
Pagi ini aku sudah siap dengan setelan kemeja dan rok. Berdandan semanis mungkin, karena ini adalah awal aku training di tempat kerja kakak iparku. Selesai membenahi diri segera ku sambar tas kecil di atas nakas.
"Siip, sempurna, saatnya berangkat!" seruku menyemangati diri sendiri setelah menatap diriku di depan cermin.
Aku masih tinggal serumah dengan keluarga kak Sam, calon suamiku dulu. Karena desakan dari anak angkat kakakku, aku jadi nurut untuk memperpanjang masa tinggalku.
Sebenarnya sih nggak susah-susah amat momong Cemplon, tinggal nemeni main dan belajar saja sudah bisa membuatnya nyaman denganku.
Tapi, ada satu hal yang mengganjal di hati. Hubungan yang tak sengaja saat malam itu masih terasa miris dan sulit sekali dilupakan. Suami kakakku mencampuriku disaat aku tak sadarkan diri. Tentu hal itu membuat aku kaget bak disambar petir.
Aku tak bisa berkutik jika menyangkut hati, terlebih mengenai hati kak Erlin. Dia pasti akan terluka jika mengetahui kami sudah melakukan hubungan yang haram itu. Membayangkan saja aku tak sanggup. Kak Erlin sangat sayang padaku, bahkan dulu dia menyerahkan secara suka rela suaminya untuk menikah denganku. Namun aku menolaknya. Tapi, kini kesucianku telah hilang oleh suaminya. Pasti kak Erlin setelah tahu hal ini akan menyerahkan suaminya untukku lagi. Terkesan sangat jahat ya aku bisa memiliki pemikiran itu. Itu hanya gambaran saja.
Aku sangat ceroboh, bagaimana bisa aku berpindah tidur ke kamar kak Erlin? Kalau saja hal itu tak terjadi, pemikiran negatif ini pasti tak terjadi juga.
Untuk sementara kak Sam menyuruhku agar diam. Aku awalnya ingin bercerita namun aku urungkan mengingat pesan kak Sam. Jujur, dari lubuk hatiku yang paling dalam, masih ada secuil rasa untuk kak Sam. Aku tak bisa memungkiri rasa itu, rasa yang sudah melekat lama di hati.
Pergi ke luar negeri, sengaja aku lakukan untuk menghilangkan rasa yang secuil itu, namun setelah kembali ke tanah air, rasa itu semakin cepat tumbuh. Berada dekat dengannya, membuat hatiku selalu berdesir. Ditambah saat malam yang tak disadari itu, membuatku semakin bergelora untuk memiliki hatinya. Oh, kak Sam, sampai kapan rasa ini ada?
Kak Sam adalah cinta pertamaku, meski sebisa mungkin aku menyangkalnya karena dia adalah suami dari kakak kandungku, namun sulit sekali untuk menghilangkan rasa itu.
Jika aku hamil nanti, apa kata dunia?"
Baiklah, dari pada berpikir yang bukan-bukan sebaiknya aku segera berangkat.
"Na, kamu cantik sekali!" puji kak Erlin ketika aku sudah sampai di meja makan.
"Ah, Kakak bisa aja, biasa kok!" ujarku tersenyum kikuk seraya menarik kursi. Sungguh, menghadapi kenyataan tak semudah apa yang dibayangkan.
Bersamaan dengan itu juga, kak Sam yang sudah rapi dengan setelan kemeja navy, berjalan menuju ke arahku dan menarik kursi di depanku.
"Wow, kerennya nggak ketulungan!" pekikku dalam diam. Aku mengkondisikan mata yang mulai gatal ini.
"Pagi Sayang!" sapa kak Sam yang ia tujukan pada kak Erlin. Aku segera menundukkan kepala sebelum melihat adegan romantis yang mereka berdua lakukan. Apalagi kalau bukan berciuman.
"Pagi Sam!" sahut kak Erlin seraya menyiapkan piring untuknya.
"Pagi Tante!" sapa Cemplon yang sedari tadi sudah sibuk mengunyah makanannya.
"Pagi!" aku mendongak dan beralih menatap Cemplon, mengusap pipinya yang gembul.
Setelah semua berkumpul, termasuk kakek juga kami pun makan dengan tenang, meski hatiku selalu gusar jika berhadapan dengan kak Erlin dan suaminya. Sedikit rasa cemburu mulai merayap menuju hati. Sungguh, sakitnya tuh di sini!
"Na, sebaiknya kamu berangkatnya bareng sama kak Sam saja, 'kan kalian satu lokasi," ujar kak Erlin saat sudah selesai sarapan.
__ADS_1
Kak Erlin menyikut kak Sam, "Sayang, kamu nggak keberatan 'kan jika adikku berangkat bareng?"
"Eliana bisa berangkat sendiri." sahutnya terdengar dingin. Kak Sam sudah bersiap akan beranjak setelah membenahi lengan kemejanya.
"Iya Kak, aku bisa naik taksi kok!" tolakku nggak enak dengan kak Sam. Sorotan matanya menatapku sekilas, menunjukan kalau dia masih marah padaku. Lagian kak Erlin ngapain juga menyuruhku bareng dia.
"Sayang, boleh ya," rengek kak Erlin seraya menggoyangkan lengan suaminya. Kak Erlin berdiri dan bergelanyut manja.
Karena desakan kak Erlin, akhirnya aku berangkat ke kantor semobil dengan kak Sam. Selama perjalanan kami hanya saling diam. Bagai sopir dan penumpang. Bukan aku kalau tak bisa mencairkan suasana yang dingin bak salju ini.
"Kak Sam!" panggilku dari jok belakang. Ku lihat dia melirik ku dari spion mobil.
"Saat bekerja di kantor nanti, apa hal pertama yang aku lakukan?" tanyaku sebagai pemanis dialog.
"Cukup duduk tenang dan pelajari dokumen." sahutnya jelas.
"Eum, aku sedikit grogi," imbuhku berharap dia memberikan motivasi.
"Minumlah dulu, dengan begitu rasa grogi yang kamu rasakan akan menghilang!"
"Kalau itu aku juga tahu, yang ingin aku dengarkan adalah kata-kata manis dari nya," gerutuku dalam diam.
"Iya Kak!" sahutku seraya mendesah pelan. Setelah itu kami saling diam dan tak ada obrolan lagi sampai tak terasa kami sudah tiba di lokasi.
"Na!" kak Sam memanggil ku dan menghentikan langkah kakiku.
"Iya Kak!" sahut ku lekas setelah aku menoleh. Ternyata kak Sam menyodorkan tasku yang tertinggal.
"Terima kasih, Kak!" ujarku. Dia hanya mengangguk dan berjalan mendahuluiku masuk ke dalam kantor. Bersama nya sungguh membuatku canggung.
Aku segera mempercepat langkahku menyusul nya. Sesampai di kantor, kak Sam memperkenalkan aku pada semua karyawan kalau aku adalah pegawai baru sekaligus adik iparnya.
Aku bekerja dengan sangat hati -hati agar tak mengecewakan kak Sam. Besoknya aku berangkat lebih pagi dan tak semobil lagi dengan kak Sam, meski kak Erlin memaksa. Berharap dengan begini tak ada kesalahpahaman diantara kami yang akan membuat kak Erlin Cemburu.
"Na, besok kita berangkat bareng. Aku tak ingin kakakmu yang cerewet itu mengomeliku!" ujar kak Sam saat pulang dari kantor. Dia membukakan pintu agar aku masuk ke dalam mobil.
"Baik Kak," sahutku singkat dan segera masuk.
Hari demi hari telah ku lewati dan tak terasa sudah satu bulan lamanya. Aku mendapatkan gaji pertamaku. Dari gaji itu rencananya aku mau membeli sepatu baru.
"Kak Sam, aku nanti pulangnya nggak bareng." ujarku memberi tahu.
"Nanti aku kena omel kakakmu," gerutunya.
__ADS_1
"Tenang Kak, kak Erlin sudah aku WA kok!"
"Ya sudah, aku pulang duluan," pamitnya seraya masuk ke dalam mobil.
Setelah mobil Lamborghini menghilang dari pandanganku, sebuah taksi datang dan membawaku ke mall. Di sana aku memborong semua kebutuhan pribadi dan tak terasa hari sudah petang. Aku sampai rumah hampir magrib. Dan benar saja, kak Erlin mengomeliku lantaran pulang terlalu malam.
"Ini, ada hadiah buat Kakak." ujarku seraya menyodorkan sepasang sandal cantik dan senada dengan punyaku.
"Cantiknya!" ujar kak Erlin, setelah menerima hadiah dariku dia berkacak pinggang. "Kamu menyogok ku ya, Dik!"
"Enggak Kak, nih aku juga beli, jadi kita kembaran!" aku mengeluarkan sandal dan memperlihatkan padanya kalau aku tak sedang menyogok.
"Sana, cepet mandi, bau!" perintahnya sambil memencet hidung, mengibaskan tangan ke udara, aku segera pergi yang sebelumnya berhasil mencium pipi kak Erlin.
"Adik!" pekiknya, namun aku sudah lari naik ke lantai atas.
Brug.
"Maaf Kak, aku enggak sengaja!" pekikku yang ternyata menabrak punggung kak Sam.
Wajah tampannya benar -benar menusuk hati. Meski tak memiliki dirimu, setidaknya aku sudah pernah kamu cicipi.
Kak Sam membalikkan badan dan mengamati penampilanku.
"Baru pulang?" tanyanya dengan raut muka gelisah. Aku hanya mengangguk.
"Besok lagi kalau belanja bilang padaku. Aku akan mengantarmu!"
"Tidak perlu repot- repot Kak, aku bisa sendiri kok!"
"Ini bukan masalah bisa atau tidak. Karena aku membiarkan kamu di luar sendirian, Erlin memarahiku habis-habisan. Jadi, jangan kamu ulangi!" bentaknya yang membuat aku bergidik.
"Maaf, Kak," sesalku.
"Kamu tahu, Erlin begitu mencemaskan kamu, padahal kamu bukan anak kecil lagi yang perlu aku awasi!" lalu dia melewatiku begitu saja menuruti tangga.
"Kak Erlin masih sama seperti dulu, tak berubah. Ada atau tidak ada mami, bagiku sama saja. Tingkahnya kayak mami yang suka mengomel." gerutuku.
Aku membuka pintu kamar dan segera membersihkan diri. Setelah mengganti baju, aku menuruni tangga dan bergabung untuk makan malam.
Di meja penuh makanan yang lezat, mataku menyorot sepiring udang krispi. Ku ambil nasi dan beberapa udang. Baru seperempat melahapnya, mendadak perutku bergejolak ingin muntah.
Reflek aku menutup mulut dan hendak berdiri.
__ADS_1
"Kenapa Dik?"