
"Kak, biarkan aku pergi dari sini!" rengek Eliana pada kakaknya, suaranya terdengar takut. Aku melintasi kamar Eliana dan sengaja ingin mendengar pembicaraan dua wanita itu. Aku takut sekali jika Eliana mengadu tentang peristiwa semalam. Jujur, aku tak tahu sama sekali kalau yang aku gali di ranjang semalam adalah iparku. Tak hanya sekali bahkan tiga ronde sekaligus. Aku mengusap kasar wajahku. Kenapa begitu ceroboh memasuki lubang? Sedang Eliana yang ku anggap Erlin semalam, diam saja tanpa reaksi sedikitpun, menunjukkan kalau dia benar-benar terlelap. Anehnya, masa aku gempur dia tak merasakan apa-apa?
Aku sendiri juga bingung, apa motifnya Eliana tidur di kamar Erlin. Jahat sekali, mengambil kesempatan saat Erlin tak bersamaku. Tapi, dia bilang tak tahu bagaimana bisa berpindah tidur, akh ... aku bisa gila memikirkan ini. Kalau sampai Eliana hamil bagaimana, aku takut jika Erlin membenciku dan meninggalkan aku. Tidak ...! Cukup masalah yang lalu biarlah berlalu, jangan sampai terulang kembali. Ya Allah, aku harus bagaimana ini?
Aku mondar-mandir di sana bersama pemikiran yang kacau. Jadwal meeting ku pagi ini aku batalkan semua. Bukannya tak profesional, tapi aku tak bisa berpikir jernih setelah peristiwa haram itu.
Aku menghentikan langkahku setelah mendengar Eliana bicara lagi. Aku berkeringat dingin, tak hanya itu tubuhku terasa bergetar juga. Rasa bersalah dan ketakutan menghantui diriku.
"Kak Erlin, semalam aku ..." Eliana akan mengatakan itu, dengan segera aku mengetuk pintu kamar Eliana. Mencegahnya untuk bercerita.
Terdengar derap langkah menuju ke arahku. Setelah pintu terbuka, ternyata Erlin yang membukanya.
"Sam," sapa Erlin, terlihat gurat wajahnya seolah bertanya untuk apa aku mengetuk pintu kamar Eliana.
"Erlin, aku mencarimu. Dan sudah aku duga kamu ada di sini." sahut ku sedikit gugup.
"Aku baru saja memberikan kue buatanku untuk adikku. Apa kamu butuh sesuatu sehingga mencariku sampai ke sini?" tanya Erlin datar. Aku bingung sendiri dibuat nya.
"Eum," aku menggaruk tengkukku. Memikirkan alasan yang logis. "Bisa kamu membuatkan kopi untukku!" sambungku, membuat alasan agar aku bisa menjauhkan Erlin dari Eliana.
"Bukankah tadi sudah?" Erlin mengerutkan dahi, mungkin baginya aku terlihat aneh, meminta kopi hingga dua kali.
"Kopi tadi sudah dingin. Aku lupa hingga belum meminumnya." ujarku palsu. Jantung ku masih sama, tak karuan bunyinya.
"Baiklah!" sahut Erlin lekas tanpa bertanya lagi. Aku menghela nafas lega untuk detik ini.
"Eliana, ceritanya disambung nanti saja ya!" teriak Erlin, kepalanya menyembul ke arah kamar Eliana.
Erlin segera keluar kamar melewatiku, menuruni tangga menuju dapur. Aku yang masih di luar kamar, melirik Eliana, kebetulan dia juga melihatku. Aku mengayunkan tangan.
"Kemarilah Eliana!" panggilku. Dia pun dengan sedikit takut berjalan pelan menghadapku.
__ADS_1
"Iya Kak Sam?" ucapnya kikuk.
"Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Yang aku inginkan saat ini agar kamu diam tentang semalam. Jangan ceritakan pada Erlin. Kamu tentu tak ingin membuat kakakmu sedih 'kan?" ujarku berharap dia mau untuk diajak kerja sama, Eliana pun mengangguk. Aku sedikit lega.
"Tapi Kak, sungguh aku tak tahu apa yang terjadi. Dulu saat SMA aku pernah tidur dan bermimpi sambil berjalan, lalu berakhir tidur di tempat lain, mungkin itu terulang kembali saat aku sudah tidur semalam. Sungguh Kak, aku tak bermaksud untuk menghancurkan hubungan kalian!" terang Eliana. Wajahnya menunjukkan kejujuran.
"Semua sudah terjadi, mau bagaimana lagi." Aku mendesah kasar seraya menundukkan kepala bingung. Hatiku masih terasa nyeri jika membayangkan kenikmatan haram itu.
"Aku janji tidak akan mengatakan ini pada kak Erlin. Aku tak ingin dia sedih jika tahu kejadian semalam!" ujar Eliana yang terdengar jujur.
"Bagus. Itu yang aku inginkan. Semalam, aku melakukan itu karena ku pikir kamu Erlin. Tidak ada niatan buruk dariku. Maaf. Anggap saja semalam suatu kecelakaan yang sama-sama kita tak menyadarinya." sesalku seraya menepuk pundaknya.
"Iya Kak, aku juga menyadarinya, Kak Sam melakukan itu karena menganggap aku adalah kak Erlin. Tapi, Kak Sam, aku takut!" ujar Eliana, wajahnya jelas menunjukkan ketakutan. Dia mendongakkan kepala menatapku intens.
"Kita diam untuk sementara. Semoga kedepannya tidak terjadi masalah! Aku turun dulu!" Aku membalikkan badan dan tiba-tiba Eliana menahan lenganku.
"Bagaimana jika nanti aku hamil?" pertanyaan Eliana meledakkan jantung ku yang sudah sedikit tenang tadi. Aku bahkan tak bisa membayangkan kalau dia hamil beneran. Keinginan memiliki anak memang tujuan hidup seseorang dalam berumah tangga, namun bukan dari rahim orang lain.
"Alamak! Tiga ronde!" batinku tersentak hebat mengingat itu.
"Aku, aku belum memikirkan ke arah sana. Semoga saja tidak!" ujarku gugup, harapanku sepertinya bertolak belakang dengan ilmu biologi.
"Aku dalam masa subur," ujar Eliana datar sambil menundukkan muka. Baru kali ini dia merasa malu bicara denganku.
"Tenang kan dirimu! Kita jalani kehidupan kita masing -masing, oke, aku akan turun dulu!" tanpa mendengar panggilannya aku bergegas menuruni tangga menjauh darinya. Berharap bisa lari sejauh mungkin dari kenyataan yang rumit ini.
Di dapur Erlin masih berkutat dengan kesibukannya.
"Sayang, mana kopiku?" tanyaku dari belakang tubuhnya seraya melingkarkan lengan di pinggang.
"Aku pikir kamu tak kan meminum kopimu jika keadaan sudah dingin. Jadi, aku menunggumu." ujarnya tanpa melihat wajahku.
__ADS_1
"Maaf Sayang, tadi aku sedang ngobrol sedikit dengan Eliana, menawarkan pekerjaan di tempatku." ujarku bohong.
Erlin melepas tanganku dari pinggangnya.
"Bagus itu, kenapa tak terpikirkan olehku dari awal. Dengan begitu kalian berdua cepet akrab." ujar Erlin yang membuatku mengerutkan dahi.
"Cepet akrab? Maksud kamu?"
"I-iya kamu 'kan sudah lama tak bertemu dengan Eliana, pastinya ada jarak diantara kalian. Dengan Eliana bekerja di tempatmu, kalian bisa lebih kompak dalam bekerja. Ya, itu maksud ku." kata Erlin seraya mengusap dadaku.
"Begitu ya, sepertinya Eliana belum setuju dengan saranku. Dia lebih tertarik untuk mencari lowongan kerja sendiri."
"Dasar bocah, sudah baik kakak iparnya menawari kerjaan malah milih cari kerja sendiri!" omel Erlin.
"Kamu bujuk aja, siapa tahu kalau kamu yang mengatakannya malah dia nurut."
Erlin mematikan kompor dan menuang air panas di atas gelas yang sudah berisi gula bubuk.
"Oke, ini kopi kamu! Aku akan bicara dengannya nanti. Aku juga penasaran apa yang ingin dia ceritakan."
Deg
"Erlin, kamu tak ingin pergi jalan-jalan hari ini?" tawarku mendadak untuk melampiaskan rasa sesak.
"Tumben kamu ngajak aku shopping, emang kamu nggak ke kantor?"
"Hari ini aku free, kalau kamu mau aku bisa mengantarmu sekarang!"
"Aku ajak Eliana sekalian ya, siapa tahu dia juga lagi ada kebutuhan yang ingin ia beli."
"Jangan Erlin! Maksudku, kita berdua saja yang pergi sambil mengantar Cemplon sekolah." tawarku yang berhasil membuat dia mengangguk.
__ADS_1