
Jujur Alana sangat khawatir dengan kondisi Clara, ingin rasanya ia menyuruh Clara untuk tinggal bersamanya. Tapi, tidak mungkin, Alana sudah menikah tak baik membawa perempuan lain yang bukan saudaranya tinggal bersama.
Berulang kali Alana membujuk Clara untuk bercerita namun hanya kata takut yang keluar dari bibirnya.
"Aku cuma pengen ketemu kakak. Abisnya aku kangen sama ka Alana." ucap Clara membuat Alana tersenyum.
"Aku kan emang ngangenin." guarau Alana.
Nadia yang mendengar itu membuat muka seolah-olah ingin muntah.
"Sirik aja huh." sungut Alana.
Aldi sedari tadu menatap Clara, seperti ada sesuatu yang ia pikirkan. Alana menatap Aldi dengan tatapan bingung.
"Kenapa Di? Ada masalah?" tanya Alana membuat Aldi menggelengkan kepala.
"Enggak kok." jawabnya membuat Alana mengangguk.
Jam menunjukkan pukul 2 siang, sudah berapa lama ia duduk di sini. Tak baik juga seorang istri keluar terlalu lama.
"Clara kalo ada apa-apa hubungin kakak aja ya. Aku harus pulang."
"Demen amat lo di rumah." ucap Nadia membuat Alana tersenyum penuh arti.
"iya dong, rumah kalo pemberian suami mah beda rasanya." ucap Alana sombong membuat Aldi dan Clara tertawa.
"Nikah sama kak Dava bikin songong ya Al." ucap Nadia.
"Sedikit realistis."
"Aldi, Clara kayaknya kita pulang dulu ya. Next time kita meet lagi oke." pamit Nadia.
kayaknya kita pulang dulu ya. Next time kita meet lagi oke." pamit Nadia.
"Mau gue anter?" tawar Aldi.
"Gak usah kita naik taxi aja, Aldi disini temenin Clara." ucap Alana sambil mengambil tas selempang nya.
Sekali lagi Alana menatap Clara yang kerap melamun. Rasanya Alana ingin terus berada di sisi gadis itu.
Mereka menyusuri trotoar jalan untuk menunggu taxi
"Al, lu gapapa kan pulang sendiri tiba-tiba dosen gua nambah jam lagi." ucap Nadia
"iya gapapa, hati-hati ya," balas Alana seraya tersenyum untuk meyakinkan Nadia.
Tak selang beberapa lama taxi yang ditumpangi Nadia jalan, Alana juga telah mendapatkan taxi untuk pulang.
"Dimana mbak?"tanya sang supir setelah Alana masuk taxi.
"Jalan kenangan nomor dua belas ya mas."
Supir itu mengangguk. Alana akan pulang kerumah bundanya, ia akan belajar resep baru untuk makan malam nanti.
"Assalamuallaikum mas."
"Waalaikumsalam, ada apa Alana?"
"Aku pulang ke rumah bunda ya, aku bete di rumah."
"Ya hati-hati, nanti sore mas jemput kamu."
"Iya mas, assalamuallaikum,"
Alana memasukan kembali handphone miliknya. Menatap jalanan kota Bandung yang padat.
Taxi berhenti di depan rumah bunda Alana. Alana turun dan membayar taxi.
Kaki jenjangnya melangkah menuju rumah, Alana sedikit terkejut melihat mobil yang ada di luar. Dengan cepat Alana masuk kedalam rumah.
"Assalamuallaikum oma!" teriak Alana sangat kencang, namun kenapa rumahnya sepi.
Krik krik.
Rumahnya terasa garing, Alana berjalan menuju dapur tapi tak ada orang di sana.
__ADS_1
"Lah diluar ada mobil oma, kok di dalem kosong." Alana jadi bingung sendiri.
"Heeh atuh."
Alana berbalik badan saat mendengar suara orang bicara, rupanya itu oma Alana. Dengan segera Alana langsung memeluk omahnya.
"oma aku kangen." Alana menenggelamkan kepalanya di lekukan leher omah.
"Alana sedih banget pas Alana nikah oma gak dateng."
"Kamu kan tau Appa sedang sakit waktu itu. Oma gak mungkin ninggalin Appa gitu aja." ucap Oma sambul mengelus rambut Alana sayang.
"Alana juga kangen Appa." ucap Alana sedih.
"Tumben nih kangen sama Appa, biasanya sama oma doang."
Alana terkejut dengan suara itu, ia melihat seorang kakek yang memegang tongkatnya.
Alana baru saja mau berlari ingin memeluk tapi sang pengacau datang.
"Jangan peluk Appa, dia males di peluk lo." ketus Malvin membuat Alana melotot.
"Malvin kamu ini. Sini peluk Appa." sang kakek merentangkan tangan dan memeluk cicu perempuan satu-satunya itu.
Orang tua dari Ayahnya Alana hanya memilik 2 anak. Ayah Alana dan adiknya masing-masing memiliki 2 anak, namun anak dari adiknya Ayah Alana lelaki semua, kembar pula.
"Oma pengen ketemu suami kamu."
"Nanti dia sore jemput Alana kok."
"Kamu masih sering ngemilin coklat?" tanya kakek membuat Alana mengangguk antusias.
"Suka! Appa mau kasih aku coklat kan?"
"Engga nanya aja."
"yha, kirain mau ngasih. Udah seneng padahal." ucap Alana lesu.
"jangan terlalu sering makan coklat, nanti gigi kamu bolong dan ompong kayak Appa dan oma." ucap oma memperingati.
"Dasar anak muda, gak mau dikasih tau." sindir Appa.
Oma menekan tombol televisi, di sana terdapat berita yang sedang hangat-hangatnya di bicarakan.
"Apa! Virus cirona sudah masik ke indonesia." ucap Malvin sok kaget.
"ini gara-gara abang sih, bikin snab sok-sokan orang indonesia kebal. Di azab kan."
"jangan gitu ipin, ucapan adalah doa." ucap sang oma.
"jangan manggil ipin lagi dong oma, Malvin udah besar." Malvin memang tak suka dirinya dipanggil dengan sebutan bocah kembar mirip tuyul itu.
"Lah apa salahnya toh, itu kan panggilan sayang dari oma." ucap oma sambil bercanda.
"hai abang ipin." goda Alana sambil mencolek dagu Malvin.
"Berisik!"
"Gitu aja marah, baperah huh." sindir Alana membuat Malvin jengkel.
Berada di dekat oma nya membuat Alana nyaman, sudah hampir satu tahun ia tah bertemu dengan sang oma. Bahkan sekarang Alana sudah tertidur di pahanya oma.
"Alana kita sudah besar ya, dulu masih kecil dan suka main di pinggir got nangkepin kecebong. Sekarang udah punya suami." ucap sang oma sambil mengusap rambut Alana, membuat sang empu semakin terlelap.
"Kamu kapan vin nikah, udah kumisan belum punya pasangan. Payah." sindir sang oma.
Malvin yang sedang menonton kartun pun langsung menatap oma nya dengan tersenyum penuh arti.
"Malvin mau jadi orang mapan dulu oma, bari nikah. Lagian jodoh gak akan kemana kok." ucap Malvin sok iye.
"Terserah kamu lah Pin." ucap sang kakek lalu ikut menonton televisi.
Jam menunjukkan pukul 4 sore, ketukan pintu membuat perhatian oma teralihkan.
Malvin berjalan membuka pintu, dan berdirilah pawangnya Alana.
__ADS_1
"Alana mana Vin?"
"Noh lagi molor bareng oma."
Dava menghampiri ruang keluarga, melihat Alana yang tertidur di paha sang oma.
Dava langsung mencium punggung tangan oma dan kakek.
"kamu Dava?" tanya oma
"iya nek."
"jangan panggil nenek, panggil oma aja ya. Biar keren dikit." ucap oma narsis.
"hehe iya oma,"
Oma menepuk pipi Alana pelan membuat Alana bangun dan mengerjapkan matanya perlahan.
"Bangun suami kamu udah dateng."
Alana bangun dan memegang kepalanya yang sedikit pusing. Mengucek matanya pelan, dan meraih tangan Dava untuk di cium.
"udah pulang mas?"
"kamu mandi gih terus sholat ashar." titah Dava.
"ih masa mas lupa, kalo aku lagi gak sholat."
Dava menepuk jidatnya, bisa-bisanya ia lupa.
"Maaf mas lupa."
Setelah banyak berbincang, waktu menunjukan pukul 7 malam. Dava dan Alana baru saja selesai makan malam.
"kita pamit pulang ya." Dava pamit kepada keluarga Alana.
"Hati-hati ya Dava, jaga cucu oma."
"iya oma, pasti Dava jaga. Ini sudah tanggung jawab Dava sebagai seorang suami."
Setelah berpamitan Dava dan Alana langsung menaiki mobil.
"Mas virus corona itu belum ada obatnya ya?"
"iya, kami semua tim medis lagi cari cara buat menanggal virus itu. Kamu kalo kemana-mana pake masker ya."
"Iya deh siap."
Keadaan mobil hening, petir kembali bergemuruh menandakan hujan akan datang.
"Mas, baju kita belum aku angkat."
"kamu nyuci?"
"Iya mas, ayo buruan keburu hujan."
Alana sampai lupa akan pakaian yang ia jemur waktu pagi.
Sesampainya Alana dirumah ia langsung berlari menggunakan jurus seribu bayangan. -naruto kali ah.
"Alana hati-hati."
Dava jadi ngeri sendiri melihat Alana yang super aktif.
Alana datang ke kamar dengan nafas yang terengah-engah.
Dava langsung memberikan minum yang ada di nakas pada Alana. Alana langsung meneguknya hingga kandas.
"Akhirnya Alana bisa jadi pahlawan."
Dava menatap Alana, pahlawan apa yang dia maksud.
"Pahlawan apa?" Tanya Dava heran.
Alana tersenyum ke arah Dava, senyum penuh arti.
__ADS_1
'Pahlawan jemuran mas, hehe' Alana tersenyum tanpa dosa.