Suami Ku Adalah Dokter

Suami Ku Adalah Dokter
chapter 59


__ADS_3

Mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka turun setelah memarkirkan mobilnya.


Dava berjalan mengambil sebuah troli belanjaan dan mendorong ke arah Alana dan Keano.


"Ano mau naik." ucap Keano.



Kebisaan Keano adalah menaik di troli bagian depan. Alana mendudukan Keano di troli lalu mendorongnya.


Alana memilih bahan belanja untuk makan, mandi, bahkan untuk mencuci.


"Papa Ano mau itu." tunjuk Kenzo pada sekuter kecil.


"Udah naik troli aja enak. Kamu gak bisa naik itu." ucap Dava membuat Keano merengut.


Alana hanya terkekeh melihat ekspresi anaknya itu. Mereka kembali berkeliling mencari makanan ringan untuk cemilan.


"Yuk bayar." ucap Alana mendorong troli belanjaannya.


Alana mulai menaruh barang barangnya di depan kasir, belanjaan mereka cukup banyak.


"Adeknya gak sekalian mba?" tanya kasir itu merasa gemas dengan Keano.


"Saya mau jual nih mba." ucap Dava membuat Alana melotot.


Enak saja, Alana sekuat tenaga mengandung Keano selama sembilan bulan. Dengan entengnya Dava ingin menjual anaknya yang super menggemaskan ini.


Setelah membayar belanjaannya mereka berjalan untuk membeli makan. Keano masih menatap sedih sekuter itu sedih.


"Kita makan dulu, baru cukur rambut Keano." ucap Alana sambil mengambil Keano dari troli dan meletakannya ditempat semula.


Alana mendudukan Keano dilantai, karena restoran ini lesehan.


Dava mengambll eskrim dan memberikannya pada Keano.


"Jangan cemberut nanti jelek ah." ucap Dava sambil membuka tutup eskrimnya.


Keano senang dan langsung melahapnya.


Makanan yang mereka pesan sudah datang, mereka mencuci tangannya dan melahapnya.


"Ano mau itu." ucap Kenzo kepada daging ikan.


Alana mengambil ikan dan menyuapkannya pada Keano.

__ADS_1


"Enyak ma." ucap Kenano mengacungkan jempolnya.


Setelah makan dan membayar mereka akan ketempat cukur langganan Keano.


"Ano ndak mau ih." ucap Keano mengamuk tak ingin dicukur.


"Kamu harus dicukur, biar ganteng kayak papa." ucap Dava narsis.


"Dasar." cibir Alana.


Dava meletakan Keano di kursi cukur. Keano masih tetap menangis tak mau dicukur.


"Nanti kita main ke taman lagi." bujuk Alana agar Keano terhenti menangis.



Tapi tetap saja Keano menangis dan mengamuk membuat tukang cukur itu kesulitan.


"Nanti kita beli yang tadi ok." putus Dava membuat Alana meliriknya.


Mendengar perkataan Dava, Keano langsung diam dan tersenyum.


"Benel ya." ucap Keano menyodorkan jari kelingkingnya kehadapan Dava.


Akhirnya Kenano selesai dicukur, dan ia berlari kehadpan Dava yang sedang duduk.


"Yuk pa beyi." ucap Keano membuat Dava mengangguk.


Kini rambut Keano sudah tak menusuk matanya, mereka berjalan menuju pusat perbelanjaan tadi.


Alana menatap anaknya yang senang mendapatkan mainan baru itu.


Dava membayar dan meminta pelayan untuk memasukannya kedalam bagasi mobilnya.


Mereka berajalan menuju mobil dan akan pulang. Jam menunjukan pukul 2 siang, Keano sudah memejamkan matannya sambil memeluk leher Alana.


"Ngantuk ya." tanya Alana sambil. Mengusap punggung Keano.


Alana masuk kedalam mobilnya dan membenarkan posisi Keano agar ia tidur dengan nyaman.


"Keano lucu ya." tanya Dava membuat Alana mengangguk.


"lya kayak aku." jawab Alana sambil terkekeh.


"Iya kayak kamu." ucap Dava sambil mengacak rambut Alana.

__ADS_1


Mobil mereka sudah terparkir di halaman rumah mereka. Betapa terkejutnya Alana dan Dava saat melihat Diana dan satu orang polisi di depan rumahnya.


Alana turun dan memeluk Keano erat, ia sangat takut dengan Diana.


Dava menghampiri Diana dan menatapnya datar.


"Ada apa kamu kesini?" tanya Dava ketus.


"Aku mau bicara bertiga sama kalian boleh?" ucap Diana membuat Alana menggeleng cepat.


"Aku gak akan ngelakuin hal bodoh lagi." ucap Diana lirih.


Dan akhirnya mereka mau berbicara bersama Diana di dalam.


Alana naik ke kamar untuk meletakan Keano. Lalu ia kembali ke ruang tamu.


"Langsung aja, mau apa?" tanya Dava, Alana hanya menatap Diana kosong.


"Ak... Aku. Minta maaf ya." ucap Diana menunduk.


"Mungkin ini pertemuan terakhir kita, maafin aku Dav." Diana menangis terisak.


"Maksudnya?" tanya Alana heran.


"Maafin aku Al hiks. Besok aku akan menjalankan hukuman mati." ucapan Diana sukses membuat Alana dan Dava kaget.


"Aku mau mati dengan tenang, aku mohon maafin aku. Waktu itu, aku cuma punya Dava Al. Orangtua aku bercerai saat aku berumur sembilan tahun, aku tinggal dilingkungan yang selalu mengucilkan aku. Aku tak memiliki teman selain Dava, orangtua aku selalu siksa aku. Sampai akhirnya membunuh adalah jalan untuk menenangkan semuanya."


Mereka kaget atas ucapan Diana. Jadi ini yang membuat Diana pergi tanpa pamit, ini yang menjadikan Diana tak memiliki hati nurani.


"Alana, dava. Aku min.. Minta maaf." Ucap Diana.


Alana langsung memeluk Diana sambil menangis ia tak menyangka bahwa Diana memiliki masa lalu yang kelam.


"Aku dan Mas Dava maafin kamu Diana." ucap Alana.


"Nyonya Diana waktu anda sudah habis." pak Polisi datang dan menarik Diana.


Diana berpamitan dan keluar rumah sambil melambaikan tangannya.


"Dava jangan pernah lupain persahabatan kita ya!" teriak Diana membuat Dava menangis.


Dava tak menyangka bahwa ini adalah akhir pertemuannya dengan Diana.


"Tidak akan pernah Diana."

__ADS_1


__ADS_2