Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Bertemu Adik Ipar


__ADS_3

"Kakek, sadarlah!” ucapku ketika sampai di kamarnya. Ku usap lembut tangannya yang kisut.


Perlahan kakek membuka mata.


“Sam, sepertinya umurku tidak akan lama lagi.” Sahut kakek dengan suaranya yang parau.


“Jangan berkata begitu, Kakek tidak akan meninggalkan aku, kita baru saja bersua setelah sekian lamanya. Aku sudah berjanji pada Kakek untuk mengantar Kakek bertemu ibu!” ujarku mengingatkan seraya mengusap bahunya.


“Cepat bawa kakek ke rumah sakit!” perintahku, meski kakek menolak aku tetap menyuruh pengawal untuk membopong kakek.


Tiga puluh menit kemudian, kakek sudah berada dalam ruangan IGD.


Setelah dokter keluar, aku segera menghampirinya.


“Bagaimana Dokter, apa ada penyakit yang serius?” tanyaku penuh kekhawatiran.


“Kakek Rama hanya kecapekan saja, beliau mengalami dehidrasi juga. Tapi jangan khawatir, sekarang beliau sedang tidur.” Terang dokter yang membuatku lega.


"Dehidrasi lagi? Seperti awal aku menemukannya." batinku.


Dokter itu segera berlalu, aku pun segera menghampiri ruangan kakek untuk melihat kondisinya.


“Sebenarnya apa yang membuat kakek menjadi begini?” batinku. Seketika itu kakek membuka matanya. Mungkin ia terbangun karena merasakan kehadiranku.


"Kakek sudah sadar?" aku segera menghambur ke arahnya.


"Sam, pulanglah! Aku ingin sendiri di sini." titahnya.


"Kenapa, sebenarnya ada apa dengan Kakek?" tanyaku cemas.


"Aku baik," ujarnya seraya memalingkan muka tak ingin melihatku.


"Baiklah, Kek!" aku menurut saja kemauan kakek. Aku pulang ke rumah karena kakek menolak untuk aku temani.


Keesokan paginya sebelum aku berangkat ke rumah sakit, aku sempatkan untuk mengunjungi pabrik kerupuk uyel. Di sana para pekerja belum pada berangkat, maklum masih pukul 05.00.


Aku berkeliling pabrik seraya menanyakan omset penjualan. Ternyata selama dalam pimpinan pria berkumis, para pekerja harus menyetorkan 70 persen hasil jual per hari. Ini sungguh mencekik leher. Aku bisa merasakannya.


“Berikan 50 persen saja!” titahku pada manager. Tak lama kemudian sejumlah karyawan bermunculan. Manager menyampaikan apa yang aku ucapkan tadi. Mereka tampak senang.


Selesai dari pabrik, aku segera mengendarai mobil menuju rumah sakit. Saat di pemberhentian rel kereta api, pandangan mataku jatuh pada seorang cowok yang tidak asing lagi kalau bukan si otak udang, Ciko. Dia tengah bersama perempuan lain.


“Dasar buaya darat, ternyata dia punya kekasih lain selain Erlin. Itu tak bisa dibiarkan. Akan aku bongkar kedoknya." geram ku.


Seketika itu, suara klakson mobil dari arah belakang mengharuskan aku melajukan mobil.


Aku sampai di rumah sakit dengan rasa yang berkecamuk. Kakek menolak untuk aku ajak pulang. Pasalnya beliau lebih kerasan berada di rumah sakit. Tanda tanya besar mengusik pikiranku. Aku bertanya perihal penyakit kakek pada salah satu pengawal.


"Kakek jika mengingat istri nya akan seperti itu. Menangis sendirian hingga kering air matanya. Minum pun tidak, itulah yang menyebabkan kakek dehidrasi." terang salah satu pengawal setianya padaku.


"Menangis sendirian? Pasti kakek sangat terpukul dengan kehidupannya yang sekarang." terkaku yang pasti benar.


Setelah aku percayakan keamanan kakek pada pengawal, aku pulang sendiri.


Pukul 18.00


Mobilku melaju pelan menyusuri keheningan menjelang petang. Banyak kendaraan berlalu lalang, memacu agar cepat tiba di rumah. Berbagai macam penjual mulai memasang tenda dan menata kursi. Kerasnya hidup, bersyukur aku yang kaya mendadak.


Di tengah perjalanan aku menghentikan mobilku di sebuah masjid untuk segera melaksanakan sholat magrib. Selesai sholat aku segera mengenakan sepatu. Mataku tak henti memandang seorang wanita tua tengah menjajakan jagung bakar. Ku tatap sekelilingku tak ada satu orang pun penghuni masjid yang ingin membelinya. Aku berjalan mendekati pedagang itu, bukannya ingin makan, melainkan merasa kasihan dan teringat emak di kampung, aku memborong semua jagung bakar milik wanita tua itu. Wanita tua itu senangnya bukan kepalang. Dia bergegas mengupas kulit jagung dan menyalakan arang. Setelah semua jagung matang, aku segera membagikan jagung bakar itu ke penghuni masjid. Rupanya mereka suka sekali, apalagi ini makanan gratis.


Aku kini mengendarai mobilku lagi, melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah kakek.


Di tengah jalan, pandangan mataku sedikit kabur, mungkin karena terlalu capek.

__ADS_1


"Ciiiiitttt ...!"


Aku mengerem mendadak dan membanting setir ke arah kiri hingga menabrak sebuah pohon. Kepalaku terhuyung ke depan hingga menatap bantalan setir. Untungnya aku memakai sabuk pengaman, jadi tak terlalu bahaya.


Kerumunan pun terjadi. Aku segera keluar mobil dengan merasa sedikit pusing. Beberapa orang juga membantu aku keluar dari mobil.


"Bagaimana ini?" tanya seseorang yang terdengar panik.


"Kita tunggu polisi datang saja," sahut yang lain.


"Kita panggil ambulan dulu!"


"Kita bawa langsung ke rumah sakit!"


Aku menghampiri mereka yang sedang ribut.


"Ada apa ini?" tanyaku yang ternyata aku baru sadar kalau aku tadi telah menabrak seseorang.


"Lihat, kamu baru saja menabrak seseorang!"


"Kamu harus bertanggung jawab!"


"Tenang - tenang, aku akan bertanggung jawab, jadi kalian tidak perlu cemas!" ucapku menenangkan mereka yang telah menyalahkan aku.


Aku berjalan mendekati sosok tubuh yang tergeletak itu.


"Astaghfirullah, Eliana!" pekik ku tak percaya.


"Mas kenal dengan korban ini?"


"Iya, dia adalah adik ipar saya. Tolong bukakan pintu mobil!" dengan segera aku mengangkat tubuhnya.


"Euh," Eliana perlahan membuka matanya.


"Sakit," keluhnya seraya mencoba turun dari gendonganku.


"Tidak perlu," tolaknya halus. Aku merasa bersalah dan terus mencoba menawarkan dia untuk ke rumah sakit.


"Lihat lukamu, banyak orang melihat di sini, jadi jangan mencoba mempermalukan aku kalau aku akan lari dari tanggung jawab!" ujarku sedikit menggertak. Lukanya terlihat cukup parah, sikut dan dahinya berdarah.


"Baiklah, tapi aku takut jarum," ujarnya dengan memelas.


"Tenang, pihak rumah sakit tidak akan menyuntik kamu jika tidak terdapat luka serius."


Akhirnya dia mengangguk. Aku memapahnya berjalan pelan menuju mobil. Kerumunan pun berangsur memudar.


Saat perjalanan menuju rumah sakit, selama di mobil aku lebih memilih untuk diam, meski aku tahu siapa dia.


"Maaf Kak, aku jadi merepotkan, andai tadi aku tak melamun saat menyeberang, pasti takkan begini jadinya," dia mulai angkat bicara memulai obrolan.


"Hmm," dehemanku menyahut obrolannya.


"Apa nanti aku benar - benar tak disuntik?"


"Aku akan menjamin itu, atau aku perlu membawa kamu ke rumah sakit yang ada di luar negeri?" sahutku sedikit kesal juga.


"Syukurlah, tak perlu jauh - jauh, ke rumah sakit terdekat saja," terlihat dari kaca spion mobil dia mengelus dada seraya meniup sikutnya yang luka.


Ku lihat di sampingku ada sisa jagung bakar, aku menawarinya.


"Mau jagung bakar?" Aku menyodorkan sebuah untuknya.


"Mau," dia langsung menyerobot. Dan dengan cepat menyantapnya.

__ADS_1


"Sudah dingin, tapi tak apalah, dari pada aku kelaparan," ujarnya sambil makan.


"Mengapa kamu tadi melamun?" tanyaku, tak enak juga terlalu lama mendiaminya.


"Aku baru saja kecopetan, semua isi dompetku diambil." dia menghentikan aktivitas makannya, setelah selesai menyahut dia melanjutkan makan.


"Ponsel, kartu ATM, uang 500 ribu, dan masih banyak kartu ku yang lainnya,"


"Alamak, cerewet juga nih bocah," batinku.


Dia banyak bercerita padahal aku hanya sedikit bertanya.


Tak terasa kami pun sampai di rumah sakit.


Saat berada di ruang pasien.


"Dokter, aku tak disuntik kan?" tanyanya lagi.


"Tidak, hanya lecet saja, setelah minum obat, lukanya pasti akan cepat kering," terang dokter yang kemudian segera keluar ruangan untuk memeriksa pasien yang lain.


"Benarkan yang aku katakan tadi?" ujarku.


"Benar Kak, eh dari tadi kita kok memanggilnya aku kamu, kenalkan namaku Eliana, Eliana William," dia dengan posisi duduk di atas ranjang pasien mengulurkan tangannya.


"Hemm," sahutku hanya berdehem. Dia menurunkan tangannya kembali.


"Ini sudah malam, dokter bilang, kamu sudah boleh pulang."


"Tapi, aku tak punya uang untuk naik taksi,"


"Tenang, aku akan mengantar kamu pulang!"


"Benarkah?" dia membelalakkan matanya lebar seakan tak percaya dengan ucapanku.


Selesai mengurus administrasi, aku mengantarnya pulang.


"Eh, Kakak kok tahu alamat rumahku?" tanya Eliana ketika aku mulai masuk gang rumahnya.


"Alamak, aku lupa kalau aku ini adalah Samuel!" batinku.


"Em, itu, aku hanya menerka saja," sahutku.


"Apa kita sebelumnya pernah bertemu?" tanyanya kemudian.


"Belum, dan tidak sama sekali." aku sedikit gugup merespon.


Dia diam tampak berfikir.


"Yang mana rumah kamu?" tanyaku alih - alih menghilangkan kecurigaannya.


"Di sana, yang terdapat lampu gantung!"


Aku turun terlebih dahulu dan memapah dia menuju pintu rumahnya. Jalannya sedikit pincang.


Dari dalam rumah, keluar seorang wanita cantik berkulit putih. Penghuni rumah itu jelas keluar setelah mendengar suara mesin mobil.


"Alamak, Erlin!" Dia yang membukakan pintu.


"Adik, kamu kenapa bisa ada tempelan di sini, di sini dan ini juga!" Erlin memijat sikut dan dahi. Sontak Eliana menjerit, hingga seisi rumah keluar.


Ada mami dan papi.


Aku menerangkan kronologi kejadiannya dan bertanggung jawab penuh atas insiden ini. Papi dan mami meminta aku untuk menanggung semua keperluan dan kebutuhan Eliana selama sakit.

__ADS_1


"Kita sepertinya pernah bertemu?" Erlin menatapku intens.


"Maaf, ini sudah malam saya harus segera pulang." ucapku pamit undur diri.


__ADS_2