Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Erlin Pov : Aku Sudah Tahu


__ADS_3

Dadaku terasa sangat sesak, bahkan aku hampir kesulitan untuk bernafas. Bagaimana tidak? Suami yang selama ini aku rindukan telah berada di dekat ku. Namun, dia tak bisa menerimaku kembali. Dia bilang dia ingin menikahi wanita lain. Ini semua memang kesalahanku. Walau kata maaf telah keluar dari mulut ku, aku yakin dia sepenuhnya belum bisa memaafkan aku.


Aku segera menyeka air mataku dan kembali ke butik. Mengambil tas lalu menutup butik.


Pintu telah aku kunci, dan memastikan semuanya sudah aman aku pergi ke jalan untuk menunggu taksi.


Sekian menit kemudian tak ada satu kendaraan pun lewat. Aku sudah hampir kesemutan. Mataku sejurus melihat dari arah utara datang sebuah mobil Alphard abu - abu. Aku tahu siapa pemiliknya. Mobil itu berhenti tepat di depanku. Dan pengemudinya turun menghampiriku.


"Erlin, masuklah!" ujar Ciko seraya membuka pintu mobil bagian depan.


"Apa! Kamu mau memperkosa ku lagi?" hardik ku tak suka.


"Aku takkan melakukan itu padamu, sungguh! Cepatlah masuk, matahari semakin terik. Kamu nggak inginkan kulit kamu menjadi gosong?" rayunya dan terus memaksa agar aku masuk.


"Beri aku satu alasan, agar aku mau ikut denganmu!" ujarku seraya melipat tanganku di depan dada.


"Oke, dengan begini kamu pasti takkan menolak untuk yang sekian kali," Ciko merogoh sakunya mengambil ponsel. Dia sibuk dengan ponselnya, entah apa yang ingin dia beritahukan.


"Lihatlah Erlin!" Ciko mendekatkan ponselnya ke wajahmu.


"Ini kan ...." Aku membulatkan mata.


"Ayo cepat masuk!" aku segera mengikuti kemauan Ciko.


Ciko menutup pintu dan berputar ke arah kemudi. Setelah menutup pintu mobil dia segera menyalakan mesin.


"Kamu sudah makan?" tanyanya sambil mengemudi. Aku hanya menggelengkan kepala.


"Bagus, kita makan dulu!"


"Uh, kelamaan tahu! Aku ingin tahunya sekarang juga! Bagaimana bisa kamu mendapatkan foto itu?" ujarku.


"Tenangkan dirimu, sifat kamu yang tak sabaran itu perlu di rehab." Ciko menoleh ke arahku lalu fokus lagi menyetir.


"Emang aku bangunan apa," dia terkekeh.

__ADS_1


Setelah itu kita hanya diam saja sampai sekian menit lamanya.


"Kita bicarakan ini sambil makan siang, ayo turun, sudah sampai!" Ciko menghentikan mobilnya tepat di sebuah warung makan yang sarat oleh pengunjung.


Langkahku akhirnya mengikuti Ciko, kalau bukan informasi berharga ini aku tak sudi berjalan beriringan seperti ini.


Kami masuk dan memilih tempat di warung lesehan tersebut.


"Ciko, sekarang ceritakan padaku perihal foto tadi!" pintaku, dia segera mengambil ponsel dan memperlihatkan foto Samsul yang tengah berhenti di depan mobil.


"Saat aku akan pergi ke sebuah mini market, tak sengaja melihat mobil Ferrari di ujung jalan. Tak asing dengan mobil itu aku segera mendekatinya. Dan saat aku akan berjalan ke arah sana, tiba - tiba pria dengan gerobak dorong berhenti tepat di mobil itu."


"Mobil Ferrari?" gumamku, seperti milik Samuel?


"Ini, ada beberapa foto lagi!" Ciko memperlihatkan 3 foto pada layar ponselnya.


Jantungku berdegup begitu hebatnya. Dalam foto yang pertama, Samsul tengah melepas tompelnya. Sedangkan foto yang kedua, Samsul mengganti pakaiannya dengan setelan kemeja. Foto yang terakhir, aku melihat itu adalah diri Samuel.


"Oh Tuhan, jadi selama ini aku telah menemukan suamiku sejak awal." Aku menutup mulutku tak percaya seraya sesenggukan.


"Lantas mengapa kamu menyembunyikan pernikahan kamu dengan Samsul dariku?" tanya Ciko.


"Itu karena, aku belum mengenalnya terlalu dekat. Jujur, semenjak aku mengusirnya dari rumah, aku sadar betapa berharganya dia bagiku."


"Pantas saja, selama kita berhubungan kamu selalu menolak untuk ku ajak menikah."


"Ciko, ini gawat!" pekikku membuat dia serius menatapku.


"Apa nya yang gawat?"


"Suamiku bilang dia akan menikah dengan wanita lain. Dan Samuel telah memilih Eliana untuk menjadi istrinya." terangku.


"Gila, masa adik ipar sendiri jadi sasarannya," ujar Ciko tak percaya.


"Sudahlah Erlin, kan kamu sudah tahu seperti apa suami kamu yang sekarang, ceraikan saja dia!" imbuhnya lagi.

__ADS_1


Aku melotot ke arahnya.


"Cerai kamu bilang? Sudah sekian lama aku tak mengatakan hal itu, dulu saat dia memergoki kita sedang berduaan, aku juga pernah meminta cerai padanya. Namun apa yang dia katakan, perceraian hanya akan menunda permasalahan dan bukan pemecah persoalan." terangku, dan masih ingat betul seperti apa prinsipnya menjaga ikatan pernikahan.


"Erlin, kamu belum sadar sampai sekarang? Suami kamu itu jahat!"


"Sudah Ciko, cukup! Aku posisi nya yang paling jahat di sini, aku telah mengusir dan mencampakkan dia di jalan."


"Tapi, barusan kamu juga telah mengakui kalau Samsul itu adalah Samuel,"


"Aku baru tahu, kalau suami bulukku mendadak tajir."


"Suami buluk begitu tetap saja dipertahankan?" gerutunya, "Mending sama aku,"


"Cih, sudah di tolak masih saja suka memaksa, dasar cowok nggak tahu diri," omelku seraya beranjak dari cafe.


"Tunggu Erlin, kita belum selesai bicara!" teriaknya.


Aku tak memperdulikan ocehannya sekarang. Yang aku butuhkan saat ini adalah ketegaran hati untuk menjalani karma atas perbuatanku.


Aku tak bisa memungkiri ini, Eliana adalah wanita pilihan Samsul. Aku sangat menyanyangi adikku, tidak mungkin juga aku mengatakan ini padanya.


"Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?" sepanjang perjalanan pulang aku terus terisak.


Saat tiba di rumah kakek. Aku melihat Eliana datang dan berlari ke arahku. Dia dengan riangnya mengatakan kalau malam ini Samuel akan melamarnya.


Bagai tersengat listrik rasanya. Secepat itukah dia memutuskan tanpa memperdulikan perasaan ku? Aku menahan sakit di hati. Dan tersenyum mendengar kabar duka ini.


Malam pun tiba, aku masih di kamar dan terus berurai air mata. Aku sengaja mengenakan kebaya yang dulu pernah aku pakai di depan Samsul. Berharap dia mengingatnya. Berjanji untuk saling menjaga ikatan pernikahan.


Aku menatap pantulan wajahku di cermin. Memoles wajah dengan make up sederhana. Selesai sudah aku berdandan, tapi masih enggan untuk meninggalkan kamar. Hingga mami datang dan memarahiku. Aku keluar kamar dengan ribuan kekuatan yang telah terkumpul. Meski tubuh ini bergetar hebat, aku sebisa mungkin bertahan.


Samsul suamiku terlihat sangat tampan dengan setelan kemeja putih. Eliana juga sangat cantik. Aku harus kuat untuk melihat mereka bertunangan. Aku tak boleh egois, aku akan merelakan kalian berdua untuk menikah demi kebahagianmu Samsul. Ini adalah karma bagiku.


Samuel kini sedang memakai kan cincin ke jari manis milik Eliana. Aku senang, tapi entah mengapa hatiku sangat sakit. Perlahan tubuhku tak mau diajak kompromi. Aku merasakan pusing, dan tiba - tiba semuanya terasa gelap.

__ADS_1


__ADS_2