Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Aku Hampir Menangis


__ADS_3

"Bondan?"


Pria berusia 35 tahun itu terbangun setelah aku berteriak memanggil namanya.


"Tuan Muda Sam, Anda sudah kembali?" dia dengan seenaknya jidat tidur di hari masih pagi ini. Bondan segera bangkit lalu menyeka bekas air liurnya.


"Bagaimana kamu bisa tidur di sini?"


"Tuan Muda Sam ..."


"Kemana kakek, sejak tadi aku menelponnya tak ada sahutan!" aku memotong kalimatnya.


"Kakek sedang ...."


.


Aku melongo mendengar penuturan Bondan. Bisa - bisanya kakek melakukan ini pada mereka.


"Antar aku kesana!"


"Baik Tuan Muda!" Bondan segera menggiring ku menuju garasi. Aku sedikit lelah dengan keadaan saat ini, baru pulang belum ada satu jam sudah keluar lagi.


Bondan kini melajukan mobilnya menuju wahana Dufan, ya di sanalah kakek beserta yang lain berada.


Selama perjalanan, Bondan banyak bercerita terlebih mengenai keluargaku.


"Non Erlin cantik ya Tuan Muda," ujarnya membuat mataku melotot, jangan sampai jaka tua ini menyukai istriku.


"Selain cantik, dia juga rajin bangun pagi, menyapu, mengepel lantai bahkan dia juga mau disuruh kakek mencuci baju,"


"Alamak, kakek terlalu berlebihan mengerjai Erlin." batinku.


"Terus apa yang dilakukan orang tua Erlin selama di rumah?"


"Banyak Tuan Muda, saat kakek pingin buah durian, pak Steven dengan gercap pergi keluar untuk membelikannya. Apalagi dengan bu Sandra nggak kalah hebohnya. Padahal kakek cuman mau ingin makan - makanan yang nggak berminyak. Eh, malah semua orang mengikuti cara makan kakek."


"Ada telur rebus, tempe tahu kukus, pokoknya semua makanan kukus deh,"


Aku tertawa membayangkan semua orang.


"Apa doyan?" tanyaku sembari menahan tawa.


"Kalau aku sih doyan nggak doyan ya tetep aku makan, wong gratis, nggak tahu kalau yang lain."


"Enak?"


"Hambar Tuan, tapi beda saat yang non Erlin masak sendiri, meski mengandung minyak, saat kakek ditawari makan, aku kira kakek akan menolaknya. Dan ternyata kakek suka dan malah minta tambah."


"Oh ya, lalu bagaimana dengan om Steven dan tante Sandra?"

__ADS_1


"Aku lihat sih waktu itu mereka berdua agak gimana gitu, yah pokoknya kecewa mestinya."


"Terus, ngapain sekarang kakek mengajak mereka jalan - jalan?"


"Kata kakek, sekedar ingin cuci mata. Tuan Muda tahu tidak, kalau kemarin pas Tuan Muda pergi non Erlin dapat pujian beruntun dari kakek?"


"Pujian? Maksud kamu?"


"Begini Tuan Muda Sam yang gantengnya Masya Allah, kakek sengaja mengajak non Erlin ke kandang kuda. Nah di sana, ternyata kudanya lagi agresif banget, sampai - sampai pengawal pun tak mampu menaklukan. Hingga non Erlin yang mampu menjinakkan, bahkan dia mampu menungganginya." terang Bondan panjang lebar.


"Erlin adalah joki yang menjadi pemenang saat event bulan lalu," terangku membuat Bondan menatap ke arahku tak percaya.


"Pantas, kakek sepertinya menyukai non Erlin,"


"Hus, jaga bicaramu! Kakek bukan pria tua yang jelalatan. Kamu pikirannya jorok, dasar jaka tua!" omelku membuat dia mengatupkan kedua tangannya. Dia kembali fokus menyetir.


"Tapi kok Tuan Muda malah lebih memilih non Eliana, kan non Eliana masih kuliah. Kalau aku jadi Tuan Muda, aku pasti pilih non Erlin." ujar Bondan yang membuat aku memikirkan sesuatu.


"Sudahlah Bondan, kamu tidak tahu apa - apa, biarkan ini menjadi urusanku."


Akhirnya kita sampai, aku mempercepat langkahku. Hampir setengah jam aku muter - muter, dan menemukan mobil kakek. Mungkin papi yang membawa mobil.


"Samuel!" teriak seseorang dari arah belakang, aku membalikkan badan.


"Kakek,"


"Hah, jauh - jauh datang ke sini sejak tadi Kakek ngapain?" tanyaku seraya mengedarkan pandang mencari yang lain.


"Kami hanya jalan - jalan saja, ayo ikut aku!" kakek menarik tanganku.


"Bondan ayo ikut aku juga!" pintaku padanya.


"Baik Tuan Muda,"


Aku lihat di tempat wahana Dufan ini pengunjung cukup ramai.


Erlin dan semuanya tengah menikmati makan di atas gelaran karpet.


"Kak Sam!" pekik Eliana yang langsung menghambur ke arahku.


"Kak Sam lama sekali, tahu tidak kalau aku tak bisa tidur memikirkan Kakak," ujarnya manja, aku hanya nyengir kuda.


Singkat cerita, aku yang membayar semua tiket mulai tiket masuk hingga wahana yang semua orang naiki.


Selesai acara piknik mendadak ini, kakek mengajak kami belanja ke mall.


"Erlin, Eliana pilihlah baju kesukaan kalian, Sam yang akan membayarnya." terang kakek saat kami sudah berada di muka pintu mall.


"Alamak, kenapa jadi aku yang bayar juga," gerutuku.

__ADS_1


"Hore!" Eliana tampak girangnya bukan main, dia menggandeng tangan dan menyeretku.


"Ayo Kak, bantu aku pilih baju!"


Berbeda dengan Erlin, dia tampak cemberut, apa dia cemburu? Ah, itu tidak mungkin, bukankah dia sedang memikirkan Samsul?


Papi dan mami juga tak kalah serunya untuk berbelanja. Mereka berdua saling bertukar pendapat, baju mana yang cocok?


"Apa Kakek senang hari ini?" tanyaku yang berhasil membuat kakek menatapku.


"Kamu tahu kalau aku selalu kesepian dengan hartaku. Baru kali ini aku merasakan kehangatan sebuah keluarga. Aku ingin seperti ini sampai seterusnya." ujar kakek yang membuat aku terdiam.


"Sam, harta bukanlah jaminan kita menjadi bahagia, tapi keluarga lah yang mengemasnya menjadi indah. Puluhan tahun kakek menyendiri sampai hadir nya kamu dan orang - orang yang kamu bawa dalan kehidupanku. Sudah saatnya kamu menunjukkan siapa kamu sebenarnya."


"Aku yakin balas dendam kamu tidak seberapa dengan kejayaan yang kamu miliki. Lupa kan semuanya dan mulailah dengan kehidupan yang baru." ujar kakek seraya berkaca - kaca kedua matanya yang renta.


Aku hampir menangis, air mata yang aku bendung ini bukan air mata kesedihan tapi air mata bahagia.


"Kakek maafkan aku, tapi ini belum saatnya, aku janji pada Kakek akan selalu membahagiakanmu. Bersama orang - orang yang kamu cintai. Rasa kesepian yang menggerogoti hari - harimu akan aku bayar setelah rasa sakit ini memudar. Aku janji." aku menepuk bahu kakek, dia terisak begitu hebatnya.


Bondan segera menyodorkan tisu.


"Bondan, kamu juga ikutlah berbelanja seperti mereka, anggap aku hari ini sedang bersedekah pada bujang lapuk sepertimu."


Dia bukannya berterima kasih malah menyinyir.


"Tuan Muda sangat baik hati, tapi aku usahakan akhir tahun ini statusku akan berubah," ujarnya setelah itu menuju ke arah deretan baju.


Selesai keluargaku memborong apa yang mereka sukai. Aku segera membayar ke kasir.


"Alamak, banyak banget keluaran ku hari ini! Meski hartaku takkan habis seumur hidup, ini tetap boros namanya." gumamku seraya menyodorkan kartu ke kasir.


"Terima kasih Kak Sam, aku akan mengenakan baju ini saat acara pertunangan kita, " ujar Eliana dengan penuh kesenangan.


"Kamu senang?"


"Senang banget,"


"Erlin, mengapa baju yang kamu beli hanya satu?" tanyaku seraya melihat tas belanjaannya, berbeda dengan tas Eliana yang ia bawa sekitar 5 tas.


"Em, aku tidak pantas menerima semua ini, lagian baju - bajuku juga masih bagus," ujarnya membuat aku mendesah.


Aku sejak berumah tangga dengannya, sekalipun belum pernah membeli kan apa - apa, saat ini aku bisa membelanjakan dia namun dengan sosok yang lain.


"Baiklah, semuanya kita akan pulang, hari sudah mulai petang." ajak kakek.


Sontak aku memegang perutku.


"Ada apa Tuan Muda?" tanya Bondan yang berhasil membuat semua mata mengarah padaku.

__ADS_1


__ADS_2