Suami Bulukku Mendadak Tajir

Suami Bulukku Mendadak Tajir
Aku Berlomba dengan Istriku


__ADS_3

Tak terasa aku dan kakek sudah sampai di kepulauan Riau. Perjalanan yang sangat jauh. Aku habiskan waktu untuk tidur selama perjalanan dan hanya terbangun saat kakek bertanya padaku.


“Sam, bangun!” kakek menggoyangkan lenganku.


“Sudah sampai ya?” aku mengucek kedua mataku seraya bangkit dan mengekor kakek menuju vila.


Selesai sholat subuh aku merebahkan tubuhku di atas kasur. Perjalanan jauh membuatku terasa lelah.


“Sam, bangun! Jiwa pemalas harus kamu singkirkan jika ingin menjadi orang yang sukses.” Kakek tiba – tiba berada di sampingku. Dengan segera aku bangkit.


“Iya Kek,” sahutku malu.


“Kita akan segera menuju lokasi tambang emas, siapkan dirimu.” Kakek melangkah pergi, “ dan jangan tidur lagi!” sambungnya membalikkan badan ke arahku. Aku hanya cengengesan saja.


Matahari masih enggan menampakkan sinarnya. Sepanjang jalan terlihat dedaunan masih basah, menandakan semalam hujan deras.


Kakek tak henti – hentinya memberikan nasehat seputar kiat menjadi orang sukses padaku.


“Kakek, adakah kiat untuk memikat hati istri?” tanyaku membuat kakek menutup paksa buku yang sejak tadi ia baca. Kakek melepas kacamatanya. Terlihat jelas sayup matanya yang renta.


“Sam, meski aku kurang berpengalaman menghadapi wanita setidaknya ini bisa menjadi masukan untukmu. Istri akan tetap selamanya menjadi istri, tapi jika hatinya belum bisa kamu dapatkan apalah artinya semua yang ada di dunia ini. Intinya, perjuangkan cintamu, cinta sejati kadang kala hadir tanpa kita sadari dari seseorang yang kita cintai.” Terang kakek.


“Baik Kek, tapi aku masih ragu, pantaskah aku untuknya?”


“Pantas atau tidak pantas diri kita, hanya cintalah yang mampu membuktikannya.”


“Lalu bagaimana dengan Kakek sendiri, maksudku masalah tentang cinta sejati?”


“Shinta, ya itulah nama nenekmu, semenjak aku mengusir Daffa dari rumahku, nenekmu juga meninggalkan aku seorang diri. Aku terlalu serakah dengan harta, hingga tanpa menyadarinya aku kehilangan orang – orang yang aku cintai. Entah dia masih hidup atau tidak, kakek sudah lama tak mendengar kabarnya.” terang kakek seraya mengusap air mata yang keluar meski belum jatuh.


Aku menunduk menyelami perkataan kakek.


“Erlin, tunggu aku, dan pastikan aku kembali.” janjiku dalam hati.


Hampir dua jam perjalanan, kita sampai di lokasi penambangan.


Kakek menerangkan bagaimana caranya berbisnis. Sekelompok orang – orang yang berpakaian serba hitam membawa koper. Koper itu di tukar dengan beberapa logam emas.


Pemilik koper setelah menerima bongkahan emas segera meninggalkan area itu.


Aku dengan cepat mempelajari caranya.


“Kakek, bagaimana kalau aku membuka usaha sendiri?” tanyaku mencoba menawarkan ide.


“Bagus itu, usaha seperti apa yang ingin kamu miliki? Kakek akan memberikan modal.”


“Aku ingin memiliki toko emas murni dari tambang emas ini. Jadi kita cari seseorang yang ahli merancang emas. Nah, dengan begitu penghasilannya semakin meningkat karena harga jual emas yang bagus.” terangku. Kakek masih diam tampak berpikir.


“Kalau itu maumu, kakek setuju saja. Kapan kamu memulainya?”ujarnya kemudian membuatku semakin yakin merintis usaha sendiri.


“Lebih cepat lebih baik,” ujarku penuh semangat.


Seminggu kemudian, sebuah toko emas berdiri di kota Batam. Aku menjual berbagai perhiasan. Aku memiliki karyawan baru dia bernama Tini, temanku dari desa. Dan beberapa karyawan lain yang membantu Tini. Kebetulan saat aku mengunjungi emak di desa tempo hari bertemu dengannya. Tini bilang dia ingin pekerjaan, dan inilah pekerjaan dia menjual perhiasan di toko milikku. Toko ini ku beri nama ‘ Ramadhan Jaya ‘ dan semoga selamanya jaya seperti namanya.


Banyak yang bilang perhiasan di tempatku harganya tak terlalu mahal dan lokasinya mudah terjangkau. Jika usahaku berhasil aku akan membuka cabang di kota Jakarta. Siapa tahu istriku suatu saat nanti mau mengelola toko tersebut.

__ADS_1


Padahal Erlin begitu membenciku, namun hatiku terasa sulit untuk mencoba melepasnya.


.


“Sam, bagaimana usahamu?” tanya kakek saat aku menuruni tangga.


“Alhamdulillah, lancar Kek. Tini setiap hari mengirim laporan keuangan padaku. Dan rencananya setiap akhir bulan aku akan ke Batam untuk mengecek sendiri laporan hasil penjualannya.” terangku.


“Bagus, apa temanmu Tini bisa dipercaya?” tanya kakek terlihat ragu.


“Tenang saja Kek, meski dari desa, Tini temanku yang cukup pandai di kelas waktu itu dia orangnya baik kok. Tidak banyak tingkah, meski penampilannya ndeso tapi otaknya tak kalah dengan orang kota. Jadi, Kakek tidak usah cemas.” Hiburku menyakinkan beliau.


Tini bertempat tinggal tak jauh dari rumahku. Sejak kecil kita selalu bersama hingga kita SMA.


“Bagaimana dengan pekerjaan kamu?” tanya kakek mengubah topik pembicaraan.


“Baik, tidak ada masalah, hanya saja aku perlu sendirian untuk memecahkan masalah rumah tanggaku.”


“Cucuku Samuel, jika kalian berjodoh, entah kapan pun dan di mana pun itu kamu berada, cintamu akan datang dengan sendirinya. Percayalah!” ujar kakek memberiku dukungan untuk mempertahankan rumah tangga yang selama ini Erlin abaikan.


“Kakek, aku izin keluar sebentar,” pamitku seraya menyodorkan tangan untuk salim.


“Keluarlah, sudah sepatutnya anak muda seperti kamu bersenang – senang di hari libur ini!”


“Terima kasih Kek,” lalu aku segera mengenakan kacamata dan menuju garasi. Kacamata inilah yang selama ini menambah kepercayaan diriku semenjak operasi.


Aku meluncurkan mobilku ke sebuah pabrik kerupuk uyel yang dulu sempat aku singgahi. Menemui bagian kepala produksi. Setelah bernegosiasi cukup lama aku menawarkan sejumlah uang yang cukup banyak untuk membeli pabrik itu. Setelah uang mereka terima, pabrik kerupuk uyel sudah sah menjadi milikku.


Ku datangi seseorang yang dulu pernah memecatku. Orang berkumis itu tengah membentak seorang karyawan.


“Siapa kamu dan mau apa, sana pergi!” bentaknya pada aku.


Aku hanya diam seraya bersendekap.


Orang berkumis itu terus saja mengoceh tiada henti.


“Anda saya pecat!” ujarku menyela pembicaraannya.


Manager pabrik mendatangi tempat ku seraya membenarkan perkataan ku. Orang berkumis itu menyangkal.


“Bagaimana bisa kamu memecatku sedangkan aku sudah lama berada di sini?” tanyanya seraya melotot.


“Karena aku yang membeli pabrik ini.” terangku membuat pria berkumis itu bergetar. Dia tetap tak percaya dengan apa yang aku katakan hingga manager memperlihatkan bukti perihal jual beli pabrik.


Bisnis kedua ku ini tanpa sepengetahuan kakek. Biarlah, aku jalani sesuai keinginan ku.


Selesai membeli pabrik kerupuk aku menuju tempat pacuan kuda. Di sana aku dengar ada perlombaan bebas. Siapa tahu di hari Minggu ini keberuntungan berpihak padaku.


Sesampainya di sana. Aku segera mengenakan peralatan lengkap untuk berkuda. Menunggangi kuda yang selama ini aku gunakan untuk berlatih. Peserta kali ini cukup banyak. Di antara mereka ada 3 peserta wanita.


Perlombaan pun di mulai. Peserta lomba kini memacu kudanya agar berlari sejauh mungkin.


Kuda ku berlari sangat cepat hingga berhasil menyusul peserta lain.


Selang beberapa detik kemudian, kuda putih berhasil menyusulku. Putaran tinggal satu lagi.

__ADS_1


“Aku tak boleh kalah, akan aku tunjukkan pada kakek kalau aku juga bisa menang.” ucapku menyemangati diri sendiri.


“Peserta wanita dengan kuda putih itu cukup gesit juga.” Aku mengayunkan kakiku cepat menepuk kuda agar menambah kecepatannya.


“Yeah ...!” seru seseorang yang berhasil masuk garis finis.


“Sial, aku gagal. Tak apa, lain kali aku pasti menang. Siapa peserta itu?” batinku penasaran. Pasalnya dia seorang wanita, bagaimana dia sehebat itu?


Saat pengumuman pemenang, peserta itu membuka penutup kepalanya.


“Erlin!” seruku tak percaya, jadi sedari tadi aku berlomba dengan istriku sendiri. Ada rasa yang menggelitik sehingga aku tersenyum.


Aku melepas peralatan berkuda. Sepertinya dia lupa denganku atau memang dia acuh. Ku sengaja menghampiri dia.


“Selamat atas kemenangan kali ini. Tapi kita lihat perlombaan bulan depan, aku pasti akan mengalahkan kamu.” ucapku seraya menyodorkan tangan penuh semangat.


Dia tersenyum, sungguh manis sekali beda dengan dulu yang selalu cemberut di depanku.


“Oke aku terima tantanganmu!” sahutnya seraya menerima uluran tanganku.


Dua kali ini aku menyentuh kulitnya. Pertama dulu saat acara ijab kabul, dia mencium punggung tanganku.


“Sepertinya kita pernah bertemu,” ujarnya seraya melepas tangannya.


“Benar, bahkan kita pernah tinggal serumah,” batinku.


Aku hanya tersenyum menanggapinya.


Dia membalikkan badan setelah seseorang memanggilnya.


“Erlin, maafkan aku datang terlambat sehingga aku tak bisa melihat kamu berlomba.” Ujar Ciko.


“Cih, pria berotak udang lagi.” gerutuku kesal.


“Itu tak masalah, baik ada kamu atau tidak aku pasti menang.” ujarnya seraya menatapku. Seolah peryataan itu ia tujukan padaku.


Ciko melihat ke arah apa yang Erlin lihat.


“Kamu lagi!” pekiknya seraya menatap mataku.


“Tuan Samuel, kami menemukan kakek dalam keadaan pingsan di ruang tamu.” terang seorang pengawal yang menyusulku membuat aku membelalakkan mata.


“Apa yang terjadi, sudah memanggil dokter?” tanyaku panik.


Erlin dan Ciko menatapku dengan penuh tanya.


“Siapa dia?” tanya Erlin penasaran, suaranya masih sempat ku dengar.


“Dia adalah cucu pemilik pacuan kuda ini.” terang seseorang yang ku tahu penjaga tempat ini.


Aku segera pulang dengan mengendarai Lamborghini.


Bersambung ...


Hai reader, sampai episode ini udah author revisi loh, semoga tak mengecewakan ya ... 😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2