
Pukul 16.00 di rumah sakit.
Aku mengamati wajahnya yang sedang tidur di kamar pasien. Dokter bilang dia terlalu kelelahan dan mengalami shock, tidak terlalu beresiko juga. Aku menunggu nya untuk sadar kembali. Tapi, tidak mungkin dengan wajahku yang sekarang. Benda yang ku temukan di pintu apartemen Ciko adalah jepit rambut milik Erlin yang dulu aku pernah berikan padanya. Aku tak mengira dia akan memakai benda itu. Dan jepitan itu yang membuat aku menemukan dia, bagaimana jika tidak? Aku pasti sudah mendapati istriku bukan perawan lagi.
"Sebelum keluarga Erlin datang, aku harus meninggalkan rumah sakit ini," aku meletakkan jepit rambut miliknya di atas meja.
Berjalan mendekat ke arah ranjang pasien. Wajahnya sangat teduh, wajah yang selama ini aku rindukan. Ku berani kan diri untuk lebih dekat lagi.
Dan cup ...
Ku kecup pelan dahinya dengan sekilas. Dia masih di alam mimpinya.
"Erlin, tunggu pembalasanku nanti!" batinku seraya bergegas pergi.
Saat berjalan menuju keluar rumah sakit, aku melihat papi dan mami tengah berjalan ke arahku. Aku segera menyembunyikan diri.
"Lihat kelakuan putri kamu, Mi. Dulu saat masih kuliah, Mami tidak setuju dengan pria pilihan papi. Coba kalau sekarang mereka sudah menikah, Erlin tidak akan mengalami hal buruk seperti ini." ucap papi terdengar kesal.
"Papi kok malah nyalahin mami sih! Dia bukan putriku, melainkan putri mu ! Ini semua karena pengaruh buruk dia menikah dengan si buluk itu." ujar mami.
"Kan mereka berdua sudah pisah, kok si buluk itu di bawa - bawa? Meski Dia bukan anak kandung kita, kita kan sudah janji untuk tidak membahas itu lagi, Mi, "
"Pengaruh nya masih ada, Pi, coba Papi waktu dulu tak merestui Erlin menikah di desa, pasti hidupnya tak seburuk sekarang ini," imbuh mami.
Mereka segera menghilang dari pandanganku.
Ternyata Erlin bukan anak kandung mereka.
"Mereka keterlaluan, masih saja menyalahkan aku, malah membawa - bawa namaku pula dalam kasus ini!" geramku seraya mempercepat langkahku.
Aku tadi menyuruh seseorang untuk mengabari keluarga William kalau Erlin di temukan pingsan dan hendak dilecehkan oleh pacarnya.
"Kak Samuel!" teriak suara seseorang yang terdengar cempreng. Ya, siapa lagi kalau bukan Eliana. Untungnya aku sudah kembali ke wajah tampanku.
"Kak Samuel ngapain di sini?" tanyanya menghadang langkahku.
"Minggir!" ujarku sedikit dingin agar dia tak banyak bertanya padaku.
"Ditanya begitu saja marah, awas Kak Sam, nanti cepet tua loh," ujarnya membuat aku menarik nafas panjang.
"Tadi, aku mengambil obat untuk kakek," bohongku dengan nada datar.
"Kakek Kak Sam sakit apa?"
"Tuh kan mulai lagi cerewetnya," batinku rada malas meladeni dia.
"Pusing," sahutku asal saja.
__ADS_1
"Pusing? Emangnya kakek Kak Sam mikirin apa sampai bisa pusing segala?"
Aku melotot ke arahnya hingga membuat dia menciut.
"Iya Kak, maaf!" dia mengatupkan kedua tangannya.
Aku hendak melangkahkan kaki setelah dia menggeser tubuhnya.
"Kak Erlin masuk rumah sakit," sambungnya.
"Aku sudah tahu," batinku.
"Terus?" tanyaku pura - pura tak tahu.
"Ayo, Kak Sam antar aku menjenguk kak Erlin!" Eliana menarik paksa lenganku, dengan memutar arah aku kembali ke ruangan Erlin.
Erlin sudah sadar, perlahan ia membuka matanya. Aku lega melihatnya.
"Pusing, kepalaku terasa berat untuk di angkat," keluh Erlin seraya menekan dahinya.
"Kalau masih sakit, jangan dipaksakan bangun!" ucap papi dengan nada tinggi. Papi seperti tak menyukai keadaan ini, ada apa ya?
"Pi, anak masih sakit jangan dimarahi," imbuh mami.
"Kak Erlin sudah sadar, untungnya tidak terjadi sesuatu dengan Kakak," Eliana tampak peduli, dia menghambur dan meraih tangan Erlin, mengusapnya lembut.
"Gawat, aku hampir ketahuan!" Gumam ku takut.
Aku sedikit bergetar saat semua mata memandangku.
"Kak Erlin salah, dia kak Samuel, tadi aku berpapasan dan sengaja mengantar aku sampai ke ruangan Kakak," terang Eliana seraya menurunkan tangan Erlin.
"Kamu masih bisa memikirkan si buluk itu dalam keadaan seperti ini, sungguh menjijikkan!" umpat papi.
"Kenapa sih Papi selalu menghinanya, Samsul kan masih suami sahku?" Erlin terlihat membelaku, benar dugaanku ada sisi baik di hatinya meski dulu dia terlihat membenciku.
"Suami? Jadi pembantu yang tinggal di rumah kita itu adalah suami Kakak?" Eliana baru menyadari hubungan ku dengan Erlin.
"Mengapa aku baru tahu, dan mengapa juga Samsul diperlakukan hina di rumah kita? Andai aku tahu dulu, aku pasti akan menentang Papi dan Mami yang tak bisa berlaku adil padanya," Eliana berbicara sangat bijak.
"Hei Anak Kecil, tahu apa kamu, sudah bersyukur kita punya pembantu yang gratis, kamu kan juga sering menyuruh dia!" imbuh mami yang merasa tak mau di pojokkan.
Aku mendengar obrolan mereka semakin ingin mengungkapkan siapa aku yang sebenarnya. Tapi, tunggu biar mereka merasakan apa yang aku dulu rasakan.
"Maaf, saya ada urusan, ada pelanggan bisnis yang ingin membeli emas saya," terangku membuktikan pada mereka semua, betapa kayanya aku.
"Iya Nak Samuel, lain kali datanglah ke rumah untuk makan malam," ujar mami yang terlalu mengidolakan aku.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk pelan, lalu segera pergi.
Sesampainya di rumah kakek menghentikan langkahku.
"Sam, benda apa ini?" Kakek memperlihatkan kotak merah padaku. Aku segera mengambilnya.
"Ini punyaku," Benda itu adalah kotak yang berisi cincin yang ingin aku berikan pada Erlin. Karena suasana tak mendukung, aku menyimpannya dulu.
"Kakek menemukan tadi di bawah meja, jangan sembrono jika itu barang berharga." terang kakek menasehatiku.
"Baik Kek, terima kasih," sahutku dan segera berlalu meninggalkan kakek.
Mungkin kakek bertanya apa yang membuat aku bersikap sedikit dingin hari ini.
Tiga hari kemudian, keluarga William mengundang ku untuk makan malam. Sebagai pria yang tajir ku bawakan oleh - oleh pada mereka, sebongkah emas yang aku bawa langsung dari tambang emas. Sesampai di rumah Erlin, papi mami sangat menghormati kedatanganku serta tak henti - hentinya mengusap benda berkilau itu.
"Wah Nak Samuel, jika sering - sering seperti ini, kami bisa semakin kaya, iya kan Mami?" papi menoleh ke arah mami.
"Iya Pi, bahkan kita juga cepet terkenal," imbuh mami.
Aku hanya tersenyum kecut.
"Papi Mami, apa - apaan sih, bikin malu saja!" seloroh umpatan Erlin membuat papi mami melotot.
"Masih mending Samuel memberikan emas, dari pada si buluk itu memberikan aib pada keluarga William." ujar mami dengan ketus.
"Kok Mami masih menyalahkan Samsul sih, aku malah bersyukur dia ada di sini, dia akan selalu menjaga aku jika aku ketemu ular lagi," terang Erlin membuat aku benar - benar terasa di atas angin sekarang.
Mami papi tampak tak perduli dengan ocehan Erlin.
"Selamat malam Kak Sam!" seru Eliana yang baru turun dari kamarnya.
"Selamat malam!" balasku seraya menampakkan senyum yang terpaksa.
"Ayo kita makan malam sekarang, aku sudah lapar banget nih!" ajak Eliana seraya menarik tanganku.
Selama di meja makan, mataku tak jemu - jemu memandangnya, cantik nya istriku.
"Kak Sam, nih nambah lagi!" ujar Eliana mengejutkanku seraya menaruh ayam goreng di atas piring.
"Eliana, ini belum habis," bisikku seraya menunjuk isi piringku. Dia hanya menunjukan deretan giginya.
Kini kami selesai sudah menyantap makan malam.
Aku mulai menghitung dalam diam.
"Ponsel Papi berdering!" ujar mami mengingatkan karena papi tak kunjung mengangkat ponselnya. Papi segera merogoh sakunya.
__ADS_1
"Hallo, apa?" papi tampak membulatkan matanya lebar. Aku tersenyum puas melihat ekspresi wajahnya.