Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Salah Paham


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


"Erlin, tunggu!" teriakku berharap Erlin berhenti dari larinya.


Aku mengejar Erlin yang lari karena salah paham.


Sebelum semua ini terjadi, Erlin mengirim pesan whatshap kalau ingin mengirim makan siang padaku saat jam istirahat di kantor. Aku sangat senang, ini kali pertama Erlin melakukan hal ini padaku.


Terpikir olehku untuk memberikan dia hadiah sebagai kejutan atas kedatangannya ke sini. Namun aku bingung, apa yang harus aku berikan padanya.


"Tok ... tok ... tok ...." terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar.


"Masuk!" perintahku seraya merapikan berkas yang menumpuk di atas meja.


"Selamat siang, Tuan Muda Sam!" ujar Santo saat masuk ke ruanganku.


"Siang," sahutku, kemudian melihat ke arahnya.


"Anda mau makan sekarang atau nanti ?" tanyanya sopan.


"Eum, sepertinya aku tidak akan makan di luar." kataku memberi tahunya.


"Kenapa Tuan, apa Anda sedang tak enak badan?" tanya Santo terdengar khawatir.


"Bukan begitu, siang ini istriku akan kemari. Dia membawakan aku bekal. Jadi, untuk saat ini aku tidak akan makan kecuali makan masakan istriku." kataku kemudian.


"Pantas, saya lihat aura Tuan Muda berbeda sekali dari hari -hari biasanya."


"Oh iya, apa kamu tahu kesukaan seorang wanita itu apa?" tanyaku berharap Santo bisa memberi solusi.


"Tuan Muda tinggal beli kan emas permata saja, pasti istri Anda suka!" tukas Santo.


"Alamak, orang ini, kalau itu aku juga sudah tahu!" gerutuku dalam hati.


"Eum, Santo, maksudku begini, aku ingin memberikan kejutan yang fress untuknya. Kalau cincin, kalung dan sebagainya itu sudah pernah. Dan istriku sudah punya sekarung malahan." ujarku.


"Apa ya Tuan, " Santo ikut berpikir juga.


"Aha, bagaimana kalau Tuan membelikan dia boneka!" kata Santo menyampaikan idenya.


"Boneka, istriku kan bukan anak kecil lagi," sahutku sedikit kecewa.


"Kalau buket bunga, bagaimana Tuan?"


"Bunga lagi,"


"Ya itu Tuan yang saya tahu, mending Tuan cari di google saja!" Santo menyarankan.

__ADS_1


Aku melihat arlojiku. Perkiraan seperempat jam lagi Erlin akan sampai, jika dia tak kena macet. Alhasil aku memilih untuk membelikan Erlin bunga lagi.


"Tuan, kalau begitu saya permisi keluar dulu. Sebentar lagi waktunya jam istirahat. Semoga hari Tuan menyenangkan!" Santo sebelum pergi membungkukkan badan hormat.


"Iya, terima kasih masukan nya, sepertinya istriku lebih menyukai bunga dari pada boneka." kataku kemudian. Santo pun pergi meninggalkan ruanganku.


Aku keluar sebentar untuk membeli bunga. Sesampai di penjual bunga, aku bingung memilih bunga yang mana yang cocok untuk Erlin.


"Bunga apa yang Erlin suka ya?" Gumam ku seraya berpikir. Akhirnya setelah lama berpikir, aku memilih bunga mawar.


"Semoga Erlin suka dengan pilihanku ini!" ujarku seraya menyerahkan uang pada penjual.


"Kekasih Anda pasti menyukai bunga ini, saya menjamin itu, karena banyak sekali wanita yang menyukai cantik nya bunga mawar ini." kata penjual padaku.


"Eum, bunga mawar ini untuk istriku." ujarku memberi tahu.


"Ooooh, saya rasa istri Anda akan menyukai bunga pilihan Anda."


"Terima kasih, aku berharap juga begitu."


"Terima kasih juga Tuan, sudah mampir di kios bunga milik saya!"


Aku pun segera kembali ke kantor.


Buket bunga itu ku dekap sambil memandang pemandangan diluar koridor. Seraya membayangkan sekilas wajah Erlin. Aku senyum - senyum sendiri, mengingat kebersamaan dengan Erlin saat awal menikah dulu. Dia begitu jutek dan dingin padaku. Jadi, rasanya perubahan Erlin bagai hadiah terindah yang ku dapat selama hayat. Aku takkan menyiakan kesempatan ini. Sangking lamanya melamun aku tak mendengar suara ketukan pintu, hanya derap langkah sepatu yang kudengar. Sontak aku membalikkan badan.


"Bunga mawar ini untukmu!" ujarku seraya menyodorkan bunga.


"Sungguh, terima kasih Pak!" ujar Emi dengan senang nya. Dia meletakkan kopi itu di atas meja, tangannya mulai meraih bunga yang akan aku berikan.


Seketika itu juga pintu terbuka lebar, Erlin datang dan melihat apa yang terjadi. Rantang yang ia bawa jatuh dan isi nya berserakan di lantai.


Aku kagetnya bukan main.


Aku menarik kembali bunga yang hampir diterima Emi.


"Ini bukan untukmu!" ujarku seraya menatap tajam pandangannya. Emi tampak kecewa.


Erlin segera pergi sambil terisak. Aku berlari mengejarnya sambil membawa buket bunga itu.


"Erlin, ku mohon jangan pergi! Aku bisa menjelaskan ini padamu." teriakku sambil terus berlari mengejarnya melewati tumpahan bekal.


Ku tahu Erlin sangat bersemangat mempersiapkan bekal untukku dan aku malah merusak suasana hatinya. Aku sungguh menyesal. Maafkan aku Erlin, atas kecerobohan sikapku. Seharusnya aku tadi tak langsung memberikan bunga itu.


Erlin berlari memasuki lift. Dan aku terlambat mengejarnya.


"Lewat tangga darurat," ujarku pada diri ini. Aku segera berlari mempercepat langkahku menuruni tangga.

__ADS_1


Nafasku tersengal -sengal, namun aku tak ingin menyerah. Aku harus segera meluruskan kesalah pahaman ini. Baru saja aku menikmati manisnya madu, dan bisa -bisanya aku merusak kenikmatan ini.


Erlin terlihat sudah berada di area parkir dan terus berlari menuju jalan raya. Sepertinya Erlin ingin menghentikan taksi.


Aku mempercepat lariku.


"Erlin, berhenti kataku! Aku ingin menjelaskan kesalah pahaman ini!" teriakku yang berhasil membuat dia menoleh ke arahku.


Erlin berhenti dan membalikkan badan. Aku menarik tangannya.


"Tidak perlu Sam! Sudah jelas, tidak perlu ada yang dikatakan lagi!" kata Erlin sambil menepis tanganku.


"Itu tidak seperti apa yang kamu bayangkan, aku dan Emi tidak ada apa-apa!" kataku mencoba menjelaskan, namun sepertinya percuma Erlin terlihat tak mau mendengar. Bahkan dia mencoba menutup kedua lubang telinga dengan telapak tangannya.


Erlin menatap buket bunga yang ada di tanganku. Bentuknya sudah tak karuan lagi.


"Tidak ada apa-apa katamu? Naif sekali, lalu bukti mana lagi yang ingin kamu sangkal? Aku melihat jelas kamu memberikan buket bunga itu pada pelayan barumu."


Aku melihat buket yang ku bawa sejak tadi.


"Bunga ini sebenarnya untuk kamu, Erlin, "


"Pembohong besar, susah payah aku membuatkan masakan untukmu, kamu malah asyik dengan wanita lain di ruang kerjamu!" bentak Erlin dengan berurai air mata.


Aku merasa sakit jika melihat kamu menangis, menangisi kesalahan yang tak berguna ini.


"Aku membenci mu, Sam!" teriak Erlin dan membalikkan badan berlari sejauh yang ia bisa. Erlin terus terisak.


"Tidak! Ku mohon jangan membenciku lagi, Erlin!" teriakku seraya ikut berlari.


"Bruak ...." terdengar benturan keras dari arah seberang.


"Erlin ...!" aku berteriak histeris.


Sebuah mobil menabraknya.


Aku ceroboh. Aku gagal menjaga nya lagi.


Aku segera berlari ke arah sana. Kerumunan pun terjadi.


"Erlin, ku mohon bertahanlah! Aku akan membawamu ke rumah sakit." kataku begitu panik. Terlebih darah kental dan segar membasahi badan.


Aku takkan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padanya.


Sesampainya di rumah sakit.


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya, apa baik-baik saja?" tanyaku dengan seribu kekhawatiran.

__ADS_1


"Istri Anda alhamdulillah selamat, tapi maaf, sepertinya saya tidak bisa menyelamatkan nyawa yang lain." ujar dokter memberikan tanda tanya besar padaku.


"Nyawa yang lain, maksud Dokter?" aku sedikit gugup juga dengan pernyataan dokter itu, nyawa yang lain siapa yang dia maksudkan, apa ada orang lain atau saudaraku yang dirawat di rumah sakit ini juga?


__ADS_2