Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Siapa yang Salah ?


__ADS_3

Akhir bulan November aku berada di Batam. Mengurus toko perhiasan yang baru berjalan selama tiga bulan. Tentu dengan bantuan temanku Tini, aku menjalankan bisnis ini.


"Samsul, minggu depan aku izin pulang kampung." ujar Tini saat aku merekap omset penjualan.


"Mau ku antar?" tawarku seraya tetap menulis.


"Tidak, aku bisa pulang sendiri. Kamu tinggal kasih izin aku saja. Dan jangan lupa gajiku bulan ini,"


"Tenang, semuanya beres, aku kasih cuti 4 hari ya .... Jangan lama - lama, aku juga ada urusan di Jakarta!"


"Mengurus istrimu ya ...." tukasnya.


"Em, mau tahu saja. Untukmu, gaji bulan ini aku tambah sedikit. Ya sekalian buat ongkos mudik." aku menyerahkan amplop cokelat padanya.


"Alhamdulillah, terima kasih Sam! Semoga bisnis kamu makin lancar!" dia menerima sembari tersenyum.


"Masya Allah Sam, ini kebanyakan!" ujarnya setelah menghitung isi amplop nya.


"Sudah, terima saja. Lagian, toko ini tak kan bisa berjalan tanpa bantuanmu kan?" Tini hendak mengembalikan sisa uang yang lebih.


"Terima kasih Sam,"


"Sama - sama, mumpung aku di sini kenapa tak hari ini saja kamu mudik? Tenang, tak usah mengkhawatirkan aku, banyak karyawan di sini yang akan membantuku, "


"Boleh? " aku mengangguk,"kalau begitu aku akan segera bersiap!" sambungnya lagi dengan sumringah.


"Beneran nggak mau aku antar?" tawarku lagi.


"Ih, anak kecil kali, kamu lanjut saja pekerjaan kamu. Aku akan segera memesan taksi." Tini tetap menolak.


Selesai berpamitan, dia segera menghilang dari pandangan ku.


Beberapa menit kemudian, pembeli datang silih bergantian. Para karyawan sibuk melayani pembeli.


"Wah, pemilik tokonya ganteng ya! Eh, Mas, saya mau beli cincin, bisa tolong carikan yang pas di jari tanganku!" ujar pembeli saat aku melayaninya.


Aku memilih cincin dengan motif love, pembeli menyukainya. Terjadilah transaksi jual beli.


Pukul 19.00 aku menutup toko. Alhamdulillah, meski baru buka omset penjualan selama ini melonjak tinggi. Aku kembali ke vila hendak istirahat. Dan selama Tini mudik, aku yang menggantikan dia mengelola toko.


Keesokan paginya, sebelum aku pergi ke toko ku lihat tanggal di kalender menunjuk tanggal 1 Desember. Genap satu tahun pernikahan ku dengan Erlin. Bertepatan pula hari ini hari ulang tahunnya.


Aku sudah sampai di toko, segera ku memilih cincin yang pas untuk hadiah ulang tahunnya sekaligus hadiah pernikahan yang sempat tertunda.


"Cincin berlian sepertinya cocok untuk Erlin." ku segera membungkusnya.


"Kak Sam, aku rindu kamu, cepatlah pulang!" suara Eliana saat aku mengangkat ponselku yang mendadak berdering.


"Maaf, aku masih sibuk," sahutku males.


"Oke Kak Sam, jaga kesehatanmu !" seketika itu ponselnya ia tutup sebelum sempat aku bicara.


Aku mendesah, rencana yang sudah terlanjur aku lakukan tak boleh putus di tengah jalan. Aku harus berani mengambil resiko apa pun itu.

__ADS_1


Sepulangnya Tini dari desa, aku segera ke Jakarta. Sebelum ke rumah kakek, ku sempatkan diri untuk mampir ke pabrik uyel.


"Tuan Muda Sam, ini data penjualan bulan ini," manager pabrik menyodorkan buku, aku melihatnya seksama.


"Bagus, segera gaji mereka sepulang kerja nanti !" ujarku. Manager mengangguk paham.


.


"Kak Sam, yuk kita pergi nonton!" ajak Eliana saat aku datang berkunjung.


"Malas ah," tolakku.


Dia cemberut sambil terus merengek. Di saat itu pula, Erlin datang dari dalam.


"Kak Erlin , kita jalan - jalan yuk!" ajak Eliana seraya berdiri. Tangannya bergelanyut manja.


"Ini masih terlalu pagi Dik? Malas ah," tolaknya seraya melanjutkan membaca novel.


Saat ku mengamati, novel itu yang ku berikan sebagai kado untuk Eliana. Ternyata Eliana memberikan pada Erlin. Wah, kebetulan sekali!


"Kok jawaban kalian sama?" Eliana memanyunkan bibirnya.


"Oke, aku antar tapi ada syaratnya?" tawarku.


"Apa Kak?" Eliana tampak berbinar.


"Tirukan gerakan monyet makan pisang!" usulku asal saja.


Erlin tampak melongo melihatnya.


"Aku lakukan sekarang, habis ini Kak Samuel janji mengajak ku jalan - jalan ya ," Eliana segera berdiri memposisikan dirinya. Dan tanpa malu dia mulai beraksi.


Erlin terpingkal - pingkal melihat gerakan yang Eliana tunjukkan.


"Manis sekali, aku ingin setiap hari melihat ini." batinku tampak bersyukur.


"Udah selesai ... ayo kak jalan!"Eliana menggoyangkan tanganku. Sempat ku lirik Erlin dan tatapan kami bertemu.


"Kakak kamu sendirian dong," timpalku bermaksud Eliana mengajak dia, entah dia ngeh atau tidak? Aku berdiri menuju pintu mobil dan sudah membukanya.


Eliana tampak berpikir. "Ia deh, dari pada Kakak sendirian di rumah ikut aku jalan - jalan yuk!" Eliana menarik paksa Erlin.


"Kyaa! Dik, buku kakak jatuh!" teriaknya, namun si pemaksa tak menghiraukannya.


Kini Erlin dan Eliana sudah duduk manis di kursi belakang. Tanpa menyinggung lagi, aku segera menyalakan mesin mengemudi menuju jalan raya.


Di pemberhentian rel kereta seperti biasa ku hentikan mobil. Tak sengaja pandangan ku tertuju pada si otak udang.


"Erlin, bukankah itu pacar kamu! Dia sama cewek lain." tunjuk ku ke arah kaca mobil.


"Mana?" sahut Eliana, eh malah dia yang antusias.


"Biar, aku sudah tahu kelakuannya." sahut Erlin datar seraya memalingkan muka.

__ADS_1


"Kok Kak Erlin diam saja, nggak mutusin kak Ciko kalau tahu dia selingkuh?" tukas Eliana yang suka mengusik pribadi kakaknya.


"Percuma mutusin, lama - lama dia juga bakal bosan sendiri denganku," ujar Erlin tampak tak begitu perduli.


"Ku kira kalian menjalin hubungan dengan serius sampai ke jenjang pernikahan?" celetuk Eliana.


Selama satu tahun saat aku tinggal di rumah Erlin, sejauh itu Eliana tak mengetahui pernikahan kami.


Aku dan Erlin kompak menatap tajam ke arahnya, seraya membulatkan mata lebar.


"Ada apa dengan kalian, kalian seperti serigala yang ingin memangsa ku?" selidik Eliana.


"Jaga bicaramu Dik, kamu masih terlalu polos untuk urusan pernikahan!" tukas Erlin yang dengan segera membuang muka menatap ke luar jendela.


"Bagiku pernikahan adalah hal yang sakral. Menjalaninya tak semudah membalikkan telapak tangan. " ujarku mencoba memberi tahu Erlin, menyadarkan dia agar bisa menjaga pernikahannya.


Aku segera melajukan mobilku.


"Wah, Kak Samuel dewasa sekali! Benar - benar tipeku banget. Aku mau dong jadi istrinya Kak Samuel," celetuk Eliana membuat aku terbatuk.


Erlin melihat itu dengan cekatan menyodorkan botol air mineral yang ada di depannya.


Aku menerimanya, "Terima kasih," ucapku senang melihat dia perduli padaku tapi bukan pada Samsul.


"Ada yang salah ya," ujar Eliana.


"Dik, kamu kan masih kuliah, ngapain juga kebelet nikah?"


"Kak Erlin seperti tak tahu saja, banyak teman - temanku di kampus yang pada nikah muda. Mereka tetap enjoy kuliah," terang Eliana.


Aku hanya diam saja tak menanggapi ucapan Eliana yang ku anggap hanya bualan saja.


"Sampai, ayo kita turun!" ajakku membuat mereka berdua berhenti berdebat.


"Asyik, sampai! Kita jalan - jalan ke taman." Eliana segera turun mendahului aku dan Erlin. Dia berlari ke tengah taman kota, sengaja aku membawa mereka ke sini. Karena selain suasananya yang romantis di sini juga terkenal kebersihannya.


"Erlin, benar kamu tak apa - apa dengan cowok otak udang itu?" tanyaku penuh selidik, aku khawatir perasaan nya terluka. Meski itu yang aku mau, tapi aku tak tega melihat dia sedih.


Erlin mengernyitkan dahi seraya menatapku penuh tanya.


"Maksudku, pacar kamu Ciko," terangku kembali.


"Terima kasih sudah perduli terhadapku. Tapi, maaf, aku sangat tidak suka orang lain mencampuri urusan pribadiku." ucap Erlin begitu sombongnya.


"Erlin, sayangku, ketahuilah aku ini bukan orang lain, aku adalah suamimu yang tak pernah kamu anggap." batinku ingin mengutarakan.


"Maaf, maafkan perkataan ku tadi. Anggap aku tadi tak bertanya sesuatu padamu." ujarku yang kemudian turun dari mobil. Erlin sendiri juga turun.


"Kak Samuel, Kak Erlin, ayo kita foto ... cepat le sini!" teriak Eliana seraya melambaikan tangan ke arah kami.


Aku berjajar dengan Erlin menuju tempat Eliana berdiri.


"Andai aku merasakan kencan saat kita menikah dulu."

__ADS_1


Pernikahan macam apa ini? Siapa yang salah di sini? Aku yang mau menerima kamu karena keterpaksaan, atau kamu yang menerima pernikahan ini karena sumpah?


__ADS_2