
Aku sudah sampai di rumah hampir pukul sepuluh lewat, aku meminta maaf pada Erlin dan Eliana, karena akibat ulahku, mereka jadi telat pulang.
"Apa perlu kami membantumu untuk sampai ke kamar?" tanya Erlin.
"Tidak perlu," sahutku singkat lalu aku segera meninggalkan mereka menuju kamar.
Kakek menghentikan langkahku ketika aku baru saja ingin memasuki kamar. Dia bertanya perihal aku dari mana pulang selarut ini.
"Dari cafe Kek," sahutku pelan namun tanpa menatap kakek, aku takut jika wajahku yang lebam terlihat olehnya.
"Bahkan kamu mengencani dua wanita sekaligus, sampai membawanya pulang selarut ini,"
"Maaf Kek, Sam sudah ngantuk, selamat malam!" ujarku tanpa menyahut pernyataan dari nya dan segera masuk ke dalam kamar.
Aku mendesah pelan, melihat pantulan wajahku di cermin. Sudah agak mendingan rasa perihnya, tapi aku tak bisa menyembunyikan bekasnya.
"Bagaimana jika kakek tahu hal ini, pasti nyawa Ciko takkan selamat, aku tak mau itu terjadi." aku menghempaskan tubuhku di atas kasur, badan ini serasa remuk redam. Dan seketika itu aku tertidur pulas.
Keesokan paginya, aku lebih dulu bangun ketimbang semua orang yang ada di rumah itu. Segera berganti pakaian dan pergi. Aku berniat pergi ke Batam, bukannya pengecut tapi lebih tepatnya aku menyelamatkan nyawa musuhku. Seharusnya aku senang jika pria otak udang itu lenyap, tapi aku ingin menyelesaikan urusan sendiri tanpa campur tangan dari kakek.
Pukul 08.00 aku sudah tiba di Batam. Biasanya toko sudah buka satu jam yang lalu, tapi saat aku ke toko perhiasan ternyata masih tutup.
Aku mengecek ponselku, siapa tahu ada kabar dari Tini. Ternyata dugaanku benar, Tini mengabarkan tak bisa membuka toko hari ini lantaran mendadak demam dan pusing. Meski aku jauh di Jakarta, Tini selalu mengirim pesan perihal apa pun yang menyangkut toko.
Aku membalas pesannya, mengabarkan padanya kalau aku pagi ini sudah ada di toko.
Aku mempunyai kunci cadangan, sehingga aku mudah membuka pintu toko. Rencananya, sambil menunggu Tini pulih aku akan menjaga toko. Sekalian menunggu wajahku kembali normal.
Baru saja aku membalas pesan dari Tini, kini kakek meneleponku.
"Sam!" teriak kakek dari seberang sana melalui ponselku.
"Iya Kek, maaf, Sam kini sudah ada di Batam, Tini sakit jadi aku menunggu toko untuk beberapa hari." ujarku beralasan agar kakek tak curiga.
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari kakek? Kenapa mendadak pergi tanpa berpamitan dulu padaku?" tanyanya terdengar curiga.
"Tidak ada Kek, sungguh!"
"Jangan bohong pada kakek!"
"Bener Kek, Samuel tidak bohong,"
"Baiklah, jaga dirimu!"
"Iya Kek, titip Erlin ya Kek," ujarku sedikit berbisik.
"Apa?"
"Hehehe, nggak Kek bercanda kok, ya sudah Kek,"
Aku segera menutup sambungan telepon. Baru buka toko saja, sudah ada dua pembeli datang.
__ADS_1
"Silahkan, mau pilih apa?" tanyaku ramah.
Kedua pembeli itu tersenyum padaku dan menyampaikan apa keinginannya.
Seharian ini aku sibuk melayani pembeli, hingga tak sempat memegang ponsel. Setelah pengunjung sepi, baru aku mencari ponselku.
Puluhan panggilan masuk dari Eliana, terakhir beberapa menit yang lalu. Dan aku pun terkejut, ponselku mendadak berdering. Eliana tak mudah menyerah, dia tetap berusaha menghubungiku.
"Hallo!" sapaku.
"Kak Sam .... Kakak ada di mana? Apa Kakak baik - baik saja? Kenapa Kakak tak mengangkat telepon dariku? Aku sudah 6 jam menunggu kabar dari Kakak." bertubi - tubi pertanyaan ia lontarkan tanpa memberi jeda sedikit pun.
"Eliana, aku sibuk, jadi jangan ganggu aku!"
"Paling tidak, Kak Sam kasih tahu aku, Kakak ada di mana sekarang?"
"Batam, " sahutku singkat.
"Batam? Jauh banget, saat aku tanya ke kakek tentang keberadaan Kakak, kakek bilang Kak Sam lagi meditasi," ujarnya dengan nada cempreng.
"Hah," aku melongo mendengar penuturannya. Bisa - bisa kakek membohongi dia.
"Kapan Kak Sam pulang?"
"Belum tahu,"
"Kok begitu? Apa perlu aku susul Kakak ke sana?" tukas Eliana membuatku benar - benar jengah.
"Kenapa Kak? Kita kan sebentar lagi bertunangan, biar terkesan romantis,"
"Romantis dari Jerman, " batinku kesal.
"Kamu di rumah saja, kalau urusanku kelar, aku akan pulang, tolong jaga kakek!"
Belum selesai dia berbicara aku langsung memutus sambungan.
Aku mendesah pelan, meregangkan otot tangan dan kaki.
"Sudah sore rupanya tak terasa menunggu toko lelah juga, aku ingin istirahat sebentar di vila." ujarku seraya merapikan beberapa perhiasan yang tercecer akibat pembeli yang pilih - pilih tadi.
.
Dua hari sudah aku tinggal di Batam, waktu yang cukup untuk memulihkan penampilanku. Setelah Tini sembuh dari demam aku segera pulang.
Saat aku memasuki rumah, suasana begitu sepi.
"Kemana semua orang?" gumamku seraya mencari sosok kakek yang biasanya muncul begitu saja tanpa aku sadari.
Aku langsung menuju lantai atas, kamar kakek. Setelah pintu aku ketuk beberapa kali, namun tak ada sahutan dari balik pintu.
"Pintu nya tak dikunci," aku memegang handel pintu untuk mengecek sendiri kakek ada di dalam atau tidak, dan setelah terbuka ternyata tak ada orang.
__ADS_1
Aku kembali menuruni tangga dan mencari mami papi ke kamar tamu. Sesampainya di sana, mereka berdua juga tak ada.
"Mami papi juga nggak ada, kemana ya?" gumamku seraya menuju kamar Erlin, tapi tak ada juga.
"Kemana semua orang?" aku ingat dengan CCTV yang aku pasang di kamar mereka, siapa tahu di sana aku mendapatkan petunjuk.
Langkahku sedikit berlari menaiki tangga.
Aku menyalakan monitor, sambil menunggu loading aku menekan kontak nomor kakek, namun sekian detik tak diangkat, ku coba menghubungi Eliana hasilnya pun sama. Layar monitor sudah siap, aku memutar rekaman CCTV 2 hari yang lalu.
Tidak ada percakapan amat penting di kamar kedua mertuaku. Membahas seputar ketidak senang an mereka tinggal di rumah kakek.
"Pi, sampai kapan kita begini terus, mami capek disuruh masak melulu," gerutu mami seraya menghentakkan kedua kakinya bergantian.
"Sabar Mi, papi sebenarnya juga nggak mau seperti ini, tinggal di istana tapi diperlakukan seperti pembantu. Papi terpaksa, saham papi ada di tangan Samuel, jadi kita baik - baik ya padanya agar dia secepatnya bisa mengembalikan saham papi," sahut papi seraya menenangkan hati mami.
"Kan sebentar lagi Samuel jadi suaminya Eliana, berarti kita jadi mertuanya si Sam kan, lebih baik kita perbaiki sikap Eliana agar Sam tidak merubah rencana nya untuk segera bertunangan." jelas papi.
"Tapi Pi, mami capek,"
"Sabar ya Mi, sini papi pijitin!"
Alamak, aku malah melihat keromantisan kedua mertuaku. Segera aku beralih ke tayangan kamar istriku.
"Kak Erlin, Kakak kelihatannya capek banget ya?" tanya Eliana, kelihatan dari penampilannya Erlin baru pulang.
"Iya Dik, Kakak seharian ini nggak ke butik, kakak lagi cari Samsul," terang Erlin membuat jantung ku berdegup kencang.
"Erlin mencariku?" sesuatu yang menggelitik membuat aku tersenyum.
"Sabar ya Kak, andai aku punya foto dia, jadi kita kan enak mencarinya, bisa bertanya pada seseorang atau menempel foto nya di media," terang Eliana.
"Kamu benar Dik, tapi kakak juga tak punya fotonya," Erlin terlihat murung.
Sejauh ini obrolan mereka tak ada sangkut pautnya dengan kakek.
Aku mendesah kasar seraya mengacak - acak rambutku.
Aku khawatir selama aku tinggal, telah terjadi sesuatu dengan mereka. Anehnya juga, semua pengawal kakek juga tak ada yang merespon saat aku telepon.
"Ini rumah benar - benar seperti kuburan," aku beranjak dari kursi lalu keluar kamar menuruni tangga.
Pandangan ku tertuju pada seseorang yang tengah duduk membelakangiku.
"Siapa dia, sepertinya itu bukan kakek?" aku berjalan menuju arah belakang rumah, tepatnya di dekat kolam renang.
"Kakek ..." aku memanggilnya namun orang itu tak menyahut. Aku memegang pundaknya dan setelah aku melihat wajahnya, orang itu adalah ...
Hai reader semuanya yang berbahagia, jangan lupa untuk tetap dukung author tercinta kalian ini. Dengan cara memberi like, hadiah, vote dan jangan lupa komennya. Author takkan berhasil tanpa adanya dukungan dari kalian. Terima kasih...
😘😘😘😘😘😘😘😘
__ADS_1