
Malam pun tiba, suasana rumah kakek Rama begitu riuh dengan galak tawa keluarga William. Kelurga William malah semakin betah tinggal di rumah kakek. Padahal aku sudah mengerjai mereka habis - habisan. Ya itu mungkin karena tindakanku yang mengambil keputusan secara sepihak untuk melamar Eliana.
Sementara tamu undangan rekan bisnis dan rekan kantor masih sibuk dengan obrolan masing - masing.
Eliana dengan posenya yang memukau semua orang kini tengah duduk anteng di sofa. Sedang disebelahnya ada papi dan mami.
Sejak magrib usai aku belum melihat Erlin.
Aku yang sejak tadi berdiri menunggu kakek turun dari lantai atas merapikan kembali kemeja ku. Aku mengenakan setelan kemeja putih selaras dengan pakaian yang Eliana kenakan.
Sekian detik kemudian, kakek datang.
"Di mana Erlin?" tanya kakek setelah memandang semua orang.
Aku hanya mengangkat bahu tak tahu.
"Sudahlah Kakek, mungkin kak Erlin lagi berdandan di kamarnya, kita langsung saja ke acara nya ya," timpal Eliana yang tak sabaran.
"Aku akan menunggu Erlin datang." ujar kakek yang membuat semua orang mematuhinya.
"Lama sekali, ngapain saja sih kakak di kamar!" gerutu Eliana.
"Biar mami yang lihat ya Sayang, kamu tenang saja, nanti make up nya jadi luntur kalau kamu ngambek begini," ujar mami seraya membelai rambutnya.
"Iya Mi, suruh kak Erlin agak cepet dandannya, aku sudah tak sabar," omelnya.
"Yang tunangan siapa, yang ditunggu siapa?" imbuhnya lagi.
Aku hanya mendesah kasar. Hatiku merasa tak tenang juga. Apa keputusan ku ini sudah tepat bertunangan dengan adik iparku sendiri?
Sebenarnya aku masih sangat mencintai Erlin. Tapi hatiku masih ada sedikit rasa sakit. Mungkin dengan aku membalas dendam seperti ini bisa mengobati luka di hatiku.
Lalu bagaimana dengan Samsul, apa aku akan kembali ke aku yang dulu? Tidak, aku sudah mengubah takdir ku menjadi Samuel. Aku tidak akan pernah kembali lagi menjadi Samsul. Setelah aku mengetahui isi hatinya, aku sadar Erlin hanya menyukai Samsul, bukan Samuel. Biar Erlin rasakan betapa sakitnya mencintai.
Tak berapa lama kemudian Erlin datang. Aku kagetnya bukan kepalang. Dia mengenakan kebaya modern. Kebaya yang ia pakai saat acara ijab kabul dulu. Aku ingat betul itu.
"Apa ini calon tunangan Tuan Muda Sam?" tanya salah satu rekan kantor.
"Bukan, tapi yang duduk di sana!" sahut yang lain seraya menunjuk Eliana.
"Tapi kok aku ngerasa Tuan Muda Sam cocok dengan wanita yang memakai kebaya itu."
"Masa iya sih,"
"Cantik," gumamku lirih hingga membuat kakek menyikut lenganku.
__ADS_1
"Kondisi kan dirimu, ingat kamu harus siap dengan apa pun yang akan terjadi pada Erlin!" ujar kakek mengingatkan.
"Eliana juga tak kalah cantiknya dengan Erlin kok." bisikku.
"Tapi aku lebih mendukung kamu dengan Erlin." sahut kakek.
Kami berbisik - bisik mengabaikan semua orang.
Setelah Erlin duduk berjajar dengan Erlin. Aku dan kakek pun menyudahinya. Kami duduk juga.
"Kak Erlin, ngapain dandan kayak pengantin seperti itu?" tukas Eliana yang sepertinya tak suka dengan gaya Erlin. Ya aku akui Erlin terlalu berlebihan dalam berdandan, terkesan dia lah yang menjadi tunangan ku.
"Ya memang sengaja saja, siapa tahu dengan aku mengenakan baju kebaya ini bisa mengingatkan seseorang." Erlin menatap ke arahku.
Apa maksud tatapannya yang ia tujukan padaku?
"Siapa?" tanya Eliana.
"Bukan siapa - siapa Dik, sudahlah itu tidak penting! Ayo kita mulai acaranya!" ujar Erlin.
"Bagaimana, sudah bisa kita mulai?" tanya kakek pada semua orang yang ada.
"Iya Kek," sahut semua orang.
Setelah kakek berceramah panjang lebar, giliranku tampil. Aku merogoh saku celana kananku dan mengeluarkan kotak merah, satu cincin berlian yang seharusnya aku hadiahkan pada Erlin.
Saat aku akan mengenakan cincin ke jari manis Eliana, mendadak Erlin terlihat sangat pucat. Raut wajahnya seperti sedang sakit. Aku jadi tak fokus mengenakan cincin. Seketika itu juga cincin ku jatuh menggelinding.
"Kak Sam, cincinnya ...." pekik Eliana dengan panik seraya membungkukkan badan ke arah jatuhnya cincin.
Aku tak menghiraukan jeritan Eliana yang bingung dengan cincin itu. Erlin tampak sempoyongan, dia hampir tersungkur ke lantai. Untungnya aku segera menangkapnya.
"Erlin, sadarlah!" dia kini dalam dekapan ku. Aku mengguncangkan tubuhnya. Badannya terasa demam. Aku mendadak panik, bukan seperti ini yang aku inginkan. Ada apa denganmu?
"Kenapa Sam dengan Erlin?" kakek terlihat panik juga.
"Badannya demam Kek."
"Cepat bawa dia ke rumah sakit!" titah kakek.
Aku segera membopongnya.
"Bondan, siapkan mobil!" perintahku.
Bondan segera berjalan mendahuluiku.
__ADS_1
"Kak Sam, cincinnya sudah ketemu!" seru Eliana.
"Terserah kamu apakan dengan cincin itu!" ujarku seraya meliriknya sekilas. Ku lihat dia mengenakan sendiri cincin itu.
"Tuan Muda Sam, lalu bagaimana dengan pertunangannya?" tanya mami.
"Sam?" tanya kakek agar aku memberikan jawaban yang pasti.
"Pertunangan batal." ujarku yang langsung pergi setelah Bondan menyiapkan mobil untukku.
"Batal Kak, kenapa? Aku sudah susah payah menyiapkan diriku dan hanya karena kak Erlin pingsan Kakak membatalkan pertunangan ini."
"Tuan Muda Sam, jangan mempermalukan keluarga kami dengan sikapmu!" bentak papi yang menahan langkahku.
"Kalian keluarga macam apa! Anak sendiri sedang sakit malah mementingkan hal lain!" ujarku yang segera pergi.
Bondan membukakan pintu. Erlin segera aku masukkan ke dalam mobil, aku duduk di sampingnya.
Mobil pun segera melaju menuju rumah sakit ternama di kota Jakarta.
"Erlin, sadarlah!" ujarku seraya mengusap kepalanya.
"Tuan Muda Samuel, sepertinya Anda sangat perduli dengan kondisi non Erlin," ujar Bondan seraya menatapku melalui kaca spion mobil.
"Diam kamu Bondan, perhatikan jalan saja!" hardik ku.
"Maaf Tuan Muda,"
Aku sangat cemas, meski balas dendam ku belum sepenuhnya tuntas, tapi rasa ini tak bisa aku pungkiri. Erlin, sungguh, aku tak ingin kehilangan kamu. Maafkan atas kenaifanku. Sebenarnya aku masih berharap kita bisa bersatu kembali, setelah tahu isi hatimu yang begitu mencintai Samsul. Aku atau Samsul sebenarnya sama, kedua pria ini sama - sama mencintai kamu dalam diam.
Aku yang terlanjur menyeret Eliana dalam balas dendam ku ini, sebenarnya tak tega juga. Jika aku harus benar - benar menikahinya, apa Erlin setuju? Secara Erlin sangat menyayangi Eliana.
Setengah jam kemudian, Erlin sudah berada di ruang ICU.
"Apa ada penyakit yang serius?"
Erlin, sebenarnya apa yang membuat kamu mendadak pingsan? Apa ada hal lain yang tak aku ketahui selama kita menikah dulu.
Selama menunggu dokter memeriksa istriku, aku menyuruh pengawal ku untuk mencari keterangan mengenai riwayat Erlin ke desa dimana paman Wito tinggal. Beliau pasti tahu itu, tidak mungkin aku bertanya pada papi mami perihal ini. Mereka pasti tak mau jujur, secara perlakuan mereka selalu tak adil pada Erlin.
Bersambung ...
Hai reader semuanya, tetap dukung author tercinta kalian ini ya,
Jangan lupa like, vote, hadiah dan komennya yang membangun.
__ADS_1
Terima kasih semoga terhibur dengan kisah delima Samuel atau Samsul ini.
😘😘😘😘😘😘😘