Suami Ku Adalah Dokter

Suami Ku Adalah Dokter
Chapter 12


__ADS_3

Dava sedikit terkejut ketika melihat Alana di depan pintu tempat pencucian darah, saat ini Dava dan Alana sedang berada di kantin rumah sakit tempat Dava bekerja.


"Kamu sakit? Kok kamu ada disini?"


Alana menggeleng dan menelan minumannya dari mulut.


"Clara teman baru aku kak, makanya aku temenin dia cuci darah," ucap Alana.


"kamu cuma nemenin sampe depan pintu doang? Gak masuk, hm?"


Alana menggaruk tengkuknya dan nyengir, membuat Dava gemas.


"Cuci darah kan pasti di suntik Alana ngeri kak. Gak kuat lihatnya,"


Alana meringis ketika ujung jarum suntik yang mengkilap dan menusuk lengannya, ah membayangkannya saja membuat Alana merinding.


Dava tertawa, sehingga membuat matanya hanya berbentuk garis yang melengkung.


"Kamu ini, aku ucapin makasih banget sama kamu. Sebulan Clara gak cuci darah, kakak jadi khawatir. Berulang kali kakak selalu tanya sama suster penjaga adminstrasi, apa Clara datang ternyata tidak.


Alana mengangguk dan tersenyum.


"Kakak tau semua tentang Clara?"


Dava menggeleng "kenapa emangnya?" tanya Dava menaikan sebelah alisnya.


"Gapapa kok," jawab Alana sedikit kikuk.


"Emang kamu tau semuanya?"


Alana menggeleng cepat, membuat Dava bingung.


"Astaga Alana! Gua cariin kemana-mana, taunya berduaan dokter ganteng," ucap Nadia membuat hampir semua yang ada dikantin menengok ke arah mereka.


"Bacot **** lu" bisik Rika di telinga Nadia namun tak digubris olehnya.


"Alana ini siapa?" tanya Rika.


"Ah ini ca...,"


"Saya calon suaminya Alana," ucap Dava memperkenalkan diri.


Belum sempat menjawab Dava sudah mewakilinya.


Rika dan Nadia merasa terkejut, ia kira Alana hanya membual waktu itu namun ternyata tidak.


'Al, lu punya hutang cerita sama kita,' bisik Nadia di telinga Alana membuat Alana menghela nafas.


Setelah banyak berbincang dengan Dava, Alana memutuskan ke ruangan Clara yang masih belum sadar.


Rika meletakkan segelas susu, Alana sudah izin kepada orang tuanya bahwa ia akan pulang malam sampai Clara bangun.


"Al, tuh susu lu minum. Tadi abang lu bilang lu harus minum susu biar tinggi," ucap Rika sedikit menyindir.


Alana mebgerucutkan bibirnya, menatap sinis Rika dan mengambil segelas susunya, dan meneguknya hingga tandas.


Nadia sudah pulang sore tadi, ada urusan yang harus ia urus.


Alana menatap Clara yang sedang berusaha membuka matanya. Alana menghampiri ranjang Clara.


"Akhirnya kamu bangun, aku takut kamu kenapa-napa," ucap Alana membuat Clara tersenyum lebar, ia merasa sangat di perhatiakan


"Biasanya aku tidur seharian, tapi ini enggak,"


Alana mengusap rambut Clara tulus.


"Sakit gak Cla?" tanya Rika.

__ADS_1


Clara menggeleng.


"Enggak kok, kan udah biasa begini,"


Rika dan Alana menatap Clara sendu, tak lama pintu kamar rawat Clara ada yang mengetuk. Dan betapa terkejutnya Clara menatap seseorang yang di depan pintu.


Seseorang itu adalah Aldi, jangan tanya kenapa Aldi bisa tau ruang rawat Clara. Tentu saja Alana dan Rika yang membujuk Aldi agar datang kesini, namun tidak terlalu sulit.


"Hai," sapa Aldi kepada Clara yang masih tercengang dengan kedatangannya.


"Cla, kamu disapa Aldi tuh," goda Alana membuat pipi Clara memerah.


"Eh -iya kak, hai," jawab Clara gugup.


Aldi menghampiri ranjang Clara, membuat Clara berdebar


"kayaknya kalian butuh waktu berdua, kita nunggu diluar ya," ucap Alana, membuat Clara menggeleng cepat.


Alana menarik Rika ke luar ruangan, dan duduk di depan kamar rawatnya.


Tak lama kemudian, Dava datang dihadapan Alana.


"kamu belum pulang?" tanya Dava kepada Alana.


Alana menatap Dava lekat, dengan rambut yang basah sehingga airnya menetes melewati rahang tegasnya.


"Buset calon suaminya Alana cakep banget ya, astagfirullah jiwa pelakor gue pengen keluar. Tapi gue takut kena karma kayak di sinetron ikan layang,'-batin Rija mengagumi.


"Belum kak, aku masih mau nunggu Clara," ucap Alana tersenyum ke arah Dava, dan di balas oleh Dava.


'Please gue baper. Biasanya gue paling bodoamat tapi ini enggak,'-batin Rika.


"Kakak mau cek Clara dulu ya,"


Alana mengangguk saja, mempersilahkan Dava masuk.


"Cla udah boleh pulang?" tanya Alana.


Clara tersenyum dan mengangguk.


"Terima kasih ya kak Alana dan kak Rika, udah mau nemenin Clara,"


"Jangan sungkan oke," balas Rika. "Kayaknya gue juga mau pulang, bokap gue udah di depan," lanjutnya.


"yaudah hati-hati ya kalian," ucap Dava.


Setelah punggu Clara, Aldi, dan Intan menjauh Alana merasa canggung berdekatan dengan Dava.


"Kamu pulang bareng aku ya, udah malem juga nih," ajak Dava.


"iyah kak,"


Deg


"iyah kak,"Jantung Alana seakan hendak meledak, saat tiba-tiba Dava menggenggam tangannya. Alana merasa panas dingin dibuatnya.


"Gak nyaman ya? Maaf, yaudah aku lepas,"


Baru saja Dava hendak melepaskan genggamannya, tapi Alana menahannya.


"Jangan dilepas kak," ucap Alana dengan polosnya. Dava mencubit kedua pipi Alana gemas.


"Sakit ih," ucap Alana mengusap kedua pipinya.


"yaudah yuk, kita pulang," ajak Dava langsung menarik tangan Alana.


Jangan lupakan pasang mata para suster di rumah sakit itu, yang menyinyir kepada Alana. Mungkin sebagian suster muda itu merasakan broken heart dengan senyuman dokter muda pujaan mereka berbahagia dengan Alana.

__ADS_1


Di mobil pun Alana merasa sangat lelah, dan tertidur kedua kakinya di mobil Dava.


Mobil Dava terparkir di sebuah Kafe yang banyak di kunjungi pemuda-pemudi.


Dava menatap Alana yang masih menjelajahi alam mimpinya dengan senyuman. Dava belum pernah merasakan hal seperti ini, tapi dengan kedatangan Alana ke hidupnya membuat Dava merasakan cinta, dengan waktu yang sesingkat ini Dava sudah jatuh ke pesona Alana.


Dava menepuk pipi Alana pelan, membuat Alana sedikit terusik dan membuka matanya.


"Udah sampe ya kak?" tanya Alana sambil mengusap kedua matanya.


"iya," jawab Dava membuka kan seltbet Alana, membuat hati Alana langsung berdebar.


"Lah kok bukan dirumah Alana?" tanya Alana heran.


"Aku tau kamu belum makan, dan saat itu pun cacing yang ada di perut kamu berontak," Dava terkekeh, membuat Alana malu.


"Enak aja, Alana gak cacingan ya," ucap Alana mengilang tangan di depan dadanya.


"Aku bercanda Alana," ucap Dava membuat Alana tak berkutik.


Dengan segera Dava menggenggam tangan Alana menuju kafe. Ini tempat favoriy Dava kala letih, ia akan menyempatkan minum kopi di sini.


Dava dan Alana mengambil tempat dekat dengan jendela, sehingga mereka bisa melihat aktivitas di bawah sana.


"kamu mau makan apa?" tanya Dava kepada Alana yang masih terkagum melihat pemandangannya.


"yang terkenal di kafe ini itu biasanya apa kak?"


"Banyak, kakak sering banget makan cake white cocolate. Hot cocolate nya juga enak," mata Akana bersinar mendengar hidangan makanan yang banyak mengandung coklat.


"Alana mau yang kakak sebut tadi," ucap Alana bersemangat.


"Siap ibu," kekeh Dava.


"Ih Alana bukan ibu-ibu," Alana memajukan bibirnya, gemas.


"Kamu calon ibu dari anak-anak ku kelak, ucap Dava membuat Alana gelagapan.


Setelah acara makannya selesai, Dava termenung menatap wajah cantik Alana dibawah sinar lampu. Bulu mata lentik, pipi gembul, mata bulat, dan bibir ranum.


Dava merasa Alana sangat sempurna, ornag tuanya memang tidak salah memilih.


"Kakak, Alana mau nanya dong,"


"Tanya aja," jawab Dava sambil meminum kopinya.


"Kok Alana kalo deket kakak itu deg-deg an sih? Ngerasa seneng pas kakak pegang tangan Alana, itu penyakit apa ya?"


Uhuk-uhuk


Dava tersedak setelah mendengar perkataan Alana. Alana langsung menepuk punggung Dava.


"Itu kayaknya penyakit sangat parah, dan obatnya cuma satu," jawab Dava enteng.


Setelah mendengar kata itu, Alana menyemburkan minuman yang ada di mulutnya, dan membuat kemeja Dava kotor.


"Ya ampun kak, Alana minta maaf. Alana gak sengaja," ucap Alana sambil mengelap dada bidang Dava.


Bagaimana pun, Dava adalah seseorang lelaki normal. Dava langsung menjauhkan tangan Alana dari dadanya.


"Gapapa, lagian aku belum mandi kok," ucap Dava sambil tersenyum.


"Maksud kakak penyakit aku itu parah? Aku sakit apa? Dan simaba aku bisa dapetin obat itu?" tanya Alana bertubi-tubi.


"mungkin kamu menyukaiku, dan obatnya adalah, menikah dan terus bersamaku sampai tua," ucap Dava tulus.


"Kakak bener, aku memang menyukai kakak," balas Alana membuat Dava tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2