Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Kecemburuan Eliana


__ADS_3

"Eliana, tunggu!" aku berhasil mengejarnya. Menarik kuat lengannya dan kini dia dalam dekapan ku.


"Kak Sam jahat!" ujarnya sambil terisak.


"Kamu jangan salah sangka dulu, aku dan Erlin tidak ada rasa apa pun, dia sedang membuat kue untuk kakek, jadi tak ada salahnya jika aku sedikit memberikan bantuan padanya," kataku mencoba menenangkan dia.


Aku memegang kedua pundaknya agar dia bisa menatapku. Dia masih terisak.


"Aku dengar kamu suka kue, bagaimana kalau kamu juga membuat kue untuk kakek ?" kataku bermaksud menantangnya.


"Aku tak bisa membuat kue." kata Eliana jujur. Aku mengusap air mata di pipinya.


"Ayo, kita buat bersama, kamu pasti menyukainya!" setelah dia setuju dengan tawaranku aku menarik tangannya menuju ke dapur.


"Dik," Erlin menghentikan pekerjaannya dan menyambut kedatangan Eliana.


"Erlin, alangkah lebih asyik lagi jika kita bertiga membuat kue bersama?" tawarku. Eliana masih membisu.


"Tentu, lebih banyak orang maka pekerjaan pun akan cepat selesai," ujar Erlin yang langsung menggandeng Eliana.


Aku pun akhirnya bisa menghentikan kecemburuan Eliana.


"Kak Erlin mau buat kue apa?" tanya Eliana seraya menyingsing kan lengan bajunya. Dia merasa kesulitan. Aku mendekatinya dan membantu dia menggulung lengan bajunya.


"Kue bolu," sahut Erlin dengan seulas senyum.


Eliana membantu memecah telur, Erlin menuang adonan , sementara aku sibuk memperhatikan mereka berdua.


"Sam, tolong ambilkan aku sendok!" perintah Erlin.


"Ok," aku mengambil sendok yang berada di belakang ku.


"Terima kasih!" ujarnya seraya melempar senyum.


Eliana tak mau kalah juga.


"Kak Sam, tolong aku, rambutku menjuntai ke depan nih!" ujar Eliana yang berusaha membenahi dengan lengannya. Dia memperlihatkan kedua tangannya yang penuh dengan adonan kue.


"Baik," aku berjalan ke arahnya dan membenahi rambutnya yang panjang. Melihat leher jenjangnya yang mulus, membuat junior ku bergerak di bawah sana. Ya Tuhan, belum jadi suaminya saja sudah bergejolak, bagaimana kalau sudah di atas ranjang?


"Sudah," aku mempercepat gerakan mengikat rambutnya agar tak lama - lama melihat leher mulusnya, bisa - bisa aku berpikiran kotor sepagi ini.


"Terima kasih Kak!" aku hanya mengulas senyum.

__ADS_1


"Sam, gulanya habis, ambilkan lagi !" titah Erlin.


"Siap Tuan Putri!" ujarku dan bergegas mendekatkan gula ke arahnya.


Eliana sekilas tampak murung, mungkin dia kesal dengan sebutan yang aku lontarkan begitu saja pada Erlin.


"Eliana, lihat ini!" aku menyodorkan jari telunjuk yang ujung nya ada adonan. Sontak dia menoleh ke arahku. Pipinya menempel di ujung jariku.


"I- ih Kak Sam jahil deh," Eliana mengusap pipinya yang terdapat noda tepung.


Aku terkekeh, dia seketika membalas, mengoles adonan tepat di ujung hidungku. Aku tak tinggal diam, aku menyerang balik ke arahnya. Dahinya kena. Melihat Erlin sibuk sendiri, aku mencolek pipinya yang sebelumnya sudah aku kasih adonan.


"Kyaaa ... ! Bisa - bisa habis adonanku!" hardiknya.


Aku dan Eliana tertawa melihat wajahnya seraya menunjuk ke arah pipinya. Dia mengelap dengan lengannya seraya tertawa lepas. Aku pun sama. Kami bertiga pun tertawa bersama.


Tak terasa adzan subuh berkumandang, kami melakukan sholat subuh dulu secara bersama - sama.


Selesai sholat, kami melanjutkan membuat kue bolu. Para pelayan pun mulai berdatangan. Aku minta izin pada mereka berdua untuk pergi ke kamar.


Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur hingga terpental.


"Erlin atau Eliana ya yang paling aku suka, hm, mereka berdua cantik semua, entah mengapa perasaanku mulai mengarah ke Eliana." Aku jadi dilema, jika Tuhan menghendaki aku punya dua istri, maka pernikahanku dengan Eliana akan terjadi. Dan jika Tuhan menghendaki aku tetap bersama Erlin, maka Eliana akan tersakiti.


"Kak Sam, kuenya sudah jadi!" teriak Eliana seraya membawa kue di atas nampan.


Sebelum menarik kursi aku menoleh ke arahnya.


"Wah, sepertinya enak!" seruku.


"Kak Sam adalah orang yang pertama kali mencicipi kue buatanku," ujarnya seraya memotong kue tersebut menjadi enam bagian.


Seketika itu juga kakek dan Erlin bersamaan datangnya.


"Wah, ramai betul, ada kue, emangnya siapa yang ulang tahun?" kakek langsung duduk.


"Tidak ada acara khusus, aku dan Erlin baru saja membuat kue. Silahkan Kakek cicipi!" ujarku, Erlin memotong kue menjadi enam bagian yang sama. Dan memberikan sepotong kue itu.


"Untuk ku? Wah, aku merasa terharu!" seru kakek yang langsung melahap kue yang disodorkan Erlin.


"Kuenya enak," kakek langsung menghabiskan kue tersebut.


"Kakek menyukainya?" Erlin ingin menambahkan kue lagi.

__ADS_1


"Luar biasa, ternyata kamu bakat juga," puji kakek seraya menerima kue lagi.


Aku jadi iri sama kakek yang mendapat perhatian lebih dari Erlin.


"Ayo Kak Sam, dimakan kuenya!" ujar Eliana yang membuat ku tersadar, sejak tadi dia sudah memeberikan kue padaku.


"Em, iya, " Aku segera memakan kue itu, Mmm, rasanya aneh, tapi kakek begitu menikmatinya. Mungkin kue buatan Erlin lebih enak. Untuk menghargai jerih payahnya aku terpaksa menelan bulat kue itu.


"Kak Sam, pelan - pelan makannya," tegur Eliana. Aku menelan habis kue itu.


"Bagaimana Kak, enak?"


Aku hanya mengacungkan dua jempol ku.


"Tunggu, aku ambilkan kue yang satunya dulu!" Eliana bergegas menuju dapur. Ingin rasanya tadi aku mencegahnya.


"Kenapa Sam?" tanya kakek melihatku aneh, aku menepuk - nepuk dadaku.


"Sini, aku juga mau kue punya Kakek!" aku mengambil sisa kue. Dan benar saja kue ini lembut, enak banget. Aku tak menghiraukan pandangan Erlin dan kakek yang menahan tawa.


Tidak dari dulu saja kita seperti ini Erlin, membuat kue, makan bersama, aduh, sungguh romantis bukan? Aku mendesah pelan meratapi yang sudah - sudah.


Selesai sarapan kami berbincang seputar kegiatan di hari Minggu, karena tidak ada rencana apa pun kakek mengusulkan untuk pergi bersama ke tempat pacuan kuda. Papi dan mami menolak untuk ikut, karena mereka berdua sibuk mengurus tempat pindah.


Eliana sangat tertarik, perihal ini adalah kali pertama dia pergi ke pacuan kuda.


Erlin dan Eliana segera beranjak dari kursi untuk mempersiapkan diri. Begitu pula denganku.


"Awas ... Erlin !" teriakku seraya menangkap tubuhnya yang hampir terhuyung jatuh ke lantai. Seorang pelayan tengah mengepel dan meninggalkan bekas lantai yang masih basah.


Pandangan kami saling bertemu. Kurasakan degupan jantungnya.


"Kak Sam!" pekik Eliana yang membuat aku melepas tanganku.


"Kamu tak apa - apa kan?" ujarku yang terlalu berlebihan memperhatikan Erlin.


"Aku baik, terima kasih," ujar Erlin yang segera berdiri tegak. Dia pergi menuju kamarnya.


"Kak Sam cari kesempatan ya?" selidik Eliana dengan muka cemburu.


Dia cemberut seraya melipat tangan di dada.


Aku jadi serba salah, niat baik malah dikira cari kesempatan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2