
Alana sangat menikmati perjalanan ke lombok, berulang kali mulutnya berdecak senang dengan keindahan lantai lombok.
Pesawat yang ditumpangi Alana dan Dava mendarat dengan sempurna, Alana melirik Dava yang masih tidur di bahunya.
Alana mengusap pipi Dava pelan, mengusap bibir Dava sambil tersenyum.
"Astagfirullah, untung aja gak khilaf." Alana menjauhkan tangannya dari pipi Dava.
"pegang aja, bibir ini punya kamu." Ucap Dava, sebenarnya dari tadi ia menahan tawa saat Alana menyentuh bibirnya.
"Ck, apaan sih. Ayo turun." Ajak Alana sambil Menyembunyikan rasa malunya.
Dava terkekeh, lalu mengikuti Alana dari belakang. Sedangkan Alana berusaha menutupi pipinya yang merah. Betapa malunya saat Dava menciduk dirinya.
"Alana awas!" teriak Dava, refleks ia langsung menarik tangan Alana dan langsung memeluknya.
Hampir saja tadi Alana tertabrak orang yang sedang mendorong koper begitu banyaknya dengan kencang.
"maaf ya mas, saya buru-buru." ucap orang yang membawa koper itu.
"Iya lain kali jangan buru-buru ya!" jawab Dava yang diangguki oleh orang itu.
"Yang salah bukan Alana kan mas?" tanya Alana.
"Kamu lah." jawab Dava sambil menggenggam tangan Alana.
"Kok aku?"
"Lagian kenapa kamu gak liat kanan-kiri dulu?" ucap Dava membuat Alana skakmat.
"Engh, anu-"
"Dokter Dava."
Dava dan Alana berbalik arah mencari sumber suara itu, dan di tempat mengantri makanan berdiri seorang lelaki tampan yang berjalan ke arah mereka.
"Hai dokter Aryo."
Dava menjabat tangan Aryo, bersalaman ala lelaki. Mata Aryi menatap Alana lama, menatapnya heran. Bagaimana mungkin seorang dokter Dava berjalan berdua bersama perempuan.
"Ini--"
"Dia istri saya, Alana." Dava memperkenalkan Alana kepada Aryo, tangan Aryo terulur dan Alana menyambutnya.
"Aryo."
"Alana."
"Kapan kalian nikah! Kok gue gak lo undang sih? Parah banget." ucap Aryo membuat muka seolah-olah sedang sebal.
"Ya lagian lo betah amat di singapura." ucap Dava.
"Ya karena emang gue tugas di sana." ucap Aryo.
Dava dan Aryo sangat asik berbincang, serasa dunia milik berdua, yang lain cuma ngontrak.
Alana yang dari tadi memanggil nama Dava tak dibalas apapun olehnya. Muka Alana cemberut dan ia duduk di lantai bandara.
__ADS_1
"yaudah bro, have fun ya. Happy honeymoon." ucap Aryo dan pergi meninggalkan Dava.
Dava terkejut melihat Alana yang duduk sambil memeluk kakinya. Dengan segera Dava membangunkan Alana agar berdiri.
"kenapa kamu duduk gitu? Kayak anak kucing aja." tanya Dava.
Alana sesnag menepuk-nepuk celananya yang kotor karena duduk tadi.
"ya mas sih, dari tadi aku ajak ngomong malah dikacangin. Aku pegel dan laper." ucap Alana sambil memajukan bibirnya.
"Yuk ambil koper dulu, dab aku bakal ajak kamu makan di suatu tempat." Dava masih setia menggenggam tangan Alana menuju tempat koper.
"Jinja?" tanya Alana menggunakan bahasa negeri gingseng, Korea.
"Nee." jawab Dava menggunakan bahasa korea pula.
Setelah mengambil koper mereka berjalan mencari taksi. Alana melihat seorang anak kecil kumuh yang datang menghampirinya dengan membawa sebuah kaleng.
Alana menarik lengan baju Dava, membuat si empu menatap Alana seolah bertanya ada apa.
"Minta uang." ucap Alana menatap Dava lalu Alana mengisyaratkan matanya menatap anak kecil itu.
Dava mengeluarkan selembar uang bewarna biru dan memberikannya kepada Alana. Alana mengambilnya girang lalu berjongkok didepan anak kecil itu.
"Adek belum makan ya?"
"Belum kak." ucap anak kecul itu dengan suara kecil hampir tak terdengar.
"Ini uang buat kamu." Alana memberikan uang itu, seukir senyuman terbit dari bibor anak itu. Matanya berbinar.
"ini beneran buat aku kak?" tanyanya seolah tak percaya dengan uang yang di genggamnya.
Alana datang dengan menghampiri Dava dengan raut bahagia. Dava sangat bersyukur memilik Alana seutuhnya, Alan tipe orang yang tidak gampang bergaul, tidak tegaan, dab manja.
"udah selesai?" tanya Dava yang dibalas anggukan oleh Alana.
Tak lama taksi yang mereka pesan datang, dengan segera supir memasukan koper kedalam bagasi mobil.
"Hotel kita jauh ya?" tanya Alana.
"Butuh waktu satu jam untuk smapai kesana. Sebentar lagi kita smapai di tempat makan."
Butuh waktu 20 menit untuk sampai kesebuah rumah makan yang sederhana namun terasa adatnya.
Rumah makan yang bertuliskan kata Bebalung didepannya.
"Disini tuh terkenal banget sama gulai sapinya." ucap Dava sambil mencari tempat untuk mereka.
"Wah, Alana suka." ucap Alana girang, layaknya seorang anak yang diberi mainan baru oleh ayahnya.
"Apa sih yang ngga kamu suka?" cibir Dava.
"Dery." jawab Alana cepat.
Kekesalan Alana bertambah saat ia berkunjung ke rumah mertuanya. Tapi, Dava malah asik bermain dengan Dery sampai lupa padanya.
Dava menanggapinya dengan tawa, betapa lucunya Alana dengan wajah kesalnya. Tak lama pelayan datang dengan membawa buku menu.
__ADS_1
"Gulai sapinya dua." ucap Dava dan dicatat oleh sang pelayan.
"minunya es kelapa dua. Dan saya minta dua eskrim coklat ya." ucap Dava dan langsung diangguki oleh pelayan.
"Tau aja Alana pengen makan eskrim." ucap Alana
Ponsel Alana berdering, menandakan ada panggilan masuk. Alana mencibir saat melihat siapa nama yang muncul di layar handphone nya.
"Assalamuallaikum, ada apa bang?"
"Waalaikumsalam, udah sampe?"tanya Malcin sambil merapihkan rambutnya sok ganteng, (padahal emang ganteng sih, hehehe).
"Udah, ini Alana lagi mau makan." jawab Alana.
Pikiran jail muncul di otak Alana, dengan segera Alana berpindah tempat duduk yang tadinya di depan Dava menjadi di samping suaminya.
"maksudnya apa nyender-nyender gitu?" tanya Malvin melihat aksi Alana.
"Biar ketauan kalo udah ada yang punya, Sedangkan abang masih sejoli." ucap Alana, Dava yang mendengar hanya tertawa kecil.
"Apaan tuh sejoli?" tanya Malvin.
"Setia jomblo lilahitaala." ucap Alana.
Setelah berkata begitu, Malvin langsung mematikan sambungan teleponya. Alana tertawa puas, sampai akhirnya pesanan mereka datang.
"Selamat makan." ucap pelayan.
Dengan keadaan khusyuk, mereja makan dengan hening. Tak ada pembicaraan diantara mereka. Alana dan Dava fokus kepada makanan masing-masing.
Alana mencuci tangannya lalu menepuk perutnya yang terasa ingin meledak, porsi makan Alana memang tak banyak, bahkan makanannya masih tersisa.
"Udah kenyang?" tanya Dava kepada Alana.
"udah."
"mas bayar dulu ya, kamu tunggu di sini. Jangan kemana-mana." ucap Dava memberikan Alana peringatan.
Pernah saat mereka makan malam berdua Alana pergi menghilang saja. Sampai-sampai Alana mendatangi pihak yang mengurus ornag hilang. Tapi saat Dava mengecek toko coklat yang sedang diskon besar-besaran Alana mengantri paling awal.
Mereka berjalan ke taksi yang mereka pesan tadi. Alana dan Dava masuk ke dalam mobil.
Jam menunjukkan pukul 5 sore, langit sudah berubah menjadi warna jingga. Dengan segera Alana mengambil gambar di dalam mobil.
"Bagus gak mas?" Alana menunjukkan hasil jepretannya kepada Dava.
"Bagus."
Tak terasa mereka sudah sampai di hotel yang akan menjadi rumah untuk beberapan hari kedepan. Mata Alana terpukau melihat betapa bagusnya hotel itu.
"Awas ngiler." ucap Alana saat melihat mulut Alana terbuka. Dengan cepat Alana menutup mulutnya.
"Bagus banget mas." ucap Alana.
Mereka berjalan kedalam hotel, Akana duduk saat Dava akan memesan kamar untuk mereka.
"yuk." ajak Dava.
__ADS_1
Alana berjalan mengikuti Dava dari belakang. Mereka berjalan kearah lift dan memasuki lift.