Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Erlin Pov : Salahkah Aku?


__ADS_3

"Sam, itu air jamu yang akan aku berikan untuk Eliana!" pekikku yang segera meletakkan ponsel lalu berdiri mencoba merebut dari tangan Sam.


"Yah, habis, seger banget sih, cocok buat tenggorokanku yang kering. Kamu kasih yang lain aja buat dia!" ujar Sam seraya menyerahkan botol kosong itu. Dia menyeka sisa minuman di bibirnya dengan ujung ibu jari.


Aku menelan saliva. Jujur saja, malam ini aku ingin membuatnya liar di atas ranjang. Ku pikir rencanaku tadi tak berhasil, tanpa diminta dia pun meneguk minuman tadi tanpa sisa. Rencana pertama berhasil.


"Baiklah, aku balik lagi ke dapur! Eum, Sam, bolehkah aku malam ini tidur di kamar Eliana?" tanyaku sedikit mengetes reaksi tubuhnya. Dia terlihat mulai gerah.


"Jangan Erlin, malam ini aku butuh kamu banget!" tahannya.


"Tapi, aku belum puas ngobrol dengannya,"


"Besok pagi saja kamu lanjutkan ngobrolnya, emang lagi bahas apaan, semangat sekali,"


"Yah, 'kan kamu tahu sendiri, aku dah lama nggak bertemu adikku. Aku kangen banget lah, pastinya."


"Aku juga kangen banget sama kamu." gombalnya.


"Eiss, udah aku ke dapur dulu." pintaku yang segera keluar kamar.


Aku mengambil minuman yang sama dan ku berikan pada Eliana.


"Na, kamu bilang badanmu pegel -pegel, nih, aku bawakan minuman penghilang rasa pegel!" ucapku sambil menyodorkan segelas minuman.


"Apaan Kak, kelihatannya seger banget, cocok nih buat aku yang lagi kehausan!" Eliana menerimanya dan segera mendekatkan ujung gelas ke bibirnya.


"Nggak sia-sia dong aku membawakan ini padamu, cepet diminum! Aku mau ke toilet sebentar, kebelet pipis nih!" ujarku dan segera keluar kamar. Ku lirik sebelum pergi, Eliana segera meneguk minuman itu tanpa sisa.


Satu jam kemudian, ku intip Eliana sudah tertidur lelap. Aku memapahnya meski berat menuju kamarku, ku lihat Sam belum tidur dan tampak gelisah memunggungi arahku. Lampu kamar sudah mati. Otomatis Sam tak tahu aku datang dengan Eliana.


Perlahan aku menjatuhkan tubuh Eliana di sampingnya.


"Erlin, kamu kok lama banget sih, punyaku sudah bangun nih sejak tadi, kita mulai yuk!" Aku segera bersembunyi di bawah ranjang, mengendap perlahan keluar kamar.


Jantungku berdebar tak karuan. Mungkin aku sudah gila dengan perbuatan jahat yang aku lakukan malam ini. Aku tak punya cara lain selain dengan ini. Sam harus mendapatkan anak dari Eliana. Aku tak perduli dengan hatiku, meski hancur berantakan biarlah. Asal suamiku mempunyai anak. Tanpa sengaja air mataku menitik. Aku bergegas ke kamar Cemplon. Tak ingin membayangkan malam panas yang mereka lalui.


"Mama, kok ada di sini?" tanya Cemplon kemudian. Dia terbangun karena mendengar suara tangisanku.


"Iya Sayang, mama kangen pingin bubuk sama kamu." sahutku mencari alasan palsu.


"Mama nangis?" Cemplon bangkit dan mengusap pipiku.

__ADS_1


"Nggak, ini mata mama kelilipan jadi terlihat seperti nangis. Ayo, kita bubuk lagi!" ajakku meminta dia agar merebahkan tubuhnya. Cemplon mengangguk patuh.


Keesokan paginya. Aku menangkap pembicaraan mereka yang sedang berdebat di dalam kamar.


"Na, apa yang kamu lakukan di kamarku!" bentak Sam terdengar sangat marah.


"A-aku tak tahu, bagaimana bisa aku ke sini!" suara Eliana terdengar parau, sehabis nangis.


"Cepat pakai bajumu dan keluar dari kamarku!" bentak Sam.


Maaf ya dik, atas keegoisan kakakmu ini. Aku yakin, setelah kejadian ini Sam akan menikahimu, dan pasti juga kamu akan bahagia hidup dengannya. Secara dulu kamu pernah ada rasa dengan suamiku.


Aku segera pergi dari sana, kembali ke kamar Cemplon.


"Erlin!" teriak Sam dari luar. Aku pura-pura tidur dan tak mendengarnya.


Terdengar Sam membuka pintu dan melangkah mendekatiku.


"Erlin, bangun Sayang!" dia menepuk pipiku halus. Aku menggeliat, dan mulai berdramalisasi.


"Sudah pagi ya," ujarku seperti tak ada beban. Padahal sakit nya tuh di sini.


"Kok kamu nggak tidur di kamar kita?" tanya Sam terdengar datar tanpa masalah. Aku yakin, Sam sudah melakukan itu pada Eliana.


Sam segera memelukku. Pelukan serasa lama tak bertemu.


"Ada apa Sam, kamu pagi-pagi memelukku?"


Sam tak mendengarkanku. Dia semakin mengeratkan pelukan.


Melepaskan sekiranya puas.


"Erlin, eum, aku bingung untuk mengatakannya," ujar Sam kelu. Apa dia akan jujur telah melakukan malam panas dengan adikku. Kumohon, jangan katakan itu! Anggap saja aku tak tahu hal itu.


"Iya Sam, adakah hal penting yang ingin kamu sampaikan padaku? Ya Tuhan, aku lupa!" pekikku untuk mengalihkan dia.


"Lupa apa Erlin?"


"Pagi ini aku sudah janji untuk membuatkan kue Cemplon." Aku segera berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan dia yang mematung.


Aku menuju kamar dan melintasi ranjang yang bentuk spreinya tak karuan membuat mendidih darahku. Namun, aku menahannya. Apa aku salah melakukan ini? Tidak, sekali lagi aku tegaskan ini untuk kebahagiaan suamiku. Aku memejamkan mata sejenak. Ku dengar langkah kaki Sam menyusulku.

__ADS_1


"Erlin, maaf kamarnya sedikit berantakan." Sam segera merapikan tempat tidur. Aku yang tadi memunggunginya ikut andil dalam membenahi sprei.


Aku hanya menunjukkan seulas senyum yang terpaksa.


"Kira-kira Cemplon suka kue apa ya?" gumamku mengalihkan pemikiran yang tak karuan lagi arahnya.


"Apa pun dia pasti suka, kue buatan kamu 'kan enak!" imbuhnya seraya menahan tanganku dari pergerakan.


Manik matanya menatapku tajam.


"Erlin, jangan pernah tinggalkan aku lagi dan membuangku seperti sampah!" Sam menitikkan air mata yang membuatku miris untuk melihat.


"Hei, ada apa denganmu, mengapa kamu mengatakan hal itu?" Aku segera menghapus air matanya.


"Apa pun yang terjadi, berjanjilah Erlin!"


"Oke, oke, tapi kamu tak perlu menangis! Aku janji takkan meninggalkan kamu seperti dulu lagi."


Lagi, Sam memelukku erat, aku membenamkan wajahku di ceruk lehernya. Aroma sabun dan shampo menyeruak menusuk hati. Sungguh sakit rasanya.


Sam berhasil tak mengungkapkan kejadian semalam. Lalu bagaimana dengan Eliana, apa dia jujur dengan kejadian semalam yang panas itu?


Aku segera membersihkan diri, setelah itu menuju dapur. Sebagian pelayan membantuku hingga mempercepat pekerjaanku. Kue bolu sudah siap di atas piring. Cemplon menyukainya, dengan lahap dia memakannya bahkan meminta tambah.


.


Aku menemui Eliana di kamarnya seraya membawa kue buatanku.


"Kakak!" pekiknya seraya menghambur ke arahku. Dia menangis sesenggukan.


"Hei, ada apa, pagi-pagi kamu menangis?" aku menepuk pundaknya menenangkan sesaat. Dia adalah korban keegoisanku.


"Aku ingin pergi dari sini, biarkan aku tinggal di hotel!" dia melepas pelukanku.


"Eis, diluar banyak penjahat kelamin. Kamu aman di sini, nih aku bawakan kue, baru saja aku membuatnya!" ujarku seraya menyodorkan piring.


Aku tahu rasa sakit hatimu, tapi sungguh aku melakukan ini untuk suatu kebaikan. Suatu saat nanti kamu akan merasakan hasilnya.


"Tapi Kak, aku takut!" Aku meletakkan piring di atas nakas, menuntutnya duduk di tepi ranjang.


"Apa yang kamu takutkan, Na? Tinggallah bersamaku, aku akan membantumu untuk mencari pekerjaan."

__ADS_1


"Bukan itu masalahnya, Kak!" seolah Eliana ingin menceritakan peristiwa semalam. Kumohon, jangan katakan!


__ADS_2