Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Sekedar Ingin Tahu


__ADS_3

"Krucuk, krucuk," suara perutku berbunyi membuat semua orang tertawa. Aku sangat malu.


"Kamu lapar?" kakek menghentikan tawanya yang diikuti semua orang.


Aku menunduk malu.


"Sebelum magrib tiba, kita akan makan dulu. Ayo, jalan!" kakek memimpin barisan terdepan.


Aku mengekor mereka, sempat ku lirik istriku yang tampaknya tak bahagia. Ada apa denganmu?


.


"Kakek, Sam berangkat ke kantor dulu," ujarku seraya menyodorkan tangan.


"Iya, tunggu sebentar Sam, ada berkas yang perlu kamu bawa!" kakek berdiri menuju lemari dan menarik laci lemari paling bawah. Kakek kembali ke kursi tempat beliau duduk tadi.


"Kamu pelajari ini, semua dokumen perusahaan ada di sini. Meski kamu baru menjadi CEO alangkah baiknya juga mengerti seluk beluk berdirinya sebuah perusahaan!"


"Iya Kek," aku menerima berkas itu dan segera keluar kamar.


Aku membenahi arloji sembari menuruni tangga, saat anak tangga yang terakhir aku merasa ada sesuatu yang mengganggu sepatuku.


"Maaf," ujarku seraya melirik apa yang aku injak barusan.


Aku menginjak rok Erlin yang menjuntai ke lantai, dia tengah mengepel.


Seharusnya aku sudah cukup melakukan pembalasan ini padanya. Tapi rasanya masih belum puas untuk mengerjai dia.


Dia membenahi roknya tanpa menatapku.


"Kamu tidak pergi kerja?" tanyaku berharap dia merespon. Dia hanya menggeleng.


"Sepertinya kamu sedang marah padaku?" tanyaku yang membuat dia merespon. Erlin meletakkan alat pel seraya berkacak pinggang ke arahku.


"Apa wajahku yang cantik ini terlihat marah, hah!"


"Sedikit," sahutku singkat.


"Bagus kalau kamu sudah tahu, jadi aku tak perlu repot - repot memberitahu kamu. Sana cepat pergi!" usirnya seraya mendorong ku.


"Tunggu, apa kamu senang jika aku pergi?"


"Aku akan lebih senang jika kamu mengembalikan saham papi!" ujarnya dengan tegas.


"Dengan begitu aku bisa bebas keluar dari rumah ini. Aku tidak tahu maksud dan tujuan kamu. Meski perlakuan kakek baik terhadap keluarga aku, itu tetap tidak berpengaruh pada pendirianku."


"Aku akui aku sekarang menjadi kere, itu semua karena usaha papi aku yang hancur. Paling tidak, masih ada peluang jika kamu mengembalikan saham papi yang kamu beli dengan harga sangat murah itu."

__ADS_1


"Aku yakin dengan ini kamu bisa mempertimbangkan ucapanku. Dan satu lagi. Sepertinya kamu tak serius mencintai adikku. Itu kamu lakukan agar keluargaku terus bisa berada dalam genggaman kamu kan?" ujar Erlin menggebu - gebu.


"Bukan maksud di hatiku seperti apa yang kamu prasangka. Baik, jika kamu terus mendesak ku. Aku akan segera membuktikan kalau aku mencintai adikmu dan camkan baik - baik, aku takkan pernah menarik ucapanku. Aku akan segera menikahinya." ujarku tersulut emosi.


"Satu hal yang harus kamu ingat Erlin, suatu saat kamu pasti akan menyesali semua ini."


"Heh, untuk apa aku menyesal? Aku akan memegang omongan ku sendiri." sahut Erlin.


Erlin mengambil alat pelnya dan segera meninggalkan aku yang masih mematung.


"Erlin, kamu jauh beda dengan kita saat kenal dulu. Kamu sekarang lebih dewasa."


"Aku yakin, kamu pasti akan merasa sakit jika kamu tahu siapa aku yang sebenarnya."


Aku masih mencerna permintaannya dan segera menuju garasi. Waktuku hampir habis mendengarkan keluh kesahnya.


"Selamat pagi Tuan Muda Sam!" sapa Bondan dengan ciri khasnya. Membungkukkan badan dan mengayunkan tangan sebelahnya ke arah pintu mobil.


"Bondan, aku ingin menyetir sendiri. Ada urusan yang ingin aku selesaikan secara pribadi. Aku berharap kamu memaklumi itu, dan jangan membuntutiku! Aku akan baik - baik saja." ujarku menyakinkan, meski terkadang dia ngeyel juga.


"Tapi Tuan Muda,"


Aku tak mendengarkan ocehannya dan langsung tancap gas meninggalkan dia yang berusaha mengejarku.


Aku tahu jadwal Senin ini. Erlin akan ke tempat butiknya.


Aku juga telah menyewa gerobak sampah dan menariknya menuju lokasi dimana Erlin bekerja.


Aku berpura - pura mengorek sampah di bak sampah, tepat di depan butik. Ku lihat butiknya masih sepi pengunjung. Padahal hari mendekati siang.


Erlin tengah beres - beres. Dia belum juga menyadari keberadaanku. Sekian detik kemudian, Erlin melihatku dan berteriak.


"Bang, Abang sampah tunggu! Ada beberapa kardus kosong ini!" Erlin melipat tumpukan kardus dan membawanya ke arahku.


Kita lihat reaksi nya seperti apa.


Dia perlahan mulai mendekat ke arahku.


"Ini Bang kardus nya," aku menerimanya dengan kedua tanganku.


"Terima kasih Non!" ujarku seraya mendongakkan kepala.


"Samsul!" seru Erlin dengan terkejut.


"Non Erlin!" seruku pura - pura terkejut pula.


Erlin langsung memelukku erat hingga tumpukan kardus yang aku bawa jatuh. Bukan ini reaksi yang aku harapkan, seharusnya dia semakin jijik melihatku seperti ini.

__ADS_1


"Aku mencarimu kemana - mana, tapi tak pernah ketemu juga. Dan akhirnya Tuhan telah mempertemukan kita kembali." ujarnya sambil terisak. Air matanya luruh membasahi dadaku.


Aku masih terdiam, mendengarkan semua keluhannya.


"Maaf, maafkan aku Samsul! Seharusnya aku tak menuduh kamu waktu itu. Aku sungguh menyesal atas semua perlakuan ku padamu dulu. Seharusnya aku bisa menjadi istri yang baik untuk kamu."


"Aku sangat takut. Jangan tinggalkan aku lagi. Hidupku terasa hampa tanpa dirimu."


Aku melepas pelukannya.


"Maafkan aku juga Non, yang belum bisa menjadi suami yang baik. Memberi nafkah dan kebahagian pada Non Erlin." ujarku yang tak mampu lagi menatapnya sendu.


Dia menggelengkan kepala sambil mengusap air matanya.


"Aku yang salah."


"Tapi permintaan maaf tak cukup bagiku. Kamu pasti sudah menikah dengan pacar kamu kan?" tukasku seraya mengetes seberapa jujurnya dia.


"Tidak, kamu salah Samsul, aku tak pernah mengkhianati pernikahan kita. Dan kamu kan yang menyelamatkan kehormatan ku dari Ciko? Aku melihat sendiri itu kamu."


"Itu tandanya kamu masih perduli padaku." sambungnya lagi seraya menggenggam erat tanganku.


"Tapi bagaimana jadinya jika aku tak datang?" sahutku seraya membalikkan badan.


"Aku bersumpah, tidak akan memaafkan diriku jika aku ternoda. Aku menjamin kalau aku belum tersentuh oleh pria mana pun." ujar Erlin seraya memelukku dari belakang.


Aku melepas pelukannya dan berbalik.


"Kita tak bisa bersama lagi,"


"Kenapa Samsul? Apa kamu masih sakit hati?"


"Itu sudah tak seberapa, aku sudah terlanjur berjanji untuk menikah dengan seseorang yang aku sukai." ujarku meski tak tulus dari hati.


"Menikah? Tidak Samsul, kamu hanya boleh menjadi milikku. Aku tidak ridho dunia akhirat jika wanita lain memiliki kamu." Erlin semakin deras air matanya.


Aku cukup lega mendengar penuturannya yang jujur itu.


"Lalu bagaimana dengan kamu sendiri? Aku pernah memergoki kamu dengan pacar kamu bermesraan. Apa aku ridho waktu itu, tidak Non Erlin,"


"Sungguh, maafkan atas kekhilafanku, aku memanfaatkan Ciko agar membantu usaha butikku. Tapi Ciko sendiri yang terus mengganggu aku,"


"Aku harus pergi!" pamitku undur diri seraya memungut kardus yang berserakan dan segera menarik gerobak.


Erlin menghalangi jalanku.


"Jangan pergi Samsul, ku mohon!" Erlin mengiba namun aku tetap bersikukuh pergi.

__ADS_1


Meski berat rasanya, aku hanya sekedar ingin tahu saja reaksi dirimu melihat diriku yang miskin.


__ADS_2