Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Berakhirnya Masa Lajang


__ADS_3

"Ciko!" pekik Erlin setengah kaget dengan sosok pria di depannya.


"Si otak udang, ngapain lagi kamu mengusik kehidupan Erlin setelah kamu menghujani dia dengan hinaan! Belum puas kamu, hah!" bentakku seraya berdiri, mencengkeram kerah kemejanya. Rasanya tanganku gatal ingin memberikan dia sapaan hangat. Kepalan yang siap menghantam mukanya.


Dengan cepat dia mencekal pergelangan tanganku. Sedikitpun dia tak terlihat gusar. Bergeming pun tidak.


"Sam, hentikan, malu dilihat Cemplon!" bisik Erlin yang juga ikut berdiri. Tangannya menarik lengan kemeja ku.


Aku melepas cengkeraman tanganku. Melirik Cemplon yang terlihat takut.


"Santai Bro, jangan tensi begitu! Oke, aku akui kesalahan yang pernah aku lakukan padamu." ujarnya sambil membenahi kemeja yang tak terlihat kusut.


"Jujur, sejak pagi tadi aku mencarimu di butik, namun kelihatannya butik itu sudah lama tutup," sambung Ciko, ucapannya ia tujukan pada Erlin.


"Semenjak kecelakaan itu, aku sudah tak bekerja lagi di butik. Selain sepi pengunjung, aku lebih memfokuskan untuk istirahat total." ucap Erlin seraya menyuruhku untuk duduk kembali.


Aku melirik lagi Cemplon yang sempat merasa takut dengan sikapku tadi. Aku menampakkan senyum kecil padanya. Dan duduk kembali. Cemplon pun sudah tak terlihat takut.


"Sudah tak apa-apa, makan kembali as krimmu!"


"Untuk apa kamu mencari Erlin!" bentakku ketus tak suka dengan tampangnya yang mesum.


"Ini juga sebuah kebaikan darimu Sam." ucap Ciko yang terdengar sumbang. Aku mengerutkan dahi menunggu kelanjutan kalimatnya.


"Kebaikan yang mana yang kamu maksudkan?" tanyaku masih belum berubah ekspresi wajahku.


"Kamu membangun toko emas di Jakarta?" tanya nya.


Aku mengangguk cepat. "Ya, sudah 2 tahun ini." ujarku jujur. Aku tak tahu maksud dari pertanyaan dia. Ku anggap saja itu sebuah peluang besar jika dia memborong toko emasku.


"Dari sana aku mendapatkan bidadari cintaku," ujarnya masih bertele -tele.

__ADS_1


"Ngomong yang jelas, aku muak mendengar ucapanmu yang berbelit -belit!" bentakku. Aku kira dia mau berbisnis denganku nyatanya salah.


Ciko memperlihatkan telapak tangannya, mengisyaratkan agar aku tenang. Dia mengeluarkan sebuah kertas dari saku kemejanya. Mengulurkan tangan agar Erlin menerimanya.


"Ini!" Erlin menerima sebuah kertas yang terbungkus plastik rapi itu. Terlihat seperti kertas undangan.


Erlin reflek membuka isi dari plastik tersebut dan segera membacanya sekilas.


"Kamu akan menikah?" ujar Erlin dengan nada tinggi menatap Ciko tak percaya. Aku pun sama, pasalnya pria berotak udang ini suka sekali berpacaran dengan lebih dari satu cewek. Mana mungkin dia secepat ini melepas masa lajangnya.


"Dengan siapa?" gumamku yang ternyata kepo juga. Aku melirik isi undangan tersebut. Erlin pun memperlihatkan padaku agar aku mudah membacanya.


"Tini? Kamu akan menikah dengan Tini?" tanyaku hampir tak percaya. Cowok model Ciko yang playboy itu bisa jatuh hati pada sahabatku yang amat sangat sederhana sekali. Aku melotot seketika itu juga padanya. Rasa kekesalan yang semakin menumpuk. Aku tak rela jika sahabatku akan sakit hati dikemudian hari olehnya.


Setelah kecelakaan yang dialami Erlin waktu dulu, aku sengaja memindah pusat pertokoan emas di ibu kota. Karena selain aku tak bisa mengunjungi toko emas di Batam, aku harus ekstra menjaga Erlin. Oleh karena itu, aku meminta Tini untuk ikut pindah juga. Untungnya dia tak keberatan, dan merasa lebih dekat saja jika pulang kampung.


"Kamu mengenalnya, Sam?" tanya Erlin datar, sorotan matanya berpindah padaku.


"Iya Sayang, dia teman kecilku saat berada di desa, dan dia adalah salah satu karyawan di toko emas kita." Aku menetralkan netraku, aku menerangkan pada Erlin sekilas tentang Tini. Erlin mengangguk mengerti.


"Awas saja jika kamu menyakiti sahabatku! Aku tak segan-segan membuatmu hancur untuk yang kedua kali!" ancamku seraya menunjuknya geram. Mengingat cowok ini seorang yang playboy.


"Aku bisa menjamin, Sam, kamu tak perlu risau akan hal itu. Baiklah, siang ini aku ada jadwal dengan calon istriku untuk fitting baju pengantin. Sampai ketemu lagi di acara resepsi pernikahanku!" Ciko membalikkan badan dan pergi, sebelumnya dia menjabat tanganku. Meski berat, ini kali pertama aku berbaikan dengannya. Secara dia adalah calon suami sahabat kecilku. Ciko dan Tini sangatlah berbeda kasta, Tini terlahir dari kalangan keluarga sederhana. Sedangkan Ciko berasal dari keluarga yang berada. Yah, syukurlah kalau mereka sudah berjodoh. Semoga dengan ini Ciko jadi yang lebih baik.


"Aku tak menyangka Ciko bisa beruban," ujar Erlin yang sama dengan pemikiranku seraya mengelap sisa es krim di mulutnya dan membuang tisu ke tempat sampah yang kebetulan dekat dengan meja.


"Berubah lebih baik itu bagus, dari pada gonta - ganti pasangan nggak jelas." cecaran ku. Terakhir dulu aku melihat Ciko tengah mendekati Eliana, namun Eliana lebih memilih kuliah ke luar negeri ketimbang dengerin gombalannya dia. Itu lebih bagus.


"Kok kamu nggak pernah cerita punya sahabat kecil?"


"Em, ku kira kamu tak tertarik dengan kehidupanku yang lalu," aku mengulum senyum.

__ADS_1


"Ya nggak seberapa penasaran, tapi aneh saja apa yang dilakukan sahabat kamu itu yang bisa membuat Ciko berubah tiga ratus derajat?"


"Kenapa nggak sekalian kamu putar jadi 360 derajat?" ujarku gurau.


"Muter dong dia," kami tertawa bersama.


"Yah, yang kutahu saja, Tini itu orangnya simpel banget. Dia sederhana, manis dan pinter." terangku sedikit memuji Erlin.


"Kok kamu nggak naksir dia?" tukas Erlin yang berhasil mencubit hatiku.


"Kamu cemburu jika aku mengutarakan yang aku ketahui tentang Tini," aku mencolek hidungnya yang imut. "Wah, ini menunjukkan semakin besar rasa cintamu padaku jika benar,"


"Is geer banget kamu, Sam!" sahut Erlin datar tak mau mengaku.


"Alah, ngaku aja!" aku tak menyerah untuk menggoda dia.


"Stttt ... malu didengar anak kecil!" Erlin menempelkan jari telunjuknya ke bibir tanpa menatapku.


Aku menahan tawa, "Hehehe, ini sudah siang, aku antar pulang kalian berdua, setelah itu aku akan pergi lagi."


"Loh, aku kira kamu sudah senggang, besok -besok biar diantar sopir saja, kasihan kamu bolak balik," tutur Erlin memahami kalau aku sangat capek.


"Ah, Sayang, enggak repot juga kok, lagian ini kan hari pertama putra kita masuk sekolah. Nggak salah juga kan aku menikmati momen yang berharga ini,"


"Papa kalau capek, besok Cemplon berangkat sendiri saja," ujar Cemplon dengan lugunya.


Aku mengusap lembut kepalanya, "Enggak, papa akan mengantar dan menjemput kamu selagi papa bisa, nah sekarang es krim kamu sudah habis kan, ayo ajak mamamu pulang!"


"Ayo Mama, kita pulang!"


"Ayo Sayang!"

__ADS_1


TAMAT


Terima kasih sudah mampir, semoga terhibur dan maaf author bikin episodenya singkat.


__ADS_2