
"Benarkah?" Erlin mendongak menatapku tak percaya.
"Setelah bayi itu lahir, aku akan menceraikan dia." keputusan dariku, meski terdengar menyakitkan tapi tak ada pilihan lain.
Tentu Erlin tak bisa terima dengan keputusanku.
"Kamu egois Sam, kamu tak boleh seperti itu!"Erlin mendorong dadaku, hingga aku bergeser.
"Kamu yang memaksaku Erlin, kamu setuju atau tidak, terserah!" kekeh ku.
Erlin menundukkan kepala, gusar mendengar ucapanku.
"Baik, untuk sementara aku setuju dengan keputusanmu. Tapi aku yakin, suatu waktu nanti entah kapan itu, kamu pasti perlahan akan melupakan ucapan kamu sendiri. Eliana gadis yang baik, dia akan membuat kamu bahagia."
"Persetan dengan bahagia, aku merasa pernikahan kita sudah hancur dengan tinggalnya Eliana di rumah ini."
"Kamu salah Sam, jika berkata demikian. Saat kamu akan hidup bersama dengannya, kamu akan menemukan kebahagian yang sesungguhnya. Tidak seperti ku yang tak bisa memberikan kebahagian hakiki, memberikan keturunan padamu." ujar Erlin yang berhasil menyentak hatiku. Perlahan dia menitikkan air mata. Aku merasa bersalah lagi setiap dia mengucapkan kata-kata itu. Aku menarik tangannya kembali di depan dada seraya menggelengkan kepala.
"Jangan ucapkan kata itu lagi! Aku seharusnya yang tersakiti di sini. Dengan kamu mengungkit masalah itu, kamu telah membuka kembali luka yang sudah benar -benar aku tutup. "
"Sam, aku hanya ingin membuatmu bahagia." ujar Erlin lagi.
Aku mendesah kasar seraya mengusap pipinya yang basah oleh air mata.
"Agar rumah tangga kita tak menjadi bahan omongan orang lain, mulai besok kita pindah dari rumah kakek." kataku.
"Kita pindah? Ke mana?" Erlin mengernyitkan dahi penasaran. "Aku sudah nyaman tinggal di sini."
"Apartemen." Aku membalikkan badan berjalan masuk membiarkan dia sendirian di luar.
Terdengar derap langkah dia mengejarku.
"Eliana akan tinggal bersama kita 'kan?" tanya Erlin seraya bergelanyut manja di tangannya.
"Hmmm," sahutan singkat dariku. Seraya melepas tangannya.
"Terima kasih Sam, aku janji padamu, setelah bayi Eliana lahir, aku akan menyanyangi dia seperti aku menyanyangi anakku sendiri." terang Erlin.
Sedikit mencurigakan, Erlin begitu bersemangat sekali ketika menyuruhku menikahi Eliana. Tak terlihat keresahan sedikit pun di wajahnya, bahkan dia tak marah setelah tahu aku menghamili Eliana.
Apakah ada rahasia yang tersembunyi yang tak aku ketahui? Aku merasakan ada yang tak beres dengan semua ini.
__ADS_1
Keesokan harinya.
Aku tak mungkin menyembunyikan kebenaran ini selamanya. Aku menunda rapat di kantor untuk menyelesaikan masalah Eliana dulu. Aku mendatangi ruangan kakek dan bermaksud menerangkan kejadian ini.
Kakek menyuruhku masuk, aku duduk tepat dihadapan kakek.
"Aku telah melakukan kesalahan yang fatal." ujarku to the point.
Kakek menatap ku misterius, namun belum bertanya dan masih menunggu kalimatku berikutnya.
"Maafkan aku Kek, sepertinya aku akan mengulang kesalahan yang dulu."
Kakek belum merespon. Beliau beranjak dari kursi lalu berjalan mengitari meja berdiri tepat di sampingku. Menepuk bahu seolah merasakan keresahan yang aku alami.
"Kakek pernah muda juga, banyak rintangan untuk memperoleh kebahagian yang hakiki, namun semua impian bisa sirna karena sebuah keegoisan. Kesalahan fatal apa pun itu jika kita ikhlas memperbaikinya akan membuahkan hasil yang diluar dugaan kita. Terkadang manusia merencanakan sesuatu dengan keinginannya, namun akan kalah dengan rencana Tuhan yang Maha dari segala Maha." terang kakek panjang lebar, sedikit mengurangi keresahan hati.
"Aku telah menghamili Eliana." ujarku dengan suara tersendat. Berat mengatakan ini namun aku harus mengatakannya.
Mata kakek membulat sempurna seolah mau lepas dari tempatnya. Badannya terhuyung ke belakang. Sontak aku berdiri dan menahannya.
"Kakek, Kakek tidak apa-apa kan?" tanyaku khawatir dengan kesehatan jantungnya.
"Kamu hampir saja membunuhku Sam." ujar kakek yang kini sudah duduk bersandar. Beliau mengusap dadanya.
"Ya jelas Sam, karena Eliana sudah mengandung anak kamu! Kamu bagaimana Sam, bisa ceroboh begini menggarap ladang yang bukan tempatnya. Akhirnya tumbuh benih di tempat yang salah." Kakek mengomeliku sebelum aku pergi ke rumah papi.
Aku tak banyak berkata-kata, pikiranku benar -benar tertutup sudah.
"Aku juga tak tahu Kek, kenapa bisa tragis begini nasib rumah tanggaku."
"Sana, cepat pergi! Segera kamu bertanggung jawab!" bentak kakek yang membuatku terhenyak kaget.
"Ba-baik Kek!"
Aku berpamitan pada kakek, namun kakek enggan menyodorkan tangannya.
Aku pergi dengan berbagai rasa sesal menuju rumah papi. Aku tahu, kalau kakek sangat menyanyangi Erlin sehingga aku juga bisa merasakan kesedihan yang kakek alami.
Erlin sudah berada di rumah papi sejak selesai subuh tadi. Aku meminta agar Erlin tak buka suara, biar aku saja yang akan menjelaskan pada mereka. Setelah mendekati papi, aku mulai mengutarakan maksud hati.
Semua keluarga Erlin tercengang tatkala aku melamar Eliana. Papi menampar keras wajahku, dan terasa perih di sudut bibirku.
__ADS_1
"Dasar menantu tak tahu di untung, sudah dapat kakaknya, adiknya kamu sambar juga! Mau ditaruh dimana muka ku ini?" papi naik turun dadanya.
Mami beberapa kali menenangkan hati papi.
"Sabar Pi, nanti jantung Papi kumat lagi!" ujar mami seraya mengelus dada papi.
Berulang kali kata maaf keluar dari mulutku.
"Semuanya sudah menjadi bubur," papi mendesah kasar, "Baiklah, segera nikahi Eliana!" ujar papi kemudian. Aku hanya mengangguk lesu.
Aku terpaksa menikah.
Erlin sebenarnya bukan anak kandung keluarga Wiliam. Dia anak dari adik laki-lakinya yang meninggal saat kecelakaan mobil beserta istrinya. Keluarga Wiliam mengadopsi Erlin menjadi anak sendiri. Kasih sayang mereka tumpahkan seperti memiliki anak sendiri. Tapi setelah Eliana hadir dalam keluarga itu. Perlahan Erlin mulai tersisihkan.
Malam harinya, aku sudah sah menjadi suami dari adik iparku.
Setelah acara ijab qabul selesai, aku membawa Erlin, Cemplon dan Eliana ke sebuah apartemen serta seorang pembantu. Kami akan tinggal disana.
"Papa, mengapa kita meninggalkan kakek sendirian di rumah. Dan tempat apa ini?" tanya Cemplon ketika aku membuka pintu.
Aku belum menyahut pertanyaannya, baru setelah kami masuk dan duduk di sofa, aku mulai membuka suara.
"Cemplon, kini kita tinggal di sebuah apartemen, sebuah bangunan yang hampir mirip dengan rumah. Kamu bisa menyebut ini dengan tempat tinggal kamu yang baru."
"Dan di sini, Cemplon memiliki mama baru," tukas Erlin. Aku kira dia tak ingin memberi tahu kabar ini.
"Jadi, Cemplon punya dua mama? Mana Ma?" tanya Cemplon antusias.
"Nih, mama Eliana!" Erlin menunjuk Eliana yang sejak tadi terdiam.
"Tante Eliana jadi mama Cemplon juga?" pekiknya tak percaya. Tapi itu tak mengubah reaksinya yang malahan semakin girang mendengar kabar itu.
Cemplon menghambur ke arah Eliana.
"Mama Eliana," panggil Cemplon.
"I-iya Cemplon," sahut Eliana terdengar kaku.
Mereka bertiga tengah asyik dengan obrolan seputar apartemen. Aku memilih meninggalkan mereka menuju kamarku.
Tiba -tiba sebuah tangan menahan lenganku. Aku menoleh ke belakang.
__ADS_1
Sebuah wajah sumringah, entah apa yang sedang wanita ini pikirkan, menatapku penuh.