Suami Ku Adalah Dokter

Suami Ku Adalah Dokter
Chapter 45


__ADS_3

Dava melihat Alana yang mulai mengerjapkan matanya, dengan segera Dava menghampiri Alana dan menggenggam tangannya.


"Kamu sudah sadar? Saya khawatir." ucap Dava.


Alana masih bingung dengan Dava, mengapa Dava begitu manis.


’inii mimpi? Kalo ini mimpi, Alana gak mau bangun.’-batin Alana senang.


"Maafkan saya Alana." ucap Dava menangis sambil mencium punggung tangan Alana.


"Apa aku mimpi?" tanya Alana membuat Dava menggeleng.


"Maafkan saya. Saya sudah menamparmu kemarin, dan sekarang saya percaya kalau kamu memang istri saya." ucap Dava membuat Alna tersenyum senang.


Alana berusaha duduk, melihat itu Dava langsung membatu Alana untuk duduk.


"Apa kamu ingat semuanya?" tanya Alana membuat Dava menggeleng.


"Belum. Tolong tetap disisi saya sampai saya mengingat semuanya." ucap Dava masih menangis.


Alana tersenyum lega, tangan Alana terulur untuk menghapus air mata Dava. Suaminya terlihat sangat cute saat sedang menangis.


"Jangan nangis, Alana jadi ikutan sedih." ucap Alana membuat Dava tersenyum.


"Tapi, soal pernikahan kamu da--"


"Tak akan ada pernikahan lagi Alana. Saja berjanji, saya percaya." ucapan Dava membuat Alana langsung memeluk Dava erat.


"A-aku, kangen kamu hiks." ucap Alana sambil terisak.


"Saya disini." ucap Dava mengusap pipi Alana.


"Maaf, saya telah menamparmu." ucap Dava dan dibalas senyuman oleh Alana.


"Alana maafin kamu mas." ucap Alana membuat Dava tersenyum lega.


Jam menunjukan pukul 4 pagi, mata Dava sebenarnya berat. Namun, sebentar lagi subuh jadi Dava menahan kantuknya. Sedangkan Alana kembali tertidur.


Dava menatap Alana dan mengusap pipinya. Dirinya sangat menyesal telah menampar Alana. Dava kembali berfikir, lalu siapa yang melukai jari tangan Liona?


Allahuakbar-Allahhuakbar.


Adzan subuh sudah berkumandang. Dava akan shalat subuh di masjid rumah sakit.


Alana membuka matanya melihat Dava yang hendak pergi. Buru-buru Alana menahan tangan Dava, Alana takut Dava akan meninggalkannya.


"Mas pergi shalat dulu ya, kamu gapapa di sini sendiri?" tanya Dava membuat Alana mengangguk.


Alana menatap punggung Dava yang sudah menghilang dibalik pintu. Alana harus mengabari orangtuanya, dan mengabari Malvin.


Alana mengambil heandpone miliknya dan menekan nomor Malvin disana.


"halo."ucap suara diujung sana.


"Bang, Alana ada di rumah sakit."


"Apa ! Kok bisa? Jangan bilang Dava nyakitin Io?! " ucap Malvin ngegas.


"Enggak bang, semalem perut Alana kontaksi, dan mas Dava yang bawa Alana ke sini."


"0h, jam enam gue kesana. Gue mau mandi dan sholat dulu."


Setelah berbicara seperti itu, Malvin langsung mematikan sambungan teleponnya membuat Alana berdecak.


Tak menunggu waktu lama Dava sudah kembali menghampirinya dengan wajah lebih fresh.


"Sudah selesai?" tanya Alana.


"Menurut kamu." ucap Dava mendekati Alana.


"Mas mau duduk disana." tunjuk Alana pada kursi dekat ranjangnya.


Dava mengangguk dan memapah Alana menuju kursi untuk duduk.


Jam sudah menunjukan pukul 6 pagi, pintu kamar Alana sudah diketuk oleh suster.


Suster itu datang membawakan sarapan untuk Alana. Hanya sebuah bubur putih dan air minum.

__ADS_1


Dava mengambilnya dan berjalan untuk menyuapi Alana, Dava mengarahkan sendok itu kepada Alana.


Hoek.


"Maaf~" ucap Alana lirih.


Alana memuntahkan baju Dava, karena Alana tak kuat mencium bau bubur itu membuat perut nya mual.


"Gapapa." ucap Dava mengambil tisu di nakas.


Alana merasa bersalah dan mengambil alih tisu itu untuk mengelap baju Dava yang terkena muntahannya.


Pintu kamarAlana terbuka, menampakan Sari, Malvin, Jihan dan Tania. Mereka melihat Alana yang masih duduk.


Sari langsung berlari menghampiri Alana dan memeluknya erat.


"Kamu gak apa-apain dia kan?" tanya Jihan penuh selidik.


"Enggak kok Ma. Mas Dava yang bawa dan rawat Alana." ucap Alana membuat Jihan mengusap dadanya lega.


"Kakak ipar, dedek bayinya gapapa kan?" tanya Tania sambil mengusap perut Alana.


"Ma, Dava pulang dulu ya. Baju Dava kena muntahan, sekalian mandi." ucap Dava disetujui oleh semuanya.


Setelah Dava pergi, Sari dan Jihan menatap Alana penuh selidik.


"Dava?" tanya Jihan.


"Dia udah percaya aku istrinya ma." ucap Alana membuat semua orang senang.


"hamdulillah.” ucap semuanya yang ada di ruangan.


Sedangkan Dava baru saja menyelesaikan mandinya, ia menuruni anak tangga dan berjalan kebawah.


"Davdav."


Dava kaget saat melihat Diana yang sudah ada di rumahnya.


"Ada apa pagi-pagi?" tanya Dava.


"Kamu lupa, kan hari ini kita mau pilih baju pengantin." ucap Diana cemberut.


Diana terkejut mendengar perkataan Dava. Bagaimana mungkin, kemarin-kemarin dirinya dan Dava sangat antusias dengan rencana pernikahannya nanti. Tapi, kenapa hari ini dia ingin membatalkannya?


" Why?Are you kidding?"


"Apa aku terlihat bercanda Diana?"


Diana menggelengkan kepalanya cepat, ia masih tak menyangka. Mengapa Dava berubah pikirannya secepat ini?


"Kamu pasti lagi ngeprank aku kan?" Diana menggenggam tangan Dava.


Dava melepaskan cekalan Diana di tangannya, lalu duduk di sofa tamu.


"Aku percaya kalau Alana adalah istri aku." ucap Dava menatap foto pernikahannya yang tepasang di dinding rumahnya.


"Bukan. Alana bukan istri kamu Dav." ucap Diana membuat Dava menatapnya.


"Kenapa kamu seyakin itu? Padahal banyak orang yang bersaksi bahwa Alana adalah istri aku. Cuma kamu yang bilang dia bukan istri aku, aneh." ucap Dava bangkit dan mengambil kunci mobilnya.


"Tapi, aku mau pernikahan kita jangan sampai batal." ucap Diana.


"Diana, kamu masih muda. Orang tua kamu banting tulang agar anaknya sukses. Tapi, saat kamu besar hanya ingin merebut hak


orang lain? Kamu egois." ucap Dava sambil pergi meninggalkan Diana yangtetap diam.


"Dav, mau kemana? Aku ikut!" ucap Diana sambil mengejar Dava.


"Tidak usah ikut. Aku mau menjenguk istri dan calon anakku." ucap Dava membuat Diana menahan tangis.


’Lo bisa batalin rencana pernikahan gue sama Dava. Tapi, lo gak bisa hancurin rencana gue buat bunuh Io, Alana.’


®®®®


Rumah sakit.


Dari tadi Alana tertawa saat melihat Malvin yang malu-malu pada saat, Lisa datang untuk menjenguk Alana.

__ADS_1


"Halah Vin sok malu-malu, biasanya ke pasar pake kolor doang kamu biasa aja tuh." sindir Sari membuat Malvin kesal.


"Jangan didengerin Sa, bunda emang suka ngada-ngada." ucap Malvin berbisik di telinga Lisa.


Lisa mah ngangguk-ngangguk aja, dari pada Malvin nanti ngambek.


"Kak Lisa kok mau sih pacaran sama kak Malvin? Dia kan orangnya mageran." ucap Alana membuat Lisa tersenyum.


"Terpaksa." ucap Lisa singkat.


Sebenarnya Lisa ini cuek dan sedikit tomboy. Di kampus, Lisa adalah orang yang paling sulit didekati dan Lisa sering menyendiri.


"Eh kok gitu sih? Berarti kamu gak sa--"


"Iya, gue Sayang." ucap Lisa membuat telinga Malvin memerah.


Aneh, biasanya cewek yang baper karena digombalin cowoknya. Namun, pasangan ini berbeda, Malvin lebih sering baper dengan perempuan dingim yang menjadi pacarnya saat ini.


"Cie abang malu cie." goda Tania.


Selain dekat dengan Alana, Tania juga dekat dengan Malvin. Malvin tipe orang yang cepat bergaul.


Klek


Pintu ruangan Alana terbuka, menampakan Dava yang datang dengan membawa banyak makanan. Dava tau, semua yang ada disini belum makan.


"Assalamualaikum." ucap Dava sambil meletakan makanannya di lantai.


"Waalaikumsalam." jawab semua yang ada di dalam.


Mata Malvin berbinar saat melihat makanan, begitupun dengan Alana.


Mata Alana berbinar saat melihat Es Boba yang Dava bawa.


"Mas Alana mau boba." ucap Alana mendapat gelengan dari Dava.


"Jangan, aku udah beliin jus buat kamu." ucap Dava membuuat Alana cemberut.


"Gak mau." ucap Alana merajuk membuat hati Dava mendorongnya untuk mencubit kedua pipi Alana.


"Udah kasih aja kak, Tania gak mau ya nanti ponakan Tania ileran gara-gara gak dikasih boba sama bapaknya." ucap Tania membuat Dava melotot.


"Hm, boleh deh. Tapi, sedikit aja oke." ucap Dava membuat Alana mengangguk antusias.


Alana sangat berterima kasih pada Tania, tanpa dia Alana tak akan bisa menikmati boba.


"Ayo semuanya dimakan." ucap Dava.


Mereka semuanya melahap makanan yang Dava bawa. Alana tergoda saat melihat Malvin begitu lahapnya memakan pizza.


"Mas mau itu." tunjuk Alana pada pizza di tangan Malvin.


"Tapi ka--"


"Jangan gitu. Nih makan." ucap Jihan memberikan pizza pada Alana.


Alana sangat senang saat mendapatkan satu potong pizza. Ada sedikit ide di otak Alana.


"Mas suapin." ucap Alana merajuk.


Dava yang melihat Alana seperti itu langsung menuruti perkataanya. Tentu saja, Alana sangat senang menerima satu suapan dari Dava.


Alana dan Dava melirik ke pintu. Dokter Layla datang untuk memeriksa kondisi Alna.


Melihat itu Alana langsung menyembunyikan minumannya di belakang punggungnya karena takut dimarahi.


"Lanjutin aja. Saya paham jadi ibu hamil itu gimana." ucap Layla membuat Alana tersenyum senang.


Dokter Layla memeriksa Alana dengan telaten. Dokter Layla mengangkat sedikit baju yang Alana kenakan untuk memeriksa bayinya.


"Gimana dok?" tanya Sari.


"Siang ini sudah boleh pulang. Tapi ingat,jangan mengerjakan halhal berat. Banyakin makan sayur dan buah,jangan sampai setres." ucapan Layla diangguki oleh Alana.


Tak ada yang harus dikemasi, karena Alana dan Dava kesini hanya membawa diri saja.


Suster datang untuk melepaskan selang infus dari lengan Alana, hal itu membuat Alana sedikit meringis.

__ADS_1


Setelah semuanya beres, Dava membantu Alana untuk bangun. Malvin membatu Alana duduk di kursi roda.


Jangan tanyakan mengapa mereka tak membayar administrasi. Rumah sakit ini milik keluarga Dava yang tak diragukan lagi fasilitasnya. Nama rumah sakinya adalah TD hospital, itu adalah inisial dari nama Tania dan Dava.


__ADS_2