Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Galau


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu Cemplon tinggal di sini. Aku lama - lama nggak suka juga membiarkan dia terus - terusan berada di samping Erlin. Makin hari Erlin makin jatuh cinta pada tuyul itu. Aku benar - benar dibuatnya cemburu.


Suatu hari waktu aku mengerjakan pekerjaan kantor di rumah, aku memanggil Erlin agar dia membuatkan aku kopi. Meski ada banyak pelayan, tapi kopi buatan Erlin sungguh tiada duanya.


"Bentar Sam, aku lagi menyuapi Cemplon nih!" teriak Erlin yang tak jauh dari ruangan kerjaku.


Aku mendesah pelan, semenjak Cemplon mengisi hatinya aku terabaikan oleh istriku sendiri.


Sudah hampir setengah jam aku menunggu kopiku yang tak kunjung tiba.


Terpaksa aku keluar ruangan dan menghampiri Erlin yang tengah sibuk menyuapi Cemplon di ruang tengah.


"Erlin, sampai kapan kamu lupa dengan tugasmu?" aku mencekal pergelangan tangannya, menghentikan dia menyuapi Cemplon.


"Iya bentar, ini tinggal satu suap!" aku melepaskan tangannya. Erlin menyendokkan makanan ke mulut kecil itu.


Setelah beberapa detik kemudian, makanan Cemplon habis. Barulah Erlin beranjak.


"Cemplon, mbak buat kan kopi untuk kak Sam dulu ya, nih susu nya dihabiskan!" ujar Erlin seraya menyodorkan segelas penuh susu rasa vanila. Cemplon menerimanya dan segera meneguknya.


"Hai tuyul, enak makan disuapi ?" tanyaku penasaran. Jujur saja aku selama menikah dengan Erlin, sekali pun belum pernah disuapinya. Aku kan jadi iri.


Cemplon hanya mengangguk.


"Kamu juga senang dilayani terus sama Erlin?" lagi, Cemplon hanya mengangguk, kemudian dia meneguk susunya hingga habis tanpa tersisa setetes pun.


Aku mengulum ludah.


"Sam, nih kopinya!" Erlin datang membawa nampan berisi secangkir kopi panas dan beberapa cemilan.


"Terima kasih, Sayang!" ujarku bahagia, ternyata selain dibawakan kopi Erlin juga peka, dia membawakan cemilan untukku.


Kopi panas itu segera aku ambil di atas nampan. Perlahan aku menyeruput dan ....


"Kenapa Sam?" tanya Erlin kala memperhatikan ekspresi ku yang merem melek.


Sial, tak seperti biasanya kopi buatan Erlin asin begini. Bukannya gula yang ia masukkan, melainkan garam.


Untuk menghargai usahanya yang sudah membuatkan aku kopi, aku tak mengatakan sejujurnya.


"Kopinya lain dari yang lain, sungguh luar biasa mantap!" aku mengacungkan jempol padanya.


"Tentu saja, yang buat kan aku," ujar Erlin memuji diri sendiri.


Aku meletakkan kembali kopi itu.

__ADS_1


"Nggak dihabiskan sekalian, Sam?"


"Hehehe, masih panas," sahutku, padahal biasanya aku menyeruput kopi sekaligus langsung habis.


Untuk menghilangkan rasa galauku, aku mengambil cemilan yang dibawa Erlin tadi.


"Awww!" pekikku seraya menarik cepat tanganku. Erlin mencubit punggung tanganku.


"Sam, ini untuk Cemplon!" tegurnya membuat aku meringis untuk yang kesekian kali.


"Sedikit saja masa nggak boleh," protes ku yang berusaha ingin mengambilnya lagi. Erlin dengan cepat menarik piring yang berisi cemilan itu.


"Sam, makanan ini khusus untuk Cemplon!" ujarnya lagi.


"Tuh, si Cemplon saja masih kenyang, iya kan Cemplon?" tanyaku berharap bisa mendapatkan cemilan itu.


"Cemplon mau makan itu!" ujar Cemplon seraya menunjuk piring yang dibawa Erlin.


"Iya, ini Sayang, dihabiskan ya," Erlin menyodorkan piring itu.


Aku menyebik. Erlin begitu perduli terhadapnya.


Aku pergi saja dari sana.


"Habiskan saja, aku sudah kenyang!" sahutku dan segera menghilang dari pandangan Erlin.


Aku duduk di depan teras seraya membenamkan wajahku di kedua telapak tangan.


"Sam, kamu sedang galau ya?" suara kakek membuyarkan pikiran ku.


"Eh Kakek, enggak kok," sahut ku menyangkal.


Kakek ikut duduk di sebelahku.


"Sama kakek sendiri jangan bohong, kakek tahu kamu pasti lagi mikirin Erlin kan?" tebak kakek yang 100 persen betul.


"Akhir - akhir ini, Erlin lebih perhatian pada tuyul itu," ujarku kemudian menyampaikan keluh kesahku.


"Makanya, buruan cepet bikin adik,"


"Emang bikin anak, secepat bikin susu?" sahutku tak terima dengan sindiran kakek. Aku tahu maksudnya, agar segera membuat Erlin hamil.


"Yah meski baru satu minggu kamu bersama Erlin lagi, paling tidak kamu bisa lebih romantis. Aku perhatikan kamu sibuk bekerja melulu. Sana, bawa Erlin jalan - jalan!"


"Entar tuyul itu ngikut, bukannya senang - senang malah sibuk ngurusi Cemplon." sahut ku.

__ADS_1


"Sudah sana ajak Erlin, si Cemplon biar kakek yang ngurusin!" kakek kembali masuk ke dalam.


Aku masih belum beranjak, memikirkan perkataan kakek tadi. Tak begitu lama kakek keluar lagi tapi tak sendiri, beliau bersama Cemplon.


"Sam, mumpung belum siang, cepet pergi!" ujar kakek yang akhirnya berhasil membuatku berdiri.


"Kakek dan Cemplon mau ke mana?" tanyaku.


"Cemplon mau dibelikan susu sama mainan," ujar Cemplon semangat.


Lalu mereka berdua memasuki mobil kakek.


Aku segera menghampiri Erlin dan mengajaknya kencan.


.


Kami terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berjalan-jalan di taman. Aku memetik sebuah bunga yang cantik dan ku berikan kepada istriku.


"Ini untukmu Sayang," Di luar dugaan, isteriku justru terdiam. Tak berapa lama kemudian ia bertanya padaku?


"Kenapa kau menyukaiku? Kenapa kau mencintaiku?"


"Aku juga tidak tahu alasannya. Tetapi aku sangat menyukaimu, aku mencintaimu, Sayang." kataku serius.


"Kamu jahat. Kamu bahkan tidak bisa menyebutkan satu alasanpun mengapa kamu menyukai aku. Kalau suatu saat nanti ada yang lebih cantik dari aku pasti kamu akan meninggalkan aku. Bagaimana bisa kamu bilang kamu mencintaiku jika kamu tak tahu alasannya?" pertanyakan Erlin membuatku tersudut. Aku tak menyangka ajakan ku bisa membuatnya berpikir sejauh itu.


"Aku benar-benar tidak tahu alasannya, Sayang. Tetapi, bukankah perhatian, kasih sayang dan kehadiranku di hidupmu sudah menjadi bukti cintaku?"


"Bukti apa? Semua tidak membuktikan apapun. Aku hanya butuh alasan, kenapa kamu bisa menyukaiku? Kenapa kamu mencintaiku?" lagi pertanyaan itu keluar dari mulutnya.


"Baiklah, akan kucoba cari alasannya. Eum... karena kamu cantik, kamu punya suara yang indah, kulitmu halus, rambutmu lembut... Cukupkah alasan itu?" sahutku kemudian, berharap jawaban itu tepat.


Erlin kemudian mengangguk, dan menerima bunga itu dengan senang hati.


...***...


Sepulang dari taman, sebuah kecelakaan menimpa istriku. Ia harus kehilangan rambutnya yang panjang dan lembut karena terjepit dan terpaksa harus dipotong. Ia juga harus kehilangan suara dalam beberapa waktu karena pita suaranya terbentur keras. Kulitnya yang dulu halus mulus kini terpapar beberapa jahitan. Ia terbaring tak berdaya.


Di sampingnya ada secarik surat. Iapun membacanya.


"Istriku, karena suaramu tak lagi semerdu dulu, bagaimana aku bisa mencintaimu? Dan karena rambutmu kini sudah tak panjang dan lembut lagi, aku tak bisa membelainya. Aku juga tak bisa mencintaimu. Apalagi kini banyak jahitan di wajahmu yang dulu mulus. Jika benar cinta itu butuh alasan, kurasa aku benar-benar tak bisa mencintaimu lagi sekarang. Tetapi....Cintaku bukan cinta yang palsu. Cintaku kepadamu tulus. Aku menyukai dirimu yang apa adanya. Aku tidak jatuh cinta karena kau punya suara yang merdu, rambut yang indah serta kulit yang mulus. Aku mencintaimu tanpa alasan apapun. Sampai kapanpun, aku tetap akan mencintaimu. Sekalipun nanti rambut putihmu mulai tumbuh, kulitmu mulai menua dan keriput, aku selalu mencintaimu. Jadilah istriku selamanya ..."


Cinta tak pernah membutuhkan alasan. Ia juga akan tetap hadir secara misterius. Datang tanpa pernah diduga sebelumnya. Percayalah akan kekuatan cinta, karena kamu tak pernah tahu seberapa besar ia akan membuat hidupmu bahagia.


Aku mengintip Erlin dari balik jendela, ku lihat dia meremas kertas itu. Apa dia membenciku karena aku lalai menjaga dia??

__ADS_1


__ADS_2