
"Al, pulang bareng aku yuk,"
"Al, jangan kacangin aku terus dong,"
"Temenin aku main basket yuk,"
Alana menghentikan langkahnya, memutar badannya menghadap lelaki yang sedari tadi selalu mengikutinya.
"Aldi, bukannya Alana sombong selalu ngacangin Aldi. Tapi udah saatnya Alda menjauh karena Alana udah punya pacar,"
Aldi membelakkan matanya.
"Ha? Siapa pacar kamu, Al? Si ulet bulu?"
Aldi memang selalu memanggil Raka dengan sebutan ulat bulu, karena ia selalu mendekati Alana, padahal Alana bukan miliknya.
"Bukan," jawab Alana membalikan badannya dan berjalan.
"Siapa lelaki yang buat kamu luluh Al? Selama ini aku selalu kamu tolak,"
Alana menghela nafas panjang.
"Aldi, Alana akui kalo kamu itu tampan, siapa sih yang gak mau sama kamu. Kamu banyak fans, cewek pada ngejar kamu, tapi kenapa Aldi selalu ngejar Alana yang jahat selalu ngusir Aldi?"
Aldi memegang bahu Alana, menatap Alana dalam.
"Al, kita gak tau cinta berpihak sama siapa. Cinta datang tanpa kita duga, aku juga ngga tau kenapa selama ini aku lebih memilih mengejar kamu. Karena buka hati ngga segampang membalikkan telapak tangan," ucap Aldi tulus.
Pandangan Alana terfokus kepada perempuan dengan rambut sebahu yang menatap nya berdua dari kejauhan. Alana kenal siapa perempuan itu. Dia adik kelasnya, yang dua hari lalu ditolak terang-terangan oleh Aldi di depan banyak orang.
"Di, kamu lihat kesana," Alana menunjuk arah dimana perempuan itu berdiri.
"Kamu ingat perempuan itu? Yang kamu tolak di depan umum? Aldi mengangkut.
"iyah, kenapa?" tanya Aldi
"Kamu tega nyakitin perasaan perempuan? Dia suka sama kamu tulus, aku tau. Tatapan itu sama kayak tatapan bunda ke Ayah. Tatapan yang jernih yang buat Ayah selalu tersenyum,"
"Tapi aku gak suka dia Al,"
"Bagaiman perasaan kamu jika suatu hari aku tolak kamu di depan umum?"
"Sedih," jawab Aldi polos.
"Itu yang perempuan itu rasakan, dia ngungkapin perasaannya dengan penuh percaya diri supaya kamu lihat cinta di matanya,"
Aldi diam menatap perempuan itu, yang mengusap air matanya dengan lengannya.
Ada setitik perasaan aneh di dalam hatinya, sebegitu jahatnya dia?
"Coba kamu mulai cintai dia sama seperti kamu mencintai aku, karena sampai kapanpun kita gak bisa bersama Do,"
Ucapan Alana membuatnya tersadar, ia telah membuang cinta tulus demi keegoisan hatinya.
"Terima kasih Al, kamu membuat ku tersadar," Aldi segera berlari mengejar perempuan itu.
Alana tersenyum, berharap semoga mereka semakin dekat.
Di sisi lain ada yang menatap Alana dengan Pandangan yang sulit di artikan.
'Aku akan mencari tahu siapa pacarnya,'
®®®®
Sepulang sekolah Alana langsung mandi, ia turun untuk menonton acara kesukaannya.
Ketukan pintu membuat Alana beralih menatap seseorang yang membuka pintunya.
Abangnya datang, tapi tunggu! Kali ini Malvin tidak datang sendiri tapi berdua dengan wanita.
Alana langsung berlari ke arah pintu.
__ADS_1
"Kakak pacarnya Bang Malvin? Wah! Akhirnya Abang bawa cewek,"
Perempuan itu hanya tersenyum.
Malvin menatap Alana tajam, setajam silet.
Alana tersenyum miring.
"Bunda Bang Malvin bawa cewek! Bang Malvin udah gak jomb..."
Ucapnya terpotong saat Malvin membekap mulut adiknya.
"Gue tabok lu ya!"
"Baperan amat sih, orang Bunda gak ada di rumah, wlee," Alana meledek Malvin.
Perempuan itu hanya tersenyum.
Alana duduk di samping perempuan itu.
"nama kakak siapa? tanya Alana kepo.
"Lisa,"
"Kakak pacarnya Bang Malvin?"
Perempuan bernama Lisa itu menggeleng.
"lah terus?"
"Kepo lu bocil!" sambar Malvin membuat Alana memajukan bibirnya.
"Aku temannya Malvin kok, kami kesini buat ngambil proposal kelompok yang ketinggalan," ucap Lisa lembut.
"Yha, kirain pacarnya bang Malvin." Ucap Alana lesu. "Tapi kalian cocok kok," lanjutnya.
"Apaan si, mendingan mandi sana," usir Malvin.
Ponsel Alana berdering.
Pak dokter 🐼 is calling
"Cie dapet telpon dari calon suami," ledek Malvin.
Alana berlari ke kamar untuk mengangkat telepon.
"Halo kak?"
"..."
"Iya?"
"..."
"Hm, kayaknya gak ada, kenapa emangnya?"
"..."
"Wah mau banget,"
"..."
"Oke kak,"
Sambungan terputus.
Senyum terukir diwajah manis Alana, berjalan menuju lemari untuk mencari baju yang akan di pakainya.
__ADS_1
Pasalnya, malam ini Dava akan mengajaknya ke bazar.
"Duh Alana pake yang mana ya?"
"Ini cocok ga ya?"
Alana bermonolog, hingga pilihannya jatuh pada baju pink sederhana dengan jeans.
Ia tak sabar menunggu malam.
®®®®
"Alana cepetan Dava sudah datang," ucap Sari dari lantai bawah.
Alana mengambil tas selempangnya dan berjalan menuruni tangga.
Alana terpukau melihat Dava dengan baju santainya. Dua kali lebih tampan.
"Maaf ya kak lama,"
"Iya, gak apa-apa kok,"
"Eh, iya hayu kak,"
"Hayu kemana nih?"
"Ah itu anu..." Alana salah tingkah.
"Aku bercanda," ucap Dava membuat Alana heran kata 'aku' keluar dari mulut Dava.
"Gak pantes ya?" Tanya nya.
"Enggak kok, pantes aja," ucap Alana menggaruk tengkuknya.
"Bunda, kita berangkat ya," Alana pamit kepada Sari, dan diikuti oleh Dava.
"Hati-hati ya,"
Keadaan di dalam Mobil sangat hening, hanya musik Adele-Send my Love yang mengalun.
"kamu suka ke bazar?" Tanya Dava.
"Suka banget, dulu aku Setiap hari ke bazar bareng Rika dan Nadia, tapi sekarang udah jarang. Karena mau mendekati UN,"
Dava mengangguk paham.
"Kalo ke bazar ngapain aja?" Tanya Dava.
"Alana sering banget beli makanan banyak, naik bianglala, sama beli arum manis,"
"Kamu jangan kebanyakan makanan yang manis-manis,"
"Tapi Alana suka yang manis,"
"Tapi itu gak baik buat aku,"
"Hah maksud kak Dava?"
"Kamu udah manis, jangan ditambah gulanya,"
"Aku gak ngerti," Alana menatap Dava polos.
"Kalo kak Dava suka ke bazar?" Tanya Alana.
Dava menggeleng.
"Terus?"
Dava tersenyum.
"Karena aku sukanya kamu, Alana,"
__ADS_1