saja, belum genap satu jam tubuhku sudah merespon. Rasa gatal menyergap seluruh tubuhku. Dan tanpa ku rasa, aku sudah tak sadarkan diri.


"Di mana aku?" keluh ku seraya memegang pelipis ku.


"Eliana, kamu sudah sadar?" suara kak Sam, aku melirik ke arahnya.


"Kamu sekarang berada di rumah sakit," terang kak Sam.


"Siapa yang membawaku ke sini?" tanyaku, seluruh tubuhku terasa berat untuk ku angkat. Aku mencoba duduk, kak Sam membantuku.


"Mami meneleponku, katanya kamu pingsan saat jam istirahat,"


Tak begitu lama mami datang.


"Sayang, kamu tidak apa - apa kan?" tanya mami panik.


Aku hanya mengangguk, seketika itu juga dokter datang. Dokter menanyakan padaku tentang sesuatu yang aku makan sebelum pingsan.


"Kacang asin Dok," sahut ku singkat.


"Eliana, sudah berapa kali mami bilang, kalau kamu tak boleh makan apa pun yang asalnya dari kacang!" hardik mami memarahiku.


Setelah dokter pergi, mami ikut pergi juga. Mami membawa kan aku makan siang. Tinggallah berdua aku dengan kak Sam.


"Ternyata kamu punya riwayat alergi ya," ujar kak Sam seraya membawa obat yang tadinya sudah ia tebus.


Aku hanya mengangguk.


"Setelah makan siang, segera minum obatmu!" titahnya seraya mengambil bekal yang mami bawa.


"Ini," kak Sam menyerahkan bekal itu.


"Suapi aku!" ujarku yang membuat dia entah terpaksa atau tulus yang pada akhirnya menyuapi ku.


Dengan telaten kak Sam melakukannya hingga bekal yang mami bawa tadi habis tanpa sisa sedikit pun.


"Kamu makannya lahap juga," katanya seraya mengambil obat dan segelas air putih.


"Iya dong, apalagi disuapi seperti ini," sahut ku membuat dia tersenyum.


Sore hari dokter sudah memperbolehkan aku pulang.


Semenjak aku pingsan kak Sam lebih memperhatikan aku. Dikit - dikit dilarang ini itu.


"Awas Eliana, jaga pola makanmu!" katanya mengingatkan aku untuk lebih berhati - hati lagi.

__ADS_1


Perhatian yang selalu aku dambakan ini terus ia lakukan hingga tak terasa acara pernikahan ku tinggal beberapa hari lagi.


Suatu ketika saat kak Sam tak bisa mengantarku untuk fitting baju pengantin, aku ke sana sendirian.


Tanpa sadar ketika menyeberang jalan aku menubruk seorang pria.


"Maaf Kak, aku sedang buru - buru!" kataku seraya membungkukkan badan.


"Kalau jalan lihat - lihat dong, udah minggir di tabrak juga!" omel tuh cowok yang tak lain dan tak bukan adalah kak Ciko.


"Eliana!"


"Kak Ciko,"


"Sudah lama sekali kita tak bertemu," ujarnya.


"Iya, maafkan aku tadi ya, aku sedang buru - buru!" aku melangkah hendak pergi namun Ciko memanggil ku.


"Mau ke mana?" tanyanya sok kepo.


"Ke sana!" tunjuk ku pada area fitting baju yang berada di seberang jalan.


"Kamu mau menikah?" tanyanya masih dengan rasa penasaran.


"Iya Kak, sudah dulu ya!" Aku mau menyeberang namun langkahku terhenti juga olehnya lagi.


"Kamu mau jadi madu dari kakak kamu sendiri? Tega ya! "


Aku mengernyitkan dahi tak mengerti dengan yang ia ucapkan.


"Madu? Maksud kakak apa?"


"Serius, kamu belum tahu kebenarannya?" lagi dia membuatku semakin tak mengerti.


"Madu, kebenaran, sebenarnya Kak Ciko lagi ngomongin apa sih!" aku kesal dibuatnya bingung.


"Pria yang ingin menikah dangan kamu, sebenarnya dia adalah Samuel Ramadhan kan ...."


"Iya, dan semua orang juga tahu itu,"


"Tapi, ada satu hal yang mungkin tidak semua orang ketahui."


"Apa itu Kak?" Aku seratus persen dibuatnya penasaran.


"Samuel dan Sam ...."


Bersambung....


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2