
"Kok Kak lisa mau sih sama bang Malvin. Padahal kan dia anaknya jorok,jarang mandi kalo libur, hobinya rebahan sambil main hp." ucap Alana menggerutu pada sang Sari.
"Ya itu kan kalo jodoh saling melengkapi. Abangmu jorok, Jihan rapih. Kayak kamu sama Dava, kalo Dava it--"
"Kalo Dav ganteng, kalo Alana cantik kan bun." potong Alana membuat Sari berdecak.
"Hilih, hoohken we lah." ucap Sari dengan logat Sunda.
"Wih anjay followers gue naik. Asiqu." ucap Malvin sambil berjingkrak-jingkrak gak gelas.
"Encok tau rasa kamu Vin." sindir Sari yang sedang menonton televisi kesukaannya, apalagi kalo bukan film India.
Kevin ikut duduk di samping Alana dan menyenderkan kepala di bahu Alana. Dengan refleks Alana langsung mendorong kepalanya karena geli.
"Dek." panggil Malvin.
"Naon"
"Jajan yuk, gue liat ada kuliner baru di depan komplek." ucap Malvin membuat Alana semangat empat lima.
"Traktir tapi ya."
"Hm." balas Malvin sok cuek.
Setelah izin kepada Sari, Alana dan Malvi berjalan keluar rumah menggunakan Vespa kesayangan Malvin.
"Bang, emang kulinernya apa aja sih?" tanya Alana lumayan kencang.
"Hehe iya." balas Malvin gak nyambung.
Pasti kalian pernah kan naik motor? Dan kalian di ajak bicara sama yang nyetir maupun yang dibonceng.
Dia nanya apa dan kamu jawab apa, karena kamu pake helm dan terganggu mesin motor. Yha, itu yang Malvin rasakan sekarang.
"Gak nyambung!" bentak Alana memukul bahu Malvin gemas.
"Maaf, abang pake heandset."
"Helm bujang." balas Alana atas kebloonan abangnya yang sudah stadium akhir.
Malvin memarkirkan motornya di parkiran kafe, nama kafenya adalah kafe edan.
Kafe itu cukup ramai oleh pemuda -pemudi yang tak ingin melewatkan kesempatan ini untuk update inststory.
"Wih ***** cakep bener tuh cowok."
"sayangnya udah punya pacar."
”Sumpah dia cakep banget! "
Malvin yang dipuji seperti itu jadi nge-fly dengan wajah sok gantengnya, Malvin melangkahkan kakinya memasuki kafe.
"Gausah sok cakep bang. Bawaannya pengen Alana gaplok muka abang." ucap Alana dengam volume kecil.
"Jangan gitu, gini-gini gue abang lo." ucap Malvin sambil menarik kursinya.
Mereka memesan makanan, Alana menatap muda-mudi yang sedang membicarakan cita-cita dan berbahagia dengan temantemannya.
__ADS_1
"Gue paham perasaan lo. Tapi, lo sendiri yang ambil keputusan ini Al. ucap Malvin menatap adiknya.
Alana tersenyum dan menatap Malvin yang sedang memperhatikannya.
"Aku gapapa kok bang, aku gak pernah nyesel sama keputusan aku." ucap Alana.
Makanan yang mereka pesan datang, Alana menyambut dengan senang. Sudah lama Alana tak menghabiskan waktu berdua dengan abangnya.
"Gimana hubungan lo sama Dava?" tanya Malvin mencairkan suasana.
"Lumayan baik." ucap Alana sambil mengaduk mie nya.
"Apa kata lo lumayan?" ucap Malvin heran dengan kata lumayan yang keluar dari mulut Aina.
"Alana gak tau kedepannya gimana saat ada dia di rumah tangga aku Bang." ucap Alana sendu.
"Dia? Siapa yang lo maksud?" ucap Malvin semakin bingung.
"Ih abang kepo! Mau tau rumah tangga orang aja." ucap Alana tertawa melihat mimik wajah Malvin yang pengen tau banget.
"Sue bet." cicit Malvin. Setelah makan Alana dan Malvin memutuskan untuk pulang. Alana menaiki Vespa milik Malvin.
Sepanjang perjalanan Alana dan Malvin tak berhenti tertawa, Alana terpingkal-pingkal atas candaan yang dilontarkan Malvin.
Malvin menceritakan prisriwa lucu saat ia melakukan KKN di sebuah desa yang penduduknya memiliki humor receh. Hobi ngerumpi dan gibah.
"Atuh masa ya temen abang di godain banci pas lagi nongkrong sambil minum kopi."
"Banci? Astaga terus gimana?"
"Ya kita pada bubar lah."
Bundanya sama sekali tak merubah bentuk kamarnya, Alana berjalan ke lemari mengambil album foto di sana.
Alana membolak balikan album foto itu. Foto yang berisikan kenangan masa kecilnya. Kenangan bersama keluarga dan teman temannya.
"Alana." panggil Sari di ambang pintu membuat Alana menutup album fotonya.
"kenapa bun?"
"Ada Dava di bawah." ucap Sari membuat Aina segera turun kebawah.
Tak seperti biasanya Dava pulang setengah hari. Alana menghampiri Dava dan mencium punggung tangannya.
"Tumben udah pulang." tanya Alana,
"Iya, mas di kasih waktu buat pulang. Karena besok mas pindah tugas." ucap Dava membuat Alana bertanya.
"Pindah tugas kemana mas?"
"Jakarta, karena sekarang lagi mewabah virus corona dan disana kekurangan tenaga medis
makannya mas terpaksa untuk kerja disana." ucap Dava
Sari datang membawakan air untuk Dava.
"Makasih bun." ucap Dava dan di angguki oleh Sari.
__ADS_1
"berapa lama di sana?" tanya Alana.
"Tiga bulan." ucap Dava membuat Alana melotot.
Apa katanya? Tiga bulan Dava di Jakarta? Sungguh ini membuat Alana harus siap-sia diterjang badai kerinduan.
"Selama itu?"
"Ya mau gimana lagi, sebenarnya mas gak mau ninggalin kamu selama itu." ucap Dava menggenggam tangan Alana.
"Apa Diana ikut?" tanya Alana
"Iyah tapi aku janji gak akan buat kamu kecewa Alana." Jelas Dava.
Alana menatap Dava mencari kebohongan disana. Namun nihil, Alana sama sekali tak menemukan kebohongan di mata Dava.
"Kenapa natap aku gitu? Mata aku ada belek ya?" tanya Dava sambil mengusap kedua sudut matanya.
"Eh, enggak kok enggak." ucap Alana jadi malu sendiri.
Dava dan Alana menonton televisi yang berisikan berita tentang wabah virus.
"Berarti nanti kamu nyuci sendiri?
berbisik agar tak ada yang mendengar siapa itu Diana.
Dava mengangguk membuat Alana tak tenang, bagaimana Alana bisa metelakan suaminya tugas bersama Diana yang notabenya menyukai Dava.
"Tapi mas aku gak setuju kalo kamu bareng dia." ucap Alana.
"Alana, tugas aku sama Diana itu buat nyelamatin para pasien, bukan untuk hal lain." ucap Dava memberikan pengertian kpada Alana.
Apapun yang dikatakan Dava sama sekali tidak membuat Alana tenang. Pikirannya berkecamuk, otaknya memutar memori saat Diana mengatakan apapun akan dia lakukan untuk dapetin Dava.
"Hm oke, tapi kamu harus janji jangan lupa terus kabarin aku. Jangan terlalu deket sama Diana, jangan berduaan sama dia. Sesibuk apapun kamu tolong kasih aku kabar." ucapan Alana terbesit kekhawatiran di hatinya, saat ia harus merelakan Dava untuk ikut berjuang membantu para pasien yang terkena virus.
Satu hal lagi, Alana sangat khawatir dengan Dava. Alana sangat takut Diana akan merencanakan hal untuk mendapatkan Dava.
"lya, Alana iya~" ucap Radit mencubit pipi Alana gemas.
"Kalo Alana ikut boleh?" tanya Alana sambil bersandar di bahu Dava.
"Jangan. Kamu disini aja, kamu cari tempat Aman. Kamu jangan kemana-mana ya." ucap Dava membuat Alana cemberut.
Bagaimanapun Alana harus mematuhi apa yang dikatakan Dava, Alana yakin Dava akan menjaga hatinya untuk Alana.
"Pulang yuk, mas belum beresberes." ajak Dava dan diangguki oleh Alana.
Setelah izin kepada Sari dan Malin, dua sejoli ini memasuki mobil milik Dava.
Alana membuka gerbang rumahnya dan membuka pintu depan rumahnya, sedangkan Dava memarkirkan mobilnya di garasi.
Mereka berdua memasuki rumah dan duduk santai di ruang keluarga.
"Aku gak tau kamu pulang jam segini, makannya aku belum masak apa-apa." ucap Alana meletakan cemilan untuk Dava.
"Gapapa, aku udah makan kok." ucap Dava sambil mencomot kripik yang Alana sediakan.
__ADS_1
"Bareng Diana lagi?" tanya Alana membuat Dava tak jadi mengambil cemilan.
"Enggak kok." ucap Dava.