Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Akhirnya Dia yang Mengalah


__ADS_3

Hari berganti hari seolah waktu tak berhenti, aku menjalani keterpaksaan dalam berpoligami. Meski aku membagi ranjang dengan kedua istriku tapi sekali pun aku tak pernah menyentuh istri kedua ku, Eliana. Ku rasa dia sadar diri, terbukti dia tak pernah menggoda atau melakukan hal-hal yang membuat agar aku menyentuhnya, tidak, tidak sama sekali. Hanya saja dia melakukan kewajibannya sebagai mana umumnya seorang istri, seperti mengenakan aku dasi, membawakan tas ku sepulang kerja dan lain sebagainya.


Erlin sendiri malah selalu memberikan aku jamu kuat setiap giliran menemani Eliana tidur. Tanpa sepengetahuan dia, ku tuang jamu itu ke washtafel. Alhasil aku nggak ngapa-ngapain di kamar selama kurang lebih 8 bulan ini.


Sementara itu kandungan Eliana pun semakin membesar, membuat dia kesulitan berjalan. Setiap berangkat kerja aku selalu mengabsen dedek bayi yang masih di dalam perut Eliana.


"Dedek sayang, papa kerja dulu ya!" itulah sapaan setiap hari yang selalu aku lontarkan sambil mengusap perutnya yang buncit. Tidak ada kontak fisik lebih yang aku berikan, sekedar membiarkan punggung tanganku untuk ia cium sebagai rasa hormat nya.


"Kak Sam, sepulang kerja nanti antar aku belanja kebutuhan dedek ya!" ujarnya sebelum aku keluar pintu.


"Iya, siapkan dirimu pukul tiga nanti!" sahut ku sambil tersenyum.


Meski aku sudah berusaha menjalani rumah tangga dengannya, tapi perasaanku tetap tak berubah, cintaku hanya pada istri pertamaku.


Aku sudah berada di depan mobil, saat memegang handel pintu, Erlin setengah berlari mendekatiku.


"Sam, tunggu!" teriaknya membuat aku menoleh ke arahnya.


"Iya Erlin, aku hampir telat, ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" ujarku seraya melirik arloji ku. Aku sedikit kesal karena dia beberapa hari mendiami ku.


"Eum, muah!" ciuman mendarat cepat di pipiku.


Aku memegang pipi bekas ciumannya. Senyuman mendadak terpampang jelas di wajahku. Sudah lama dia tak seperti ini sejak beberapa hari yang lalu marah, gara-gara ketahuan aku membuang jamu pemberiannya.


"Apa yang membuat kamu begini?" tanyaku seraya melingkarkan lenganku di pinggangnya.


"Selamat ulang tahun Sam, semoga kamu tetap menjadi suami yang baik dan papa yang ganteng!" ucapnya membuat aku tak bisa menahan rasa senang. Aku sudah tua tak ingat dengan hari ulang tahunku. Hanya Erlin seorang yang tahu.


"Aamiin .... Terima kasih Sayang!" aku mencium keningnya.


"Sudah, cepat berangkat nanti kamu telat!" Erlin melepas tanganku dari pinggangnya.


"Baiklah, sampai jumpa nanti malam!" ujarku karena tepatnya malam ini aku tidur dengannya. Dia hanya tersenyum tipis seraya melambaikan tangan ke arahku.


.


"Na, apa lagi yang mau dibeli? Coba kamu cek daftar yang kamu bawa!" ujarku seraya mendorong troli.


Eliana mulai menilik satu persatu daftar belanjaannya.


"Udah Kak, nggak ada yang ingin aku beli. Kecuali ...." dia tertahan seakan malu untuk mengatakannya.


"Apa, hari sudah mulai gelap, cepatlah, katakan apa yang ingin kamu beli!" kakiku sudah mulai pegal-pegal terlalu lama berdiri.


"Aku mau es krim itu, Kak!" telunjuknya mengarah ke penjual es krim.


"Ku beli kan saja, kamu pasti capek, duduklah di sini! Rasa apa yang kamu inginkan?" aku membantunya duduk.


"Terima kasih, Kak, aku mau rasa coklat, stroberi, vanila dan semua rasa yang ada di sana," Eliana menghitung dengan jarinya.


"Banyak amat, apa perutmu kuat memakan semuanya?" singgung ku. Merasa kaget juga dia mau memborong es krim yang ada di sana.


"Kan penghuni di rumah kita tidak hanya aku saja, ada kamu, kak Erlin, Cemplon, dedek juga, " ujarnya seraya mengelus perutnya.

__ADS_1


"Sekalian saja beli freezernya!"


"Apa, boleh Kak!" dia membelalakkan mata tak percaya.


Aku hanya berdehem seraya berjalan ke arah penjual es krim. Setelah bernegosiasi dengan pemiliknya aku menyuruh anak buahku untuk membawa semua belanjaan yang sudah aku beli.


Sesampainya di rumah saat kami berdua di dalam mobil, mendadak dia menyerangku dengan memberikan ciuman panas. Aku sontak melongo dibuatnya.


"Kak Sam, meski aku hanya istri kedua mu dan belum sepenuhnya mendapatkan hatimu, aku bersyukur bisa mengandung anakmu. Selamat ulang tahun, Kak, semoga kamu selalu bahagia dan panjang umur!" ucapnya yang tak kusangka dia tahu juga hari ulang tahunku.


"Aamiin ... terima kasih, Na. Maaf, aku selalu mengabaikanmu," kini jantung ku kembali normal setelah mendadak berdebar begitu hebatnya.


"Aku tahu Kak, perasaanmu hanya untuk kak Erlin. Secuil rasa tak ada sedikitpun untukku. Aku menyadari itu, bukan karena aku hanya istri kedua mu melainkan karena aku tidak tercantum jelas di hatimu. Meski demikian aku tidak marah, dan tidak ada hak bagiku untuk marah. Terkadang rasa sakit pernah menyergap hati, namun lambat laun rasa itu hilang jika aku mengingat siapa aku. Tidak ada hal lain yang menyenangkan selain pernah memilikimu. Aku mencintaimu Kak."


Bingung menyikapi perasaannya, namun berat untuk membalasnya.


"Terima kasih, sudah mencintaiku." sahutku dingin.


" Tolong terima ini, Kak!" ujarnya seraya menyodorkan kotak hitam kecil.


"Apa ini, Na?" aku mengernyitkan dahi, sedikit penasaran juga dengan isinya.


"Buka saja, Kak!" titahnya.


Ku buka kotak hitam itu sesuai permintaannya. Sebuah jam tangan berwarna silver. Ku tatap benda itu tanpa berkedip.


"Kakak suka?" tanyanya yang sontak membuyarkan lamunanku.


"Iya, Na, bagus sekali, cocok dengan kulitku!" seruku sontak yang membuat dia menyimpulkan bibirnya.


"Terima kasih!" seru ku, tak ada kata-kata lain selain itu yang terlintas di benakku. Menyelami penuturan terakhir darinya.


"Apa aku boleh meminta sesuatu darimu, Kak?" tanyanya sambil membantu aku melepas arloji yang lama dan mengenakan arloji hadiah darinya. Aku diam saja dia melakukan itu.


"Jika itu mudah, tentu saja boleh!"


"Aku ingin saat melahirkan nanti, Kak Sam selalu berada di sisi ku. Karena aku tahu, kehadiran suami disaat istrinya melahirkan akan memberikan kekuatan besar bagi sang istri. Dan aku mau Kak Sam menunggu ku 24 jam saat itu." terangnya membuat aku merasa bersalah karena belakangan ini aku sibuk dengan pekerjaan dan melakukan sesuatu jika hanya dia yang meminta.


"Iya, Na, aku berjanji padamu akan ada di sampingmu saat kamu melahirkan nanti. Ngomong -ngomong, kapan perkiraan dedek akan lahir?" tanyaku seraya mengusap perutnya.


Eliana menahan tanganku agar aku tidak segera melepasnya.


"Rasakan dia, Kak!" ujarnya, aku membiarkan seperti ini posisinya. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku.


"Mungkin dua minggu lagi, aku akan melahirkan,"sambungnya kemudian. Itu berarti saat awal masuk bulan Ramadhan.


Tidak ada obrolan lagi, setelah dia puas dengan curahan hatinya aku menawarkan dia untuk turun. Aku membantunya keluar dari mobil dan memapahnya. Dari jauh terlihat Erlin mengamati kami di balik pintu.


"Ahk, semoga Erlin tak cemburu," batinku gusar.


"Sam, Na, kalian belanja kok nggak ajak aku?" keluhnya namun tak menampakkan ekspresi marah.


"Maaf Kak, tadi Kakak tidurnya pulas banget, nggak tega buat bangunin." sahut Eliana ketika kami susah sampai di ambang pintu.

__ADS_1


"Itu beli freezer buat apaan Sam, kamu mau buka toko di rumah kita?" tanyanya setelah lemari es itu diturunkan dari pick up.


"Enggak Sayang, itu Eliana yang minta es krim banyak varian, dari pada dedeknya ngiler, aku beli sekalian saja kotaknya!" sahutku sambil menggaruk kepala.


"Enggak juga kok Kak, Kak Erlin bisa ambil es krim itu yang mana yang Kakak suka!" sambung Eliana.


"Benarkah!" Erlin bergegas menuju lemari freezer itu dan mulai memilih diikuti Eliana.


Dua minggu kemudian.


Benar saja Eliana sudah merasakan kontraksi di perutnya, aku segera melarikan dia ke rumah sakit. Menunggu dia 24 jam sesuai permintaannya.


Eliana melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik. Bayi itu mirip sekali dengannya. Erlin yang juga ikut bersamaku tak sabar ingin menggendongnya.


"Sam, kamu sudah punya nama untuk bayi cantik ini?" tanya Erlin seraya mencium bayi cantik yang mungil itu.


Ku melirik Eliana, menunggu dia mengatakan sesuatu. seakan paham dengan maksudku dia hanya tersenyum.


"Kalian berdua saja yang memberinya nama," ujar Eliana yang membuat aku tak percaya menyerahkan sepenuhnya pada kami.


"Bagaimana kalau Evalia Ramadhan," usul Erlin yang disambut hangat oleh ibu kandungnya.


"Nama yang cantik Kak, sesuai di bulan Ramadhan!" ujar Eliana yang tanpa komentar.


"Iya, papa sama anak lahir di bulan yang sama ya, kita benar -benar kompak sayang," celetukku sambil mengusap pipi Eva yang lembut.


Setelah kondisi ibu dan anak dinyatakan baik, aku membawanya pulang.


Erlin sangat senang dengan hadirnya Eva, seperti ibu kandungnya sendiri. Selain itu Erlin juga tak henti -hentinya memperhatikan makanan yang dikonsumsi Eliana agar pasokan asi bagus.


Aku sendiri sangat senang sampai tak percaya aku bisa memiliki anak kandung meski bukan dari rahim wanita yang aku cintai.


Beberapa minggu kemudian.


Eva terdengar menangis di malam hari. Aku dan Erlin terbangun dan bergegas menuju kamar Eliana.


Erlin segera mengambil Eva dan berusaha menenangkan. Namun, tangisan Eva semakin membludak. Erlin segera membuatkan susu untuknya.


Ku temukan selembar kertas di samping box Eva.


Aku sangat bahagia bisa melahirkan anak untuk kalian. Jagalah Eva dan sayangilah dia sepenuhnya. Biarkan aku yang mengalah, membawa cinta suamiku pergi dalam diam. Aku akan sangat merindukan kalian.


Tulis surat dari Eliana dan di sebelahnya ada satu amplop cokelat yang berisi surat gugatan cerai.


Di sini aku yang salah dalam berpoligami. Aku tahu, aku segera menerima gugatan cerai darinya.


Eliana kembali ke luar negeri dan menjadi dosen di sana.


Aku dan Erlin membesarkan Eva dengan penuh kasih sayang.


Tamat.


Jangan lupa mampir ke karya author terbaru, yang berjudul, Buih Jadi Permadani. Jangan lupa beri like, vote, hadiah dan komentarnya.

__ADS_1


Terima kasih 😘😘😘😘😘


__ADS_2