
"Ada apa denganmu, Dik?" pekik Erlin yang terlihat sangat panik. Dia berjalan mengitari meja dan menghambur ke arah Eliana. Membelai rambutnya yang panjang. Kakek menghentikan pergerakan makannya dan ikut prihatin.
"Cepat ambilkan air hangat!" titah kakek pada salah satu pelayan.
Eliana terlihat sangat pucat dan beberapa kali ingin muntah.
"Baik Kek!" pelayan segera pergi.
"Tante kenapa, Pa?" bisik Cemplon, bocah itu tampak khawatir juga dengan wanita yang sudah sangat akrab dengannya.
"Mungkin tante Eliana masuk angin, tadi baru pulang." terangku, Cemplon mengangguk paham. Cemplon melanjutkan makannya.
Setelah pelayan datang membawa air hangat, Erlin membantu Eliana untuk meminumnya.
"Pelan-pelan, Dik !" Erlin memperingatkan sembari menyelipkan rambut yang terurai ke belakang telinga agar adiknya minum dengan nyaman. Eliana meminum air itu dengan pelan, sesekali dia meniup uap yang masih mengepul di dalam gelas.
"Bagaimana? Apa masih terasa mual?" Erlin begitu peduli pada kesehatan adiknya itu.
"Udah Kak, agak mendingan," ujar Eliana seraya meletakkan gelas yang airnya tinggal separuh.
"Aku ambil minyak kayu putih dulu." Erlin bergegas menuju kotak obat yang letaknya tak jauh dari pandanganku.
Erlin datang dengan segera menyodorkan botol minyak kayu putih. Eliana menerimanya dan mulai mengoles perut, punggung dan tengkuknya. Dia juga menghirup aroma minyak kayu putih.
"Apa perlu aku mengantarmu ke rumah sakit?" tawarku yang tak enak juga mendiaminya. Wajahnya sudah mendingan dari awal tadi.
"Enggak perlu Kak Sam, ini jauh lebih baik. Mungkin aku masuk angin, karena pulang sampai larut gini." terang Eliana sambil menunjukkan deretan giginya yang rapi.
"Ayo, kita lanjut lagi makannya !" ajak kakek. Erlin kembali ke kursinya dan kami melanjutkan makan yang sempat terjeda tadi. Eliana mulai mengambil sendok dan memasukkan makanan ke mulutnya tanpa rasa mual lagi. Ku lirik istriku yang masih setia memperhatikan adiknya.
Selesai makan, kami sibuk dengan agenda masing -masing. Kakek menuju kamarnya. Cemplon merapikan mainannya di ruang keluarga. Sementara Erlin dan Eliana terlihat sangat sibuk bercerita. Aku memilih menemani Cemplon. Dari sana aku masih bisa mendengar obrolan serta canda tawa mereka berdua. Iri rasanya aku, perlahan aku terasa tersisihkan, istriku lebih sering bertukar pendapat dengan Eliana.
Meski aku mengabaikan, aku menyadari dengan kedatangan Eliana di rumah ini banyak memberikan warna, istriku lebih banyak tertawa dan sering larut saat menuju kamar.
Pernah beberapa kali aku menasehati istriku untuk mengurangi bergadang, namun dia bilang mumpung ada adiknya.
__ADS_1
Obrolan mereka yang terdengar telinga.
"Kak Erlin dulu saat hamil, pernah ngidam apa?" mendadak pertanyaan Eliana membuat aku kembali merasa menjadi tersangka peristiwa 3 tahun lalu.
"Nggak ada Dik, belum sempat ngidam, kakak sudah keguguran." sahut Erlin terdengar parau.
" Oh yang sabar ya Kak, eh, mumpung pohon mangga di belakang rumah berbuah, besok kita bikin rujak yuk!" tawar Eliana.
"Asem Dik, ogah ah, mending beli rujak manis!" tolak Erlin.
"Yah Kakak, aku pingin banget nih makan yang asem-asem,"
"Kayak orang hamil saja kamu," terka Erlin yang berhasil membuat mataku membulat sempurna. Apa Eliana hamil? Untuk membenarkan tebakanku aku mencari informasi mengenai ibu hamil di google.
Lama aku berkutat hingga tak menyadari Cemplon sudah terlelap di pangkuanku. Aku meletakkan ponsel di sembarang tempat karena pakaianku tak ada sakunya. Ku angkat tubuh Cemplon bermaksud memindahkannya ke kamar.
Saat kembali ke tempat tadi, ponselku tak berada ditempat.
"Sam, kamu cari ini!" suara Erlin mengagetkanku, dia menyodorkan ponsel.
"Bagaimana dengan Eliana, apa dia masih masuk angin?" tanyaku untuk menyakinkan kalau dia benar-benar masuk angin. Sesuai dengan informasi yang ku baca tadi, bumil akan sering mengalami mual di pagi hari. Nah, ini sudah malam, berarti kegusaranku terjawab sudah kalau Eliana hanya masuk angin, bukan hamil.
" Terlalu lama di luar sana, membuat dia masuk angin. Sejak dulu, aku selalu menyuruhnya agar tak pulang larut jika bepergian. Lain kali jaga adikku ya, Sam!" tegur Erlin yang membuatku merasa salah.
"Iya, lain kali aku akan lebih tegas lagi. Dia juga yang minta untuk menyuruhku pulang duluan tadi,"
"Kamu kasih gaji berapa dia? Sampai -sampai belain pulang larut hanya untuk kasih hadiah ke aku."
"Eliana kasih kamu hadiah?" tanyaku tak percaya. Baru gajian pertama saja sudah pede beli in kakaknya hadiah.
"Sandal," sahut Erlin singkat seraya memanyunkan bibir.
"Kenapa dengan wajahmu, nggak suka dengan sandalnya?" aku mencolek pipinya.
"Bukan nggak suka, enggak rela aja uangnya habis buat beli barang -barang gituan. Entar kalau dia udah nikah, aku bakal suruh dia buat minta ke suaminya uang yang banyak."
__ADS_1
"Erlin, Sayang, mikirnya udah jauh banget. Baru saja dia bekerja, masa disuruh nikah?" protesku.
"Jodoh itu tidak ada yang tahu, entah besok atau kapan itu ujung -ujungnya dia bakal nikah juga. Dan aku mau, suami dia itu seperti kamu Sam. Kaya, tampan, baik dan perhatian pula." celetuk Erlin yang sekali lagi membuat hati berdesir.
"Kok kaya aku, nggak ada model lain apa?"
"Ada sih banyak, tapi kriteria seperti itu emang cocok untuk Eliana. Selain Eliana cantik dia subur loh ..."
"Kok nada bicaranya kamu ke arah situ lagi," protesku tak terima.
Erlin terdiam tak menyahut dan milih berbalik membelakangiku.
"Erlin, Sayang, kok kamu yang jadi ngambek!" aku menarik tangannya dan ku lihat raut mukanya yang asem.
Belum selesai Erlin menyahutku, terdengar suara benda pecah di lantai atas.
"Sepertinya itu dari arah dapur," terka Erlin yang langsung menuju sumber suara, aku mengekor dengan sedikit berlari. Penasaran juga ada apa di dapur.
"Na, kamu kenapa lagi?" Erlin memergoki adiknya tengah belepotan mulutnya dengan busa.
"Aku muntah-muntah Kak," sahutnya terdengar lemas. Kondisi tubuhnya terhuyung hendak jatuh. Erlin memegangi bahunya.
"Sam, jangan diam saja bantu aku memapah Eliana!" pekik Erlin, aku bingung juga harus bagaimana. Aku menurut saja dan membantu Eliana berdiri.
"Aku panggilkan dokter, kamu bawa Eliana ke kamarnya!" Erlin melenggang begitu saja meninggalkan kami berdua.
"Kak Sam," panggilnya lirih.
"Hmmm," ku sahut dengan deheman saja.
"Aku sudah telat satu minggu." berita itu ia sampaikan bak menghantam dinding kaca, terdengar perih di telinga.
Aku masih terdiam seraya menggendongnya menaiki tangga.
Mata Eliana menatap ku sejurus, namun aku mengalihkan bola mataku fokus menjajaki tangga.
__ADS_1
Aku tak bisa berpikir jernih sekarang, jika dia hamil sungguhan bagaimana nasib rumah tanggaku dengan Erlin? Aku takkan menikahinya.