
" Maaf, Erlin, aku tak bisa!" Aku menarik tanganku dan segera melangkah lebar menyusul Eliana. Meninggalkan Erlin dengan pemikirannya yang salah, dia mematung dan tak berani meneriaki namaku. Aku sudah bersama Cemplon dan Eliana sekarang. Menemani mereka berdua menikmati es krim.
"Papa mau es krim rasa apa, biar Cemplon pesankan!" ujar Cemplon seraya menjilati lelehan es krim di tangan.
"Kamu duduk saja Nak, biar papa ambil sendiri." Aku menahan bahunya.
Tak begitu lama kemudian, Erlin datang.
"Loh Kakak baru sampai?" tanya Eliana yang baru menyadarinya. Sejak tadi Eliana sibuk dengan ponselnya.
"Iya Dik, kakak lagi nyari calon suami nih buat kamu." celetuk Erlin yang berhasil membuatku melotot. Erlin tak main - main dengan ucapannya.
"Ih, Kakak apaan sih, aku baru sampai ke Indonesia, Kakak sudah ngomongin jodoh. Aku belum siap!" tolak Eliana tanpa menanyakan siapa calon suami yang Erlin maksudkan.
Erlin segera duduk di sampingku.
"Aku yakin jika kamu tahu siapa dia, kamu takkan bisa menolaknya." ujar Erlin dengan keyakinannya seraya melirik padaku. Senyuman kecil yang menusuk hati.
"Enggak mau ah, meski aku belum punya pacar, Kak Erlin tidak perlu repot - repot mencarikan jodoh untukku. Aku bisa cari sendiri.
"Cemplon, papa nggak jadi makan es krim, mendadak perut papa mules. Papa langsung tunggu di parkiran ya!" ujarku menahan rasa sesak. Aku merasa jengah dengan sikap Erlin barusan.
"Iya Pa!" sahut Cemplon singkat tanpa rasa curiga dan segera mempercepat makan nya.
Erlin hanya mampu menatap ku tanpa melarang ku agar tak pergi.
"Kalian habiskan es krimnya cepat ya!" ujar Erlin kemudian dan segera beranjak dari tempat duduk bergegas menyusulku setengah berlari.
"Sam! Tunggu!" teriak Erlin.
Erlin berhasil menghentikan ku dengan menarik tanganku.
"Kamu marah?" tanyanya tanpa dosa. Dia pikir aku ini manusia terbuat dari apa, tentu saja aku marah, masih bertanya begitu.
Aku hanya diam dan cuek.
"Sam, perhatikan aku, ini tidak sulit seperti yang kamu bayangkan!"
"Erlin, mau kamu apa sih, belum puas kamu tanpa sadar telah menusuk hatiku. Kamu melukai perasaanku!" bentakku keras.
Erlin terdiam dan tampak berpikir. Mungkin kata-kataku mampu menghancurkan keinginannya yang gila.
"Oke, maafkan aku. Aku takkan memaksa kamu lagi!" Erlin mendekatiku dan perlahan tangannya mengusap dadaku dengan lembut. Menetralkan rasa marah yang berkecamuk.
"Kita belum makan siang, kasihan Cemplon, hanya makan es krim tak kan membuatnya kenyang." ujar Erlin. Akhirnya dia sadar dengan perkataannya tadi seketika itu juga.
__ADS_1
Cemplon dan Eliana menyusul, aku memutuskan untuk makan siang di sebuah resto terdekat sebelum pulang. Selama makan, Erlin tak berulah lagi dengan permintaannya. Aku lega sekarang. Biarlah seperti ini keadaannya.
"Kalian sudah kenyang, baiklah kita pulang sekarang!" ajakku.
Kami sudah berada di tempat parkir. Aku membuka bagasi dan membantu Eliana memasukkan koper. Memutar dan masuk ke arah kemudi.
Segera ku menyalakan mesin dan membelah lalu lalang jalan raya.
"Dik, kamu berani tinggal di rumah sendiri?" tanya Erlin seraya menoleh ke arah belakang. Kedua orang tuanya sedang tak ada di rumah. Mereka sedang ada acara di rumah saudara yang ada di luar kota.
"Papi mami belum pulang?" tanya Eliana yang terlihat masam dari kaca spion.
"Belum, kata mereka mungkin 3 atau 4 hari di Bekasi." sahut Erlin.
"Padahal mereka berdua janji bakal ada di rumah saat aku pulang," Eliana terdengar mengeluh dan kecewa.
"Bagaimana kalau kamu sementara tinggal bersamaku, kamu tak keberatan kan Sam ?" tiba-tiba Erlin memutuskan tanpa berunding dulu denganku.
Mau tidak mau aku setuju saja.
"Bagaimana Dik?"
"Tante menginap saja di rumah kakek, ntar Cemplon ajak mainan robot-robotan deh, Cemplon bosan main sendirian," rengek bocah yang tak botak lagi itu.
"Sam, ngomong dong!" bisik Erlin.
"Iya Eliana, kebetulan juga kakek sedang tak ada di rumah, beliau menginap di vila, jadi kamu tinggal di rumah kakek untuk beberapa hari kedepan, sekalian kamu bisa menemani Cemplon belajar dan bermain." terangku.
"Tuh kan, kak Sam saja setuju, mau ya Dik," rayu Erlin.
"Ba-baiklah kalau kalian memaksa." Eliana setuju juga akhirnya.
"Hore, aku bakal main sepuasnya sama tante cantik!" sorak Cemplon kegirangan.
"Ah, kamu Cemplon bisa saja, aku jadi malu!" Eliana tampak senyum -senyum.
"Alamak, kenapa aku jadi terlalu memperhatikan Eliana, sudah jelas aku tak ada rasa lagi dengannya! Ini gara-gara Erlin menyudutkan aku." gerutuku dalam hati.
Sekian menit kemudian, kita sampai di rumah kakek.
"Nah, Eliana kamu masuk saja dulu, biar pelayan yang mengantar koper kamu." kataku.
"Iya Kak Sam, terima kasih!" sahut Eliana yang segera menyusul Erlin yang lebih dulu masuk.
"Tante, nih Cemplon punya mainan baru, kita main yuk!" ajak Cemplon seraya menenteng tas berisi mainan.
__ADS_1
"Cemplon Sayang, tante masih capek, besok saja ya mainnya," tegur Erlin.
Cemplon tertunduk lesu.
"Ah, Kakak, nggak terlalu capek juga kok, nggak apa-apa, ayo kita main!" ujar Eliana.
"Tapi kan kamu baru tiba," Erlin sangat perduli dengan adiknya, namun Eliana tak mengindahkan perkataan kakaknya.
Mereka berdua main bersama di ruang keluarga.
"Sam, tuh anak kamu sudah pindah ke lain hati." ujar Erlin seraya melipat tangan di depan dada.
"Yah, namanya juga anak -anak, biarlah mereka bermain, kalau capek entar mereka bakal istirahat sendiri tanpa diminta. Yuk, kita ke atas!" ajakku seraya merangkul pundaknya.
"Bentar, aku kasih tahu Eliana dulu dimana dia akan tidur malam ini."
Erlin menjauh dariku dan menerangkan pada adiknya, kalau kamarnya ada di lantai atas. Bersebelahan dengan kamar Cemplon.
"Kok kamu minta Eliana pindah ke lantai atas?" setahu ku kamar tamu baik-baik saja tak sedang di renovasi.
"Nggak apa-apa Sam, kalau aku lagi pingin curhat sama adikku, biar deket ngobrolnya, nggak perlu naik turun tangga." terang Erlin.
"Ooooh, ayo!" aku mengajaknya untuk istirahat.
Malam pun tiba, desiran angin malam mengusik tidurku. Aku sudah terpejam satu jam yang lalu karena terlalu lelah. Menyadari tanganku menggapai ranjang kosong, aku segera bangkit untuk melihat sekitar kamar. Tak kutemukan sosok istriku.
"Pasti Erlin di kamar Eliana," Gumam ku seraya menurunkan kaki hendak ke kamar kecil.
Tak butuh waktu lama aku kembali seraya mengusap kedua telapak tanganku.
Ku lihat Erlin sedang memainkan ponselnya dan tangan sebelahnya memegang segelas air. Kebetulan sekali aku sangat haus.
"Erlin, kamu sedang apa, serius amat?" tegurku lembut.
"Ini lagi bantuan cari lowongan kerja buat Eliana," sahutnya tanpa memandangku.
"Eliana mau cari kerja?"
"Iya, nih ada beberapa lowongan namun tak ada yang cocok."
"Aku haus, bagi dong minumannya!" aku mengambil paksa gelas di tangannya.
"Jangan Sam, itu bukan ...!"
Sangking hausnya aku tak menghiraukan teguran istriku.
__ADS_1