Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Cemburu


__ADS_3

"Samsul, selamat ulang tahun, semoga panjang umur!" kata Erlin seraya menyodorkan kue itu padaku.


Deg


Mataku membulat, aku tak percaya ini, Erlin mengetahui identitas ku yang sebenarnya.


"Sudah pas kah kalimat yang aku sampaikan ini? Apakah suamiku nanti mau menerima kue dariku?" ujar Erlin lagi seraya menarik kembali kuenya.


Aku mendesah, hampir saja jantung ku mau copot.


"I ... iya Erlin, suami kamu pasti akan senang mendengarnya dan aku pastikan dia memakan kue buatanmu itu." ujarku kikuk.


"Bagus kalau begitu, aku mau keluar sebentar," pamitnya sambil memasukkan kue itu ke dalam paper bag.


"Ke mana Erlin ?" tanyaku panik.


"Aku mau mencari suamiku, siapa tahu jam segini dia masih berada di tempat nya." Erlin melenggang begitu saja melewatiku.


Bagaimana bisa dia mencari Samsul, sementara suaminya itu ada di sini. Aku ingin sekali mencegahnya, dan memberitahu akulah suamimu. Tapi, mulutku terasa berat mengatakannya.


"Gawat, aku jadi bingung sendiri dengan sandiwara yang aku mainkan, aku harus menemui kakek!" aku menunda untuk mencari papi mami, mempercepat langkah menuju kamar kakek.


Setelah sampai di kamar kakek Rama, aku menggedor pintu cukup keras.


"Sam, apa yang kamu lakukan? Kamu bisa merusak pintu kamarku!" hardik kakek setelah pintu itu terbuka.


"Tolong aku Kek!" Aku menata nafasku yang tersengal - sengal.


"Aku kira seorang Samuel tak butuh pertolongan dari siapa pun," sahutnya membuat aku semakin gusar.


"Erlin Kek, dia pergi keluar untuk menemui Samsul,"


"Lalu ?"


"Aku harus bagaimana Kek?" tanyaku berharap kakek segera memberi solusi padaku.


"Biarkan saja dia bertemu dengan suaminya," sahut kakek membuat aku membelalakkan mata. Aku fikir kakek akan berusaha mencegah Erlin pergi.


"Ais, Kakek ini,"


"Sam, ingat ucapanmu, bukankah kamu akan mengambil resiko apa pun yang akan terjadi setelah kamu menyatakan ingin menikahi Eliana?" terang kakek mengingatkan aku.


Aku mematung mengingat semua kalimat yang pernah aku ucapkan. Itu benar, aku harus menerima konsekuensi apa pun itu.


"Tapi Kek, bisakah Kakek memberi saran padaku?"


"Sam, kamu bisa mencari tahu jawaban itu di hatimu!"


Kakek menutup kembali pintu kamarnya.


Langkahku sedikit melemah setelah sampai di depan pintu rumah, apa yang harus aku lakukan? Aku sudah berjanji tidak akan kembali menjadi Samsul, aku putuskan dia sudah tamat.


Suara gadis membuyarkan pemikiranku yang tak ada habisnya.


"Kak Sam, sudah lama Kakak di luar?" tanya Eliana yang baru saja pulang dari kampus.


Aku tersadar seketika itu juga.


"Erlin, em, maksudku Eliana, aku baru saja mau keluar, " sahut ku bingung mencari alasan.


"Kok Kakak panggil aku kak Erlin? Kak Sam lagi mikiran dia ya?" tukas Eliana terlihat tak suka.


"Bukan, bukan begitu Eliana ...."


"Kak Samuel jahat, aku benci Kakak!" Eliana cemberut seraya menghentakkan kaki melangkah pergi.


"Eliana, maaf, dengarkan penjelasan ku!" Aku menarik tangannya hingga dia jatuh dalam pelukan ku.


"Kak Sam," ******* nafasnya yang lirih terdengar di telinga.


Aku membenarkan posisiku. Melepas pegangannya.


"Eliana, maafkan atas sikapku yang membuat kamu kecewa. Aku akan menepati janjiku untuk segera menikahimu bulan ini." terangku.

__ADS_1


"Sungguh, Kak Sam!"


"Iya, oleh karena itu, jaga sikapmu!" ujarku.


"Baik Kak,"


"Sejak aku pulang tadi, aku belum bertemu dengan papi mami kamu, ke mana ya kira - kira?" tanyaku.


"Mana aku tahu, aku kan baru datang," ujarnya, aku melirik jari manisnya yang tersemat sebuah cincin.


Sebentar lagi aku akan memiliki dua cincin.


"Erlin, em, maksudku Eliana, aku ... "


"Dari tadi kak Erlin terus yang kakak sebut! Udah ah, aku capek mau istirahat dulu!" katanya seraya beranjak pergi.


Yah ... pergi, padahal aku ingin mengatakan kalau aku ini adalah kakak iparnya.


Mungkin ini belum saatnya dia tahu, lebih baik aku cari papi dulu.


.


Pukul 16.00


Erlin terlihat dari balkon kamarku sedang turun dari taksi. Selesai membayar dia menenteng satu toples entah apa itu isi nya.


Aku buru - buru keluar kamar menemuinya.


"Sam, lihatlah aku membawakan sesuatu untuk kamu, barangkali kamu suka," ujarnya seraya menyerahkan toples itu.


"Apa ini Erlin?" tanyaku seraya menerima dan mengamati toples tersebut.


"Buka saja!" Erlin melewati ku begitu saja tanpa beban pikiran. Aku ingin menanyakan perihal kepergiannya tadi.


"Erlin!" panggilku. Dia menoleh lalu membalikkan badan.


"Ya!" sahutnya singkat.


"Apa tadi kamu bertemu dengan suamimu?" tanyaku dengan perasan yang berkecamuk.


"Wanita pilihannya? Maksud kamu?" tanyaku.


"Dia akan menikah lagi."


Oh tidak, Erlin begitu tenang, seharusnya dia merasa kan sakit di hatinya, tapi tidak dengan yang kulihat ini. Sepertinya dia terlihat tanpa beban sedikit pun. Sungguh diluar dugaanku.


"Lalu kenapa kamu tak mencegahnya?"


"Untuk apa Sam, dia pantas untuk mendapatkan kebahagiaannya. Aku sudah banyak berbuat salah padanya. Dan aku merestui dia menikah lagi." terang Erlin begitu bijaknya.


Apa Erlin? Kamu merestui aku? Tidak Erlin, seharusnya kamu mempertahankan suami kamu. Jangan biarkan dia menjadi milik orang lain. Seperti itu kan kalimat yang kamu katakan?


Erlin pergi meninggalkan aku yang masih larut dalam kesalahan.


"Aku kira kamu tulus mencintai aku, jika kamu cinta aku seharusnya kamu mencari keberadaan ku dan menggagalkan pernikahan yang sebentar lagi akan terjadi." Aku mengusap kasar wajahku.


Erlin telah melepas ku.


Aku membawa toples itu ke dalam rumah. Saat ku buka betapa kagetnya aku.


"Kerupuk uyel?" Gumam ku. Aku heran dengan perubahan Erlin, dia tak begitu dingin padaku.


"Kerupuk uyel, ini adalah makanan favorit ku saat aku tinggal di desa dulu." Bagaimana Erlin bisa tahu kalau aku menyukai kerupuk uyel?


.


Papi dan mami sudah tahu kalau saham perusahaan William telah kembali. Sebentar lagi papi bisa bekerja lagi di perusahaannya.


Setelah makan malam usai dan kami belum beranjak pergi juga dari kursi. Eliana memergoki Erlin mengenakan cincin.


"Kak Erlin, bagus sekali cincin yang Kakak kenakan itu!" Eliana menarik tangan Erlin seraya mengamatinya.


" Iya, cincin permata yang sangat indah," mami menimpali dengan pujian.

__ADS_1


"Malah lebih bagus punya kak Erlin ketimbang punyaku," Eliana memanyunkan bibirnya.


"Dari mana kamu mendapatkan cincin sebagus itu?" tanya papi.


"Em ... " Erlin tampak bingung menjawabnya. Aku melirik kakek. Dan kakek pun peka.


"Itu hadiah kesembuhan untuk Erlin," jelas kakek.


"Wah, Mi, keluar dari rumah sakit saja hadiahnya cincin permata, kakek sungguh menyanyangi Erlin rupanya," bisik papi yang mampu aku dengar cukup jelas.


"Iya Pi, kenapa kakek tak memberikan hadiah untuk Eliana juga, secara Eliana kan calon istrinya Samuel," sahut mami dengan berbisik pula.


.


Keesokan harinya, kebetulan hari Minggu jadi aku libur.


Pagi ini aku sudah bangun lebih awal sekitar 03.30. Semalam tak bisa tidur membuat tenggorokan ku terasa kering. Aku keluar kamar menuju dapur. Suasana rumah masih sepi dengan aktivitas pelayan. Mereka akan bekerja sekitar pukul 05.00


Terlihat lampu dapur sudah menyala, aku penasaran siapa orang yang sepagi ini berada di sana.


Aku berjalan mengendap - endap lalu mengintip siapa yang ada di sana.


"Erlin!" pekikku dalam diam.


"Apa yang kamu lakukan sepagi ini di dapur?" suaraku mengagetkan dia.


"Sam, kamu hampir membuatku jantungan!" ujarnya seraya mengusap dada.


"Aku sedang mencari peralatan kue, di mana mereka menyimpan nya ya?"


"Kamu mau membuat kue lagi?" tanyaku heran.


Dia hanya mengangguk seraya mengamati sisi lemari.


"Kali ini aku ingin membuat kue untuk kakek." terang nya.


"Lalu buatku mana?" tanyaku dalam hati.


"Ok, sebentar, biasanya mereka menaruh peralatan kue di sini!" aku berjongkok membuka lemari paling bawah. Letaknya tak jauh dia berdiri.


Aku mengeluarkan semua peralatan kue.


"Syukurlah, akhirnya ketemu juga!" ujarnya senang.


Aku menawarkan dia untuk membantunya menyiapkan bahan. Dia pun tak keberatan. Di pertengahan waktu kami sempat bercanda, tertawa bersama, sungguh hal langka.


Aku membuka sebungkus tepung dan memasukkan ke dalam loyang. Karena kecerobohan ku debu tepung bertaburan hingga membuat Erlin terbatuk.


Dia menutup hidungnya, dan saat membuka tangannya.


Aku menahan tawa.


"Apa nya yang lucu?" tanyanya.


"Lihat wajahmu, ada sisa tepung yang menempel!" tunjuk ku pada dagunya.


"Mana?" dia mengusap dagunya, bukan menghilang kan bekas tepung, tapi malah memperparah.


"Hahaha, kamu seperti memakai bedak sekarang!" timpalku.


"Benarkah, sekarang bukan hanya aku saja yang memakai bedak, kamu juga!" Erlin mencolek pipiku. Meninggalkan bekas tepung di sana.


Dia belum puas dan ingin mencolekku lagi. Aku mencekal tangannya.


"Kak Sam, Kak Erlin, Kalian jahat!" pekik Eliana yang memergoki kami.


Eliana pergi.


"Dik, tunggu, ini tidak seperti yang kamu bayangkan! Aku dan Samuel tidak melakukan apa - apa!" teriak Erlin dan berusaha mengejarnya.


Erlin berbalik.


"Sam, cepat kejar adikku! Dia pasti cemburu," titah Erlin dan aku pun mengejar Eliana.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2