Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Dibikin Happy Aja!


__ADS_3

Dokter pria itu menatap ku tajam dengan penuh pertanyaan.


"Tenang Dokter, aku akan segera keluar!" ujarku segera meninggalkan ruangan Erlin sebelum dokter itu mengomeliku lebih lama lagi.


Aku memutuskan untuk menunggu Erlin di luar. Berselang waktu kemudian kurir pengantar makanan pun datang.


"Ini tips untuk kamu!" ujarku seraya menyerahkan uang.


"Terima kasih Tuan!" ujar kurir wanita itu dan segera melangkah pergi.


Aku mengamati sekilas pesanan yang sudah ada di tangan.


"Semoga Erlin suka dengan ini!" batinku berharap Erlin menyukai puding jagung manis ini.


Dokter pun keluar seraya menatapku lekat.


"Aku berharap istrimu segera sembuh dan bisa meninggalkan rumah sakit ini." kata dokter itu.


Aku mengulum senyum, "Aamiin Dok, terima kasih! Eum, bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanyaku berharap mendengar kabar baik di pagi ini.


"Perubahan yang sangat baik," kata dokter yang berusia sekitar 35 tahunan itu. Setelah tak ada yang ingin dia sampaikan lagi dia pun melangkah pergi.


Baru hitungan detik saja dokter itu sudah berbalik lagi menatapku. Seakan tatapannya itu memarahiku.


"Jangan makan makanan milik pasien!" hardiknya lalu segera menghilang dari jangkauan mataku. Aku pikir dokter itu akan melupakan masalah tadi, nyata nya dia masih mengingatnya.


Aku menekan pelipis ku, "Apanya yang salah, makan makanan lembek begitu saja bisa membuatnya marah. Rumah sakit macam apa ini, aku bisa saja membeli rumah sakit ini beserta orang - orangnya." Gumam ku sedikit kesal dengan sikap dokter tadi.


Aku memegang handel pintu hendak masuk.


"Kak Sam!" panggil seseorang yang kedengarannya suara wanita.


Dia mendekatiku setelah aku menoleh ke arahnya.


"Eliana," sapaku, aku tak menyangka dia bisa datang sepagi ini. Itu pun kalau terpaksa, bahkan dia akan melanjutkan tidurnya yang tertunda. Biasanya dia bangun siang, yah itulah sifat buruk Eliana yang tak aku sukai.


"Kak Sam, nih aku bawakan sarapan untuk kak Erlin dan Kakak!" kata Eliana sembari menunjukan rantang biru padaku.


"Eh, kok repot - repot segala, eum, makasih ya!" kataku seraya membuka pintu.


"Bagaimana kabar kak Erlin?" tanya Eliana yang segera masuk melewati ku.


"Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik!" sahut ku yang segera menutup pintu kembali.


"Pagi Kak Erlin," sapa Eliana sembari meletakkan rantang di atas meja sampingnya ranjang.

__ADS_1


Aku tahu Erlin pasti sangat senang dengan kedatangan Eliana.


Meski Erlin diam tanpa kata, aku bisa melihat dari sorotan matanya. Mulutnya tampak bergerak - gerak. Aku segera mendekati Erlin.


"Sayang, jangan banyak bergerak dulu!" larangku sambil mengusap bahunya.


"Oh iya Kak Erlin, mami membuatkan sarapan untuk Kakak!" ujar Eliana, matanya beralih menatap rantang biru dan tangannya sibuk mengeluarkan isinya satu per satu.


"Ada tumis kangkung, capcay, ayam goreng ...," belum lengkap Eliana menyebutkan satu persatu menu makanan yang ia keluarkan, aku memotong kalimatnya.


"Eliana, tidak kah kamu tahu apa yang sedang Erlin alami?" tanyaku berharap Eliana paham.


"Erlin tak mungkin memakan makanan kasar seperti itu," aku menunjuk makanan yang Eliana bawa.


"Nih, yang bener!" sambungku seraya menunjukkan bungkusan yang sejak tadi aku bawa.


Wajah cemberut Eliana tergambar jelas kalau dia kecewa. Mami juga, sudah tahu anaknya sakit malah dibawakan makanan begituan. "Alamak, keluarga macam apa kalian ini!" umpatku dalam hati.


"Sayang, tadi kurir sudah mengantar makanan untuk kamu, kamu pasti suka, cobalah!" tawarku seraya membuka bungkusan tadi. Selesai membuka tutup aku memperlihatkan isinya.


"Taraa!" kataku penuh semangat.


Eliana tak kalah semangatnya dariku.


"Wow, puding jagung! Itu pasti enak, aku juga mau dong!" kata Eliana tak punya rasa malu. Adik iparku ini memang hobi sekali menyukai apa yang aku bawa.


"Yah percuma dong, aku capek - capek bangun pagi untuk mengantar makanan ini!" Gerutunya seraya tangannya seolah mengarahkan aroma masakan ke hidungnya.


"Sudah, dibikin happy aja! Ntar aku habiskan semuanya!" kataku berusaha membuatnya tak kecewa. Ya meski aku nggak begitu lapar.


"Sungguh Kak?" tanyanya seolah tak percaya. Aku hanya mengangguk. Tangan dan mataku sibuk menyuapi Erlin.


"Sayang, bagaimana dengan rasanya, apa kamu suka?" tanyaku pada Erlin. Belum sampai Erlin mengangguk terdengar suara Eliana yang dibuat - buat.


"Iya Sam, enak, besok beli lagi yang banyak ya!" Eliana reflek menutup rapat - rapat mulut nya. Pandangannya ia edarkan mengelilingi langit - langit.


Aku menjulurkan lidah melihat tingkah Eliana yang usil itu.


"Jelek!" ujarku kemudian yang aku tujukan pada Eliana. Tapi pandangan ku masih menatap Erlin. Erlin terlihat mengerutkan dahi.


"Bukan kamu Sayang, sungguh!" kataku menyakinkan Erlin agar dia tak salah mengira.


Eliana tampak menahan tawa.


"Erlin, ayo makan lagi!" perintahku, Erlin baru memakan sedikit. Erlin pun membuka mulut nya yang mungil, dengan telaten aku menyuapinya lagi.

__ADS_1


"Sayang, aku besok juga akan memesan berbagai varian puding yang mungkin ingin kamu coba. Ada puding labu madu, ubi ungu dan alpukat. Kamu pasti menyukainya!" ujarku bermaksud mengiming - imingi Eliana. Aku tahu Eliana tak begitu suka dengan ketiga menu itu. Ku lirik ia menarik kursi kecil dan menjatuhkan pantatnya di kursi kecil itu.


"Yah, Kak Sam pelit! Masa nggak pesan puding jagung lagi," ujar Eliana seraya menopang dagunya.


.


.


Sudah satu minggu aku lebih memilih menemani istriku di rumah sakit. Semua pekerjaan aku tinggalkan, tapi bukan lepas tangan juga. Sesekali aku melakukan zoom meeting untuk membahas pekerjaan dengan klien ku.


Erlin sudah banyak mengalami perubahan. Meski suaranya belum pulih, dia susah bisa bangun dan pergi ke kamar kecil sendiri.


Saat aku berpamitan akan keluar sebentar, terdengar suara pintu diketuk seseorang.


"Masuk!" sahut ku segera seraya mengancingkan kerah kemeja.


Alangkah terkejutnya aku melihat siapa yang datang ini.


"Manusia berotak udang, apa yang ingin kamu lakukan di sini!" bentakku pada siapa lagi kalau bukan Ciko, mantan kekasih istriku.


"Tenang Sul," ujar Ciko yang memanggil nama belakang ku. Sebenarnya aku geli juga mendengar sebutan itu. Terkesan seperti bisul saja.


"Kedatangan ku kemari sebenarnya berniat baik. Aku akan memberi penawaran yang bagus untukmu." terang nya, dia menatapku kemudian menatap Erlin.


"Aku tak sudi bekerja sama denganmu!" tolakku kasar. Yang ku tahu kini perusahannya diambang kebangkrutan. Meski dia lebih berpengalaman dari pada aku, tapi metode berbisnisnya buruk. Aku tak menyukai dia sejak awal melihatnya.


"Cih, sombong sekali! Erlin, lihat watak asli suami buluk mu!"


"Bukankah kamu pernah mengatakan padaku, kalau suami buluk kamu yang mendadak tajir ini bukan tipe pria yang romantis?"


Semua omongan pria ini membuatku ingin muntah.


"Hei, jaga ucapanmu !" ucapku tegas pada Ciko. Aku mengacungkan jari ke wajahnya.


Dia tersenyum getir dan perlahan berjalan mendekatiku. Seakan ingin membisikkan sesuatu padaku.


"Sul, bersyukur aku tak jadi menikahi Erlin, dia sudah menjadi wanita yang cacat, buat kamu saja!" bisik Ciko yang membuatku geram.


Aku menarik kuat kerah kemejanya.


"Berani sekali kamu menghina istriku di depanku!" bentakku dengan mata penuh amarah.


"Huh, takut!" ledek Ciko.


Aku hendak memukul wajah pria berotak udang ini. Tiba - tiba terdengar suara erangan dari Erlin.

__ADS_1


"Erlin!" pekikku seraya melepaskan tanganku dari kerah Ciko dan menghambur ke arah Erlin.


__ADS_2