Suami Ku Adalah Dokter

Suami Ku Adalah Dokter
Chapter 27


__ADS_3

Dava dan Alana sedang sibuk membereskan barang-barang yang akan di bawanya besok ke lombok.


Alana sangat antusias, bahkan senyumnya tak pernah absen dari bibir mungilnya. Bahkan Alana sekarang sangat semangat merapikan bajunya kedalam koper.


"Selesai deh!" Alana mengangkat tangannya ke atas seolah puas dengan kerjanya.


"Tapi punya mas belum." Ucap Dava.


"Sini aku bantuin." Alana bangkit lalu berjalan ke arah Dava dan duduk disamping nya.


Dava merasa senang saat Alana begitu bahagia karena di ajak jalan-jalan oleh nya. Senyumannya sangat berbeda saat ia mendapatkan coklat kesukaannya.


"kamu gak pegel senyum gitu terus hm?"


"Senyum kan ibadah." Balas Alana yang masih fokus merapihkan baju Dava.


"kamu seneng?"


"Iya dong."


"Bahagia?"


"Banget. Kenapa emangnya mas?"


"Syukurlah, aku udah bisa bahagiain kamu walaupun dengan hal kecil." Ucap Dava sambil menatap Alana.


"Mas tau kebahagian terbesar aku?" Tatapan Alana beralih menatap Dava.


"Coklat." jawab Dava spontan.


"Bahkan lebih dari sejuta coklat." jawab Alana.


"Terus."


Alana mengegenggam tangan Dava dan menempelkan di pipinya. Alana mencium telapak tangan Dava sambil memejamkan matanya.


"Hidup sampai tua bersama kamu sayang." ucap Alana membuat Dava salah tingkah, kupingnya memerah bertanda bahwa ia sangat malu dan senang.


Dengan gemas Dava mencubit dua pipi Alana dan hidungnya, membuat si empu meringis.


"Belajar gombal dimana?" tanya Dava penuh selidik.


"Ini bukan sebuah gombal atau bahkan bercandaan. Alana benar-benar sayang kamu sebesar ini." Alana membentangkan tangannya seolah memberi tahu bahwa cintanya untuk Dava tak terhingga.


"kalo kamu sebesar itu, makan cinta mas lebih dari itu." Dava menarik Alana kedalam pelukannya mengusap rambutnya lembut lalu mengecup kepala Alana.


Dava sangat menyukai harum tubuh istri kecilnya ini, menyukai shampo yang digunakan Alana, dan Dava sangat menyukai Alana.


Mereka memang di jodohkan tapi bukan berarti harus saling membenci, cinta datang dengan sendirinya. Tidak percaya? Mereka buktinya.


Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan, dan Tuhan punya cara sendiri untuk mempersatukannya.


"Selesai beres-beres kita tidur." ucap Dava sambil menutup kopernya lalu meletakannya di samping kasur mereka.


Alana berjalan mendahului Dava, ia merebahkan diri di kasur diikuti oleh Dava. Sebelumnya Alana tak berani tidur menghadap Dava, namun Alana sadar tak baik membelakangi suaminya.


Perlahan Alana menatap matanya, tak sabar untuk esok. Alana membayangkan berjalan berdua di pantai bersama Dava.


Dava tersenyum melihat istrinya sudah terlelap, ia memejamkan matanya dan menyusul Alana kedalam mimpi.


Jika ingin memiliki seseorang sepenuhnya nikahi dia, jaga dia, dan cintai dengan sepenuh hati. Berpacaran sama sekali tidak terlihat keren, setiap sentuhannya mendapatkan dosa.


-*nih prinsip author nih, klau pembaca kayak gimana?


05:00 AM*


Dava bangun saat mendengar suara alarm nya, mengusap matanya oelan lalu menatap Alana yang sama sekali tidak terusik oleh suara alarm.


Dava menepuk pipi Alana mengajaknya untuk shalat subuh. Mata Alana perlahan terbuka.


"Eungh. Jam berapa ini mas?" tanya Alana sambil duduk di tepi kasurnya.

__ADS_1


"Subuh, ayo kita shalat."


Dava berjalan untuk mengambil wudhu begitupun dengan Alana. Inilah nikmaynya menikah, bisa shalat bersama imam mendapatkan pahala yang besar, apapun yang Dava inginkan Alana hanya bisa mengaminkan.


"Assalamuallaikum warohmatullah.." Dava mengusap wajahnya.


Dava berbalik menatap Alana lalu Alana mencium punggung tangannya Dava, dan Dava mencium kening Alana.


Setelah Shalat Dava pergi mandi dan Alana menyiapkan sarapan untuk mereka.


Mereka akan berangkat jam 10 nanti, Dava memasukkan koper kedalam bagasi agar nanti tidak keteter.


"mas sarapan dulu yuk." ajak Alana di pintu depan masih menggunakan celmeknya.


"iya tunggu ya." Dava menutup pintu bagasi dan jalan menghampiri Alana.


Mereka berjalan ke meja makan, masing-masing menarik kursinya. Alana melepaskan celmek nya dari tubuhnya.


Tangan Alana meraih piring lalu meletakannya di depan Dava. Alana mengambil nasi untuk Dava, tak perlu menanyakan Alana sudah tau berapa ukuran porsi Dava.


"Mau pake apa? Telur apa ayam?" tanya Alana.


"Ayam aja."


Alana meletakkan paha ayam dipiring Dava, dan Alana mengambil makan untuknya.


Suasana hening, dulu pernah Alana makan smabil bicara setelah Dava menasihatinya Alana mengikuti perintah Dava.


"Sini biar mas bawa piringnya!"


Dava mengambil alih piring dari tangan Alana dan membawanya ketempat pencuci piring.


"Sini biar aku cuci." Alana mulai menyiram satu persatu piring dan mencucinya.


Tiba-tiba ada sebuah tangan yang melingkar dipinggang nya. Dava meletakan dagunya dibahu Alana membuat Alana bergidig geli.


"Geli mas." ucap Alana sambil melepaskan dagu Dava dan bahunya. Bukannya menghindar tapi Dava malah menggoda Alana.


Saking asiknya mencuci piring ia tak melihat jam yang menunjukan pukul delapan.


"ih kamu udah rapi. Aku masi kayak inem." ucap Alana lalu membereskan piring dan naik ke kamar.


Butuh waktu setengah jam menunggu Alana bersiap-siap, Alana tidak berdandan tapi mandinya lama, biasalah anak cewek.


"Ayok. Kerumah Bunda dulu ya mas." Alana berjalan keluar rumah menuju mobil.


Mereka akan kerumah orang tua Dava dan Alana. Setelah kerumah keduanya mereka akan berangkat ke bandara.


Mobil Dava melaju dengan kecepatan rata-rata membelah jalanan kota Bandung yang sejuk.


Mobil Dava terparkir rapih didepan halaman rumah orang tua Dava. Dava berjalan memutar mobil dan membukakan pintu untuk Alana membuat dirinya tersipu malu atas perlakuan Dava yang tak terduga.


"Silahkan turun nyonya Mahesa." ucap Dava mengulurkan tangannya kedepan wajah Alana. Dengan malu-malu Alana meraih dan menggenggam tangannya.


Mereka berdua berjalan memasuki rumah orang tua Dava sambil mengucapkan salam. Mama Dava- Jihan datang menghampiri keduanya.


"udah dateng?" Jihan menyalimi mereka berdua.


"iya ma."


"Alana makin gembul aja pipinya. Udah ngisi ya?" tanya Erinka sambil ikut duduk disamping Alana.


"ngisi apa?" tanya Alana bingung dengan ucapan Jihan yang menurutnya perkataan yang asing baginya.


"Maksud mama kamu ham-"


"Engga ma." jawab Dava cepat membuat Jihan cemberut.


"Kita mau pamit ma, doain ya semoga selamat sampai tujuan." ucap Dava.


"iya pulang dari sana kasih mama cucu oke."gurau Jihan membuat menantunya malu.

__ADS_1


"Yaudah, kita mau kerumah Bunda dulu." ucap Dava lalu mencium punggung tangan Jihan begitupun dengan Alana.


Dava menggenggam tangan Alana menuju mobil, Alana duduk di kursi samping suaminya.


Mobilnya melaju menuju rumah Sari. Berulang kali Dava menatap Alana yang sedang memandang jalanan.


"untuk seminggu kedepan aku bakal kangen kota Bandung." ucap Alana sambil tetap menatap jalanan.


"Cuma seminggu, bukan sebulan, apalagi setahun." jawab Dava.


"Tapi aku bakal lebih kangen kalo kamu gak ada disamping aku." jawab Alana.


"Tuh kan kamu pinter gombal sekarang." ucap Dava gemas, tangan kirinya mengacak rambut Alana.


"Ih rambut aku berantakan mas." ucap Alana sambil merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan.


Keadaan mobil kembali hening, rasanya Alana tak sabar untuk kesana. Tangannya membuka tas dan mengambil handphone miliknya, membuka sosial medianya.


Saking asiknya bermain handphone Alana sampai mengabaikan Dava dan melupakan bahwa mereka sudah sampai.


Kali ini Dava tak membukakan pintu untuk Alana tapi Malvin sudah menanti di depan pintu mobil.


"Dek lo mau ke lombok? Gak ngajak gue? Parah banget lo." baru turun Alana sudah seperti diwawancarai oleh Malvin.


"ngapain bawa Abang. Takutnya nyakar orang." jawab Alana mengabaikan Malvin dibelakang.


"Lo kira gue macan."


"Abang bukan macan." jawab Alana sambil duduk di sofa ruang keluarga.


"Terus?"


"Monyet." ucap Alana dengan santuy nya membuat Malvin merengut.


"Udah mau berangkat?" tanya Sari yang sudah siap dengan pakaiannya.


"iya."


Sari dan Malvin akan mengantar Alana dan Dava ke bandara.


"Yuk."


Mereka berjalan ke arah mobil Dava. Pertama berangkat Dava yang menyetir pulangnya Malvin yang membawa mobil Dava.


Keadaan mobil sangat ramai, mereka terlihat sangat bahagia. Iya bahagia karena membully Malvin.


"Alana disana jangan jauh-jauh dari Dava ya." ucap Sari.


"iya bun."


"Dava, gue titip Alana ya. Jaga dia, kalo badung buang aja." ucap Malvin membuat Alana melotot ke arahnya.


Mereka sudah sampai di bandara, Dava dan Malvin berjalan ke bagasi untuk mengambil koper milik Dava dan Alana.


15 menit lagi mereka akan berangkat, padahal Alana akan pergi seminggu tapi Sari malah menangis.


"Bunda kenapa nangis?" tanya Alana sambil mengusap punggung Sari.


"Bunda sedih." ucap Sari serak.


"Yang namanya nangis, pasti sedih bun." jawab Alana.


"ini bunda sedih banget."


"Yaelah bun, Alana cuma pergi seminggu bukan setahun." jawab Malvin heran menatap bundanya yang sedang menangis.


"ini bukan tentang Alana!."


Sari menarik nafas panjang dan menatap Malvin dengan tatapan menyedihkan.


"Bunda sedih, Alana mau pergi bulan madu sama suaminya. Kamu kapan Vin, KAPAN?!"

__ADS_1


"yaelah bun, jodoh Malvin tuh salah satu dari yang nge vote cerita ini."


__ADS_2