Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Panggil Saja Aku Sam


__ADS_3

Keesokan paginya, sebelum aku menjenguk kakek, aku menyempatkan menjenguk Eliana. Ku bawakan dia buah - buahan, terutama leci, dia sangat menyukainya dan sebuah buku novel yang aku khusus kan untuk Erlin.


"Selamat pagi!" sapaku saat aku menjumpai dia sedang sarapan.


"Pagi Kak!" sahutnya.


"Bagaimana keadaan kamu, perlu diantar ke rumah sakit lagi?" ujarku seraya menunjukkan oleh - oleh yang aku bawa.


"Tidak Kak, wah, buah leci, bagaimana Kakak bisa tahu kalau aku suka leci?"


"Benarkah, aku hanya asal beli saja,"


"Ke mana semua orang kok sepi?" malah jadi aku yang cerewet.


"Papi sudah ke kantor, mami lagi ada acara arisan, kak Erlin lagi sibuk di butik,"


"Lah, kamu sendirian dong?"


"Nggak Kak, ada pembantu,"


"Oh, yang bukain pintu tadi ya?" dia hanya mengangguk.


"Aku belum tahu nama Kakak siapa?"


"Panggil saja aku Sam!"


"Kak Sam, aku haus, tolong ambilkan aku minum, aku mau air dingin!" ujarnya yang terdengar memerintah. Aku berjalan menuju kulkas yang tak jauh dari dia. Kembali dengan segelas air dingin.


"Terima kasih,"


Kami semakin akrab saja, selama tiga hari aku mengunjunginya. Dan memastikan dia baik - baik saja.


.


Setelah tiga hari kakek berada di rumah sakit, akhirnya dokter mengizinkan kakek pulang.


“Sam, aku ingin makan sate kelinci!” tuturnya saat aku melajukan mobil ke jalan raya.


“Iya, nanti aku cari kan restoran yang menjual sate kelinci.” sahutku datar.


“Tidak, jangan ke restoran, aku bosan, di pertigaan nanti ada warung, nah di situ ada warung yang menjual sate kelinci. Kamu berhenti di sana!” terangnya seraya menunjuk ke arah depan.


“Baik Kek,” sahutku.


Seperempat jam kemudian mobilku berhenti di sebuah warung kecil namun tampak ramai.


Dua porsi sate kelinci sudah ada di meja sekarang.


Tak menunggu lama, kakek pun siap menyantap makanan itu dengan lahap.


“Kakek senang?”


“Tentu Sam, ini adalah menu kesukaan nenek kamu Shinta, sudah lama aku tak menikmatinya.” Ujarnya terdengar pilu.


Aku bisa menarik kesimpulan, kakek mengalami tekanan batin mengingat orang – orang yang dulu pernah mengelilinginya. Andai aku bisa mengubah takdir untuk menemukan nenek Shinta.


“Ngomong – ngomong, nenek Shinta tinggal di mana?” tukasku.


“Di sini,” kakek menunjuk dadanya.


Aku menepuk jidat, “Maksudku dia berada di mana sekarang?” tanyaku yang mengubah mood kakek.


“Aku tak tahu Sam, terakhir dulu dia pergi ke kota Malang.” terangnya seraya melanjutkan makan.


“Apa kakek tak pernah ke sana?”


“Dia mengancam, jika melihat aku dia akan mati, aku tak mau itu terjadi.”


“Baik Kek, lanjutkan makan, aku akan ke swalayan seberang untuk membeli botol air mineral.” Aku segera berdiri.


“Kamu nggak makan, kalau begitu ini buatku,” kakek mengambil piring punyaku.


“Ambil saja!”

__ADS_1


Aku segera menuju swalayan. Setelah dua botol air mineral berada di tangan aku segera menuju kasir. Pembayaran sudah aku selesaikan saatnya menemui kakek.


“Kak Sam!” teriak seorang gadis yang tak asing lagi, suaranya yang begitu cempreng menandakan itu Eliana.


Aku menoleh.


"Kamu sudah sembuh, kaki kamu tak sakit lagi?"


Dia hanya tersenyum sambil menggeleng.


“Kita berjumpa lagi Kak, oh iya, ini aku sudah punya ponsel baru.” tutur Eliana seraya menunjukkan ponselnya.


“Kak, kita tukar nomor yuk!” pandainya dia yang cepat akrab.


Baru saja aku mengeluarkan ponsel, dengan cepat dia merebutnya dariku.


“Alamak, gadis ini pedenya selangit.” gumamku.


“Apa kodenya?”


“S ,” Setelah itu dia menekan nomornya.


“Nah, ini Kak!” dia menyerahkan ponselku. Aku menerimanya dan memasukkan lagi ke saku celana.


“Kamu dengan siapa?” tanyaku seraya berkeliling berharap bertemu Erlin.


“Sendiri Kak,” sahutnya cepat.


“Ogh, cepat pulang, nanti kamu di cari mami !” usir ku.


“Ih Kak Sam, mirip deh sama kak Erlin, baru saja keluar rumah sudah disuruh balik.” gerutunya sambil cemberut.


Aku mencubit hidungnya yang pesek. Dia memekik kesakitan.


“Kamu nggak sekolah?” tanyaku seraya mengamati penampilannya.


“Aww, sakit Kak! Apa aku masih terlihat anak sekolahan, aku sudah kuliah Kak Sam ...”


“Oh iya aku lupa, maaf, habisnya kamu terlalu imut untuk jadi anak kampus.”


“ Kak Sam sendiri lagi beli apa?” tanya Eliana.


“Beli air,” sahutku singkat, males juga meladeni bocah ini.


“Kalau aku lagi beli sabun mandi, shampo, roti,” terangnya.


“Siapa juga yang bertanya,” gerutuku.


“Eh, apa Kak?”


“Aku mau pulang.” ujarku seraya melangkah pergi. Dia mengekor bahkan berjalan mendahului aku.


“Mau kemana?” tanyaku seraya mengernyitkan dahi.


“Pulang,” sahutnya enteng.


“Naik apa?” tanyaku memastikan kalau dia tak bermaksud ingin bareng sama aku.


“Naik mobil Akak lah,”


“Eh, nggak bisa! Aku sedang bersama kakek.”


Aku mempercepat langkahku tanpa memperdulikan lagi teriakkan nya.


.


Minggu pagi rencananya aku ingin berlatih boxing. Badanku hampir mendekati kata kekar. Tiba – tiba ada whatshap dari gadis imut. Eliana sendiri yang menamakan kontak nomornya. Aku tersenyum tipis. Dia meminta ku untuk berkunjung ke rumahnya. Ini kesempatan untuk masuk lagi ke dalam keluarga William.


Pukul 09.00


Aku yang mengenakan setelan sweater dan celana jeans dengan perpaduan topi abu – abu segera meluncur ke kediaman William.


Dalam jendela mobil ku lihat dua wanita tengah bercengkrama di teras rumah yang dulu menjadi saksi ketidakadilan penghuninya padaku.

__ADS_1


Apa kata mereka jika tahu kalau aku telah mengubah takdir dari Samsul yang buluk dan tompelan menjadi Samuel yang tajir melintir?


Ku parkir mobil lalu segera turun.


“Kak Sam!” seru Eliana sambil berjingkrak ria.


Ku lihat wajah istri cantikku penuh tanda tanya.


“Eliana, kenapa dia ke sini?" tanya Erlin yang juga ikut berdiri.


“Oh iya, selama Kak Erlin dan semua orang yang ada di rumah pergi, Kak Sam selalu datang menjengukku, dia perhatian banget. Dia membawakan buku novel juga, kan kemarin lusa Kak Erlin menerimanya dariku, nah itu dari kak Sam,"


Aku masih diam mematung.


Sedangkan Erlin terlihat seperti salah tingkah.


“Kita bertemu lagi,” ujarnya.


Aku sok jual mahal.


“Maaf, apa kita sebelumnya pernah bertemu?” tanyaku sedikit memancingnya.


“Ya, hampir dua kali.”


“Ah, Kak Erlin salah orang mungkin,” Eliana menarik tanganku , ”kenalkan Kak Sam, ini kakak perempuan ku!”


Aku mengulurkan tangan menuruti permintaan Eliana.


“Samuel Ramadhan, panggil saja aku Sam.” Ucapku.


“Samsul Ramadhan?” pekiknya.


“Bukan Kak Erlin ... tapi Kak Samuel,” sela Eliana.


“Maaf, nama kamu mengingatkan aku dengan seseorang. Aku Erlin. Tapi tunggu, wajahmu sangat mirip dengannya hanya saja ada tanda yang hilang.” Erlin mulai menatapku intens.


“Sungguh? Berharga kah dia sampai kamu mengingat seseorang yang bernama Samsul itu?” selidik ku.


“Ah, kalian berdua ngobrol apa sih!” Eliana menarik tanganku memaksakan aku masuk ke dalam rumah. Sempat ku tangkap mimik wajahnya yang sendu. Apakah selama aku pergi dia mencemaskan aku?


Eliana mempersilahkan aku duduk. Tak lama kemudian mertuaku datang.


“Pi, Mi, Kak Samuel sudah datang!" seru Eliana saat aku berada di ruang tamu. Ku lihat lagi wajah bengis kedua mertuaku yang datang dari lantai atas.


“Selamat pagi, Om, Tante!” sapaku seraya berdiri.


"Pagi, silahkan duduk kembali!" titah papi.


Kami berbincang – bincang seputar pekerjaanku dan latar belakang kehidupanku.


“Bagus, kamu kriteria calon menantu yang selama ini mami idamkan.” Ujar mami yang membuatku kaget.


“Bukan calon suami, Mi, kami baru saja berteman.” Tukas Eliana yang sedikit ngotot.


“Dia pria kaya, sudah kaya punya tambang emas pula, cocok lah jika bersanding denganmu.” Imbuh papi.


Seketika itu Erlin berjalan melewati ku. Sepertinya dia mendengarkan pembicaraan kami.


Aku sendiri tak mudah terpancing dengan omongan papi. Cih, mudah sekali dia berkata. Dia belum tahu apa jika kedatanganku kali ini untuk membalas sakit hatiku.


Erlin duduk berjajar dengan Eliana.


“Apa Papi tak merasa malu jika menjual putri sendiri pada orang yang baru dikenal?” tukas Erlin pedas.


“Jaga ucapan kamu Erlin!” bentak papi. Rasanya geram sekali, istriku dibentak di depanku.


“Mending pilihan Eliana tepat, sudah tampan kaya pula nggak seperti pilihan kamu, sudah buluk miskin pula.” Imbuh mami membuat darahku terasa mendidih.


"Pilihan yang mana Mi, bukannya pacar kak Erlin kak Ciko ya, " celetuk Eliana.


Eliana belum tahu kalau Erlin sudah menikah dengan Samsul, tahunya Samsul adalah pembantu.


"Mami ceritakan ya, kakak kamu ini sudah menikah dengan pembantu yang sudah mami usir dulu!" terang mami mengingatkan rasa sakit di hati.

__ADS_1


Eliana melongo mendengar tuturan mami.


“Jadi kalian lebih senang memiliki menantu yang kaya, tapi coba kita lihat setelah ini, aku akan membuat kalian hancur.” batinku membara.


__ADS_2