Suami Ku Adalah Dokter

Suami Ku Adalah Dokter
Chapter 40


__ADS_3

Dari pagi Alana sudah sibuk membereskan pakaiannya, karena hari ini Dava akan pulang.


Alana ingin segera memeluk Dava, betapa rindunya Alana pada Dava.


Senyumannya tak pudar dari bibirnya, hatinya sudah berdebar padahal ia belum bertemu Dava.


"Selesai." ucap Alana sambil mengusap perutnya yang sudah menginjak 1 bulan.


"Kita nanti ketemu papa yey." Alana berbicara pada bayinya.


Malvin datang cuma mau numpang rebahan. Malvin menatap Alana sebentar lalu kembali menatap heandponenya.



"Ngapain kesini." ucap Alana.


"Ac kamar gue mati." ucap Malvin sambil meneruskan gamenya yang sempat tertunda.


Alana berfikir bahwa abangya pasti sedang bermain game seperti Free fire, COC, PUBG, dan yang lainnya.


"Awas mata abang nanti minus. Gegara main game. Abang main game apa? Pabji ya?" tanya Alana.


"Apaan sih. Orang gue main piano tiles."ucap Malvin judes.


Dugaan Alana salah, ternyata abangnya main Piano. Alana kembli membereskan kopernya dan menaruh dibelakang pintu.


"Bang, Vina boleh Alana ajak pulang gak?"


"Gak?


"Plis, ya bang?"


"Gak!"


"Pelitamat"


"Bodo"


Alana tak mengeluarkan suara lagi, namun Alana malah mengeluarkan isakan yang membuat Malvin langsung duduk menghadap Alana.


"Napa nangis, aelah." Malvin mengusap wajah Alana dengan tangannya.


"Abang jahat, hiks." ucap Alana membuat Malvin gelagapan.


"Iya Vina boleh lo bawa. Tv di rumah inijuga boleh lo bawa. Semuanya lo bawa gapapa." ucap Malvin menenangkan Alana.


"Seriusan? Berarti Alana boleh bawa Dara juga dong?" tanya Alana.


"Kecuali Dara. Dia gak boleh lo bawa." ucap Malvin kembali memainkan heandpone miliknya.


Berulang kali Alana menyelipkan rambutnya di belakang telinga membua Malvin geram ingin membenarkannya.


Malvin bangkit mengambil jepitan Alana di meja rias lalu menarik Alana agar duduk di kasur.


"Mau ngapain bang?!" ucap Alana kaget.


"Gue ribet liat rambut lo yang berantakan. Sini gue jepit." ucapan Malvin membuat Alana tersenyum.


"Ternyata bang Malvin bisa sweet juga ya."-Batin Alana.


"Selesai." ucap Malvin menatap hasil jepitannya yang sama sekali gak benenW



"lh kok jelek sih?" protes Alana membuat Malvin jengkel dan memajukan bibirnya sambil menirukan ucapan Alana.


"lh kik jilik sih."


Alana menatap Malvin sebal. Dengan wajah seperti itu membuat Alana ingin menampol bibir Malvin.


Aina merasa sangat haus, tapiia sangat malas turun kebawah. Dari pada Malvin cuma rebahan gak jelas mendingan Alana suruh buat bawain minum.


"Aduh duh." ucap Alana membuat Malvin melemparkan heandponenya asal.


"Kenapa?!" tanya Malvin kelabakan.


"Alana haus bang, hehe." ucap Alana sambil nyengir.


Malvin menjitak kepala Alana pelan. Ingin rasanya Malvin membuang Alana ke danau yang banyak buayanya.


"Lo kalo lagi hamil nyebelin ya. Minta gua garuk emang lo." ucap Malvin mencak-mencak gak jelas. Lalu turun untuk memgambilkan Alana minum.


Alana tertawa melihat wajah Malvin yang ditekuk. Alana kembali mengecek heandponenya. Tiga hari lalu Dava mengirimkan pesan padanya. Bahwa hari ini ia akan pulang.


Malvin datang dengan membawa segelas air putih. Alana menerimanya dan langsung meminumnya hingga kandas.


"Bang, Alana gendutan gak?" tanya Alana kepada Malvin.

__ADS_1


"Enggak." jawab Malvin tanpa melirik ke arah Alana.


"lh serius."ucap Alana.


"lya lo gak gen--"


"Alana turun kebawah." ucapan Malvin terpotong saat Sari menyuruhnya turun kebawah.


Malvin yang kepo tingkat menengah ikut turun bersama Alana. Malvin heran saat melihat kedua orangtua Dava datang ke sini.


"Mama. Tumben ke sini?" ucap Alana sambil mencium punggung tangan kedua orang tua Dava.


"Gimana keadaan Alana?" tanya Jihan kepada Alana.


"Baik." ucap Alana tersenyum.


Sari datang membawakan minuman untuk tamu.


"Mama tau gak, kalo Alana sekarang lagi hamil." ucap Alana membuat Jihan dan Mahesa terkejut bukan main.


Kedua orang tua Dava tersenyum lalu memeluk Alana dengan kasih sayang.


"Mama seneng dengernya." ucap Jihan membuat Alana tersenyum pula.


Tapi senyuman di wajah orang tua Dava memudar, wajahnya mengisyaratkan ketegangan. Alana menatapnya heran mengapa wajah mama Dava berubah dan menatap Alana dalam.


"Ada yang ingin di bicarakan?" tanya Alana membuat Jihan tiba-tiba menangis.


"Alana, mama minta maaf. Sebenarnya yang mengirimkan pesan ke kamu itu mama, bukan Dava." ucap Jihan mengusap tangan Alana.


"Maksud mam--"


"Dava sebenarnya kecelakaan satu bulan yang lalu. Sehari sebelum ia kecelakaan Dava bilang kangen banget sama kamu dan akhirnya dia mutusin buat pulang ke Bandung." ucapan Jihan terpotong.


"Pas dia pulang ke sini Dava mengalami kecelakaan dan banyak luka di kepalanya. Dava mengalami koma satu bulan." ucap Jihan.


Alana terkejut dan mematung atas ucapan Jihan. Air matanya mengalir begitu saja, mulut Alana tak henti menyebutkan nama Dava.


"Ta--ta--pi, kenapa Mama gak ngabarin aku kenapa?!" ucap Alna frustrasi.


Jihan dan Sari memeluk Alana. Malvin hanya diam menatap Alana yang berteriak histeris.


"Maaf, Mama bener-bener minta maaf Alana. Mama gak siap liat kamu waktu itu." ucap Jihan membuat Alana bangkit dari duduknya.


"Anter Alana kesana! Anter." ucap Alana berteriak lalu duduk ke lantai.


"Tenang Al, lo harus tenang." ucap Malvin mengusap air mata Alana.


"Abang bilang aku tenang? Dapet kabar kayak gini aku disuruh tenang?" ucap Alana marah, Alana emosi.


Malvin ikut menangis melihat Alana yang begini. Alana mengacak rambutnya lalu menangis kencang.


Setelah berusaha menenagkan Alana. Akhirnya mereka memutuskan untuk menemui Dava.


jihan tak berani mengucapkan yang sebenarnya. Biarlah Alana tahu sendiri, Jiham tak bisa bicara yang sebenarnya.


Sepanjang perjalanan Alana menangis tak henti-henti.


Alana benar-benar melupakan kendungannya, pikirannya terus memikirkan Dava.


Mobil terparkir di rumah sakit tempat Dava dirawat. Malvin menuntun Alana agar takjatuh. Melihat Alana seperti ini membuat Sari menangis.


Alana berjalan ke ICU tempat Dava dirawat. Alana meronta ingin masuk kedalam namun di tahan.


"Tunggu ya, dokter lagi periksa Dava." ucap Mahesa memberi Alana pengertian.


"Tapi Alana mau liat Mas Dava." ucap ALana gusar.


Semuanya menatap Alana iba, Jihan tak bisa menahan tangisnya.


Dokter yang memeriksa Dava telah keluar. Dengan segera Alana masuk kedalam.


Alana langsung memeluk Dava, banyak selang ditubuhnya. Alana menangis sambil memeluk Dava.


Tiba-tiba ada yang menarik tangan Alana agar menjauh dari Dava. Alana menatap Dava sendu.


"Mana yang sakit? Bilang sama aku, mana yang sakit?" tanya Alana sambil mengusap tangan Dava.


Alana sangat terkejut saat Dava menepis tangannya kasar. Menatap Alana seolah orang asing.


Alana melihat yang tadi menariknya adalah Diana, mengapa Diana ada di sini?


"Diana, dia siapa?" ucap Dava.


Deg.


Alana lemas dengan ucapan Dava. Apa-apaan ini? Mengapa Dava berbicara begitu padanya? Apa Dava sedang prank dirinya? Jika ini adalah sebuah prank sama sekali tidak lucu.

__ADS_1


"Kamu gak kenal aku? Kamu lupa? Baru tiga bulan kita gak ketemu, kamu udah lupa siapa aku?" ucap Alana membuat Dava memegang kepalanya sambil meringis.


"Sebaiknya lo keluar." ucap Diana membuat Alana tertawa hambar.


"Pasien baru sadar kemarin." ucap dokter lalu pergi meninggalkan ruangan.


"Mas Radit kenapa ma?" tanya Alana bergetar.


"Dava kehilangan memorinya, ia tak bisa mengingat kejadian dua tahun kebelakang." ucapan Jihan membuat Alana kaget.


"Enggak. lni pasti bohong! Mas, kamu kenal aku kan? Aku istri kamu. lstri sah kamu." ucap Alana menggenggam tangan Dava.


"lstri? Aku belum menikah. Dan saya akan menikah dengan Diana." ucap Dava membuat Alana lemas, kakinya seperti jelly.


Alana menangis sejadi-jadinya saat mendengar perkataan Dava. Malvin yang melihat itu ikut menangis. Air mata Malvin mengalir begitu saja, buru-buru Malvin menghapusnya agar Alana tak melihatnya. Bagaimanapun Malvin harus kuat, demi Alana.


Malvin membawa Alana keluar ruangan, diikuti oleh Jihan. Sari yang melihat itu langsung memeluk Alana.


"Bunda~ ini mimpi kan?" ucap Alana menatap kosong kedepan.


Sari tak bisa menahan tangisnya. Sari meringkuh tubuh Alana yang hancun


"Diana, perempuan tadi siapa?" tanya Dava sambil mengusap pipi Diana.


"Bukan siapa-siapa." jawab Diana sambil mengusap rambut Dava.


Flashback on.


Dava bersiap-siap untuk pulang dan menemui Alana. Jujur, baru dua bulan saja Dava sudah tak bisa menahan rasa rindunya pada Alana.


Dava tak membawa banyak barang, hanya dompet dan heandpone saja yang ia bawa.


Dava ingin mengobati rasa Ridunya walaupun sehari. Dava sangat rindu suara Alana, ocehan Alana, wajah Alana saat merajuk, dan Dava rindu pelukan Alana.


"Dava, aku ikut ya." ucap Diana menghampiri Dava yang akan segera berangkat.


"Gak. Kamu masih banyak tugas disini." ucap Dava membuat Diana merengut.


Dava sengaja tak mengirimkan Alana pesan, karena Dava akan memberikan Alana kejutan. Dava yakin, pasti Alana senang saat Dava tiba-tiba di hadapannya.


Saat Dava menyetir dengan kecepatan sedang, tiba-tiba dari arah sebelah kanan munculah mobil truk yang menabrak Dava.


Darah mengalir deras dari kepala Dava. Matanya berkunang-kunang.


”Alana, jaga diri baik-baik. ” kata itu yang keluar dari mulut Dava sebelum semuanya gelap.


Dava merasa dirinya akan mati, tapi tuhan masih berbaik hati padanya. Dokter hanya menyatakan bahwa Radit koma.


Jihan yang mendengar kabar tersebut langsung buru-buru pergi ketempat Dava di rawat.


Sebulan penuh Jihan selalu menangis melihat keadaan Dava . Dan sebulan Jihan tak berani memberi tahu Alana tentang ini.


Jiham melihat heandpone Dava yang sedikit retak. Jihan mencari nama Alana disana. Jihan tersenyum pedih saat melihat nama Nyonya Mahesa💖.


Jihan mengetik sebuah pesan untuk Alana. Jihan yakin Alana sekarang sedang galau memikirkan Dava.


Nyonya Mahesa💖


Mas pulang seminggu lagi, see you.


18.30


Setelah mengetik itu Jihan meletakan heandpone nya di nakas. Jiham mencium kening Dava yang dibalut kasa.


"Cepat bangun sayang. lstrimu menunggu di rumah." ucap Jihan menatap putranya lalu menatap Diana yang menemani Dava selama koma.


Seminggu berlalu, Dava siuman membuat Jihan tersenyum bahagia.


"Mama.." kata itu yang pertama kali keluar saat Dava sadar.


"lya, ini mama." ucap Jihan menggengam tangan Dava.


"Diana mana ma?"


Ucapan Dava membuat Jihan bingung, kenapa yang pertama kali Dava sebut adalah Diana.


Dokter datang dan memeriksa Dava.


"Bu, boleh kita bicara sebentar." ucap dokter dan di angguki oleh Jihan.


Jiham menunggu dokter mengambil surat tes milik Dava.


"Maaf bu, ananda Dava mengalami benturan yang begitu keras sehingga membuat urat sarafnya putus. Dava mengalami amnesia ia tak bisa mengingat kejadian dua tahun kebelakang." ucapan Dokter membuat Jihan sedih.


"Maafin Mama Alana."


Flasback of.

__ADS_1


__ADS_2