
3 bulan berlalu.
Hari ini Dava sudah mau memberanikan diri untuk berkunjung ke makam Diana.
Sebelumnya, Dava kekeuh tidak ingin pergi ke sana dengan alasan, takut teringat dia buat aku semakin bersalah.
Setelah bujukan demi bujukan Alana lontarkan, akhirnya Dava luluh dan mau ke sana.
Sekarang, Alana dan Dava sedang bersiap-siap ingin pergi ke sana. Tapi, sebelum pergi, Keano akan dititipkan ke rumah Sari.
Makam Diana terletak di halaman kantor polisi. Halaman khusus untuk para tahanan yang mendapatkan hukuman mati.
"Keano buruan atuh." Alana frustrasi melihat Keano yang terus memainkan busa sabun.
"Ntal ma, agi selu." ucap Keano sambil berenang di bak mandi.
"Terserah lah, mama gak mau ngajak kamu." ucap Alana sambil berpura-pura meninggalkan Keano.
"Uda ni uda." ucap Keano menatap Alana.
Susah payah Alana menahan diri agar tidak tertawa. Sekarang Alana sedang ngambek mode on.
Alana mengelap rambut Keano lalu mengangkat tubuhnya menuju kamar.
Pintu kamar Keano terbuka dan memunculkan Dava yang sudah siap. Dava berjalan menghampiri Keano dan langsung memeluknya.
"Halo anak papa." ucap Dava sambil mencium perut Keano.
"Ih papa geli hihihi." Dava mencium Keano sampai ia terlentang.
"Ma, papa na bandel." omel Keano yang berusaha mendorong tubuh Dava di atasnya.
"Yang bandel mah kamu." ucap Alana sambil menaruh baju dan mengusap perut Keano dengan minyak telon.
Setelah selesai memakaikan baju Keano, Alana berjalan merapihkan tempat bedak Keano.
"Mas lempar handuk Keano dong." ucap Alana di depan pintu.
Dava berancang-ancang untuk melempar, bukannya mendarat di tangan Alana, tapi handuk itu malah menutupi seluruh tubuh Keano yang sedang mengambil mainan.
__ADS_1
"Hua.... Papa gelap." ucap Keano berteriak.
Alana tertawa melihat tingkah laku anaknya yang random. Keano berjalan sambil menggapai-gapai apapun di depannya.
Alana mengambil handuknya dan barulah Keano menghela nafas lega.
Alana berjalan menuju kamarnya untuk mengganti pakaian, sedangan Keano dan Dava tengah asik bermain kuda-kudaan.
"Haha, papa." Keano tertawa ria di atas punggung Dava.
"Hiiaa..." ucap Dava sambil menirukan suara kuda.
Dava yang merasa lelah langsung menyuruh Keano turun. Tak lama,
Tak lama, Alana turun dengan baju santainya.
"Yuk." ucap Alana menggenggam tangan Keano.
Mereka berjalan ke mobil, Alana naik dan Keano duduk dipangkuannya.
"Nanti Ano di rumah bunda dulu ya. Mama ada urusan sama papa." ucap Alana membuat Keano menggeleng.
"Papa sama mama mau pergi ke kuburan, Ano mau ikut?" tanya Dava membuat Keano menggeleng.
Mereka sampai di halaman rumah Sari. Alana turun bersama Keano dan berjalan memasuki rumah.
"Asmikum buna." ucap Keano dengan suara terbata.
"Waalaikumsalam Keano." ucap Sari sambil mencium pipi Keano.
Alana dan Dava mencium punggung tangan Sari. Dari arah tangga munculah Malvin dengan badan lemas.
"Kenapa bang mukanya gitu amat, jelek." ucap Alana meledek.
"Capek gue, muntah-muntahan terus dari kemaren." ucap Malvin curhat.
Alana menatap Sari, yang ditatap cuma senyum. Entahlan arti dari senyuman itu apa, Alana tak paham.
Lisa datang dengan membawa minyak angin dan menyembunyikan sesuatu dibelakang tubuhnya.
__ADS_1
"Nlh pake." Lisa memberikan minyak angin.
"Makasi Baby."ucap Malvin membuat Lisa memandangnya geli.
"Kamu harus tahan ya untuk beberapa bulan kedepan." ucap Lisa tersenyum.
"Maksudnya?" tanya Malvin heran.
"Nih." Jihan memberikan alat tes kehamilan atau testpack.
Malvin mengambil benda itu dan menautkan kedua alisnya heran. Antara tidak paham dan gak tau
(Apa bedanya yaelah.)
"Maksudnya apaan?" tanya Malvin dengan wajah innocent miliknya.
"Aku hamil." ucap Lisa membuat semuanya tersenyum senang, namun ekspresi Malvin berbeda.
"Hah? Siapa yang hamil?" tanya Malvin lagi membuat Lisa cemberut.
"Gak tau lah." ucap Lisa lalu meninggalkan Malvin.
"Astaga bang. Yang hamil itu kak Liaa, dan abang akan jadi ayah." ucap Alana memperjelas.
"Hah gue bakal jadi ayah?! Hua... Lisa sayang jangan ngambek." ucap Malvin sambil berlari menuju kamamya dengan perasaan senang.
Sari dan Dava hanya menggelengkan kepala. Sedangkan Keano hanya menatap Malvin dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ma, om Malpin gila ya?" tanya Keano dengan suara lantang.
"Eh gue gak gila ya bocil!" ucap Malvin dari kamar.
"Bun, aku titip Keano bentar ya. Aku ada urusan soalnya." ucap Alana.
"lya, hati-hati ya." ucap Sari.
Setelah bersalaman dan berpamitan pada Keano, Alana dan Dava segera berangkat menuju kantor polisi.
Alana dan Dava sama-sama diam di dalam mobil. Alana menatap Dava yang sedang fokus ke depan.
__ADS_1