
Srek.
Diana menggesekan pisaunya ke lehet kelinci itu, membuat hewan mungil itu mati seketika.
Alana menangis hiteris, ia merasa sangat mual melihat tetesan darah yang mengalir di leher kelinci itu.
"Nanti, lo akan ngerasain apa yang kelinci ini rasain. Sekarang lo tidur, gue mau cari alat yang bagus buat bunuh lo, bye."
Diana pergi meninggalkan ruangan itu dan menguncinya dari luar.
”semuanya, maafin Alana hiks. Alana takut."
®®®®
Jam sudah menunjukan pukul 8 malam, itu tandanya Alana sudah menghilang selama 10jam.
Dava sudah mencari setiap sudut komplek, bahkan sudah menanyakan pada Nadia.
"Kamu tenang dulu Dav." Sari berusaha menenangkan Dava yang terlihat khawatir.
"Mana bisa aku tenang. Istri aku hilang, aku udah janji bakaljagain dia waktu di Lombok."
Sari terkejut mendengar perkataan Dava. Tanpa Dava sadari, ia sudah mengingat kenangan ia bersama Alana.
Semuanya sangat khawatir, takut terjadi apa-apa dengan Alana.
Malvin dari tadi hanya melamun, memikirkan kemana Alana pergi.
Dava mendengar suara mobil dilua rumahnya, dengan segera Dava berlari membuka pintu. Semoga saja itu adalah Alana.
Namun, dugaan Dava salah. Yang datang adalah kedua orang tuanya dan Tania adiknya. Dava menatap mereka lesu.
Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari Alana sekali lagi.
Jam sudah menunjukan pukul 11 malam, tapi semuanya belum mendapatkan tanda-tanda Alana ada dimana.
"Kita coba cari lagi besok sambil hubungin polisi." ucap Jihan diangguki oleh Sari.
"Tapi Ma, kalo Alana kenapa-kenapa gimana ma? Aku gak akan bisa tidur." ucap Dava pasrah.
"Kamu tenang dulu." Ucap Mahesa sambil mengusap bahu putranya itu.
"Kamu dimana Alana, mas khawatir."
®®®®
Semalaman Alana tidak tidur, perutnya terasa lapar. Alana mencoba melepaskan ikatan di tangannya tapi nihil, ia terlalu lemah untuk melepaskan ikatannya.
Mata ALana bengkak, ia tak hentihentinya menangis. Alana sangat takut, pikirannya masih terbayang saat Diana membunuh kelinci itu dengan keji.
Krek.
Pintu terbuka, menampakan Diana dan tiga pria berbadan besar dan menyeramkan.
’Apa Diana akan suruh mereka buat perkosa aku? Gak, Alana gak mau.’ batin Alana menjerit ketakutan.
"Halo Alana." ucap Diana.
Preman itu berjalan mendekati Alana, mengusap rambut Alana. ALana semakin menangis dan ketakutan.
"Jangan macem-macem. Jauhin tangan kalian dari tubuh aku!" teriak Alana gusar.
"Tidak semudah itu nona."
Satu preman sudah membuka baju Alana membuat si empu semakin histeris.
"Tolong~" ucap Alana lirih.
®®®®
__ADS_1
Dava sudah berusaha mencari Alana, bahkan para polisi sudah menggeledah setiap komplek namun tak ada yang menemukan Alana.
Semalaman Dava tak tidur, pikirannya kacau mencari keberadaan Alna.
Mereka tak pasrah untuk mencari Alana, sudah turun dua kelompok polisi yang Dava sewa untuk mencari Alana tapi tak ada yang berhasil menemukannya.
Tok tok tok
Pintu rumah Dava diketuk, Malvin berjalan untuk membukakan pintu.
Dava melihat Aldi yang datang dengan santainya dan menghampiri Dava yang sedang kacau.
"Gue tau dimana Alana."
Ucapan Aldi membuat Dava menemukan jalan keluar. Dava mendapatkan informasi dari Aldi.
"Dimana dia?" tanya Dava gusar.
Semuanya menghampiri Aldi untuk mencari tahu dimana Alana.
"Alana ada dirumah Diana. Dia di sekap di sana, sekarang Alana akan diperkosa." ucap Aldi dengan ekspresi santai.
"Ayok kita kesana sekar--"
"Jangan buru-buru." Aldi memotong ucapan Dava.
"Apa kata lo? Jangan buru-buru? Dia mau diperkosa dan lo tetap santai? Otak lo dimana?" ucap Malvin emosi.
"Diana bukan orang biasa, kalo kita kesana dengan keadaan berisik dia bisa langsung bunuh ALana. Dia psikopat dan dia cerdik." ucapan Aldi membuat semuanva kaget.
Sari dan Jihan sedang menangis dipelukan suami masing-masing. Mereka sangat khawatir.
"Gue bakal masuk duluan ke rumah dia. Saat semuanya terhenti lo masuk ajak polisi juga." usul Aldi langsung berjalan ke rumah Diana.
"Satu lagi, kalian jangan berisik." peringat Aldi langsung diangguki oleh semuanya.
Karena Aldi adalah salah satu anggota gangster yang amat brutal, yang menerima bayaran untuk membunuh musuh pelaku, dan Diana adalah salah satu dari mereka, dan hanya Diana yang dapat membunuh seseorang tanpa bayaran apapun karena dengan seperti itu dia merasa senang, tak butuh di suruh dia akan membunuh kapan pun dia mau, sangat psikopat bukan.
Aldi berjalan keruangan rahasia Diana. Aldi membuka pintunya membuat orang di sana menghentikan kegiatannya.
Alana hanya menggunakan bra dan bagian bawahnya masih lengkap. Alana belum sempat di sentuh Aldi datang tepat waktu.
Alana tersenyum saat melihat Aldi berdiri di depannya. Setidaknya, Aldi datang untuk menolong nya.
"Akhirnya lo datang. Gimana lo terima tawaran gue buat habisin dia?"
Alana kaget dengan percakapan keduanya. Apa-apaan ini? Apa mereka bersekongkol untuk menghabisinya?
"Gue mau ngomong berdua sama lo, dan suruh mereka keluar." ucap Aldi.
"Oke, lo semua keluar."
Semua preman itu keluar ruangan, kini sisa Alana, Aldi dan Diana saja yang ada di dalam.
Aldi melepaskan jaketnya lalu meletakan di atas tubuh Alana. Wajah Aldi mengisyaratkankan untuk tenang kepada Alana.
"Kok lo malah nutupin tubuh dia? Harusnya lo perkosa dia!" ucap Diana marah.
"Hust, lo psikopat paling gak tenang." ucap Aldi sambil duduk di kursi dan menumpakan kaki sebelahnya ke atas pahanya.
"Maksud lo apa hah?" ucap Diana marah.
Bugh bugh bugh
Terdengar suara pukulan diluar ruangan, Diana berlari ke arah pintu untuk melihat. Tapi, Aldi meluruskan kakinya sehingga membuat Diana terjatuh.
Bruk
Diana menatap tajam Aldi, dengan cepat Diana mengambil pisau dan berjalan ke arah Alana. Diana mengangkat pisunya tinggi-tinggi untuk menusuk Alana.
__ADS_1
Aldi langsung berdiri dan memutar tangan Diana kebelakang.
"Lepasin gue! Lo munafik." ucap Diana berteriak.
"Gue gak akan mungkin bunuh orang yang pernah ada di hati gue. Gue dulu emang cinta Alana. Setelah gue ketemu Clara gue sadar, cinta sebenarnya itu bukan tentang siapa yang pertama kenal, tapi siapa yang bertahan dengan semua sikap jelek kita." ucapan Aldi membuat Diana diam, sedetik kemudian pintu terbuka dan berdiri lima polisi disana.
"Nyonya Diana, anda kami tangkap dengan tuduhan pembunuhan dan penculikan." ucap salah satu polisi.
Tak ada rasa bersalah sama sekali dari Diana. Wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi.
Dava dan Malvvin langsung menerobos masuk kedalam. Betapa kagetnya mereka saat melihat Alana diikat seperti ular.
Malvin menghampiri Diana dengan tatapan bengis. Malvin melihat pipi Alana yang kebam.
Plak
Malvin menampar Diana keras dan membuat Diana meringis.
"ltu balasan buat wanita iblis kayak lo!" Malvin menunjuk wajah Diana marah.
Polisi menahan Malvin agar tidak main hakim sendiri.
Dava segera melepaskan ikatan di tangan dan kaki Alana. Wajah Alana sudah pucat.
"Mas, hiks." ucap Alana menangis. Dava langsung memeluk Alna dan menutupi tubuhnya. Ini akan menjadi trauma yang besar untuk Alana. Psikis Alana pasti terguncang.
Dava melihat baju Alana yang sudah tak terbentuk lagi. Dava langsung memakaikan jaket milik Aldi dengan benar.
"Alana takut mas." ucap Alana menangis dipelukan Dava.
"Kamu tenang, jangan takut. Aku udah disini." Dava menenangkan Alana yang semakin terisak.
"Alana mau pulang." ucap Alana membuat Dava mengangguk.
"Mereka gak apa-apain kamu kan?" tanya Dava menunjuk para preman itu.
Alana menggeleng lemah lalu kembali menangis. Belum sempat Dava menjawab Alana sudah jatuh pingsan.
"Alana." Dava menepuk pipi Alana pelan, menekan urat nadinya.
Dengan cepat Dava menggendong tubuh Alana ala bridal style menuju rumahnya.
Orangtua Dava dan Alana kaget saat melihat kondisi Alana yang mengerikan. Dengan lebam dikedua pipinya, dan lebam di pergelangan tangan dan kakinya.
"Alana astagfirullah." ucap Sari mengusap rambut Alana.
Sari masuk kedalam mobil dan memangku kepala Alana. Malvin dengan segera naik dan menyetir, tujuannya saat ini adalah rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Dava terus terusan menepuk dan mencium kening Alana. Dava sedih melihat kondisi Alana seperti ini.
"Maafin mas Alana. Mas menyesal." ucap Dava sambil mengusap pipi Alana yang lebam.
Mobil terparkir di parkiran rumah sakit. Dava segera turun sambil menggendong Alana dan berjalan memasuki rumah sakit. Dava langsung meletakan Alana diruang UGD. Bahkan sekarang Dava sendiri yang memeriksa Alana.
Suster datang dengan membawa alat-alat, Daba memeriksa detak jantung Alana.
Suster memasang selang oksigen ke hidung Alana. Dava memasang selang infus ke lengan Alana.
Dokter Layla datang untuk memeriksa kandungan Alana.
"Gimana dok dengan bayinya?" tanya Dava.
"Alhamdulillah, bayinya baik-baik saja." ucap Layla membuat Dava tersenyum lega.
Dava segera melepaskan sarung tangan dan berjalan mendekati Alana. Dava mengusap rambut Alana dengan sayang.
"Maafin mas ya sayang."
Berkali-kali Dava meminta maaf pada Alana. Dava mengecup tangan Alana yang lebam.
__ADS_1