
Minggu pagi aku sudah bangun lebih awal dari hari biasanya. Aku mengenakan setelan celana jeans dan kaos hitam, tak lupa kacamata hitamku ku kenakan juga. Segera ku cabut ponsel yang ternyata sudah penuh baterainya.
Aku menemui Bondan yang tengah mencuci mobil.
"Kita berangkat sekarang, aku mau naik Lamborghini !"
"Baik Tuan Muda Sam,"
Bondan kali ini ku minta mengantarku dengan mengendarai Lamborghini lagi. Aku tak mau terkena macet di hari libur ini. Rasa keinginanku seperti mimpi saja. Mengendarai kuda dan menjadi yang terdepan.
Tak butuh waktu lama, aku sudah sampai di tempat pacuan kuda. Ku lepas kacamataku dan berkeliling mencari sosok istriku. Namun tak kunjung ketemu.
"Apa karena masalah keluarga dia sampai tak datang di perlombaan kali ini?" gumamku.
Setengah jam lagi perlombaan akan dimulai. Aku mendekati kuda hitamku. Mengusap kepalanya pelan dan berbisik.
"Hai jagoanku, jangan permalukan aku di depan umum ya, aku harus menang! Bukan aku, tapi kita ya," kuda hitamku ini seolah merespon perkataan ku, dia menggerakkan kaki depannya.
Para joki kuda sudah berada pada posisinya. Aku segera mengenakan perlengkapan berkuda dan menunggangi kuda hitam. Mataku masih jeli mengamati para joki, tapi Erlin belum juga ada di antara mereka.
"Erlin, cepatlah datang!" gumamku berharap.
Setelah sekian detik perlombaan pacuan kuda pun dimulai. Para joki memacu kudanya cepat sekali, begitu pula denganku. Seketika itu juga kuda putih melaju dan bahkan tepat berada di depanku. Aku hafal betul siapa penunggang kuda putih itu.
"Erlin, akhirnya kamu datang juga!" seruku bahagia bisa melihat dia.
Putaran kali ini cukup lama, aku sebisa mungkin mengejarnya.
"Ayo jagoan, kita tak boleh kalah!" teriakku menyemangati kuda hitam.
Kuda ku menambah kecepatannya, sepertinya dia paham betul perkataanku.
Putaran tinggal satu lagi, Erlin tetap memimpin di depan sana. Sementara aku, aku masih harus mengejar dua joki lagi.
"Kejar ...!" teriakku.
Dan benar saja, aku tak menyangka ini, aku menang.
"Hore ...!" seruku seraya mengangkat kedua tanganku.
Kuda hitamku berhenti setelah menempuh lima putaran. Tapi tidak dengan kuda putih milik Erlin. Kudanya tak mau berhenti, sampai - sampai penunggangnya pun kewalahan untuk menghentikannya.
"Ada apa dengan kuda Erlin?" Aku memacu kuda ku untuk segera mengejar Erlin.
Kuda miliknya berlari cepat.
"Jagoanku, ayolah kejar dia!" teriakku.
Hampir tiga puluh menit aku mengejar Erlin. Kuda putih itu berlari jauh ke padang rumput yang sangat luas.
"Erlin, ada apa dengan kudamu!" teriakku saat kami sudah sejajar.
"Aku tak bisa menghentikannya, sepertinya kudaku hilang kendali dan tak merespon ucapanku!" sahut Erlin dengan berteriak pula.
__ADS_1
"Bagaimana ini, apa yang bisa aku perbuat?" batinku seraya memutar otak.
"Erlin, bersiaplah, aku akan menangkapmu!"
"Apa, kamu sudah gila!"
"Di depan sana ada jurang, kudamu sedang ada masalah. Bersiaplah!"
Aku mencoba ide gila ini, meski tak tahu akan berhasil atau tidak.
Aku tetap mensejajarkan posisi kudaku dan mendekat ke arahnya.
Hap !
Aku menangkap Erlin, hingga kami jatuh berguling - guling di atas padang rumput. Tubuh kami menyatu. Dan hal luar biasa yang baru kali ini aku lakukan.
"Berhasil!"
Kami berdua tertawa lepas. Aku menyukai ini. Melihat dia begitu bahagia.
Aku tepat berada di bawahnya dengan posisi tubuh masih terlentang di atas rumput.
Aku terbatuk karena terasa sesak di dada.
"Maaf," dia segera bangkit dari tubuhku.
Aku hanya tersenyum dan segera duduk.
"Mari!" Erlin mengulurkan tangan membantuku berdiri.
Dia menepuk - nepuk kedua tangannya, setelah itu menepuk pakaiannya, membersihkan sisa - sisa kotoran yang melekat.
"Terima kasih, ide gilamu ini menyelamatkan aku!"
"Awalnya aku sangat takut juga, mengambil resiko yang begitu berbahaya. Kamu tak apa - apakan, apakah ada luka atau bagian tubuhmu yang lecet?" aku begitu memperdulikan keselamatannya.
"Di sini," dia menunjuk dadanya.
"Apa?"
"Lupakan, itu hanya masalah pribadi! Aku tidak apa - apa, hanya masih shock juga dengan kejadian barusan."
Kuda putih milik Erlin seketika berhenti sebelum di mulut jurang. Sementara kudaku menghampiri kudanya.
"Alamak, aku baru sadar, kuda kami saling jatuh cinta!" batinku.
"Lihat, kuda kita terlihat akrab!" Aku menunjuk dua kuda yang berada jauh dari kami.
Erlin hanya tertawa, sungguh manis sekali. Memandangnya setiap waktu. Aku ingin hari - hariku seperti ini.
"Selamat atas kemenangan kamu, Sam!" Erlin menyodorkan tangan.
"Ah, itu tidak seberapa, aku hanya pemula yang hanya beruntung saja." aku menerima tangannya. Kami berdua berjabat tangan cukup lama. Terasa ada sengatan listrik yang menyerang di bawah sana. Sudah lama yang di bawah sana tak merasakan manisnya madu.
__ADS_1
Erlin menatapku intens, aku baru sadar sejak tadi tanganku belum melepaskan tangannya.
"Maaf," ujarku sedikit malu.
"Aku harus pulang," Erlin hendak mengakhiri pertemuan ini.
"Tunggu Erlin, aku sangat ingin bersamamu! Ku mohon, tunggu!" batinku berteriak.
"Mau pulang?" dia menganggukkan kepala.
"Tidak mungkin juga kamu akan mengendarai kuda kamu lagi. Bisa jadi bahkan akan lebih parah dari pada ini."
"Lantas, aku pulang bagaimana, jalan kaki?" Erlin tampak risau.
Aku hanya tersenyum ke arahnya. Aku tadi diam - diam sudah menghubungi Bondan untuk menjemputku.
"Naiklah, aku akan mengantar kamu pulang!" kataku sambil membukakan pintu. Dia awal nya tampak ragu. Aku mengisyaratkan dengan kepalaku.
"Baiklah!" serunya dengan senyuman yang mengembangkan, aku tahu dia sedikit terpaksa.
"Maaf, telah banyak merepotkan kamu," ujarnya saat mobil sudah melaju cepat.
"Lupakan, tapi ini tidak gratis!" ucapanku membuat dia membelalakkan matanya.
"Aku harus bayar?"
"Ya, tapi bukan dengan uang kamu."
"Lalu?"
"Sini ponsel kamu!" aku meminta ponselnya, dia terlihat enggan menyerahkannya.
"Ini," setelah sekian detik aku menunggu, dia menyerahkan ponselnya.
Aku segera memasukkan nomor kontakku ke ponselnya.
"Pria tajir ?" gumam Erlin saat membaca nama kontakku.
"Ya, agar kamu selalu ingat kalau sesuatu yang berdebu dan hina bisa menjadi sebuah berlian yang berkilau." tuturku membuat kami saling diam.
Aku tahu dia pasti bingung dengan pernyataanku barusan.
"Maaf, aku tak paham dengan semua ini, maksud kamu apa? Aku harus membayar dengan apa dan siapa yang kamu maksud hina dan berdebu itu?"
"Kita sudah sampai, turunlah! Aku akan mengabari kamu nanti!" Aku membantu dia turun. Tepat di depan gang rumahnya. Ternyata dia telat tadi karena tak mendapatkan taksi. Mobil yang dia punya sudah disita bank.
Erlin menurut saja dengan perkataanku.
"Akh, rasanya seperti mimpi saja!"
"Apa Tuan Bahagia?" tanya Bondan memprotes ucapanku. Dari nada bicaranya aku tahu dia juga ikut bahagia.
"Diam dan lakukan saja tugasmu!" bentakku tak mau kena selidik darinya. Terkadang Bondan resek juga pingin tahu isi hati orang. Maklum perjaka tua.
__ADS_1
Hai reader semuanya yang berbahagia, jangan lupa untuk tetap dukung author tercinta kalian ini. Dengan cara memberi like, hadiah, vote dan jangan lupa komennya. Author takkan berhasil tanpa adanya dukungan dari kalian. Terima kasih...
😘😘😘😘😘😘😘😘