
Dava masuk kedalam rumahnya, dan menemui Alana di dapur bersama Jihan yang sedang memasak.
"Assalamuallaikum," ucap Dava kepada Alana yang sedang memotong wortel, ia terlihat sedikit kesulitan.
"Waalaikumsalam," jawab Alana sambil menaruh pisau dan mencium punggung tangan Dava.
Hal ini terjadi untuk kedua kalinya, sepertinya Dava harus terbiasa dengan kebiasaan Alana ini.
"Lagi apa sama mama?" tanya Dava berbasa-basi namun basi.
"Ya masak lah, kamu buta? Jelas-jelas dapur tempat masak, yakali tempat Gym," ucap Jihan ketus.
"ya mah, namanya juga basa-basi," ucap Dava menatap Jihan.
"Terlalu basi, orang mah kalau nanya itu yang bagus dikit lah. Kamu mau mobil gak, gitu kalo nanya," ucap Jihan membuat Alana tertawa.
"kak Dava jangan gangguin calon kakak ipar. Noh, Derry belum di kasih susu," ucap Tania kepada Dava.
"Derry?" tanya Alana heran, siapa Derry? Apakah sepupunya Dava.
"Owh Derry anaknya ka Dava." jelas Tania.
"jadi kak Dava duda?"
"Hft.. Hahaha," ucapan Alana membuat Jihan tak kuat menahan tawanya.
Alana bingung kenapa Jihan tertawa.
"Alana, Derry itu anak monyet. Dia peliharaan aku. Jangan dengerin Tania dia itu setan," ucap Dava menatap Tania sebal, dan dibalas uluran lidah oleh Tania.
"Hah! Jadi anak kakak itu monyet? Berarti kakak juga monyet?" ucap Alana membuat Jihan terpingkal-pingkal tertawa, begitu pun dengan Tania.
"Iya betul!" ucap Tania begitu bahagia melihat Dava menderita.
"Gak! Gak gitu Alana. Derry itu cuma anak monyet, bukan anak aku. Dan aku bukan monyet," ucapan Dava membuat Alana paham.
"ouh gitu, aku pengen liat dong kak," Alana meminta Dava untuk menemui Derry.
Alana mengikuti Dava dari belakang, berjalan ke samping teras, disana terlihat sebuah kandang yang cukup besar.
"ini yang namanya Derry," Dava memperkenalkan Derry kepada Alana.
Mata Alana berbinar melihat anak monyet yang menurutnya menggemaskan.
"Boleh aku pegang kak?" tanya Alana.
"Boleh, coba kamu beri dia pisang ini," Dava memberikan sebuah pisang ke Alana.
Alana mengambilnya dan memasukan tangannya ke kandang.
"Halo Derry, dimakan dulu pisangnya," Alana berbaik hati memberikan pisang padanya.
Namun bukannya di sambut dengan baik, Derey malah menggigit jempol Alana.
"Awh!" pekik Alana berusaha menarik tangannya.
__ADS_1
Dava yang sedang membuat susu untuk Derry segera berlari ke arah Alana.
Dava langsung mengusap kepala Derry agar mau melepaskan gigitannya. Dengan begitu Derry mau melepaskan gigitannya.
Mata Alana berkaca-kaca, darah segar mengalir di jempolnya.
Dengan segera Dava mengajak Alana kedalam, dan menyuruh Alana duduk di sofa ruang tamu.
Jihan datang dengan tergesa, menghampiri Alana yang menunduk.
"Ya ampun Alana, kenapa tangan kamu berdarah? Dava kamu apain Alana." tanya Jihan sarkas.
"Dia digigit Derry," ucap Dava sambil menaruh obat P3K.
Dava menuangkan alkohol ke kasa dan mengarahkan ke jempol Alana. Belum sempat menempelkannya Jihan langsung memukul tangan Dava.
"Di cuci dulu tangannya Dav, jangan maen tetes alkohol aja,"
Dava lupa sangking paniknya.
"oh iya Ma, Dava lupa hehe," ucap Dava cengengesan.
"Dasar dokter abal-abal!" ucap Jihan nge-jleb.
"yaudah si maap," ucap Dava berjalan ke arah dapur untuk mengambil air hangat.
Alana tersenyum geli melihat tingkah Dava yang seperti itu.
Dava datang dengan membawa baskom berisi Air, ia duduk di samping Alana. Dava mulai mengobati luka Alana dengab telaten.
Alana bisa mencium wangi rambut Dava, bau maskulin yang sangat menyejukan.
Dava menutup luka Alana dengan kasa.
"Maafin Derry ya," ucap Dava.
"Maafin Alana ya kak, mah. Bikin kalian khawatir," ucap Alana merasa bersalah.
Jihan menanggapinya dengan senyuman.
"Katanya hari ini banyak diskon di toko buku langganan aku, mau kesana gak?" Tawar Dava kepada Alana.
Alana mengangguk antusias sambil tersenyum lebar.
"Mau kak,"
"yaudah kakak ganti baju dulu ya, bau keringat aku," ucap Dava sambil terkekeh.
®®®®
Alana dan Dava masi berkeliling mencari buku. Alana berjalan ke tempat novel.
Matanya terfokus kepada novel yang selama ini ia cari. Tangannya terulur mengambil novel itu.
Dava menghampiri Alana yang sedang sumringah sambil memegang novelnya.
__ADS_1
"udah dapet?" Alana menengok ke arah Dava sambil mengangguk.
Alana terfokus kepada sebuah buku tebal yang digenggam Dava. Melihatnya saja membuat Alana bergidik ngeri.
"kenapa kamu ngeliatin sampe segitunya?" tanya Dava tersenyum.
"itu buku apa kak? Tebel banget kayak kamus bahasa indonesia," ucap Alana dengan polosnya.
"Kakak ngga suntuk baca buku setebal itu?" tanya Alana.
"Enggak, karena sudah biasa,"
Mereka berjalan menuju kasir untuk membayar buku. Sebelum menjumlah barang yang mereka beli, kasir itu malah memperhatikan Dava dengan kagum.
"Dokter ya?" tanya kasir itu kepada Dava.
"Umm," balas Dava sekenannya.
"Adeknya lucu mas," ucap kasir kepada Alana.
*What? Adiknya?.
'Dasar kasirnya genit, gak tau apa kalo aku calon istrinya,'-batin Alana sebal*.
"Berapa semuanya?" tanya Dava.
"Empat ratus enampuluh ribu,"
Dava mengeluarkan kartunya untuk membayar. Menerima bukunya, dan berjalan ke luar.
"Dia calon istri saya, bukan adik saya," ucap Dava sebelum pergi.
Alana senyum-senyum sendiri mendengarnya.
Mereka berhenti di sebuah restoran, untuk makan.
Setelah memilih makanan dan memesannya mereka mencari tempat duduk.
"besok kamu pelulusan ya?"
Alana mengangguk.
"Iya kak. Kakak dateng kan?" tanya Alana penuh harap.
"Maaf, besok kakak ada jadwal operasi yang gak mungkin kakak batalin,"
Pengucapan Dava membuat Alana sedikit sedih. Bamun Alana tak boleh egois, orang itu membutuhkan Dava.
"Gapapa kok ka, aku paham," ucap Alana sambil senyum.
"Semoga kamu yang lulus dengan nilai yang bagus ya," ucap Dava.
"Iya kak, amin," ucap Alana.
"Sama-sama, future wife,"
__ADS_1