Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Aku Egois


__ADS_3

"Sam, kamar kamu yang mana, boleh aku ikut melihatnya?" Erlin menarik tanganku.


"Ini apartemen kita, tentu saja boleh, kamu juga bisa berkeliling melihat sisi ruangan lain." sahut ku seraya menunjuk sekitar. Erlin mengedarkan pandangan menatap isi apartemen.


Ternyata ada modus tersendiri dari Erlin yang sengaja menjauh dari Eliana.


"Sam," bisik Erlin, istriku seolah mengisyaratkan agar aku memelankan suara.


"Apa?" sahut ku ikut berbisik pula.


"Kamu malam ini tidur sama Eliana ya," ujarnya yang membuat leherku terasa tercekik.


"What!" pekikku yang membuat Erlin menutup mulutku rapat-rapat. Aku melepas paksa tangannya.


"Aku enggak mau." tolakku dengan menurunkan nada suara.


"Ini malam pengantin buat kalian berdua, jadi jangan ragu lagi untuk menggarap ladang, kan kalian sudah halal." ujarnya terdengar banyol.


"Sumpah, sampai kapan pun aku enggak mau tidur sekamar bareng dia!" tolakku lagi.


"Terus, kamu mau anggur in dia di malam pertama kalian? Sam, kalian berdua pengantin baru," Erlin tetap ngotot.


"Kan kamu yang memaksaku untuk menikahi dia, kamu saja yang sekamar dengan dia malam ini!" dengus ku kesal.


"Kok gitu, Sam!" Erlin melotot matanya.


"Terserah aku, aku capek mau tidur!" aku melenggang begitu saja melewati istriku, dia benar -benar membuat aku terpuruk. Aku menuju kamarku, belum sampai masuk, Cemplon memanggil ku.


"Papa, kamar aku mana?" rengeknya yang sudah tak bisa menahan kantuk.


Oh iya, sampai lupa aku belum memberi tahunya.


"Maafkan papa ya, ayo papa antar ke kamar kamu!" aku menggandeng Cemplon menuju kamarnya. Erlin lebih memilih pergi, biasanya dia akan mengekor jika aku mengantar putranya tidur. Saat melangkahkan kaki, aku berpapasan dengan adik iparku yang sudah menjadi istri kedua ku. Dia berdiri mematung seolah menanti kedatanganku.


"Kak Sam," panggilnya lirih, namun aku bisa menangkap dari gerak bibirnya.


Aku menghentikan kaki tepat di sampingnya.


"Kamar kamu ada di sebelah kanan." tunjuk ku pada kamar di sebelah kamarku.

__ADS_1


"Apa kita tak satu kamar?" tanyanya dengan berani. Aku pikir Eliana wanita yang lugu dan penurut, nyata nya dia semakin berani meminta lebih padaku.


"Aku akan sekamar dengan istri pertamaku." sahut ku terdengar egois.


"Tapi, aku kini juga istrimu, Kak, meski hanya istri kedua, kamu seharusnya bisa bersikap adil padaku," ujarnya terdengar iba.


"Erlin yang memaksaku untuk menjadikan kamu istri kedua ku. Jadi, kamu seharusnya sadar, bahwa pernikahan kita hanya karena keterpaksaan. Dan jangan menuntut ku macam-macam, karena aku tak suka!" gertakku.


"Tapi, Kak," Eliana menyentuh lenganku.


"Maaf, aku ingin mengantar Cemplon ke kamarnya." dia melepas tangannya membiarkan aku lewati, aku meninggalkan dia begitu saja tanpa memperdulikan perasaannya yang mungkin tersakiti dengan ucapanku.


Aku sadar meski terlihat egois dimatanya. Bukan dia yang seharusnya tersakiti dalam adegan ini, tapi aku, sebagai seorang suami yang dipaksa istrinya untuk menikah dengan adiknya.


Selesai mengantar putraku ke kamarnya aku bergegas menuju kamarku.


Kagetnya bukan kepalang, mendapati sosok tubuh yang lain telah tidur di ranjang.


"Eliana, apa yang kamu lakukan di kamarku?" pekikku, aku semakin jengkel dengan ulahnya.


"Kak Sam, kak Erlin yang meminta ku untuk tidur di kamar ini." ujar Eliana terdengar manja, dia sudah siap di pembaringan tempat tidur.


"Sial. Kalau begitu aku tidur di kamar lain." ujarku terdengar ketus.


"Terkunci? Bagaimana bisa aku terkunci di kamarku sendiri. Ini tidak bagus. Erlin, Erlin buka pintunya!" teriakku sambil menggedor pintu. Aku terlihat buruk dan sangat panik. Mana mungkin aku tidur sekamar dengan orang lain.


"Sudahlah Kak, ini sudah sangat larut, kita butuh istirahat, kemarilah!" Eliana menepuk ranjang di sisinya. Dia melakukan itu sambil memejamkan mata. Tak kuat menahan kantuk, suaranya yang cempreng sudah tak terdengar lagi.


Aku menggerakkan handel pintu, mengetuk pintu dan meneriaki nama Erlin. Hampir setengah jam aku begitu, namun semenit pun tak ada sahutan dari luar.


"Lama-lama aku bisa gila kalau begini terus." aku merogoh ponselku yang tak terpikirkan dari tadi. Mencoba menghubungi nomor Erlin. Berharap dia segera mengangkat panggilan dariku. Namun, sudah sepuluh kali aku mendial nomornya, tak satu pun berhasil.


"Erlin, lihat pembalasan untuk kamu besok!" teriakku.


Aku sangat capek hari ini, ku lirik jam di dinding menunjukkan pukul 12 malam. Mataku seperti dilem. Tapi, pikiranku tak selaras dengan fisikku. Perlahan aku memejamkan mata dan menjatuhkan bobot tubuhku di atas ranjang.


Wangi parfum mengusik penciumanku. Perlahan aku membuka mata, meski terasa berat namun harus. Siapa pemilik aroma ini, bukan Erlin, Erlin tak menyukai parfum buatan, dia lebih suka mengunyah bunga melati untuk menghasilkan aroma natural.


Mataku kini sudah terbuka lebar meski ku paksakan. Tanganku yang nakal memeluk sosok tubuh yang lain.

__ADS_1


"Eliana!" pekikku seraya meloncat menjauh dari rangsang.


Yang berbaring di sana masih enggan untuk membuka mata meski teriakanku cukup keras.


Aku segera berlari ke arah pintu, memegang handel pintu.


"Terbuka?" pekikku girang dan segera keluar mencari Erlin. Ku masuki kamar yang seharusnya ditempati Eliana. Di sana kosong, tak ada Erlin. Bergegas menuju kamar Cemplon.


"Erlin!" teriakku yang membuat si pemilik nama terusik tidurnya.


"Sam, kamu sudah bangun, pukul berapa sekarang?" tanya Erlin tanpa berasa dosa sedikit pun padaku. Padahal dia mengurung ku semalam.


"Bangun!" bentakku.


"Sttt, jangan keras-keras, nanti putra kita bangun!" Erlin memperingatkan ku.


Aku mencekal pergelangan tangannya dan menariknya keluar. Meski dia meneriaki namaku dan meronta untuk aku lepaskan, aku tak menggubris.


"Sam, sakit!" pekiknya, baru aku melonggarkan peganganku.


"Apa yang kamu lakukan padaku semalam, hah!" bentakku.


Erlin menutup kupingnya.


"Jangan teriak, aku enggak tuli!"


"Kamu 'kan yang semalam mengurung ku di kamar?"


"Bagaimana, semalam kalian habis berapa ronde?" tanyanya tak merasa bersalah, malah bertanya yang bukan-bukan.


"Erlin, itu kamar sengaja aku pilih untuk kita tempati! Bukannya kamu malah menyuruh Eliana untuk tidur di kamar kita!" ujarku dengan marah.


"Sudahlah Sam, kamu jangan terlalu egois, Eliana juga istri sahmu, sudah sepatutnya kamu memperlakukan dengan adil dan memperhatikan dia secara lebih. Dia tengah mengandung anakmu." ujar Erlin mencoba menceramahiku.


"Aku tidak mencintai dia."


"Cinta datangnya belakangan, dengan membiasakan hidup bersama, lama-lama cinta kalian akan tumbuh dengan sendirinya,"


"Kamu gila ya, dunia ini terasa mau kiamat saja. Aku tetap tak terima jika satu kamar dengannya. Jika kamu tetap kekeh dengan pendirian kamu yang gila itu, lebih baik aku ceraikan dia sekarang!" ancamku.

__ADS_1


"Jangan Sam, ku mohon jangan lakukan itu padanya. Pikirkan kehamilan dia sekarang, aku sangat mengharapkan bayi itu, jadi jangan membuat stres ibunya. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kehamilannya. Aku tak mau usahaku sia-sia begitu saja." terang Erlin yang membuatku shock dengan kalimatnya yang terakhir.


"Usaha, usaha apa yang kamu maksudkan?" tanyaku penasaran.


__ADS_2