Suami Ku Adalah Dokter

Suami Ku Adalah Dokter
Chapter 41


__ADS_3

"Bunda bilang sama Alana kalo ini mimpi." ucap Alana sambil mengguncangtubuh Sari.


Sari menatap Alana sendu, hatinya ikut sakit. Kenapa saat Alana ingin memberikan kejutan bahwa ia hamil kepada Dava, tapi Dava yang lebih dulu memberi kejutan kepada Alana.


"Ini bukan mimpi Alana!" bentak Sari membuat Alana diam seribu bahasa.


Saat ini mereka sudah pulang. Alana dari tadi terus merengek masuk kedalam ruangan Dava. Akhirnya Malvin menggendong Alana untuk pulang.


Zahran memeluk putrinya, ia ikut sedih. Kenapa cobaan ini datang saat Alana sedang mengandung.


Alana berlari ke kamar membuat Sari berteriak memanggil nama Alana.


Alana masuk ke kamar dan menguncinya. Alana duduk sambil melipat lututnya, menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya dan menangis.


"Harusnya Alana gak izinin dia pergi!"


"Ini salah Alana!"


"Alana benci diri sendiri." ucap Alana menyalahkan diri sendiri.


Malvin yang tadi ingin mengetuk pintu kamar Alana, ia urungkan. Malvin berbalik ke kamarnya. la tak bisa menghadapi adiknya yang seperti ini.


Pukul 06. 00


Dava sudah mulai pulih. Besok Dava sudah boleh pulang, hal itu membuat Diana senang.


"Akhirnya kamu boleh pulang." ucap Diana.


"Iya, aku seneng. Tapi.." ucapan Dava memggantung.


"Tapi apa?" ucap Diana penasaran.


"Aku masih mikir, siapa perempuan kemarin. Aku merasa familiar."ucap Dava.


"Gak usah dipikirin. Dia bukan siapa-siapa. Aku juga gak kenal dia, sekarang kamu gak usah pikirin dia, tapi pikirin pernikahan kita." ucap Diana.


"Iya Diana." ucap Dava.


’Lihat Alana. Semua diluar rencanaku.’Batin Diana meledek.


®®®®


Alana sama sekali belum membuka pintunya dari semalam, Malvin menjadi cemas dengan Alana.


"Alana buka pintunya. Lo harus makan!" Malvin hampir menyerah menyuruh Alana keluar dari kamar.


Malvin sampai melewatkan kelas hari ini, ia meliburkan diri dari kampus hanya demi Alana. Jam menunjukan pukul 7 pagi, tapi sepertinya Alana enggan membuka pintu


"Alana, buka pintunya! Jangan siksa diri kamu sendiri Alana!" kali ini Zahran yang berbicara.


Zahran pun tidak pergi bekerja hari ini. Tentu, Zahran sangat khawatir dengan putrinya yang dari semalam tak mau keluar kamar.


Cklek.


Alana membuka pintunya. Membuat Malvin dan Zahran tersenyum lega. Alana keluar dengan mata sembab, hidung merah, rambut acak-acakan. Alana persis mirip zombie.


Jika keadaannya tak seperti ini, ingin rasanya Malvin meledek Alana. Tapi, Malvin cukup sadar agar tidak melakukan itu.


"Kenapa sih? Ganggu Alana tidur aja." ucap Alana sambil mengucek matanya


"Alhamdulillah." ucap Malvin dan Zahran bersamaan.


Alana kembali ingin menutup pintu kamarnya. Namun, Malvin segera menarik tangan Alana dan memeluknya.


"Plis, lo harus kuat. Lo harus bisa bikin Dava inget semuanya,jangan lemah. Ngeliat lo kayak gini benerbener bikin gue hancur, lo kayak bukan Alana yang gue kenal." ucap Malvin memeluk Alana.


Zahran yang melihatnya benar -benar merasa haru. Kedua anaknya benar-benar saling merangkul.


"Iya bang. Alana akan bikin Mas Dava inget sama Alana." ucap Alana berusaha tegar.

__ADS_1


Malvin tersenyum melihat Alana yang sudah mulai bangkit. Malvin benar -benar bangga pada Alana.


"Sekarang lo mandi, dan turun buat makan." ucap Malvin mencubit hidung Alana.


"Iya bang." ucap Alana lalu pergi ke kamar untuk mandi.


Malvin dan Zahran turun ke meja makan.mereka berdua melihat Sari yang menatap kosong ke depan.


"Bunda." panggil Malvin lembut, membuat Sari langsung menatapnya.


"lya, gimana Alana? Udah mau keluar?" tanya Sari khawatir.


"Iya, sebentar lagi dia turun. Bunda tenang aja." ucap Malvin menenangkan.


Akhirnya Alana turun dengan wajah yang sudah lumayan segar. Semuanya tersenyum menatap Alana.


Sari segera menggandeng Alana menuju meja makan layaknya seorang purti raja. Alana merasa sangat di istimewakan.


"Kamu mau makan apa? Biar bunda siapin." ucap Sari menyiapkan makanannya.


Sebenarnya Alana tak nafsu makan. Tapi, saat melihat Sari memasak begitu banyak membuat Alana tak tega untuk menolaknya.


"Alana mau makan ayam bakar bunda." ucap Alana menunjuk makanan di depannya.


Semuanya tenang saat melihat Alana makan, setidaknya Alana sudah memasukam sedikit nasi kedalam mulutnya.


Setelah makan Alana duduk di ruang tamu, melihat itu Malvin langsung menghampiri Alana.


"Dek." panggil Malvin membuat Alana menoleh.


"Tadi abang dapat pesan dari mama Dava, katanya besok dia pulang." ucap Malvin membuat Alana tersenyum lebar.


"Anter aku kerumah." ucap Alana antusias.


"Tapi__"


"Ayo bang. Alana mau bikin mas Dava inget sama ALna. Aku bakal tunjukin ke Mas Dava kalo aku bener istrinya." melihat raut wajah Alana yang begitu semangat membuat Malvin tak berani menolak.


Alana segera berlari ke atas mengambil barang-barangnya yang sudah siap dari kemarin. Menarik kopernya menuju bawah.


"Alana mau kemana?" tanya Sari melihat putrinya yang membawa koper.


"Mas Dava besok pulang bunda. Alana akan tunjukin kalo Alana ini istrinya." ucap Alana menghampiri Sari.


"Tap-_"


"Gapapa. Alana gak akan kenapa -napa bunda. Percaya sama Alana ya." ucap Alana memberikan pengertian.


Sari hanya mengangguk pasrah, Alana mencium punggung tanga Sari dan segera menarik kopernya.


Malvin memasukan koper kedalam bagasi mobilnya. Membukakan pintu untuk Alana.


Di perjalanan, Alana tak hentihentinya berdoa. Sampai kapanpun Alana tak akan membiarkan Diana menguasai semuanya.


Mobil Malvin berhenti di depan rumah Alana. Alana sedikit heran mengapa rumahnya bersih dan terbuka? Padahal ia yakin betul bahwa rumahnya ia kunci tiga bulan yang lalu.


"Abang temenin kamu sampe Dava pulang ya." ucap Malvin memberikan kopernya pada Alana.


"Gak usah bang. Sekarang abang pulang aja. Ini urusan Alana, nanti kalo Alana butuh apa-apa aku hubungi abang kok." ucap Alana membuat Malvin ingin menolak. Tapi Alana sudah mengeluarkan pupy eyes nya membuat Malvin tak bisa menolak.


Dengan berat hati Malvin meninggalkan Alana sendiri disini. Alana sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan dia hadapi.


Alana masuk kedalam rumahnya, Alana kaget saat tak melihat foto pernikahan yang dulu Dava pajang. Kemana fotonya?


Alana segera naik ke kamarnya. Alana yakin ada seseorang yang merubah bentuk rumahnya.


Benar saja, saat Alana masuk kedalam kamarnya tak ada satupun foto Alana. Ruangan kamarnya sudah di rubah total.


"Ngapain lo kesini?"

__ADS_1


Alana kaget saat mendengar suara itu. Alana membalikan badannya dan melihat Diana yang sedang bersandar di pintu.


"Kamu? Ngapain kamu disini?" tanya Alana pelan.


"Kenapa? gak boleh masuk kerumah calon suami sendiri?" ucap Diana dengan wajah meledek.


Sungguh, Alana benar-benar ingin menonjoknya.


"Gak. Sampai kapan pun aku gak akan biarin kalian menikah!" ucap Alana tegas.


"Alana. Lo tuh **** ya. Yakin mau bertahan sama suami yang bahkan gak pernah kenal sama lo? Bahkan saat Dava sadar, nama gue yang pertama dia sebut,bukan nama lo." ucap Diana membuat Alana geram.


"Pergi kamu dari sini!" tunjuk Alana ke pintu luar.


"Yang harusnya pergi itu lo ALna, bukan gue." ucap Diana menunjuk wajah ALana.


"Kamu tuh orangyang paling gak tau malu." ucapan Alana membuat Diana naik pitam.


"Haha, lucu ya lo. Sampai kapan pun gue gak akan biarin Dava buat inget sama lo." ucap Diana.


"Jadi kamu yang rubah rumah ini?!" ucap Alana berteriak.


"Kalo iya kenapa? Gak suka?"


"Kamu bener-bener gila ya!" ucap Alana geram.


"Enggak. Justru gue pengen bikin lo gila Alana. Dua atau tiga bulan lagi, gue bakal urus acara pernikahan gue sama Dava. Dan gue bakal singkirin lo dari hidup Dava." ucap Diana mulai mendekati Alana. Refleks, Alana mundur beberapa langkah.


"Sikopat." ucap Alana.


"Gue emang sikopat Alana. Gue bakal lakuin apapun demi dapetin apa yang gue mau. Termasuk Dava." ucap Diana sambil membelai rahang Alana.


Mendengar itu membuat Alana gemetar dan takut. Alana lebih baik dikejar oleh hantu daripada berurusan dengan sikopat.


"Tapi tenang. Gue gak akan bunuh lo sebelum pernikahan gue. Karena gue mau lo ada di acara pernikahan gue nanti." ucap Diana membuat mata Alana memerah.


"Kenapa lo diem? Takut? Payah lo." ucap Diana merendahkan.


Plak


Alana menampar pipi Diana kencang. Membuat Diana tersenyum devil lalu menahan tangan Alana yang ingin memukulnya.


"Kamu benar-benar iblis. Kamu itu wanita ular." ucap Alana berteriak.


"Gue bakal tunjukin sifat iblis gue yang sebenarnya. Ikut gue!" ucap Diana menarik tangan Alana.


Alana tak akan membiarkan Diana nerbuat hal diluar nalar. Dengan cepat Alana menggigit lengan Diana hinga biru.


"Awh, shit.”ucap Diana menahan sakit di lengannya, Alana berlari keluar dan di susul Diana.


"Lo gak akan bisa lari dari gue!" ucap Diana sambil mengejar Alana.


Alana tak ingin Diana tau tentang kehamilannya. Kalau Diana tau tentang dirinya yang sedang mengandung bisa semakin berbuat gila dia.


Sepertinya dewa keberuntungan sedang berpihak pada Alana.Malvin yang tadi hendak pulang kini ada di depan rumahnya.


Melihat hal itu Diana langsung pergi kerumahnya yang disebrang jalan. Malvin menatap Diana sebentar lalu menghampiri Alana.


"Dia siapa?" tanya Malvin kepada Alana.


"Tetangga Alana bang." ucap Alana.


'Alana gak mau bikin bang Malvin kepikiran tentang aku.’-batin Alana.


"Oh. Gue temenin lo ya Sampe Dava pulang."


"Mas Dava pulangnya besok. Berarti abang nginep?" tanya Alana membuat Malvin mengangguk.


"Kalo pun gue balik nanti. Gue gak akan tenang ninggalin lo sendirian." ucap Malvin membuat Alana tersenyum.

__ADS_1


"Yaudah parkirin dulu mobilnya, terus masuk kedalam." ucap Alana lalu meninggalkan Malvin.


__ADS_2