
Seperti biasa aku menyiapkan kebutuhan suamiku, kopi hitam, dasi, setelan kemeja berwarna biru dongker dan sepatu hitam.
Sam belum keluar juga dari kamar mandi, entah apa yang dia lakukan di dalam sana, hampir setengah jam dia membersihkan diri.
Ponselnya yang berada di atas kasur mendadak berbunyi. Aku abaikan saja dan berpikir pasti Sam akan menghubungi balik juga jika itu penting.
Aku menarik koper yang begitu berat, membuka nya dan mengeluarkan semua isi nya.
Belum ada semenit, ponselnya berdering lagi.
Aku menghentikan kegiatanku dan berjalan mendekati kamar mandi, setelah sampai di depan pintu aku menghentikan langkahku, bingung antara mengetuk dan tidak.
"Eum, biarlah, nanti juga Sam akan tahu sendiri kalau ada seseorang yang menghubunginya." batinku mengurungkan niat.
Beberapa detik kemudian, ponselnya berdering lagi, aku menoleh ke sumber suara dan belum berpindah dari pijakan. Sangking berisik mendengar ponselnya yang sejak tadi tak berhenti berdering. Aku mengetuk pintu bermaksud memberi tahu kalau ponselnya berdering dan seketika itu juga mendengar sahutan dari dalam.
"Iya Sayang, lima menit lagi!" kata Sam memberi tahu ku.
Ponselnya mati, mungkin si penelepon merasa jenuh untuk terlalu lama menunggu.
Aku kembali lagi dengan kesibukanku, mengeluarkan beberapa baju kotor dari dalam koper untuk aku berikan pada pelayan agar segera dicuci. Setelah semua baju kotor itu berpindah ke tanganku. Aku harus mengitari ranjang agar sampai ke pintu ke luar kamar. Baru beberapa langkah, ponsel Sam berbunyi lagi membuat aku terkejut.
Sangking penasarannya aku pun meletakkan baju kotor itu di lantai dan menggapai ponsel Sam yang kebetulan berada di tengah ranjang.
"Euh, dapat!" seruku dalam hati.
Bagai tersengat listrik diri ini, di dalam layar ponselnya terpampang jelas wajah wanita yang sangat cantik, aku tak begitu mengenal wanita itu, siapa dia?
Aku menerima panggilan masuk dari wanita itu. Mencari tahu sendiri apa keperluannya sampai menelepon berulang kali.
"Tuan Muda Sam, kemana Anda, lama sekali mengangkat telepon dariku!" omel wanita itu terdengar manja.
"Bagaimana Tuan dengan tawaranku, apa masih berminat? Kalau malam ini pasti Tuan tidak sedang ada acara bukan? Kebetulan kan malam minggu, aku akan menunggu Tuan di Cafe Barjak!" ujar wanita itu lagi. Belum sempat aku mengomelinya sudah terdengar bunyi tut ... tut ... Tut ....
Wanita itu langsung menutup ponselnya.
Dadaku kembang kempis merasakan ini, betapa teganya Sam menghianati untuk yang kedua kali dalam pernikahan ku.
__ADS_1
Aku segera menghapus log panggilan masuk dari Emely dengan sangat kesal, ya nama yang tersimpan di ponselnya.
Terdengar langkah Sam keluar dari kamar mandi, aku segera melempar ponselnya sembarang di atas kasur sebelum ketahuan.
"Sayang, aku sudah selesai mandi nih!" ujarnya seraya memelukku dari belakang, dagunya bertengger di pundakku. Tercium aroma wangi sekali. Bau shampo dan sabunnya menyeruak sampai ke ulu hati.
Aku memejamkan mata sejenak menikmati harum tubuhnya.
Aku mengendus aroma yang tak ingin aku lepaskan ini. Namun aku teringat dengan si pelakor tadi. Tanganku dengan cepat melepas pelukannya.
Giliran aku mengendus kedua ketiakku. Mengisyaratkan kalau aku belum mandi.
"Kamu nggak usah khawatir, meski kamu belum mandi aku tetep mau kok peluk kamu," ujar Sam kemudian yang berusaha memelukku lagi.
Dengan kedekatan Sam dengan Emely membuat aku cemburu, tapi beda rasanya saat Sam ingin menikahi Eliana dulu. Rasa ini sangat sakit, mungkin rasa ini timbul setelah aku menyerahkan semua tubuh ku untuk ia cicipi.
Aku segera mengambil semua pakaian yang ku taruh di lantai tadi dan menunjukkan pada Sam.
"Kamu mau turun?" tanya Sam yang akhirnya menyudahi aksinya ingin memelukku. Hanya anggukan yang dapat kulakukan.
"Baiklah Sayang, tunggu aku sarapan ya!" Dia lekas mengambil pakaian yang sudah aku siapkan. Aku sendiri segera keluar kamar menuju dapur.
"Sabar, ini mungkin cobaan untuk menjadi istri yang setia, " batinku menenangkan diri.
Tapi jujur, aku tak yakin jika Sam selingkuh. Aku tahu betul karakternya seperti apa. Aku berusaha menggagalkan pertemuan Emely dengan Sam di Cafe Barjak. Aku tahu lokasinya.
Segera ku mengambil secarik kertas dan pulpen.
"Sam, aku ingin menguji kesetiaanmu, beranikah kamu pergi ke Cafe Barjak malam nanti? Tapi dengan berbagai ketentuan." tulisku dan segera ku lipat rapi, ku letakkan di atas meja makan.
Sam sudah terlihat rapi menuruni tangga. Dia sungguh tampan. Tapi lihat nanti malam, apa ketampanan kamu masih tetap bersinar? Aku yakin, semua wanita cantik yang mengagumimu akan lari tunggang langgang. Aku tertawa kecil hingga membuatnya memperhatikan aku.
"Sayang, apa ada yang lucu dariku, sehingga kamu tertawa sendiri?" tanya Sam. Dia memperhatikan penampilannya sebelum menarik kursi di depanku.
Aku menghentikan tawa kecilku dan mulai menggeleng.
"Lantas apa yang membuat kamu tertawa sendiri? Hm, kamu curang Sayang, tawa nggak ajak-ajak, kasih tahu aku dong," kata Sam seraya menerima piring dariku yang sudah berisi nasi.
__ADS_1
Aku tak memperdulikan godaan nya, menawarkan lauk untuk mengalihkan pembicaraan. Aku menunjuk piring yang berisi ayam goreng.
"Jangan Sayang, pagi ini aku sedang tidak mood makan ayam!" kata Sam menolak tawaranku yang pertama.
Aku menunjuk tumis kangkung.
"Sepertinya sayuran hijau cocok untuk menu pagi ini," ujar nya dengan segera aku mengambil tumisan kangkung beberapa sendok di atas piringnya.
Di tengah sarapan, kakek datang. Beliau dari desa, mengantar Cemplon kembali ke rumah paman Wito. Dengan segera kakek bergabung bersama kami.
Banyak cerita yang kakek sampaikan. Beliau sudah bertemu dengan emak.
"Alhamdulillah Sam, ibu kamu mau menerima per minta maaf an dariku." ujar kakek pada Sam.
"Emak memang baik, dia wanita paling hebat sedunia bagiku." ujar Sam seraya melirik padaku.
"Dan wanita kedua itu kamu, Sayang!" Sam mentowel pipiku dihadapan kakek. Aku sungguh malu dibuatnya.
Selesai sarapan kakek menuju lantai atas untuk beristirahat setelah dua hari berada di desa.
"Sayang, kertas apa ini?" tanya Sam padaku seraya menunjuk kertas yang ku lipat tadi.
Aku mengisyaratkan agar dia membacanya.
"Apa maksudnya ini? Kejutan apa yang ingin kamu tunjukkan padaku, eum, sekarang istriku pandai sekali membuat aku penasaran." Sam menopang dagunya seraya menatapku lekat.
Ku usap wajahnya. Setelah itu aku menunjuk pergelangan tanganku. Mengisyaratkan agar dia segera berangkat ke kantor. Sam pun beranjak dari kursi.
"Erlin, apa kamu mengajak ku untuk kencan malam nanti, Cafe Asmara sepertinya lebih baik dari pada Cafe Barjak." ujarnya kemudian.
Aku menggelengkan kepala dan mendorong tubuhnya menuju pintu keluar.
"Iya, Sayang, aku akan pergi!"
Sam pun segera mengendarai mobilnya dan hilang dari pandangan ku.
"Huh, saatnya mempersiapkan rencana untuk mengerjai pelakor!" Aku menepuk tanganku layaknya membersihkan debu.
__ADS_1
Pelayan yang melintas aku hentikan langkahnya. Menulis di kertas untuk menyampaikan apa yang aku mau.
"Pelayan, tolong ambilkan aku beberapa arang atau abu sekam."