Suami Ku Adalah Dokter

Suami Ku Adalah Dokter
Chapter 23


__ADS_3

"Alana jelek!"


"Abang bau ketek!"


"Ish bau banget kentut nya iyuh!"


"berbagi itu indah." Ucap Malvin sambil menjulurkan lidah.


"Liat Dara ada di tanganku hahaha." ucap Alana puas dengan boneka lapuk ditangannya.


"berani macem-macem gua buang lu ke kali!"


"bodo Alana ngga takut."


Malvin berusaha menangkap Alana yang naik ke atas sofa.


"Aduh kenapa sih kalian ribut terus."


Sari datang dengan membawa guling, ia sangat terganggu dengan keributan ini.


"Abang yang gangguin Alana." tuduh Alana kepada Malvin.


"jelas-jelas lo. Balikin sarah! Gue mau tidur jingan."


"Bodo amat wlee."


Saking berisiknya mereka sampai tidak menyadari bahwa Dava sudah datang menjemput Alana.


Saat Malvin hendak menangkap Alana, dengan sigap Alana langsung melompat ke tubuh Dava.


Untungnya Dava bisa menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh.


"mas bantuin Alana. Abang jelek itu ngejar Alana terus."


Dava hanya diam, ia terlalu lelah sebenarnya. Tapi setelah melihat istrinya yang tengah digendong ia langsung fit kembali.


Tapi Malvin tetap jngin mengambil bonekanya.


"Alana balikin!" Malvin terus meraih bonekanya.


"Gak mau!"


"Alana." ucap Dava dengan suara lembut membuat Alana luluh.


"nih ambil boneka jeleknya." Alana mengembalikan boneka kepada Malvin.


Seperti seorang anak kecil yang dimarahin oleh ayahnya, Alana luluh pada Dava.


"Akhirnya Alana ada pawangnya."


Ucapan Malvin membuat Alana melotot.


"Mau pulang sekarang?" tanya Dava kepada Alana yang masih betah digendongan nya.


"Hayuk."


"bunda sama ayah mana? Kita pamit dulu."


"kayaknya udah tidur."


"Turun lu kaya monkey ae lu." ledek Malvin kepada Alana.


"Gapapa Alana enteng kok, suami Alana aja gak keberatan wlee." ucap Alana menjulurkan lidahnya kepada Malvin.


"Alana gak boleh gitu." peringat Dava membuat Alana mengangguk. "Kita pulang ya." pamit Dava kepada Malvin.


"Ya, hati-hati ya."


"Dadah Abang." ucap Alana saat di ambang pintu.


"Alana jangan lupa kasih Dava hak." teriak Malvin dari dalam rumah.


Alana dan Dava tentu mendengarnya.


"Alana harus kasih hak apa mas?"


"Nanti mas kasih tau, tapi gak sekarang."


Dava mengendarai mobil dengan santai, berulang kali ia melirik Alana yang sedang menguap.


Alana berusaha menguatkan matanya agar tidak tertidur.


"Tidur aja kalo kamu nagantuk."


"Enggak kok mata Alana masih seger. Nih liat." Alana membuka matanya lebar-lebar untuk meyakinkan Dava bahwa ia tidak mengantuk


"Mas, besok aku izin ya."


"Izin kemana?"


"Alana mau ketemu Clara, kayaknya dia gak baik-baik aja deh. Tadi siang di nelpon aku sambil nangis, aku jadi gak tega."


"Sendiri?"


Alana menggeleng.


"berdua sama Aldi"


"Ajakin Nadia, aku gak ngizinin kamu kalo berdua doang," ucap Dava final.


"Oke bosku."


Awan sangat mendung, petir bergemuruh. Hujan turun membasahi jalan. Alana membuka tas nya, mangambil binder miliknya.

__ADS_1


Ia memulai membuka tutup pulpennya, tangan kanannya mulai menulis di atas kertas. Ia sangat suka menulis puisi kala hujan.


Dava menatap keseriusan di wajah Alana saat menulis puisi, sedikit terlihat dewasa kala diam.


Alana menaruh pulpennya dan menaruh di tas miliknya.


"Mau aku bacain gak? Aku bikin puisi khusus buat kamu."


Dava jadi Penasaran bagaimana isi puisi yang Alana tulis untuknya.


"Boleh."


Alana menarik nafas dalam, melirik Dava sebentar.


*Ku lukiskan kuas dalam dermaga


Tak bergambar namun berubah warnanya


Ku tampung setetes air dalam gelas


Terkena cahaya air hilang tanpa bekas


Ku tadahkan telapak tangan kala hujan


Segaris langkah penuh tujuan


Awalnya ku kira kita tak ada perasaan


Kini ku sadar cinta datang tanpa undangan


Kamu mengajarkan ku arti kedewasaan


Kamu menatap ku penuh kesabaran


Beruntungnya aku mendapatkanmu, pujaan


Yang selalu ada saat aku kesulitan


Terima kasih untukmu kekasih halalku


Yang berani memegang tangan ayahku


Ijab kabul yang kamu ucapkan


Selalu dalam ingatan*.


Dava merona saat Alana membacakan bait terakhir.


"tamat. Gimana bagus gak?"


"bagus."


"Suka nggak?"


"Suka apanya?"


"Puisinya."


"Yang buat puisinya suka nggak?"


"Enggak."


"Ish kok gitu?"


"Suka itu sementara, cinta itu selamanya."


"jadi mas cinta Alana?"


"Enggak juga."


"tau ah, Alana males,"


"Iya Mas cinta kamu Sayang."


Air mana air, Alana ingin menenggelamkan diri sangking panas pipinya.


®®®®


Jam menunjukkan pukul 5 pagi, tapi Dava tak menemukan dimana istrinya.


Ia bergegas mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat subuh.


Dava mandi dan bersiap untuk kerja, ia mengambil jas putihnya yang sudah Alana siapakan di atas kasur.


Setelah siap Dava turun ke lantai bawah, ia menemukan Alana sedang memasak.


"Eh udah bangun?"


"Iya, kamu bangun jam berapa?" Dava menarik kursi meja makan.


"Aku bangun jam empat, aku nyoba masak nasi goreng. Yang pertama ke asinan, yang ini lumayan." ucap Alana sambil nyengir.


Dava tersenyum bangga, sedikit demi sedikit Alana ada perubahan. Istrinya sudah rela bangun pagi demi menyiapkan sarapan untuknya.


"Makasih udah siapin sarapan buat mas."


"iya sama-sama. Maaf ya kalo gak enak. Tapi Alana janji bakal belajar masak lagi." ucap Alana sambil tersenyum.


Dava mulai mencicipi nasi goreng buatan Alana, yang rasanya tidak terlalu buruk. Makanan nya masih bisa di terima oleh perutnya.


Setelah sarapan Dava pergi untuk memenaskan mobilnya. Alana datang menghampiri Dava sambil membawa tas miliknya.


"Kamu berangkat jam berapa?" tanya Dava sambil mengambil alih tas dari tangan Alana.

__ADS_1


"Jam sepuluh sih, tapi Alana mau nyoba bersih-bersih rumah."


"Nanti kita sewa pembantu ya, biar kamu gak kecapean."


"Ya mas. Udah jam setengah tujuh, kamu gak mau berangkat?"


"Yaudah mas berangkat ya,"


Alana mencium punggung tangan Dava. Dava mencium kening Alana.


"Hati-hati ya,"


Setelah Dava berangkat, Alana kembali ke dapur. Di sana sudah seperti kapal pecah.


"Perasaan Alana cuma masak nasi goreng, kenapa dapur udah kayak kena bom atom aja."


Alana membereskan sampah bekas bawang, mengelap minyak yang terciprat kemana-mana.


Alana mengambil sapu dan menyapu lantai. Setelah beres membersihkan lantai Alana mangambil baju kotor dan mencucin


Alana menjemur pakaian yang sudah ia cuci. Alana mengisi ember dengan air, ia akan mengepel lantai.


"Duh cape juga ya jadi ibu rumah tangga." Alana mengusap keningnya yang bercucuran keringat.


Setelah mengepel, Alana duduk sebentar di sofa.


Tok tok tok.


"Siapa yang bertamu sepagi ini?"


Alana berjalan ke pintu depan, membukakan nya dan Alana mendecak saat melihat siapa yang bertamu.


"lo belum mandi ya? Bau asem njirr." ucap Nadia membuat Alana mencium tubuhnya sendiri.


"Enak aja engga lah."


Nadia duduk di sofa. Menatap rumah Alana yang lumayan besar.


"percuma ya rumah lu gede, kalo yang tinggal cuma berdua."


"gapapa berdua, nanti kalo punya anak juga rame."


Nadia mengangguk paham, Alana meletakkan air minum untuk Nadia.


"Tunggu di sini ya, Alana siap-siap dulu. Aldi udah di kabarain?"


"Aldi udah di sana sama Clara."


"lah janjiannya jam sepuluh. Jam sembilan udah siap."


"Iya lah, mereka kan mau berduaan dulu. Namanya juga pasangan baru."


"hah mereka udah pacaran?"


Nadia mengangguk


"Hah ngga nyangka aku."


"Gece ***** lo kapan mandinya."


"Iya-iya Alana siap-siap dulu." ucap Alana lalu berjalan menuju kamarnya.


10 menit menunggu Alana siap-siap, mereka menelpon Aldi. Nadia kesini diantar oleh supirnya.


15 menit mereka mendengar suara klakson mobil, itu berarti Aldi sudah datang.


Alana dan Nadia berjalan ke mobil Aldi, Nadia duduk di kursi depan dan Alana duduk di kursi penumpang.


Penciuman Alana sedikit terganggu, mengapa ia merasakan bau darah. Alana sedikit bergeser takut-takut kalo ia tembus.


Tapi nihil, Alana tidak tembus sama sekali.


"kok mobilnya bau darab sih Di?"


Baru saja Alana ingin berbicara namun sudah keduluan oleh Nadia, Alana melihat raut wajah Aldi tapi tak ada yang mencurigakan.


"Kok gua gak ngecium sih?" tanya Aldi.


"Mampet kali lo,"


"Oh iya astaga, tadi pas gua ajak Clara dia mimisan di mobil gue."


Ucapan Aldi membuat Alana dan Nadia terkejut.


"Dia makin parah ya?" tanya Alana.


"ya gitu, gue lagi cari mang-, eh maksudnya lagi cari orang yang mau donor."


Mereka sebuah di sebuah kafe yang luamayan besar, dengan buru-buru Alana berlari kedalam kafe mencari keberadaan Clara.


Matanya berhenti saat ia melihat seorang gadis yang menatap kosong ke depan. Alana langsung memeluknya dari belakang.


Punggungnya terlihat sangat rapuh, seperti sebuah kaca yang ketika di sentuh terasa ingin pecah.


Bahkan saat Alana peluk Clara langsung menangis, membuat Alana semakin takut dan khawatir.


"kak Alana." panggil Clara lirih.


Nadia dan Aldi hanya bisa menyaksikan mereka saja tanpa ikut campur.


"Aku takut kak."


"Hust, I always with you."

__ADS_1


__ADS_2